Daily Archives: September 1, 2018

Kambing Kurban di Cirebon

By | Berita | No Comments

Kambing Kurban di Cirebon

Para sahabat yang berbahagia kini sebelum kami mengulas mengenai kambing qurban di Cirebon. Kami akan mengulas dahulu mengenai perempuan belum menjadi subjek dalam sejarah qurban. Simak ulasan berikut ini…

sapi-qurban-sehat
Tema qurban sering kali dibicarakan dalam berbagai forum. Bedanya dengan yang dikaji di sini adalah upaya mengaitkan tema qurban ini dengan perempuan yang sering kali menjadi korban dalam berbagai tindak kekerasan. Kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual. Tema ini menjadi lebih aktual manakala disajikan bersamaan dengan momen Idul Adha atau Idul Qurban. Kajian tentang qurban selama ini hanya dikaitkan dengan pengurbanan yang dilakukan Ibrahim AS terhadap Ismail. Sedikit sekali atau bahkan tidak ditemukan adanya perspektif perempuan dalam memaknai ritual Haji atau Idul Qurban.

Perempuan Belum Menjadi Subjek dalam Sejarah Qurban

Bila dilihat dalam istilah Arab maka qurban berasal dari kata q-r-b artinya dekat. Qurban berarti melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Istilah lain untuk hewan qurban adalah al-ud-hiyyah yang berarti suatu pemberian kepada Tuhan yang didasarkan kepada ketaatan-ketaatan tanpa resiko. Dalam hal ini ada sejenis cinta tidak bersyarat dan tidak akan pernah dipertanyakan atau diragukan. Mungkin dalam dalam bahasa perkawinan hal tersebut dapat disamakan dengan istilah ”mawaddah wa rahmah” Mawaddah adalah sebuah ketaatan yang masih didasarkan pada syarat-syarat tertentu.

Tetapi kalau rahmah maka dalam hal ini berarti seseorang akan selalu memberikan sesuatu dan justru akan menemukan makna ketika ia memberi. Sangat disayangkan dalam keseharian kita justru semangat udhiyyah seperti di atas semakin hilang. Ketika ada kata take and give (memberi dan menerima), maka yang sering muncul justru keakuan. Padahal yang ingin diajarkan dalam semangat kurban tadi adalah bagaimana orang berpikir untuk selalu memberi (tanpa berharap menerima pamrih). Berkaitan dengan istilah bahasa korban dan kurban saya pikir hal ini adalah hanya upaya bahasa Indonesia yang membedakannya. Sedangkan kalau dilihat ke bahasa Inggris, korban seringkali diterjemahkan sebagai victim, padahal korban yang dimaksud dalam istilah keagamaan Islam adalah sebuah dedikasi kepada Tuhan.

Disinilah terlihat sejauh mana kemampuan bahasa itu sendiri mentransformasi satu makna budaya yang nuansanya agak teologis. Kalau ada bahasa ad-ha, yud-hi, maka bagi saya itu adalah sebuah refleksi diri yang nuansanya menggambarkan satu jiwa yang tidak pernah mempertanyakan dan selalu berfikir untuk memberi, karena dengan memberi, orang tersebut menemukan kebahagiaan.

Batasannya mungkin ketika tidak ada lagi orang yang berpikir pada formalistis. Seringkali kita terjebak dalam bahasa aku sudah berkorban’ yang berarti ‘aku sudah menyelesaikan sesuatu secara formal’. Yang dijadikan pijakan dasar ibadah qurban adalah keinginan memberi. Maka tidak ada batas berkorban, yang ada hanya hitungan tahun, atau hitungan jumlah, misalnya satu sapi untuk tujuh orang. Semakin banyak orang berkeinginan untuk memberi maka pengorbanan menjadi sesuatu yang ringan untuk dilakukan. Saya mengangkat cerita Ibrahim, terutama cerita Ismail, tergambar di dalamnya gambaran cinta yang tulus dari seorang hamba kepada Tuhannya. Kalaupun itu kemudian muncul melalui sebuah mimpi maka dia pun tidak akan pernah meragukan mimpi itu.

Mungkin kita dapat memulai perbincangan dengan sejarah qurban. Memang selama ini sejarah didominasi oleh laki-laki karena yang terlibat di dalamnya adalah laki-laki. Walaupun ada perempuan di balik ‘panggung’ sejarah, tetapi tampaknya dalam sejarah kurban tersebut lebih banyak dilihat sebagai skenario teologis Ibrahim dan Ismail. Dalam sejarah tersebut tidak pernah memunculkan pertimbangan seorang ibu (Siti Hajar) yang juga merasa mempunyai anak kesayangan. Dialog-dialog yang ada dalam sejarah qurban tidak pernah melibatkan suara dari Siti Hajar sebagai seorang ibu. Saya kira untuk mengangkat isu gender dalam sejarah qurban, perlu dilihat posisi Hajar. Saya sendiri belum menemukan di mana suara Hajar dapat didengar. Saya pikir mungkinkah ada satu pembuangan sejarah dari proses pengurbanan tersebut oleh kelompok-kelompok tertentu yang berkepentingan hanya untuk memunculkannya sebagai isu ibadah saja.

