Daily Archives: July 27, 2018

Pembagian Hukum Syar’i II

By | Berita | No Comments

PEMBAGIAN HUKUM SYAR’I II

Hukum taklifi terbagi ke dalam lima bagian antara lain wajib, haram, mandub, makruh dan mubah. Kelima macam hukum itulah yang menimbulkan efek terhadap perbuatan mukalaf dan efek itulah yang dinamakan al ahkam al khamsah oleh ahli fiqih. (H. Alaiddin Koto, 2004, hal 42-44).

27 Pembagian Hukum Syari

Pembagian hukum taklifi, dibagi menjadi lima bagian. Pada artikel terdahulu telah disampaikan penjabaran mengenai hukum taklifi. Berikut ini akan dijabarkan mengenai kelima bagian hukum taklifi tersebut.

WAJIB

Pada pokoknya yang disebut dengan wajib adalah segala perbuatan yang diberi pahala bila dikerjakan dan diberi siksa (‘iqab) bila ditinggalkan. Misal, mengerjakan beberapa rukun islam yang lima. Dilihat dari beberapa segi, wajib terbagi menjadi empat :

1. Dilihat dari segi tertentu atau tidak tertentunya perbuatan yang dituntut. Wajib dibagi menjadi dua :

a. Wajib mu’ayyan (ditentukan) yaitu yang telah ditentukan macam perbuatannya. Misal, membaca al fatihah atau tahiyyat dalam sholat.
b. Wajib mukhayyar (dipilih) yaitu yang boleh dipilih salah satu dari beberapa macam perbuatan yang telah ditentukan. Misal, kifarat sumpah yang memberi pilihan tiga alternatif, memberi makan sepuluh orang miskin atau memberi pakaian sepuluh orang miskin atau memerdekakan budak.

2. Dilihat dari segi siapa aja yang mengharuskan memperbuatnya, wajib terbagi kepada dua bagian :

a. Wajib ‘ain yaitu wajib yang dibebankan atas pundak setiap mukalaf. Misal, mengerjakan sholat lma waktu, puasa ramadhan dan lain sebagainya. Wajib ini disebut fardhu ‘ain.
b. Wajib kifayah yaitu kewajiban yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat, tanpa melihat siapa yang mengerjakannya. Apabila kewajiban itu tekah ditunaikan salah seorang diantara mereka, hilanglah tuntutan terhadap yang lainnya. Namun, apabila tidak seorangpun yang mengerjakannya, berdosalah semua anggota masyarakat tersebut. Misal, mendirikan tempat ibadah, mensholati jenazah.

3. Dilihat dari segi kadar (kuantitasnya), wajib terbagi kepada dua bagian :

a. Wajib muhaddad, yaitu kewajiban yang ditentukan kadar atau jumlahnya. Misal, jumlah zakat yang mesti dikeluarkan, jumlah rakaat sholat.
b. Wajib ghairu muhaddad yaitu kewajiban yang tidak ditentukan batas bilangannya. Misal, membelanjakan harta di jalan Allah, berjihad, tolong-menolong.

27 Pembagian Hukum Syari 2

HARAM

Haram adalah segala perbuatan yang dilarang untuk mengerjakannya. Orang yang melakukan akan disiksa, berdosa (‘iqab) dan yang meninggalkannya akan mendapat pahala. Misal, mencuri, membunuh, berzina, menafkahi orang yang menjadi tanggungannya. Perbuatan ini disebut juga dengan maksiat, qabih.

Secara garis besar, haram terbagi menjadi dua :

a. Haram karena perbuatan itu sendiri, atau haram karena zatnya. Haram seperti ini pada pokoknya adalah haram yang memang diharapkan sejak semula, Misal, membunuh, zina, mencuri.
b. Haram karena berkaitan dengan perbuatan lain atau haram karena faktor lain yang datang kemudian. Misal, jual beli yang hukum asalnya mubah, berubah menjadi haram ketika azan jumat sudah berkumandang. Begitu juga dengan puasa Ramadhan yang semula wajib berubah menjadi haram karena dengan berpuasa itu akan menimbulkan sakit yang mengancam keselamatan jiwa.

MANDUB

Mandub adalah segala perbuatan yang dilakukan akan mendapatkan pahala, tetapi bila tidak dilakukan akan dikenakan siksa, dosa (‘iqab). Biasanyamandub ini disebut juga sunat atau mustahab dan terbagi menjadi :

1. Sunat ‘ain yaitu segala perbuatan yang dianjurkan kepada setiap pribadi mukalaf untuk dikerjakan. Misal, sholat sunat rowatib.
2. Sunat kifayah yaitu segala perbuatan yang dianjurkan untuk diperbuat cukup oleh salah seorang saja dari suatu kelompok. Misal, mengucapkan salam, mendoakan orang bersin.

Selain itu, sunat juga terbagi kepada :

a. Sunat muakkad yaitu perbuatan sunat yang senantiasa dikerjakan oleh Rasul atau lebih banyak dikerjakan Rasul dari pada tidak dikerjakannya. Misal, sholat hari raya, aqiqah.
b. Sunat ghairu muakkad yaitu segala macam perbuatan sunat yang tidak selalu dikerjakan Rasul. Misal, bersedekah pada fakir miskin.

MAKRUH

Adapun yang dimaksud dengan makruh adalah perbuatan yang bila ditinggalkan, orang yang meninggalkannya mendapat pahala tetapi orang yang mengerjakannya tidak mendapat dosa (‘iqab). Misal, memakan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap.

Pada umumnya, ulama membagi makruh kepada dua bagian :

1. makruh Tanzih, yaitu segala perbuatan yang meninggalkan lebih baik daripada mengerjakan. Seperti contohnya tersebut diatas.
2. Makruh tahrim, yaitu segala perbuatan yang dilarang tetapi dalil yang melarang itu zhanny, bukan qhat’i. Misal bermain catur, memakan kala dan memakan daging ular (menurut madzhab Hanafiyah dan madzhab Malikiyah).

MUBAH

Mubah adalah segala perbuatan yang diberi pahala karena perbuatannya dan tidak berdosan karena meninggalkannya. Secara umum, mubah ini dinamakan juga halal atau jaiz.

Qurban Kambing Lebih Utama

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Qurban Kambing Lebih Utama

Qurban 2018 tinggal sebentar lagi, mari persiapkan hewan qurban untuk qurban nanti, memang qurban untuk hewan kambing itu lebih utama, tapi lebih bagus lagi jika berqurban dengan sapi atau atau unta. Biar lebih jelasnya baca ulasan berikut ini….

Dari dulu hingga sekarang, topik kurban selalu menjadi bahasan penting dan menarik. Di awal tulisan ini, pembahasan difokuskan pada apa yang dimaksud dengan kurban. Secara etimologi, qurban yang sering ditulis dalam tulisan ini dengan huruf awal k berarti mendekat/pendekatan. Sedangkan menurut istilah adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya. Salah satu ajaran Islam yang penuh dengan kesakralan (suci) dan juga syarat dengan muatan kemanusiaan adalah ibadah qurban.

Dalam konteks ini, ibadah kurban adalah kesempatan bagi si miskin untuk merasakan kenikmatan dari si kaya. Mengalirnya darah-darah suci dari hewan qurban akan menghanyutkan noktah-noktah hitam di hati manusia, memercikkan aroma harum jalinan kasih antara sesama sembari menyemaikan rona ceria di wajah masing-masing.

