Daily Archives: August 22, 2018

Panduan Kurban #2

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Panduan Kurban #2

Ulasan berikut ini meneruskan utuk artikel yang pedoman kurban. Yukkkk langsung saja di simak….

Urunan Kurban Satu Sekolahan

Terdapat satu tradisi di beberapa lembaga pendidikan di daerah kita, ketika ’Idul Adha tiba sebagian sekolahan menggalakkan kegiatan latihan kurban bagi siswa. Masing-masing siswa dibebani biaya sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari kurban. Apakah ini bisa dinilai sebagai ibadah kurban?

Perlu dipahami bahwa kurban adalah salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki aturan tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syari’at. Apabila keluar dari aturan ini, maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah kurban, alias kurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, biaya pengadaan untuk seekor kambing hanya boleh diambilkan dari satu orang. Oleh karena itu kasus ”tradisi kurban” seperti di atas tidak dapat dinilai sebagai kurban. Karena biaya pengadaan kambing diambil dari sejumlah siswa.

Berkurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal

Berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci sebagai berikut:
Pertama, orang yang meninggal bukan sebagai sasaran kurban utama, namun statusnya mengikuti kurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berkurban untuk dirinya dan keluarganya, sementara ada di antara keluarganya yang telah meninggal. Berkurban jenis ini dibolehkan, pahala kurbannya meliputi dirinya dan keluarganya, termasuk yang sudah meninggal.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Orang yang meninggal dunia termasuk salah satu yang mendapat pahala dari kurban seseorang. Berdasarkan hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk dirinya dan keluarga beliau. Sementara keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup istri beliau yang telah meninggal dan yang masih hidup. Demikian pula ketika beliau berkurban untuk umatnya. Di antara mereka ada yang sudah meninggal, dan ada yang belum dilahirkan. Namun, berkurban secara khusus atas nama orang yang telah meninggal, saya tidak mengetahui adanya dalil dalam masalah ini.” (Syarhul Mumthi’, 7:287).

Kedua, Berkurban khusus untuk orang yang meninggal karena si mayit pernah mewasiatkan agar keluarganya berkurban untuk dirinya apabila nanti dia telah meninggal. Berkurban untuk mayit dalam kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si mayit, dan nilai biaya untuk kurban kurang dari sepertiga total harta mayit.

Terdapat hadits dalam masalah ini, dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah berkurban dengan dua ekor kambing. Pada saat ditanya, beliau menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepadaku agar aku berkurban untuk beliau. Sekarang saya berkurban atas anama beliau.” Hadits ini diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi, namun status hadits ini dhaif, sebagaimana keterangan Syekh Al-Albani dalam Dhaif Sunan Abi Daud, No. 596.

Ibnu Utsaimin mengatakan, “Berkurban untuk orang yang telah meninggal apabila dia pernah berwasiat yang nilainya kurang dari sepertiga hartanya, atau dia mewakafkan hewannya maka wajib ditunaikan.” (Risalah Fiqhiyah Ibnu Utsaimin, Ahkam Udhiyah)

Beliau juga mengatakan, “Allah melarang untuk mengubah wasiat, kecuali jika wasiat tersebut adalah wasiat yang tidak benar atau wasiat yang mengandung dosa, seperti wasiat yang melebihi 1/3 atau diberikan kepada orang yang kaya. Allah berfirman:
“(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 182).

Wasiat untuk berkurban tidak termasuk penyimpangan maupun dosa, bahkan termasuk wasiat ibadah harta yang sangat utama.” (Risalah Dafnul Mayit, Ibnu Utsaimin, hlm. 75)

Ketiga, berkurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit. Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama Madzhab Hanbali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit.