Kembali agak jauh ke belakang. Sejarah yang diwarisi hingga sekarang nampaknya lebih banyak dirujuk dan dimaknai dari peristiwa kurban zaman Ibrahim. Kalaupun dilihat jauh kebelakang maka secara simbolis masalah kurban yang dilakukan Qobil dan Habil adalah bagian dari simbol-simbol dari sebuah gambaran penyerahan diri secara tulus. Yaitu ketika sebuah perintah ketuhanan (titah ilahiyah) perlu ditaati.

Kalau dalam aturan (qaidah) awalnya yaitu ketika anak-anak Adam tersebut berebut seorang perempuan, maka memang perempuan kemudian muncul hanya sebagai obyek yang diperebutkan.

Yang menarik dari dua peristiwa tersebut (perintah kurban dan perebutan perempuan) adalah bahwa tidak ada perempuan yang diposisikan sebagai subyek dalam masalah tersebut, paling tidak dengan menyuarakan identitas dirinya. Akan tetapi saya melihat bahwa dua peristiwa pada zaman Nabi Adam ini tidak terlalu signifikan dalam sejarah ritual Islam, karena saya melihat yang dicontohkan oleh Qabil dan Habil lebih kental pada sejarah permusuhannya. Kalaupun ada unsur ‘ubudiyah (ibadah) dalam konstruksi fiqh yang dianut sekarang maka hal itu tidak merujuk kepada peristiwa tersebut.

Ketika sejarah telah menggambarkan ketidakterlibatan Hajar maka mungkin kita dapat memahaminya melalui konteks historisnya yaitu di mana posisi Hajar adalah hanya sebagai isteri kedua dan pernah ‘dibuang’. Nash-nash yang menyuarakan Hajar sangat jelas menyebutkan bahwa dia harus diusir dan dibuang di satu tempat. Bagi saya hal ini adalah sebuah tantangan moral. Apakah pengorbanan Hajar itu dapat dipahami sejak dia diusir dari keluarga utama? Bagi saya walaupun itu tidak diungkapkan secara jelas, tetapi sejarah mengungkapkan bahwa ada jiwa seorang ibu yang lebih dari sekadar mengatakan bahwa dia pun berkorban.

Ungkapan-ungkapan yang ada hanyalah sebuah kebisuan dan hal ini dapat diartikan sebagai sebuah bentuk kepasrahan. Saya justru lebih menangkap bahwa Hajar terbentuk sebagai istri kedua yang berada dalam posisi subordinatif dari istri pertama suaminya. Sehingga sulit mengharapkan untuk melibatkannya sebagai pelaku utama dalam ‘drama kosmik’ qurban .

Dalam agama, yang paling dalam adalah hal moralitas. Apa yang dicontohkan dalam sejarah Ismail dan Ibrahim adalah gambaran dari sebuah ungkapan yang melintas batas-batas formalisme. Yang dimunculkan dari makna kurban bagi perempuan adalah justru ketulusan yang luar biasa. Kemudian kita mencoba memperjuangkan perempuan dan laki-laki melalui simbol-simbol ideologis yang ada. Saya setuju ketika pemberdayaan perempuan dengan segala upayanya mampu melebur hal-hal yang sangat formal ke dalam makna-makna yang lebih jauh, dibandingkan bahasa-bahasa fiqh dan hukum. Kalaupun kemudian ada bahasa hukum yang ingin membebaskan perempuan dari segi kekerasan, maka bagi saya akarnya adalah tidak semestinya ada pihak yang dikorbankan lagi. Maka berpikirlah untuk tidak menjadi pelaku yang mengorbankan orang lain. Dan hal itulah yang dikutip dalam sebuah hadis bahwa kebaikan adalah kemampuan untuk membahagiakan orang lain. Menurut saya makna qurban salah satunya datang dari contoh Ibrahim yang menyembelih anaknya. Ismail sebagai anak Ibrahim yang harus disembelih adalah perwakilan dari laki-laki.