Lewat ibadah kurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Terlebih saat ini bangsa Indonesia sedang berduka, di mana saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana alam yang telah merenggut ratusan ribu nyawa, keluarga dan harta. Melalui ibadah kurban ini, kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di negeri tersebut.

Dari sinilah, M. Quraish Shihab menyatakan ibadah kurban merupakan ibadah yang sempurna sepanjang hayat manusia. Pasalnya, ibadah kurban merupakan ajaran tertua sepanjang sejarah kehidupan manusia yang terus berlangsung hingga saat ini (M. Quraish Shihab, 2008: 38-40).

Tafsir Sosial Kontekstual Ibadah Kurban

Memahami ibadah kurban perlu banyak pendekatan, salah satunya adalah pendekatan sosial kontekstual. Ahmad Izzan dalam buku “Ulumul Qur’an: Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Qur’an” menjelaskan bahwa memahami dan menafsirkan al-Qur’an bisa dilakukan dengan cara mengaitkan antara teks al-Qur’an dengan konteksnya untuk kesempurnaan pemahaman (Ahmad Izzan, 2011: 8-19).

Dengan nada yang berbeda tapi sama maksudnya, Syafrudin dalam buku “Paradigma Tafsir Tekstual & Kontekstual”, juga mengungkap kelebihan pendekatan kontekstual ketimbang hanya dengan memakai paradigma tekstual (Syafrudin, 2009: 19-29). Menurutnya, pendekatan kontekstual bisa menjembatani pemahaman teks yang kadang terputus dan terhenti pada bacaan dan tulisan. Di sini, pendekatan konteks dianggap bisa mengarahkan pembaca pada tujuan dan tindakan nyata.

Pradana Boy dalam buku “Fikih Jalan Tengah: Dialektika Hukum Islam dan Masalah-masalah Masyarakat Modern” menengarai bahwa problem krusial penafsiran al-Qur’an memang selalu berujung pada ranah fikih sebagai kunci praktis dalam ajaran Islam. Di sinilah, ungkap Boy, perlunya jalan tengah yang lebih arif, bijak, adil dan fleksibel sebagai respons keunikan tradisi, budaya dan khazanah Islam yang tersebar di segala penjuru alam dan zaman (Pradana Boy, 2008: 4-14).

Secara epistemologis, Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (ed.) dalam buku “Epistemologi Tafsir Kontemporer”, memberikan dasar-dasar pengetahuan tentang tafsir kontemporer yang sesuai dengan konteks tetapi tetap tidak melupakan teks aslinya (Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (ed.), 2011: 23-48).

Namun dalam konteks ini kita diingatkan oleh Islah Gusmian dalam buku “Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi”, terkait tafsir menafsir kita perlu memahami dan menghayati apakah penafsiran yang dimaksud mengarah pada kepentingan tertentu dan ideologi-ideologi ataukah murni pada penafsiran yang membawa ke arah keadilan dan kesejahteraan sosial (Islah Gusmian, 2003: 8-29).

Hal itu semua merupakan cakrawala dan wawasan baru yang menarik untuk dijadikan referensi pemahaman dalam studi tafsir sosial kontekstual dalam suatu masalah dan bahasan keislaman. Nashruddin Baidan dalam buku “Wawasan Baru Ilmu Tafsir”, mengungkap pentingnya penafsir dan pembaca untuk memupuk wawasan baru dalam semua bidang keilmuan, tidak terkecuali dalam ilmu tafsir itu sendiri (Nashruddin Baidan, 2011: 5-18).

Dari sini, memahami ibadah kurban bukan semata-mata ibadah individual. Ibadah kurban sebagai ibadah yang secara khusus dilaksanakan sekali dalam setahun dalam hitungan bulan Qamariyah, tepatnya pada hari besar Islam yaitu Idul Adha, merupakan ibadah sosial yang luarbiasa manfaatnya. Ibadah kurban termasuk hari raya besar dalam agama Islam. Penyebutan hari besar Islam untuk idul adha ini disebabkan beberapa hal. Pertama, pada hari itu kaum muslim melakukan shalat sunat Idul Adha. Kedua, adanya perhelatan agung yaitu ibadah haji di Makkah. Ketiga, dalam momentum ini pula, ada peristiwa penyembelihan hewan kurban.

Pada masa Rasulullah, konon katanya, peringatan hari raya Idul Adha sangat semarak melebihi semaraknya hari raya Idul Fitri. Namun, hal itu berbeda dengan sekarang, justru sebaliknya Hari Raya Idul Fitri jauh lebih semarak dibanding Idul Adha. Memang banyak faktor yang melatari kenapa saat ini berbeda dengan kehidupan di masa rasulullah. Terlepas dari perdebatan atas persoalan ini, fenomena kurban menjadi penting untuk dicari hikmahnya (M. Quraish Shihab, 1997: 46).

Dalam momen kurban, hampir setiap muslim yang berkemampuan melaksanakan penyembelihan hewan kurban, entah secara perorangan ataupun berkelompok. Di sekolah- sekolah pun diadakan penyembelihan hewan qurban sebagai suatu sarana untuk mendidik siswa.

Secara etimologis, qurban diartikan mendekat/ pendekatan. Dalam pengertian terminologisnya qurban adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan dengan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya (QS Al Maidah, 5: 27).

Bila dilacak historisitasnya, ibadah qurban sudah ada sejak Nabi Adam. Menurut M. Quraish Shihab, dalam tafsir al-Misbah, qurban pertama kali yang terjadi di muka bumi ini adalah qurban yang diselenggarakan oleh dua putera Nabi Adam (Habil dan Qabil) kepada Allah (M. Quraish Shihab, 2002: 30). Secara formalistik, ungkap Quraish Shihab, sejarah ibadah qurban bermula dari Nabi Ibrhaim As. Yakni, tatkala ia bermimpi disuruh Tuhan-nya untuk menyembelih Nabi Ismail As, seorang putra yang sangat dicintainya (Q.S Ash-Shaffat, 37: 102-110). Singkat alkisah, dari persitiwa kenabian Ibrahim inilah ibadah qurban muncul dan menjadi tradisi umat Islam hingga saat ini. Apa makna sosial ibadah qurban? Sebetulnya, banyak makna yang dapat dipetik dari ibadah qurban ini, baik secara ruhiyah maupun secara sosial-kemasyarakatan. Secara ruhiyah, ibadah ini bisa menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran ritual dari para pelakunya. Secara sosial-kemasyarakatan, ibadah qurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan qurban berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiannya pada sesama, utamanya kaum miskin dan mustadzafiin.

Secara esensial, tentu saja, tujuan ibadah qurban bagi umat Islam adalah semata-mata mencari ridla Allah SWT. Ibadah qurban ini dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal ketaqwaan kepada Allah. Allah akan menilai ibadah ini sebagai wujud ketaqwaan hamba kepada-Nya. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS Al Hajj, 22: 37). Hal ini pulalah yang menjadi sebab tertolaknya qurban salah seorang dari kedua putera Nabi Adam A.S dan diterima-Nya qurban yang lain. Bukanlah suatu nilai yang tinggi dan banyak di mata Allah, qurban yang banyak tetapi tanpa keikhlasan dan ketakwaan orang yang berqurban hal itu sama saja tak ternilai di mata Allah SWT.