Mereka mengkiyaskan (menyamakan) dengan sedekah atas nama mayit. Disebutkan dalam Fatwa Lajnah Daimah ketika ada pertanyaan tentang hukum berkurban atas nama mayit yang tidak pernah berwasiat untuk kurban. Mereka menjawab, “Berkurban atas nama mayit disyariatkan. Baik karena wasiat sebelumnya atau tidak ada wasiat sebelumnya. Karena ini masuk dalam lingkup masalah sedekah (atas nama mayit).” (Fatwa Lajnah, 21367)

Akan tetapi menyamakan ibadah kurban dengan sedekah adalah analogi yang kurang tepat. Karena tujuan utama berkurban bukan semata untuk sedekah dengan dagingnya, tapi lebih pada bentuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Pada kenyataannya, ibadah kurban tidak dimaksudkan semata untuk sedekah dengan dagingnya atau memanfaatkan dagingnya. Berdasarkan firman Allah:
“Dagingnya maupun darahnya tidak akan sampai kepada Allah, namun yang sampai kepada kalian adalah taqwa kalian” (QS. Al-Haj: 37).

Namun yang terpenting dari ibadah kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih.” (Syarhul Mumthi’, 7:287)

Sementara itu, sebagian ulama bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak diketahui adanya tuntunan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam maupun para sahabat yang menyatakan mereka berkurban secara khusus atas nama orang yang telah meninggal.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan, beberapa orang istri, dan kerabat dekat yang beliau cintai, yang meninggal dunia mendahului beliau. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkurban secara khusus atas nama salah satu diantara mereka. Beliau tidak pernah berkurban atas nama pamannya Hamzah, atau atas nama istri beliau Khadijah atau istri beliau Zainab binti Khuzaimah, tidak pula untuk tiga putrinya dan anak-anaknya radliallahu ‘anhum. Andaikan ini disyariatkan, tentu akan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Oleh Karena itu, hendaknya seseorang berkurban atas nama dirinya dan keluarganya. (Syarhul Mumthi’, 7:287).

Meskipun demikian, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tidaklah menganggap bentuk berkurban secara khusus atas nama mayit sebagai perbuatan bid’ah. Beliau mengatakan, “Sebagian ulama mengatakan, berqurban secara khusus atas nama mayit adalah bid’ah yang terlarang. Namun vonis bid’ah di sini terlalu berat, karena keadaan minimal yang bisa dikatakan bahwa kurban atas nama orang yang sudah meninggal termasuk sedekah. Dan terdapat dalil yang shahih tentang bolehnya bersedekah atas nama mayit” (Syarhul Mumthi’, 7:287)

Usia Hewan Kurban

Jabir radliallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (kurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Uqbah bin Amir radliallahu ‘anhu, mengatakan:
“Kami pernah berkurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menggunakan domba jadza’ah” (HR. Nasa’i 4382, Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan, “Sanadnya kuat. Hadis ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih sunan Nasa’i).

Keterangan:
Hewan musinnah adalah hewan yang sudah masuk usia dewasa. Disebut musinnah dari kata sinnun yang artinya gigi. Pada saat hewan ini menginjak usia musinnah, ada giginnya yang tanggal (poel). Di bawah usia musinnah adalah usia jadza’ah.
Usia musinnah dan jadza’ah hewan berbeda-beda. Berikut rinciannya:

  1. Jadza’ah untuk domba (gembel) : domba yang sudah berusia 6 bulan menurut Madzhab Hanafi dan Hanbali. Adapun menurut Maliki dan Syafi’i adalah domba yang sudah genap satu tahun.
  2. Musinnah untuk kambing, baik kambing jawa maupun domba adalah kambing yang sudah genap satu tahun, menurut Madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali. Sedangkan menurut Madzhab Syafi’i, kambing yang usiannya genap dua tahun.
  3. Musinnah untuk sapi adalah umur dua tahun, menurut Madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali. Sedangkan menurut Malikiyah, sapi yang usianya tiga tahun.
  4. Musinnah untuk unta adalah unta yang genap lima tahun, menurut Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbali.
    Dengan menggunakan batasan minimal dari perselisihan ulama di atas, usia minimal hewan kurban dapat disimpulkan dalam tabel berikut: Domba 6 bulan, Kambing (selain domba) 1 tahun, Sapi 2 tahun, dan Unta 5 tahun. (Shahih Fiqih Sunnah, II:371-372, Syarhul Mumti’, III:410, Taudhihul Ahkaam, IV:461)