Nah itulah mungkin yang dapat kami sampaikan mengenai pembagian hewan qurban. Barikut ini harga kambing qurban di Cirebon.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Cirebon

Untuk sobat semua yang tinggal di Cirebon dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2018 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 24-29 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2018 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2018 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2018 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota semarang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Nilai tambah hewan qurban Aqiqah Berkah

  1. Syarat hewan qurban sesuai syar’i
  2. Umur hewan telah mencukupi (Nishab)
  3. Dipelihara secara baik dan tidak ber-aib
  4. Ternak berasal dari daerah bebas penyakit menular
  5. Ternak berasal dari penampungan yang jelas
  6. Ternak mendapatkan perlakuan yang layak

Silahkan bagi sahabat Aqiqah Berkah yang ada di wilayah Cirebon dan sekitarnya yang ingin memesan penawaran paket qurban 2018 dari kami. Karena kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra anda yang beramanah untuk membantu kelancaran ibadah qurban anda. Pesan paket qurban yang anda kehendaki mulai dari sekarang, untuk mendapatkan harga yang ekonomis. Berikut kontak kami yang dapat anda hubungi.

TELPON / SMS : 085853444472

Qurban, Idul Qurban dan Hakikat Qurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

QURBAN, IDUL QURBAN DAN HAKIKAT PENGORBANAN

kurban

Hari Raya Idul Adha atau dinamakan juga dengan Idul Qurban, Idul Nahr dan Hari Raya Haji mempunyai derajat dan nilai yang lebih tinggi daripada idul fitri, hari raya idul adha diberikan predikat Idul Akbar artinya hari raya agung, sedangkan idul fitri diberi predikat Idul Ashghar artinya hari raya yang kecil.

Idul fitri itu dengan predikat idul ashghar, hari raya kecil adalah karena tingkat perjuangan kaum muslimin pada waktu itu barulah dalam taraf yang kecil. Pengorbanan yang diminta, hanyalah baru terbatas pada pengorbanan jasmaniah.

Sedangkan idul adha itu diberikan predikat idul akbar, hari raya agung sebab pada saat itu bentuk perjuangan sudah meningkat memasuki tahap yang lebih besar dan tinggi, yaitu mengorbankan kesenangan diri dalam menunaikan ibadah haji dan melaksanakan qurban.

Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu peristiwa penting yang merupakan essensial dari Idul Adha ini adalah penyemblihan hewan qurban, yang dilakukan bukan saja oleh jamaah-jamaah haji, melainkan dapat dikatakan oleh kaum Muslimin diseluruh penjuru dunia.

Adapun amal dan tata cara berqurban itu telah ada sejak zaman dahulukala, dilakukan oleh Nabi-Nabi sejak Nabi Adam dan dijumpai dalam ajaran tiap-tiap agama, meskipun motif dan caranya berbeda. Tetapi yang mula-mula melaksanakan qurban itu secara tertib dan teratur adalah Nabi Ibrahim as, Kemudian Nabi Muhammad Saw meninggalkanya menjadi satu amaliah Islam yang dilaksanakan pada tiap-tiap tahun.

Sesorang yang mengorbankan sesuatu menurut pandangan Islam, sesungguhnya adalah mengharap keridhoan Allah semata, bukan karena yang lain. Oleh karena itu, ia akan mengorbankan apa yang dimilikinya, meskipun karena itu ia tidak akan disukai, dibenci, bahkan dimusuhi oleh selain Allah. Inilah salah satu kunci pengorbanan. “Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambanya (QS. Al Baqarah : 208)

Orang yang berkorban adalah orang yang menempatlkan Allah sebagai prioritas utama dan pertama dalam hidupnya, Ia akan mengorbankan hal-hal lain dibawah priorotas Allah. “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugianya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah : 24)

Seorang yang berkorban sesungguhnya adalah orang yang menukarkan apa yang dimilikinya dengan yang lebih baik. Itulah hakikat pengorbanan yang sebenarnya.

SERUAN QURBAN DALAM AL QUR’AN DAN HADIST

“Sesungguhnya Kami telah memberikmu nimat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan Berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu akan terputus” (QS. Al Kautsar:1-3)

“Dan hewan-hewan kurban itu Kami jadikan buatmu sebagai salah satu upacara kebaktian kepada Allah dan banyak sekali manfaatnya bagimu, maka sebutkanlah nama Allah waktu menyembelihnya dalam keadaan berbaris, Dan jika hewan-hewan itu telah jatuh berguguran, makanlah sebagian, dan berikanlah pula kepada orang-orang miskin, baik yang tak hendak meminta maupun yang meminta, demikianlah Kami serahkan ia kepadamu semoga kamu mau bersyukur, tidaklah akan sampai kepada Allah daging atau darahnya, dan hanya takwa kepadaNya jua yang akan sampai dan diterimaNya” (Q.S Al Haj: 36-37)