Kebanyakan kita menilai ibadah qurban, mungkin cenderung melihat sesuatu dari lahirnya yangtampak, padahal Tuhan melihat sebaliknya yaitu keikhlasan.

Mungkin tatkala kita melihat seseorang berqurban hanya dengan seekor kambing, kita menganggapnya remeh. Kita lebih memandang besar dan hormat kepada orang yang berqurban dengan seekor sapi yang gemuk. Padahal belum tentu penilaian kita benar. Sebenar-benar penilai hanyalah Allah. Mungkin saja di mata Allah lebih tinggi nilai seekor kambing tadi karena taqwa di hati orang yang berqurban. Jadi tak ada yang menghalangi seseorang untuk berqurban sedikit jika disertai hati yang suci, taqwa dan ikhlas. Dan tidak ada kepastian diterimanya qurban yang banyak dari seseorang tanpa ketaqwaan dan keikhlasan. Namun di sini bukan berarti tidak diperbolehkan berqurban dengan jumlah banyak, saya kira, berqurban banyak pun boleh asal disertai dengan taqwa dan ikhlas. Taqwa dan ikhlas menjadi inti amal, mengapa? Sebab, banyak sebagian dari kita tatkala beramal hanya untuk mencari muka, dan pujian semata.

Selain makna sosial di atas, Ibadah qurban juga bisa menjadi sarana untuk membentuk kepribadian yang penuh toleransi, media menebar kasih sayang, serasi dan jauh dari keegoisan.

Hubungan yang baik akan terjalin antara yang kaya dan miskin. Setidaknya selama beberapa hari tersebut orang-orang yang miskin akan merasakan kesenangan. Kalau saja hal itu bisa berlangsung terus–setidaknya untuk kebutuhan pokok-tentu tingkat kemiskinan di masyarakat kita akan menurun. Di dalam masyarakat akan tercipta ketenangan dan ketentraman. Sebab, tidak ada lagi perbedaan status/ keadaan hidup yang mencolok. Pengorbanan yang tumbuh dalam pelaksanaan ibadah qurban itu akan mengikis sikap egois dan kikir. Berkurangnya–atau bahkan hilangnya-sikap egois dan kikir itu akan berpengaruh baik bagi kehidupan dan penghidupan orang itu sendiri dan masyarakat luas.

Selanjutnya, berqurban merupakan ibadah wajib menurut sebagian ulama dan sunnat muakkad menurut ulama yang lain, dengan berqurban pula kita mendidik diri kita dan keluarga untuk meresapi makna pengorbanan sebagaimana Nabiyullah Ibrahim As memberikan contoh pengorbanan secara hakiki, dan penyembelihan hewan qurban adalah salah satu ritual dari makna pengorbanan itu untuk menggapai ketaqwaan kepada Allah SWT. Sehingga banyaknya hewan qurban yang disembelih menunjukkan respon masyarakat terhadap seruan ibadah qurban makin meningkat. Daging Qurban, bukan semata pesta sate dan gulai? Tetapi, Ibadah qurban yang kita tunaikan sudah saatnya berfungsi bukan saja menggugurkan kewajiban tapi lebih dari itu mampu memberikan manfaat dan menjadi solusi sebagai jawaban atas kondisi riil yang terjadi di masyarakat. Banyak dari kebiasaan kita dalam berqurban hanyalah identik dengan pesta sate dan gulai dalam 2 sampai 3 hari setelah Idul Adha, sementara dalam waktu 12 bulan ke depan kembali masyarakat (terutama di daerah-daerah miskin) memakan daging hanyalah menjadi khayalan, belum lagi kondisi alam Indonesia yang rentan terhadap bencana alam, yang selalu saja menjadi pemandangan umum ketika bencana alam tiba.

Padahal, dibalik kesadaran kaum muslimin untuk berqurban serta melimpahnya hewan yang diqurbankan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik, tersimpan potensi yang sangat besar bahwa daging qurban digunakan sebagai sarana untuk membina masyarakat miskin, serta daerah-daerah bencana alam. Sebagian yang lain dicadangkan untuk mengantisipasi daerah-daerah yang rawan bencana alam.

Pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh umat terdahulu memang sangat berbeda dengan syari’at qurban dalam Islam. Dalam Islam, risalah qurban merupakan ibadah yang syarat dengan makna. Kisah pengurbanan Nabi Ibrahim As. yang hendak mengurbankan anaknya, Ismail As yang kemudian diganti oleh Allah dengan domba, mengandung pesan bahwa pelaksanaan qurban selayaknya tidak membawa derita bagi manusia. Patut direnungkan bahwa, pelaksanaan ibadah qurban dalam Islam tidak hanya mengandung dimensi ibadah kepada Allah, tapi juga dimensi kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan ini nampak pada distribusi daging hewan qurban kepada yang berhak (Q.S.al-Hajj, 22: 36). Karenanya, para ulama ada yang membagi daging qurban menjadi tiga, yaitu: dimakan, diberikan kepada fakir miskin, dan disimpan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah.” Walaupun demikian, dimensi-dimensi tersebut tidak akan bermakna apa-apa bila tanpa dilandasi dengan refleksi taqwa kepada Allah SWT. Dengan kata lain, aplikasi solidaritas sosial yang diwujudkan melalui qurban harus dilandasi niat yang ikhlas. Bukan niat untuk mencari popularitas, ingin dikenal orang dermawan atau ingin dipikir orang hebat.

Lebih dari itu, pembagian daging qurban kepada mereka yang barhak merupakan upaya pendekatan psikologis atas kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Ibadah qurban adalah wahana hubungan kemanusiaan yang dilandasi oleh semangat sense of belonging dan sense of responsibility yang bisa menyuburkan kasih sayang antar sesama dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah., s.w.t, (taqarrub ilallah). Dengan adanya ibadah qurban, dimaksudkan pula untuk menjembatani hubungan antara si kaya dan si miskin agar tetap harmonis. Si kaya tidak menyombongkan dirinya dan si miskin pun merasa bahwa ia tidak sendiri memikul hidup yang berat ini. Ternyata, masih banyak saudaranya (para aghniya’) yang senantiasa ikhlas memberikan bantuan kepada mereka yang lemah (para dhu’afa).

Wujud kepedulian sesama lewat ibadah qurban ini merupakan satu rangkaian pengabdian kepada Allah yang memiliki dimensi ibadah murni dan juga dimensi kemanusiaan. Dengan kata lain, hablun minannas merupakan salah satu faktor terjalinnya hablun minallah secara baik.

Sesuai dengan asal katanya “Qaruba” yang berarti dekat. Dengan demikian ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah sekaligus ungkapan syukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan kepada kita. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah., s.w.t, dalam Q.S.al-Hajj, 22: 36.

Lewat ibadah qurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Melalui ibadah qurban ini kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita tersebut.

Demikian itulah yang dapat kami sampaikan mengenai Hewan Kurban. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya yang membaca. Aminnn….

Jika anda membutuhkan kambing Aqiqah atau qurban dengan Kualitas terbaik dan berkualitas anda melihat di website kami www.qurban-aqiqah.com atau bisa juga menghubungi nomor berikut ini untuk informasi lebih detailnya. Kami tunggu pesanan anda….