Cacat Hewan Kurban

Cacat hewan kurban dibagi menjadi 3 macam:
Pertama, cacat yang menyebabkan tidak sah untuk digunakan berkurban Disebutkan dalam hadits, dari Al-Barra’ bin Azib radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil berisyarat dengan tangannya,

“Ada empat hewan yang tidak boleh dijadikan kurban: buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya ketika jalan, dan hewan yang sangat kurus, seperti tidak memiliki sumsum.” (HR. Nasa’i, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).

Keterangan:

  1. Buta sebelah yang jelas butanya.
    Jika butanya belum jelas –orang yang melihatnya menilai belum buta meskipun pada hakikatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh dikurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. Ulama Madzhab Syafi’i menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk kurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.
  2. Sakit yang jelas sakitnya.
    Jika sakitnya belum jelas, misalnya, hewan tersebut kelihatannya masih sehat maka boleh dikurbankan.
  3. Pincang dan tampak jelas pincangnya.
    Artinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Apabila baru terlihat pincang namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan kurban.
  4. Hewan yang sangat kurus, seperti tidak memiliki sumsum.
    Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari empat jenis cacat di atas maka lebih tidak layak untuk digunakan berkurban. (Shahih Fiqih Sunnah, II:373 dan Syarhul Mumti’ 3:294).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya ketika menyebutkan empat cacat tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadits boleh digunakan sebagai kurban. (Syarhul Mumthi’ 7:464)

Kedua, Cacat yang menyebabkan makruh untuk berkurban, ada dua:

  1. Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong.
  2. Tanduknya pecah atau patah. (Shahih Fiqih Sunnah, II:373)

Terdapat hadits yang menyatakan larangan berkurban dengan hewan yang memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun haditsnya dha’if, sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh dipakai untuk kurban. (Syarhul Mumthi’ 7:470)

Ketiga, Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan kurban (boleh dijadikan untuk kurban) namun kurang sempurna.
Selain enam jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan kurban. Misalnya, tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. Wallahu a’lam
(Shahih Fiqih Sunnah, II:373)

Hewan Kurban Mengalami Kecelakaan

Kasus pertama
Jika seseorang membeli hewan untuk kurban dalam keadaan sehat dan bebas dari cacat, kemudian mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan cacat parah. Apa yang harus dilakukan?
Jawabnya, jika kecelakaan yang terjadi pada hewan ini, di luar kesengajaan pemilik dan bukan karena keteledoran, maka boleh untuk disembelih dengan niat kurban dan dihukumi sebagai kurban yang sah.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Jika seseorang telah menentukan hewan yang sehat dan bebas dari cacat untuk kurban, kemudian mengalami cacat yang seharusnya tidak boleh untuk dikurbankan, maka dia boleh menyembelihnya dan sah sebagai hewan kurban. Ini merupakan pendapat Atha’, Hasan Al-Bashri, An-Nakha’i, Az-Zuhri, At-Tsauri, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ishaq bin Rahuyah.” (al-Mughni, 13:373).

Dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini adalah sebuah riwayat yang disebutkan Al-Baihaqi, dari Ibnu Zubair radliallahu ‘anhu, bahwa didatangkan kepada beliau hewan kurbannya berupa unta yang buta sebelah. Lalu ia mengatakan, “Jika hewan ini mengalami cacat matanya setelah kalian membelinya maka lanjutkan berkurban dengan hewan ini. Namun jika cacat ini sudah ada sebelum kalian membelinya maka gantilah dengan hewan lain.” Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ mengatakan: Sanad riwayat ini shahih. (al-Majmu’, 8:328). Syekh Ibnu Utsaimin menjelaskan dalam Ahkam Al-Udhiyah wa Dzakah, hal. 10.

Jika hewan yang hendak dijadikan kurban mengalami cacat, maka ada dua keadaan:

  1. Cacat tersebut disebabkan perbuatan atau keteledoran pemiliknya maka wajib diganti dengan yang sama, sifat dan ciri-cirinya, atau yang lebih baik. Selanjutnya, hewan yang cacat tadi menjadi miliknya dan bisa dia gunakan sesuai keinginannya.
  2. Cacat tersebut bukan karena perbuatannya dan bukan karena keteledorannya, maka dia boleh menyembelihnya dan hukumnya sah sebagai kurban. Karena hewan ini adalah amanah yang dia pegang, sehingga ketika mengalami di luar perbuatan dan keteledorannya maka tidak ada masalah dan tidak ada tanggungan untuk mengganti.
    Kasus kedua

Hewan yang hendak dijadikan kurban mengalami kecelakaan, hingga sekarat, bolehkah disembelih?
Jawab:
Jika penyembelihan hewan tersebut dilakukan sebelum shalat ‘Id, maka tidak bisa dinilai kurban. Karena diantara syarat berkurban adalah dilakukan di waktu tertentu.

Dengan demikian, pemiliknya wajib mengganti hewan kurban yang lain. Dalilnya adalah hadits dari Jundub bin Sufyan, beliau mengatakan: Saya pernah mendapati ‘Idul Adha bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah beliau selesai shalat, beliau melihat ada kambing yang sudah disembelih. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menyembelih hewan sebelum shalat ‘Id maka hendaknya dia menyembeli kambing penggantinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, jika penyembelihan hewan yang sekarat itu dilakukan setelah shalat, sementara ketika hewan ini dibeli dalam keadaan sehat dan bebas dari cacat, maka bisa dijadikan kurban dan hukumnya sah sebagai kurban.

Demikian penjelasan Syekh Muhamad bin Shalih Al-Munajid di islamqa.com. semoga bermanfaat untuk anda semuanya,,,,

Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Save

Sejarah Qurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

SEJARAH QURBAN

10 Dzulhijjah dalam hitungan tahun Masehi setiap umat muslim di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha. Banyak juga yang menyebutnya dengan Hari Raya Haji karena pada tanggal tersebut umat islam sedang melaksankan ibadah haji utama dengan wuquf di padang Arafah.

Awal mula dari perintah Qurban ini adalah tatkala Nabi Ibrahim as mengalami mimpi yang terjadi secara berturut-turut. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putera kesayangannya, yakni Ismail. Ismail merupakan putera semata wayang dari Nabi Ibrahim yang sangat disayangi serta ditunggunya selama bertahun-tahun. Hati Ibrahim sangat bimbang memikirkan mimpi yang telah dialaminya tersebut. Ismail adalah sosok anak yang penurut, patuh kepada orangtua dan perintah Allah. Selain itu, Ismail juga merupakan anak yang ceria dan memiliki pemikiran yang cerdas.

Kala itu, Ismail sudah diangkat menjadi seorang nabi dan berumur sekitar 13 tahun. Nabi Ibrahim tidak dapat berbuat apa-apa karena perintah itu merupakan perintah dari Allah SWT. Lalu, datanglah ia menemui puteranya yakni Ismail untuk menyampaikan perintah Allah bahwa Ia harus menyembelih anaknya tersebut. Akan tetapi di luar dugaan, ternyata Ismail justru mengamini perintah dalam mimpi ayahnya tersebut. Dirinya tidak merasa takut atau marah kepada ayah kandungnya. Hal tersebut dikarenakan mimpi itu merupakan wahyu dari Allah SWT.