Untuk Informasi Lebih lanjut Hubungi Kami :

TELPON/SMS :

0858-5344-4472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Adab Terhadap Orangtua

By | Berita | No Comments

ADAB TERHADAP ORANGTUA

Rasulullah SAW, bersabda : “Tidak akan (dapat) membalas seorang anak kepada orang tuaya, kecuali si anak itu mendapatkan orang tuanya sebagai hamba sahaya, kemudian si anak membelinya dan memerdekakannya,” (HR : Muslim )

Nelson mandela (2)

Di dalam Al quran karim, Allah memerintahkan kepada seluruh umat manusia untuk tidak berkata “ah” apalagi berkata kasar dan hendaknya merendahkan diri di depan orangtua. Mengapa? Karena melukai perasaan orang tua merupakan perbuatan durhaka dan itu merupakan dosa besar. Dosa ini hanya bisa dihapus dengan meminta maaf kepadanya.

Sudah sepantasnya kita untuk menghormati kedua orangtua dan bertutur dengan baik kepada mereka. Karena kedua orangtua yang paling berjasa dalam hidup kita. Jasa kedua orangtua tak ternilai harganya untuk hidup kita. Maka sudah sepantasnya kita menghormati mereka dan bertutur yang baik dan sopan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar, bahwa Thailasah berkata: “Aku bersama orang-orang yang menolong. Kemudian aku merasa berdosa, dan aku kira dosa itu tidak lain adalah dosa besar. Kemudian aku datang kepada Ibnu Umar aku menceritakan kepadanya, Ibnu Umar berkata: “Apakah perbuatan itu?” Aku menerangkan demikian-demikian. Kemudian Ibnu Umar berkata lagi: “Itu bukan dosa besar”.

Ada 5 (lima) adab terhadap orangtua yang perlu kita ketahui, berikut ini penjelasannya :

1. Tidak memandang orangtua dengan pandangan yang tajam atau tidak menyenangkan.

2. Tidak meninggikan suara ketika berbicara dengan orangtua

Hadits Al Musawwir bin Makhramah radhiallahu’anhu mengenai bagaimana adab para Sahabat Nabi terhadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, disebutkan di dalamnya:

وإذا تكَلَّمَ خَفَضُوا أصواتَهم عندَه ، وما يُحِدُّون إليه النظرَ؛ تعظيمًا له

“jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah” (HR. Al Bukhari 2731).

Dari hadits ini yang dimaksud merendahkan suara dan tidak memandang dengan tajam merupakan akhlak yang mulia dan sikap penghormatan yang tentu sangat layak untuk kita terapkan kepada orang tua. Karena merekalah orang yang paling layak mendapatkan perlakuan yang paling baik dari kita. Sebagaimana telah dijelaskan pada materi sebelumnya.

3. Tidak mendahului mereka dalam berkata-kata

Diantara adab yang mulia kepada orang tua adalah dengan tidak mendahului mereka dalam berkata-kata dan mempersilakan serta membiarkan mereka berkata-kata terlebih dahulu hingga selesai. Berikut ini contoh bagaimana Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu menerapkan adab ini. Beliau berkata:

كنَّا عندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فأتيَ بِجُمَّارٍ، فقالَ: إنَّ منَ الشَّجرةِ شجَرةً، مثلُها كمَثلِ المسلِمِ ، فأردتُ أن أقولَ: هيَ النَّخلةُ، فإذا أنا أصغرُ القومِ، فسَكتُّ، فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ: هيَ النَّخلةُ

“kami pernah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Jummar, kemudian Nabi bersabda: ‘Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang Muslim’. Ibnu Umar berkata: ‘sebetulnya aku ingin menjawab: pohon kurma. Namun karena ia yang paling muda di sini maka aku diam’. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberi tahu jawabannya (kepada orang-orang): ‘ia adalah pohon kurma’” (HR. Al Bukhari 82, Muslim 2811).

4. Tidak duduk di depan orangtua sedangkan mereka berdiri

Dalilnya hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu:

اشتكى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فصلينا وراءَه وهو قاعدٌ, وأبو بكرٍ يُسْمِعُ الناسَ تكبيرَه, فالتفتَ إلينا فرآنا قيامًا فأشار إلينا فقعدنا, فصلينا بصلاتِه قعودًا. فلما سلَّمَ قال: إن كدتُم آنفًا لتفعلون فعلَ فارسَ والرومِ, يقومون على ملوكِهم وهم قعودٌ. فلا تفعلوا. ائتموا بأئمَّتِكم. إن صلى قائمًا فصلوا قيامًا وإن صلى قاعدًا فصلوا قعودًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengaduh (karena sakit), ketika itu kami shalat bermakmum di belakang beliau, sedangkan beliau dalam keadaan duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan takbirnya kepada orang-orang. Lalu beliau menoleh kepada kami, maka beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri. Lalu beliau memberi isyarat kepada kami untuk duduk, lalu kami shalat dengan mengikuti shalatnya dalam keadaan duduk. Ketika beliau mengucapkan salam, maka beliau bersabda, ‘kalian baru saja hampir melakukan perbuatan kaum Persia dan Romawi, mereka berdiri di hadapan raja mereka, sedangkan mereka dalam keadaan duduk, maka janganlah kalian melakukannya. Berimamlah dengan imam kalian. Jika dia shalat dalam keadaan berdiri, maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri, dan jika dia shalat dalam keadaan duduk, maka kalian shalatlah dalam keadaan duduk” (HR. Muslim, no. 413).

Nelson mandela (3)

5. Lebih mengutamakan orangtua daripada diri sendiri atau iitsaar dalam perkara duniawi

Hendaknya kita tidak mengutamakan diri kita sendiri dari orang tua dalam perkara duniawi seperti makan, minum, dan perkara lainnya. Sebagaimana hadits dalam Shahih mengenai kisah yang diceritakan oleh Rasulullah SAW mengenai tiga orang yang terjebak di dalam gua yang tertutup batu besar. Kemudian mereka bertiga bertawassul kepada Allah dengan amalan-amalan mereka, salah satunya berkata:

اللهمّ ! إنه كان لي والدان شيخان كبيران . وامرأتي . ولي صبيةٌ صغارٌ أرعى عليهم . فإذا أرحتُ عليهم ، حلبتُ فبدأتُ بوالدي فسقيتُهما قبل بنيّ . وأنه نأى بي ذاتَ يومٍ الشجرُ . فلم آتِ حتى أمسيتُ فوجدتُهما قد ناما . فحلبتُ كما كنت أحلبُ . فجئتُ بالحلابِ . فقمت عند رؤوسِهما . أكرهُ أن أوقظَهما من نومِهما . وأكرهُ أن أسقيَ الصبيةَ قبلهما . والصبيةُ يتضاغون عند قدمي . فلم يزلْ ذلك دأبي ودأبُهم حتى طلع الفجرُ . فإن كنت تعلم أني فعلتُ ذلك ابتغاءَ وجهِك ، فافرجْ لنا منه فرجةً ، نرى منها السماءَ . ففرج اللهُ منه فرجةً . فرأوا منها السماءَ

“Ya Allah sesungguhnya saya memiliki orang tua yang sudah tua renta, dan saya juga memiliki istri dan anak perempuan yang aku beri mereka makan dari mengembala ternak. Ketika selesai menggembala, aku perahkan susu untuk mereka. Aku selalu dahulukan orang tuaku sebelum keluargaku. Lalu suatu hari ketika panen aku harus pergi jauh, dan aku tidak pulang kecuali sudah sangat sore, dan aku dapati orang tuaku sudah tidur. Lalu aku perahkan untuk mereka susu sebagaimana biasanya, lalu aku bawakan bejana berisi susu itu kepada mereka. Aku berdiri di sisi mereka, tapi aku enggan untuk membangunkan mereka. Dan aku pun enggan memberi susu pada anak perempuanku sebelum orang tuaku. Padahal anakku sudah meronta-ronta di kakiku karena kelaparan. Dan demikianlah terus keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau tahu aku melakukan hal itu demi mengharap wajahMu, maka bukalah celah bagi kami yang kami bisa melihat langit dari situ. Maka Allah pun membukakan sedikit celah yang membuat mereka bisa melihat langit darinya“.