Mendengar jawaban dari puteranya tersebut, membuat Ibrahim terkejut. Ia tidak mengira bahwa anak kesayangannya itu begitu ikhlas untuk menerima perintah dari Allah SWT. Akan tetapi, perintah tersebut bukanlah hal yang mudah bagi Ibrahim. Itu dikarenakan setan terus menggoda dirinya agar membatalkan perintah itu. Namun, usaha yang dilakukan oleh setan itu gagal, ia tidak berhasil menggoda Ibrahim. Begitu pula yang terjadi ketika setan menggoda Ismail, mereka juga mengalami kegagalan. Tidak ingin menyerah, setan kemudian menggoda isteri Nabi Ibrahim akan tetapi usaha tersebut pun tetap tidak berhasil.

Pada hari H, yakni pada tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim dan puteranya pergi ke tanah lapang untuk menjalankan perintah Allah tersebut. Agar Ismail tidak merasakan sakit ketika disembelih, Ibrahim mempersiapkan pedang yang diasah dengan sangat tajam. Selama perjalanan menuju tempat penyembelihan, syetan terus menggoda Ibrahim dan Ismail untuk membatalkan perintah Allah tersebut. Syetan menggoda Nabi Ismail dengan mengatakan bahwa nabi Ibrahim hanya membawa ia untuk dibunuh. Namun, mengingat nabi Ismail sudah diangkat menjadi nabi, ia tidak gentar dan berkata bahwa dirinya siap untuk melakukan perintah Allah SWT.

Iblis tak pernah jera dan tidak kehabisan akal untuk menggoda keduanya. Namun, tiba-tiba nabi Ibrahim dan Ismail mengambil beberapa kerikil di tanah dan melemparkannya ke arah iblis dengan mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar”. Prosesi inilah yang kemudian dikenal sebagai prosesi lempar jumrah.

Di luar dugaan, ternyata Nabi Ismail sudah benar-benar siap untuk disembelih oleh ayahnya. Ia merasa siap karena perintah kepada ayahnya itu merupakan perintah dari Allah SWT. Bahkan Ismail meminta ayahnya untuk menutup wajahnya agar nabi Ibrahim tidak merasa iba ataupun ragu untuk melaksanakan perintah dari Allah SWT.

Kemudian, Ismail juga meminta nabi Ibrahim untuk menajamkan pedangnya serta memberikan beberapa wasiat jika ia telah meninggal nantinya. Karena mendengarkan perkataan serta permintaan nabi Ismail tersebut, nabi Ibrahim mengatakan bahwa nabi Ismail adalah kawan terbaik dalam melaksanakan perintah dari Allah SWT.

Namun, tatkala nabi Ibrahim mulai menggoreskan pedangnya, pedang tersebut selalu terpental. Ismail kemudian berkata bahwa dirinya ingin tali pengikat yang ada di tangan dan kakinya dilepas. Hal itu dilakukan agar malaikat dapat menyaksikan bahwa ia taat kepada Allah SWT. Peristiwa yang terjadi selanjutny adalah peristiwa tradisional yang menjadi sejarah hari raya Idul Adha (hari Raya Qurban) yaitu ketika nabi Ismail ditukar dengan seekor domba oleh Allah SWT.

Ada salah satu riwayat yang menyebutkan bahwa Malaikat Jibril-lah yang membawa domba serta menukarnya dengan Nabi Ismail. Pada saat itu, ditulisan bahwa semesta beserta isinya mengucapkan takbir demi mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran yang dimiliki oleh Ismail dan Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah yang berat tersebut.

Allah SWT memiliki kuasa yang sangat besar. Ismail yang sudah siap untuk disembelih atas kuasa dari Allah SWT digantilah Ismail dengan domba besar, sehat lagi bersih. Mulai saat itulah, setiap tahunnya umat muslim di seluruh dunia diperintahkan untuk menyembelih Qurban oleh Allah SWT. Qurban tersebut dapat berupa domba, sapi, kerbau, ataupun unta. Serta waktu penyembelihannya dilakukan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Karena keikhlasan serta pengorbanan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim as yang rela melakukan perintah Allah untuk menyembelih Ismail maka Nabi Ibrahim berhasil meraih predikat Khaliullah (Kekasih Allah). Semua pengorban yang dilakukan nabi Ibrahim tersebut hanya demi mencapai kecintannya kepada Allah SWT.

Begitulah asal mula atau sejarah adanya qurban. Peristiwa tersebut yang menjadi latarbelakang mengapa kita sebagai umat muslim diperintahkan untuk menyembelih hewan qurban ketika peringatan Hari Raya Idul Adha.

Panduan Kurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Panduan Kurban

Kurang beberapa minggu lagi kita akan menyambut Idul Adha untuk orang islam. Berikut ini kami akan mengulas mengenai kurban. Yukkk mari di simakkk….

Pengertian Kurban

Kurban yang dalam bahasa Arabnya udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari ‘Idul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, karena datangnya hari raya tersebut (Al-Wajiz, hal. 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II:366)

Keutamaan Kurban

Menyembelih kurban termasuk amal salih yang memiliki keutamaan sangat besar. Disebutkan dalam hadis, dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi no.1493 dan Ibnu Majah no.3126. lihat Taudhihul Ahkam, IV:450)

Hadist di atas didhaifkan oleh sebagian ulama. Diantaranya Syekh Muhammad Nasirudin Al Albani. Sebagaimana keterangan beliau dalam Dhaif Ibnu Majah, hadist No. 671.

Akan tetapi, kegoncangan hadist di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berkurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan kurban pada hari ‘Idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau seharga dengan hewan kurban, atau bahkan lebih baik dari itu. Syekhul Islam mengatakan: “Berkurban, aqiqah, hadyu sunnah, semuanya lebih baik, dari pada sedekah dengan uang senilai hewan yang disembelih.” (Majmu’ Fatawa, 6:304)

Hal ini diarenakan, maksud terpenting dalam berkurban adalah mengamalkan sunnah dan syi’ar Islam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, bukan semata-mata nilai binatangnya. Disamping itu, menyembelih kurban lebih menampakkan syi’ar Islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih Fiqh Sunnah 2:379 dan Syarhul Mumthi’ 7:521).

Hukum Kurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat :
Pertama, Wajib, bagi orang yang memiliki kelapangan rizki. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al-Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad beserta beberapa ulama pengikut Imam Malik, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.

Syekh Ibn Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (Syarhul Mumti’, III:408) Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah No.3.123, Al-Hakim 7.672 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Pendapat kedua, kurban hukumnya sunnah mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan yang lainnya. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud

Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dimana beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak berkurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau tetanggaku mengira kurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).

Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berkurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih). Ibnu Hazm berkata, ”Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabat pun yang menyatakan bahwa kurban itu wajib.” (Al-Muhalla 5:295, dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah II:367-368, dan Taudhihul Ahkaam, IV:454).

Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semua dalil, menunjukkan bahwa masing-masing pendapat sama kuat.

Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasihatkan, “… selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berkurban. Karena dengan berkurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam. (Tafsir Adwa’ul bayan, hal. 1120).

Yakinlah, Allah akan segera memberikan ganti biaya kurban yang dikeluarkan oleh orang-orang yang berkurban. Setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdoa:
“Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdoa: “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Al-Bukhari No.1374 & Muslim No.1010).

Hewan Yang Boleh Untuk Kurban

Hewan kurban hanya boleh dari jenis bahimatul an’am (hewan ternak). Dalilnya adalah firman Allah, “Dan bagi setiap umat, Kami berikan tuntunan berkurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezeki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahimatul an’am).” (QS. Al Hajj: 34).

Dalam bahasa Arab, yang dimaksud bahimatul an’am hanya mencakup tiga jenis binatang yaitu: unta, sapi, atau kambing. Oleh karena itu, berkurban hanya sah dengan tiga hewan tersebut dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya kurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (Shahih Fiqih Sunnah, II:369 dan Al-Wajiz hal. 406)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berkurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis hewan ternak tersebut maka kurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berkurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka kurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’ III:409)

Hukum Kurban Kerbau

Para ulama menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2:2975). Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berkurban dengan kerbau. Baik dari kalangan Syafi’iyah, (Hasyiyah Al-Bajirami) maupun dari madzhab Hanafiyah (Al-‘Inayah Syarh Hidayah 14:192 dan Fathul Qodir 22:106). Mereka menganggap keduanya satu jenis.