Nah itulah tadi beberapa adab terhadap orangtua yang patut kita teladani. Semoga artikel ini bermanfaat untuk pembaca. Semoga semakin dikuatkan iman dan islam kita semua sehingga menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.

Pro Kontra Vaksin dan Imunisasi

By | Berita | No Comments

PRO KONTRA VAKSIN DAN IMUNISASI

Kata ‘vaksin’ berarti senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh terhadap virus. Itulah sebabnya imunisasi identik dengan vaksinasi. Vaksin terbuat dari virus yang telah dilemahkan dengan menggunakan bahan tambahan seperti formaldehid dan thyrmorosal.

Teriyaki (2)Imunisasi dan vaksin adalah dua hal yang berbeda dimana sering terjadi kerancuan atas keduanya. Imunisasi adalah pemindahan atau transfer antibodi (biasanya disebut dengan daya tahan tubuh) secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu.

Sedangkan vaksin adalah pemberian vaksin (antigen dari virus atau bakteri) yang dapat merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”. Sumber : (Pedoman Imunisasi di Indonesia hal. 7, cetakan ketiga, 2008, penerbit Depkes)

Apabila membahas pro dan kontra vaksin dan imunisasi sudah tentu akan ada pihak yang sependapat dan juga yang tidak sependapat dengan adanya vaksin dan imunisasi. Pihak yang pro akan cenderung mendukung adanya vaksin. Sedangkan pihak yang kontra akan berseberangan dengan pihak yang pro. Berikut ini akan dijabarkan mengenai pro dan kontra penggunaan vaksin dan imunisasi, dikutip langsung dari laman website muslim.or.id

Beberapa pihak yang tidak sependapat adanya vaksin dan imunisasi memiliki beberapa alasan dan landasan antara lain :

  1. Vaksin dihukumi haram karena menggunakan media ginjal kera, babi, aborsi bayi, darah orang yang tertular penyakit infeksi yang notabene pengguna alkohol, obat bius, dan lain-lain. Ini semua haram dipakai secara syari’at.
  2. Efek samping yang membahayakan karena mengandung mercuri, thimerosal, aluminium, benzetonium klorida, dan zat-zat berbahaya lainnya yg akan memicu autisme, cacat otak, dan lain-lain.
  3. Lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya, banyak efek sampingnya.
  4. Kekebalan tubuh sebenarnya sudah ada pada setiap orang. Sekarang tinggal bagaimana seseorang menjaganya dan bergaya hidup sehat.
  5. Konspirasi dan akal-akalan oknum negara lainnya untuk memperbodoh dan meracuni negara berkembang dan negara muslim dengan menghancurkan generasi muda mereka.
  6. Adanya bisnis yang besar di balik program imunisasi bagi mereka yang berkepentingan. Mengambil uang orang-orang muslim.
  7. Menyingkirkan metode pengobatan dan pencegahan dari negara-negara berkembang dan negara muslim seperti minum madu, minyak zaitun, kurma, dan habbatussauda.
  8. Adanya beberapa laporan bahwa anak mereka yang tidak di-imunisasi masih tetap sehat, dan justru lebih sehat dari anak yang di-imunisasi.

Sedangkan beberapa alasan bagi mereka yang pro dengan adanya vaksin dan imunisasi adalah sebagai berikut ini :

Teriyaki (1)

  1. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena telah banyak kasus ibu hamil membawa virus Toksoplasma, Rubella, Hepatitis B yang membahayakan ibu dan janin. Bahkan bisa menyebabkan bayi baru lahir langsung meninggal. Dan bisa dicegah dengan vaksin.
  2. Vaksinasi penting dilakukan untuk mencegah penyakit infeksi berkembang menjadi wabah seperti kolera, difteri, dan polio. Apalagi saat ini berkembang virus flu burung yg telah mewabah. Hal ini menimbulkam keresahan bagi petugas kesahatan yang menangani. Jika tidak ada, mereka tidak akan mau dekat-dekat. Juga meresahkan masyarakat sekitar.
  3. Walaupun kekebalan tubuh sudah ada, akan tetapi kita hidup di negara berkembang yang notabene standar kesehatan lingkungan masih rendah. Apalagi pola hidup di zaman modern. Belum lagi kita tidak bisa menjaga gaya hidup sehat. Maka untuk antisipasi terpapar penyakit infeksi, perlu dilakukan vaksinasi.
  4. Efek samping yang membahayakan bisa kita minimalisasi dengan tanggap terhadap kondisi ketika hendak imunisasi dan lebih banyak cari tahu jenis-jenis merk vaksin serta jadwal yang benar sesuai kondisi setiap orang.
  5. Jangan hanya percaya isu-isu tidak jelas dan tidak ilmiah. Contohnya vaksinasi MMR menyebabkan autis. Padahal hasil penelitian lain yang lebih tersistem dan dengan metodologi yang benar, kasus autis itu ternyata banyak penyebabnya. Penyebab autis itu multifaktor (banyak faktor yang berpengaruh) dan penyebab utamanya masih harus diteliti.
  6. Jika ini memang konspirasi atau akal-akalan negara barat, mereka pun terjadi pro-kontra juga. Terutama vaksin MMR. Disana juga sempat ribut dan akhirnya diberi kebebasan memilih. Sampai sekarang negara barat juga tetap memberlakukan vaksin sesuai dengan kondisi lingkungan dan masyarakatnya.
  7. Mengapa beberapa negara barat ada yang tidak lagi menggunakan vaksinasi tertentu atau tidak sama sekali? Karena standar kesehatan mereka sudah lebih tinggi, lingkungan bersih, epidemik (wabah) penyakit infeksi sudah diberantas, kesadaran dan pendidikan hidup sehatnya tinggi. Mereka sudah mengkonsumsi sayuran organik. Bandingkan dengan negara berkembang. Sayuran dan buah penuh dengan pestisida jika tidak bersih dicuci. Makanan dengan zat pengawet, pewarna, pemanis buatan, mie instant, dan lain-lain. Dan perlu diketahui jika kita mau masuk ke beberapa negara maju, kita wajib divaksin dengan vaksin jenis tertentu. Karena mereka juga tidak ingin mendapatkan kiriman penyakit dari negara kita.
  8. Ada beberapa fatwa halal dan bolehnya imunisasi. Ada juga sanggahan bahwa vaksin halal karena hanya sekedar katalisator dan tidak menjadi bagian vaksinContohnya Fatwa MUI yang menyatakan halal. Dan jika memang benar haram, maka tetap diperbolehkan karena mengingat keadaan darurat, daripada penyakit infeksi mewabah di negara kita. Harus segera dicegah karena sudah banyak yang terjangkit polio, Hepatitis B, dan TBC.