Syekh Ibn Al-Utasimin pernah ditanya tentang hukum kurban dengan kerbau. Mengenai “Kerbau dan sapi memiliki perbedaan adalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun, Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-An’am: 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”

Beliau menjawab:
“Jika kerbau termasuk (jenis) sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam Al-Qur’an adalah jenis hewan yang dikenal orang Arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang Arab.” (Liqa’at Bab al-Maftuh 200/27)

Dalam situs resmi Syekh Shaleh Al-Fauzan, disebutkan salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada beliau, “Apakah kerbau juga termasuk jenis bahimatul an’am (3 hewan ternak)? Beliau menjawab: “Kerbau termasuk salah satu jenis sapi.”

Dengan demikia, bisa disimpulkan bahwa berkurban dengan kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi. Wallahu a’lam.

Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk kurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits dari Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, ”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, Minhaajul Muslim, hal. 264 dan 266).

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan kurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kurban tahun ini untuk bapaknya, tahun depan untuk ibunya, tahun berikutnya untuk anak pertama, dan seterusnya.

Sesungguhnya karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing kurban, sebelum menyembelih beliau mengatakan:
“Ya Allah ini (kurban) dariku dan dari umatku yang tidak berkurban.” (HR. Abu Daud No. 2810 dan Al-Hakim 4:229. Dishahihkan Syekh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 4:349).

Berdasarkan hadits ini, Syekh Ali bin Hasan Al-Halaby mengatakan, ”Kaum muslimin yang tidak mampu berkurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berkurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ahkamu Al-‘Idain, hlm. 79)

Adapun yang dimaksud “kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan unta sepuluh orang” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dan kurban unta hanya boleh dengan jumlah maksimal sepuluh orang.

Namun seandainya ada orang yang hendak membantu orang lain yang kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status kurbannya. Status bantuan di sini adalah hadiah bagi shohibul kurban. Apakah harus izin terlebih dahulu kepada pemilik hewan? Jawabnya: Tidak harus, karena dalam transaksi pemberian sedekah maupun hadiah tidak dipersyaratkan memberitahukan kepada orang yang diberi sedekah maupun hadiah. Allahu a’lam.

Batasan Anggota Keluarga yang Tercakup dalam Pahala Berkurban

Siapa saja anggota keluarga yang tercakup dalam kurban seekor kambing? Ulama berselisih pendapat tentang batasan “anggota keluarga” yang mencukupi satu hewan kurban.

Pertama, masih dianggap anggota keluarga, jika terpenuhi tiga hal: tinggal bersama, ada hubungan kekerabatan, dan shohibul kurban menanggung nafkah semuanya. Ini adalah pendapat madzhab malikiyah. Sebagaimana yang ditegaskan dalam At-Taj wa Iklil salah satu buku madzhab maliki- (4:364)

Kedua, semua orang yang berhak mendapatkan nafkah sohibul kurban. Ini adalah pendapat ulama mutaakhir di madzhab syafi’iyah.

Ketiga, semua orang yang tinggal serumah dengan sohibul kurban, meskipun bukan kerabatnya. Ini adalah pendapat beberapa ulama syafi’iyah, seperti Asy-Syarbini, Ar-Ramli, dan At-Thablawi.