Dari alasan pro dan kontra diatas, dapat kita fahami beberapa hal diantaranya imunisasi dan vaksin dihukumi mubah. Silahkan bagi Anda yang ingin melakukan imunisasi bila sesuai dengan keyakinan. Bagi yang tidak menginginkan imunisasi sesuai dengan keyakinan, dipersilahkan untuk tidak melakukannya karena ini tidak berdosa secara syariat.

Resep Masakan Daging Kambing Teriyaki

By | Berita, Tentang Aqiqah, Tentang Qurban | No Comments

RESEP MASAKAN DAGING KAMBING TERIYAKI

Daging kambing tidak selalu diolah menjadi masakan sate, gule, maupun sop. Anda juga dapat mengolah daging kambing menjadi masakan ala Jepang atau khas lainnya. Mungkin Anda dapat mencoba resep berikut ini agar lebih bervariasi menu masakan olahan daging kambing.

Resep Masakan Kambing Teriyaki

Saat moment Idul Adha biasanya kulkas di rumah akan berlimpah ruah dengan isi daging hewan kurban. Terutama daging kambing yang biasanya lebih banyak dibagikan dibandingkan daging sapi. Meskipun Anda penggemar masakan daging kambing, belum tentu juga Anda gemar mengolah atau memasak daging kambing.

Mengolah daging kambing memang gampang-gampang susah. Salah cara memasak saja dapat membuat mood makan menurun. Hal itu bisa jadi karena daging kambing yang masih amis, alot atau lainya. Nah, untuk menghindari hal semacam itu, berikut ini tips buat Anda dalam mengolah daging kambing. Semoga bermanfaat yaa 🙂

Pertama, singkirkan lemaknya. Aroma prengus pada daging kambing biasanya berasal dari lapisan lemak yang menempel di daging. Buang lemak terlebih dulu yang menempel pada daging dengan mengirisnya. Untuk lebih memudahkan, dinginkan terlebih dahulu daging kambing dalam lemari es. Bila lapisan lemak sudah beku, Anda dapat mengirisnya dengan lebih mudah.

Tips kedua, jangan cuci daging kambing. Normalnya memang daging harus dicuci bersih dulu sebelum dimasak. Tetapi kalau Anda melakukan hal ini pada daging kambing, tekstur daging akan lebih alot dan bau amisnya semakin tajam. Sebaiknya Anda langsung merebus daging kambing dalam keadaan tak dicuci. Buanglah air rebusan kambing, setelah itu olah daging seperti biasanya.

Nah, setelah daging siap dimasak, berikut ini bahan-bahan yang harus dipersiapkan untuk membuat masakan daging kambing teriyaki :

Teriyaki

  1. 200 Gr daging kambing
  2. 3 Sendok makan saus teriyaki
  3. 3 Sendok makan kecap manis
  4. 1/3 sendok garam
  5. 1 sendok teh gula palem
  6. 5 cabai rawit
  7. 1 buah tomat yang telah dipotong bentuk dadu
  8. 2 siung bawang putih yang di keprek
  9. 2 lembar daun jeruk
  10. 1 lembar daun salam
  11. 1/3 sendok teh merica
  12. 2 sendok makan minyakk goreng
  13. 1 ruas jahe
  14. 150 ml air

Setelah bahan-bahan diatas Anda sediakan, berikut ini adalah cara mengolah atau memasak daging kambing teriyaki. Memasak daging kambing teriyaki ini tidak memerlukan waktu lama, jadi Anda dapat mencoba segera saat pasokan daging kambing melimpah ruah di Hari Raya Idul Adha.

Cara membuat daging kambing teriyaki :

  1. Tumis bawang putih dan juga jahe hingga harum.
  2. Masukkan daging kambing yangtelah dipotong-potong (dan telah dihilangkan bau prengusnya). Setelah itu aduk hingga berubah warnanya.
  3. Tambahkan saus teriyaki, merica, kecap, gula palem dan jugagaram secukupnya.
  4. Tambahkan pula air. Setelah itu masak hingga bumbunya meresap dan air telah berkurang.
  5. Masukkan pula tomat serta cabai rawit. Aduk sebentar hingga cabai layu.
  6. Angkat dan sajikan masakan olahan daging kambing teriyaki.
  7. Selamat menikmati.

Dijamin dengan adanya menu baru yang bervariasi, membuat harmonis keluarga Anda dan betah makan dirumah. Sangat menghemat jatah uang masak bukan. Anda juga dapat mengolah daging kambing menjadi olahan lainnya. Simak artikel lainnya yaa untuk resep masakan daging yang lain.

Nah resep ini juga cocok buat Anda yang melaksanakan aqiqah. Daging kambing aqiqah yang akan dihidangkan dimasak dengan menu teriyaki. Anda hanya perlu memesan kambing aqiqah dan jasa pemotongan kambing, kemudian mengolah secara mandiri daging kambing aqiqah. Atau lebih mudah dan praktis, Anda dapat memesan jasa memasak kambing aqiqah pada Aqiqah Berkah. Dijamin puas dan halal.

Manfaat Qurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Manfaat Qurban

Mau merasakan manfaat ibadah kurban? Jawabannya adalah cobalah, maka akan tahu manfaatnya langsung. Kalimat pernyataan dari pertanyaan tersebut bukan pertama kali saya tujukan untuk orang lain, tetapi saya tujukan terlebih dahulu untuk saya pribadi. Bagi saya, mengajak diri sendiri itu bagian awal yang penting. Hal ini juga bagian dari bentuk pelaksanaan ajaran hadits nabi Muhammad, yaitu: Ibda’ bi Nafsi artinya mulailah dari diri sendiri.

Awalnya, memulai belajar berkurban memang cukup berat. Perasaan cinta harta hasil kerja keras membuat setiap manusia kadangkala berpikir ulang untuk mau melakukan pengurbanan. Hal ini wajar dan inilah ujian awal yang biasa dirasakan dan dialami oleh setiap manusia. Apalagi bagi sebagian dari kita yang berpenghasilan pas-pasan. Tentu kebanyakan orang semakin berpikir lebih dari biasanya. Oleh karena itu, niat awal untuk segera ikut serta dalam ibadah kurban menjadi penting. Niat baik adalah awal yang baik.

Perasaan senang untuk melakukan setiap ibadah, termasuk kurban, adalah bagian dari kebutuhan manusia dari hati nurani yang patut diperhatikan. Bila awalnya senang, akhirnya juga senang. Ada istilah dalam bahasa Arab “Man Jadda Wajada” atau dalam Bahasa Inggris “There is Will, There is Way”. Maksudnya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti ada jalan. Di sinilah, perasaan senang itu bisa diciptakan dan diupayakan bila kita mau.

Secara psikologi, Monty Satiadarma menyatakan bahwa perasaan senang dan suasana kebahagiaan seseorang ditentukan oleh kemampuan menerima keadaan, melihat situasi dari sudut pandang positif, menghayati makna pengalaman hidup, merelakan pengalamannya sebagai perubahan dalam hidup, dan bisa melepaskan diri dari belenggu pengalaman emosional.

Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa upaya untuk membuat senang dalam melakukan setiap kebaikan dan ibadah ternyata ada banyak cara dan bisa melalui banyak media. Salah satu caranya adalah mencari tahu apa manfaat bagi kita dalam melakukan ibadah dan kebaikan tersebut. Mengkaji dan membahas manfaat ibadah kurban bisa membuat kita semakin tahu. Bila kita sudah tahu manfaatnya, biasanya kita mau melakukan segala bentuk pengurbanan dan amal kebaikan lainnya. Bahkan, kita seringkali semakin lebih bersemangat untuk berbuat kebaikan tersebut. Pertanyaannya, apa saja manfaat kurban bagi hidup kita di dunia dan akhirat nanti?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, di sini perlu dipahami bahwa kurban yang dimaksud di sini utamanya adalah ibadah kurban hewan pada hari raya Idhul Adha yang dilakukan oleh setiap orang muslim. Namun begitu, kurban di sini juga boleh dimaknai pada aktivitas-aktivitas lainnya yang memiliki unsur pengurbanan dan perbuatan kebaikan.

Bila kita mau dan ingin mengetahui sungguh-sungguh apa saja manfaat dari kurban yaitu Allah telah menjanjikan beberapa keutamaan bagi umat muslim yang menunaikan ibadah kurban, diantaranya: Pertama, dihapuskan dosa dan salahnya. Rasulullah., s.a.w, bersabda kepada anaknya, Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan qurban. ”Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah., s.w.t, Tuhan Alam Semesta.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi).

Kedua, hewan kurbannya akan menjadi saksi amal ibadah di hari kiamat nanti. Dari Aisyah, Rasulullah., s.a.w, bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah (sebagai qurban) di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi). Ketiga, orang yang berkurban dicintai Allah. Bersumber dari hadist pada poin tersebut di atas, berkurban termasuk amalan yang dicintai Allah. Itu berarti bahwa setiap hamba yang melaksanakannya akan memperoleh kecintaan dari-Nya.

Keempat, orang berkurban dikuatkan keimanannya. Dengan berkurban, setiap mukmin dapat mengingat kembali bagaimana kecintaan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail dalam memenuhi perintah Allah. Kisah ini dijadikan sebagai teladan bagi mereka untuk memperkuat imannya kepada Allah.

Kelima, orang berkurban dibalas dengan kebaikan dan pahala yang berlimpah. Dari Zaid ibn Arqam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah., s.a.w, apakah kurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan” (HR. Ahmad dan ibn Majah).

Sungguh luar biasa manfaatnya, bukan? Oleh karena itu, mari kita semakin bersemangat untuk memulai senang dan ikhlas berkurban karena Allah. Secara ritual, ibadah kurban biasanya kita lakukan sekali dalam setahun saat hari raya Idul Adha. Rasanya memang baru kemarin bila kita berkumpul merayakan Idhul Fitri sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu. Saat Idul Adha tiba, kita berkumpul kembali dalam rangka merayakan Idul Adha yang memiliki hikmah dan makna yang amat penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran agama Islam yang substansial. Idul Adha merupakan ritual keagamaan yang syarat makna dan nuansa simbolik- metaforis yang perlu ditafsiri secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universalitas Islam.

Adakah pesan dan pelajaran penting yang dapat dipetik dalam perayaan ibadah kurban? Di setiap merayakan Idhul Adha, kita sesungguhnya diajak berpikir sejenak tapi mendalam maknanya. Utamanya dalam upaya untuk mengenang keteladanan Nabiullah Ibrahim a.s. dan Siti Hajar a.s. ketika ingin mendapatkan hingga melahirkan, mendidik dan mengasuh anak sholih.

Putra Nabi Ibrahim yang pada bernama Ismail tersebut pada akhirnya juga menjadi salah satu nabi Allah., s.w.t. Keberhasilan beliau berdua dalam mendidik putranya adalah sebuah pola asuh demokratis dan islami, bukan pola asuh penelantar, permisif maupun otoriter. Pola asuh demokratis ala Nabi Ibrahim As. itulah seperti cermin yang bisa kita jadikan ukuran, contoh dan teladan dalam kehidupan kita.

Istilah empat tipe pola asuh sebagaimana tersebut di atas, awalnya dikembangkan pertama kali oleh Diana Baumrind. Dari hasil risetnya, pola asuh anak yang dimaksud adalah: pola asuh demokratis, otoriter, permisif dan penelantar (Diana Baumrind, 1967: 23-89).

Secara lebih rinci, Diana Baumrind mengurai satu per satu apa yang dimaksud dari semua pola asuh tersebut. Pertama, pola asuh demokratis dimaknai sebagai pola asuh yang dialogis.

Caranya ada interaksi dua arah yang seimbang. Anak adalah pusat perhatian dan prioritas. Namun bukan berarti orang tua tidak punya kendali. Di sini, orang tua dan anak saling berhubungan dan saling berusaha mengerti satu sama lain. Diungkapkan, orang tua dengan pola asuh ini perlu berperan dan bersikap lebih rasional. Maksudnya, bagaimana orang tua selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran yang terbaik. Dalam hal ini, orang tua juga perlu memberikan kebebasan kepada anak untuk memilah-memilih, melakukan suatu tindakan atau bahkan ikut memberi solusi yang terbaik.

Kedua, pola asuh otoriter diartikan sebagai lawan dari tipe demokratis. Biasanya, orang tua menjadi satu-satunya pengendali yang harus diikuti tanpa kompromi dan dialog. Bahkan, terkadang disertai dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini biasanya tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai situasi dan kondisi anaknya.

Ketiga, pola asuh permisif diartikan sebagai pola asuh pemanja. Peran orang tua biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang salah atau melakukan perbuatan seenaknya. Keempat, tipe penelantar. Orang tua tipe ini biasanya cuek alias kurang memberi perhatian pada anak. Seringkali orang tua kurang memberikan waktu dan perhatian yang cukup untuk anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka sendiri, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat dan kadang hanya digunakan untuk kepentingan orang tuanya sendiri. Naudzubillah!

Dalam konteks inilah, ibadah penyembelihan hewan qurban yang menjadi bagian dari syari’at Islam, yang selalu dilaksanakan setelah shalat ied setiap tahun adalah bentuk penjelmaan dari keshalihan, ketaqwaan dan keikhlasan nabi Ismail kepada Tuhannya. Lebih dari itu, proses sejarahnya sejalan dengan pola asuh demokratis bernuansa Islami sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim sebagai orang tua ketika ia bermimpi disuruh oleh Allah., s.w.t, untuk menyembelih putera kesayangannya, Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim tidak lantas menyembelih puteranya begitu saja, tetapi ia justru mengajak dialog dan memberi tawaran sekaligus meminta masukan dan bahkan persetujuan anaknya.
Apa dan bagaimana respon anaknya nabi Ibrahim? Ternyata nabi Ismail a.s. sebagai anak Nabi Ibrahim menyambut baik dengan penuh ikhlash menerima tawaran ayahandanya untuk disembelih sebagai pembuktian cintanya kepada Allah., s.wt. Nabi Ismail telah mampu mengalahkan keinginan nafsu dan tuntutan dunianya, karena sadar bahwa cinta dan ridhanya kepada Allah melebihi segalanya. Inilah cerita di balik peristiwa keshalehan, ketaqwaan dan keta’atan Ismail diabadikan Allah., s.w.t, dalam al-Qur’an dan sejarah hidupnya menjadi napak tilas pelaksanaan ibadah haji sampai hari ini dan akhir hayat nanti. Subhanallah!