Imam Ar-Ramli pernah ditanya. Apakah bisa dilaksanakan ibadah kurban untuk sekelompok orang yang tinggal dalam satu rumah, meskipun tidak ada hubungan kekerabatan di antara mereka? Beliau menjawab, “Ya bisa dilaksanakan.” (Fatawa ar-Ramli, 4:67)

Sementara Al-Haitami mengomentari fatwa Ar-Ramli, beliau mengatakan, “Mungkin maksud beliau adalah kerabatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Bisa juga yang dimaksud dengan ahlul bait (keluarga) di sini adalah semua orang yang mendapatkan nafkah dari satu orang, meskipun ada orang yang aslinya tidak wajib dinafkahi.” Sementara perkataan sahabat Abu Ayub ‘Seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya’ memungkinkan untuk dipahami dengan dua makna tersebut. Bisa juga dipahami sebagaimana zhahir hadits, yaitu setiap orang yang tinggal dalam satu rumah, interaksi mereka jadi satu, meskipun tidak ada hubungan kekerabatan. Ini merupakan pendapat sebagian ulama. Akan tetapi terlalu jauh (dari kebenaran). (Tuhfatul Muhtaj, 9:340)

Kesimpulannya, sebatas tinggal dalam satu rumah tidak bisa dikatakan sebagai ahli bait (keluarga). Batasan yang mungkin lebih tepat adalah batasan yang diberikan ulama madzhab Maliki. Sekelompok orang bisa tercakup ahlul bait (keluarga) kurban, jika terpenuhi tiga syarat: tinggal bersama, ada hubungan kekerabatan, dan tanggungan nafkah mereka dari kepala keluarga.

Wallahu a’lam…

Ketentuan untuk Sapi dan Unta

Seekor Sapi dijadikan kurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor unta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, ”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya ’Idul Adha maka kami pun berserikat untuk seekor sapi sebanyak tujuh orang dan sepuluh orang untuk kurban seekor unta.” (Shahih Sunan Ibnu Majah No. 2536, Al-Wajiz, hal. 406).

Dalam masalah pahala, ketentuan kurban sapi sama dengan ketentuan kurban kambing. Artinya, tujuh orang patungan untuk kurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari tujuh orang yang ikut patungan tersebut.

Arisan Kurban Kambing

Mengadakan arisan dalam rangka berkurban termasuk dalam pembahasan berhutang untuk kurban, karena hakikat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berkurban meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dari Sufyan At-Tsauri (Tafsir Ibnu Katsir, Al-Hajj:36). Sufyan At-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta kurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta kurban?” Beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman:
Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta qurban tersebut) (QS: Al Hajj:36). (Tafsir Ibnu Katsir, surat Al Hajj: 36)

Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah. Beliau menyarankan agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.

Salah satu putra Imam Ahmad, yang bernama Salih, pernah bertanya kepada beliau, “Ada seseorang yang anaknya baru lahir, namun dia tidak memiliki dana untuk aqiqah. Mana yang lebih baik menurut Ayah: berhutang untuk aqiqah, atau mengakhirkan aqiqahnya sampai dia memiliki kemudahan untuk melaksanakannya?”

Jawaban Imam Ahmad, “Hadis yang paling tegas dalam hal ini adalah hadis tentang Al-Hasan dari Samurah radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.’ Aku berharap jika dia berhutang (untuk aqiqah), agar Allah segera menggantinya, karena dia menghidupkan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajaran yang beliau bawa.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 64)

Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berkurban. Di antaranya adalah Syekh Ibn Utsaimin dan ulama-ulama tim fatwa islamweb.net dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 dan 28826). Syekh Ibn Utsaimin mengatakan: “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada menunaikan kurban.” (Syarhul Mumti’ 7:455).

Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi kurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, beliau menjawab: “Jika dihadapkan dua permasalahan antara berkurban atau melunasi hutang orang fakir maka lebih utama melunasi hutang, apalagi jika orang yang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (Majmu’ Fatawa wa Risalah Ibn Utsaimin 18:144).

Pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika berkurban dipahami untuk orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau untuk hutang yang jatuh temponya masih panjang.

Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang daripada kurban dipahami untuk orang yang kesulitan melunasi hutang atau pemiliknya meminta agar segera dilunasi.

Dengan demikian, jika arisan kurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berkurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a’lam.

Semoga Bermanfaat apa yang kami sampaikan di atas.

Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Save