Secara terang-terangn, kisah pola asuh demokratis tersebut diungkap dalam al-Qur’an surat As-Saffat, 37: 102: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” dia (Ismail) menjawab, “ wahai ayahku” lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Dari sini, tidak ada kelirunya bila kita semua dan segenap umat Islam yang menyembelih hewan qurban pada hari raya qurban, mari berusaha berqurban dengan senang dan ikhlas lillahi ta’ala. Artinya berkurban dengan landasan cinta dan taqwa hanya semat-mata karena Allah., s.w.t. Dalam hal ini, tentu kita berusaha menghindarkan diri dari riya’ dan motivasi yang bisa merusak pahala qurban yang dilakukan. Pasalnya, kita semua diingatkan Allah., s.w.t, agar senantiasa berkurban dengan penuh ikhlas tanpa batas seperti diurai dalam Q.S. Al-Hajj. 22: 37, yang berbunyi: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Tidak hanya itu, selain keteladanan keluarga Nabi Ibrahim., a.s, dan sang putera Nabi Ismail dalam hal ketaatannya dan keikhlasannya yang luar biasa dalam menjalankan perintah Allah., s.w.t, dengan menepis berbagai bentuk godaan syaithan, hikmah lain yang bisa dipetik dan diambil pelajaran untuk kita ikuti dalam merayakan setiap hari raya Idul Adha adalah perlunya memupuk semangat untuk memiliki dan membagi.

Pesan implisit ini terbaca dari dari dua ibadah yang dilaksanakan umat Islam mengiringi perayaan Idhul Adha, yakni menyembelih kurban dan melaksanakan haji bagi muslim yang mampu. Setiap muslim yang ingin menyempurnakan kemuslimannya akan berusaha keras untuk melaksanakan kedua ibadah tersebut. Mengingat salah satu kemampuan yang dibutuhkan adalah dari segi finansial, maka dengan sendirinya keinginan kuat itu harus diwujudkan dengan ikhtiar mengumpulkan sejumlah dana yang diperlukan.

Dari sisi inilah hikmah mesti dipetik umat Islam setiap kali merayakan `Idhul Adha, bahwa sesungguhnya ajaran Islam mendorong umatnya untuk bisa memiliki atau mampu secara finansial agar keislamannya bisa disempurnakan.
Tak hanya berhenti pada semangat memiliki, melainkan juga mesti diikuti semangat untuk mau membagi apa yang dimilikinya. Tanpa semangat itu, seorang muslim belum tentu bisa melaksanakan kurban atau haji. Hal ini terbukti bahwa banyak orang yang sudah mampu, tapi enggan berkurban atau melaksanakan haji. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kemauan dan semangat untuk membagi. Kurban tidak semata-mata menyembelih kambing atau sapi, tapi juga membagikan dagingnya kepada mereka yang berhak. Demikian juga haji, tanpa semangat membagi tentu akan sayang untuk mengeluarkan biaya perjalanan haji yang jumlahnya tidak sedikit.

Semangat memiliki tidak boleh melahirkan tindakan menghalalkan segala cara yang bisa menimbulkan kekacauan kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu ajaran Islam memberikan rambu-rambu yang mesti ditaati setiap muslim dalam berusaha untuk memiliki, yaitu dengan cara yang halal, baik dan wajar.

Dalam Al Qur’an secara tegas dilarang mencari rizki dengan cara yang tidak halal atau bathil (QS. An-Nisa’, 4: 29). Misalnya diperoleh dari hasil berjudi (QS. al-Baqarah, 2: 219) atau mencuri (QS. Al-Maidah, 5: 38), korupsi dan cara-cara buruk lainnya. Demikian juga ada hadits yang menyatakan bahwa antara sesama muslim haram darah, harta dan kehormatannya. Jika mencari rizki dengan berdagang hendaknya secara wajar, tidak curang dalam menakar/ menimbang (QS. Al-Muthaffifin, 83: 1-3), dan mengambil keuntungan secara riba sebagaimana diterangkan Allah SWT dalam QS. Ali `Imran, 3: 130: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.

Selain semangat memiliki, Islam juga menyuruh kita untuk mempunyai semangat membagi. Banyak sekali ayat al-Qur’an maupun hadits yang mendorong setiap muslim untuk mau berbagi (berinfaq, bershodaqoh atau berzakat dan sebagainya).

Sayangnya perintah tersebut lebih sering dilihat dari sudut pandang berbeda. Indikasinya paling tidak bisa kita temui, misalnya, masih banyak orang kaya yang enggan berinfaq, bahkan tidak malu menerima infaq, hibah dan sejenisnya yang mestinya tidak berhak mereka terima, setidaknya ada orang lain yang lebih berhak.

Islam mengajarkan kita untuk membagi sebagian rizki yang kita terima kepada kerabat, anak yatim dan orang miskin sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah, 2: 177: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”

Secara khusus, perintah berkurban diungkap dalam al-Qur’an yang bisa kita temukan di berbagai surat/ayat, antara lain dalam surat al-Kautsar, 108: 2; surat al-Hajj, 22: 34-35 dan ayat 36; serta surat ash-Shaffat, 37: 102-107. Selain itu, juga dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam berbagai haditsnya yang bisa ditemukan dalam kitab shahih al-Bukhari, Muslim.

Allah SWT berfirman di dalam surat al-Kautsar, 108: 1-2: ”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurban-lah”. Ayat ini menegaskan kepada kita semua bahwa ibadah kurban merupakan ibadah yang perlu dilakukan selain shalat, utamanya bagi yang mampu.

Dalam hal ini, kurban seringkali dipahami juga sebagai hewan yang disembelih setelah melaksanakan shalat Idul Adha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena Dia Yang Maha Suci dan Maha Tinggi sebagaimana diungkap dalam al-Qur’an surat al-An’am, 6: 162: “Katakanlah: sesungguhnya shalatku kurbanku hidup dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Bagi seorang muslim, inti hikmah di setiap perayaan Idul Adha yang dapat diambil dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan saat ini hingga akhir hayat nanti adalah marilah berusaha semaksimalnya dalam bertaqwa dengan memupuk semangat memiliki dan membagi dengan penuh keikhlasan. Semangat untuk berbagi antar sesama dengan ikhlas merupakan kunci dan esensi berkorban yang akan menumbuhkan ketentraman, kedamaian dan solidaritas sosial masyarakat dan lainnya.

Akhirnya, semoga kita semua selalu diberi kemudahan, kebahagiaan, kekuatan, kesuksesan dalam bersyukur, beriman, bertaqwa kepada Allah., s.w.t, sekaligus kita semua tergolong menjadi orang yang bersemangat untuk berqurban dengan penuh ikhlas lillahi ta’ala, sepanjang hayat masih di kandung badan.

Demikian itulah yang dapat kami sampaikan mengenai Manfaat Qurban. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya yang membaca. Aminnn….

Jika anda membutuhkan kambing Aqiqah atau qurban dengan Kualitas terbaik dan berkualitas anda melihat di website kami www.qurban-aqiqah.com atau bisa juga menghubungi nomor berikut ini untuk informasi lebih detailnya. Kami tunggu pesanan anda….

Untuk Informasi Lebih lanjut Hubungi Kami :

TELPON/SMS :

0858-5344-4472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-