“Dari Aisyah r.a sesungguhnya Nabi saw bersabda tidak ada suatu amal yang dikerjakan oleh anak Adam pada hari nahr yang teramat dicintai Allah, melainkan mengalirnya darah, dan sesungguhnya dia (binatang qurban) itu kelak di hari kiamat sungguh akan datang dengan tanduk-tanduknya, kukunya dan rambut-rambutnya, dan sesungguhnya darah itu akan sampai kepada Allah azza wajallah di tempat (pemotongan itu) sebelum bintang itu jatuh ke tanah, karena itu niatlah dalam qurban itu dengan hati yang tulus (HR. Ibnu Majah dan Tarmidzi)

Dari Zaid bin Arqam ia berkata : Aku bertanya Ya Rasulullah darimana (syariat) qurban ini ? Ia menjawab : “Ini adalah sunnah ayahmu Ibrahim “. Mereka juga bertanya ; Apa yang akan kami peroleh dari qurban itu ? Ia menjawab :”Pada setiap rambutnya ada ayahmu Ibrahim “. Mereka juga bertanya ; Apa yang akan kami peroleh dari qurban itu ? Ia menjawab :”Pada setiap rambutnya ada satu kebaikan”. Mereka juga bertanya lagi: bagaimana dengan bulu-bulunya ? Ia menjwab : “Pada setiap rambut dan bulu-bulu itu ada kebaikanya” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari Abi Hurairah ia berkata “ Rasulullah saw bersabda “Barang siapa mendapatkan kemampuan, lalu dia tidak qurban, maka jangan sekali-kali dia mendekati tempat shalat kami” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

SYARAT- – SYARAT HEWAN QURBAN

Dari Jabir r.a ia berkata : Rasulullah saw bersabda “janglah kamu menyembelih (untuk qurban) kecuali yang sudah cukup umur (musinnah), kecuali kalau kamu kesulitan, maka sembelihlah anak kambing jadza’ah (anak kambing yang berumur 8 atau 9 bulan). (HR. Jama’ah, kecuali Bukhori dan Tirmidzi)

Dari Barra bin Azib ia berkata : Pamanku dari ibu namanya Abu Burdah menyembelih qurban sebelum shalat (‘ied), lalu Rasulullah bersabda kepadanya :”kambingmu itu adalah kambing daging”. Kemudian ia berkata : Ya Rasulullah aku (masih) punya kambing kacangan jadza’ah yang jinak. Maka sabda Nabi : Sembelihlah dia, dan dia itu tidak patut untuk selain engkau”.

Kemudian ia bersabda pula : “ Barangsiapa menyembelih (qurban) sebelum shalat (‘ied), maka dia hanya menyembelih untuk dirinya sendiri, dan barang siapa menyembelih sesudah shalat, maka berarti telah sempurna qurbanya dan cocok dengan sunnah kaum muslimin” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Dari Abi Hurairah ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : sebaik-baik binatang qurban adalah kambing jadza’ah (anak kambing yang berumur 8 atau 9 bulan). (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dari Ali r.a ia berkata : Rasulullah saw melarang qurban dengan binatang yang tanduknya pecah atau telinganya terbelah. Qatadah berkata : Kemudian kusampaikan hal itu kepada sa’ad bin Musayyab, maka katakanlah : Yang dimaksud binatang yang demikian itu adalah yang pecah atau terbelah separoh (dari tanduk dan telinganya) atau lebih (HR. Imam yang lima) atau terbelah separoh (dari tanduk dan telinganya) atau lebih (HR. Imam yang lima)

Dari barra bin Azib ia berkata : Rasulullah saw besabda : Ada empart binatang yang tidak boleh dipakai buat qurban, yaitu : Yang buta yang nyata-nyata butanya, yang sakit yang nyata-nyata sakitnya, yang pincang yang nyata-nyata pincangnya dan yang patah yang tidak dapat disembuhkan (HR.Imam yang Lima disyahkan oleh Tirmidzi)

Hendaklah telah cukup besar atau cukup umur, seekor unta dikatakan cukup besar apabila berumur lima tahun, sapi bila telah berumur dua tahun, dan kambing bila telah berumur satu tahun.

Hendaklah sehat dan tidak cacat, Maka tidak boleh ternak yang pincang, buta sebelah, berkurap atau kurus, dan lain-lain.

BILANGAN HEWAN QURBAN

“Kami menunaikan haji bersama Rasulullah saw, maka kami sembelih satu ekor unta buat tujuh orang dan satu ekor sapi buat tujuh orang “ (H.R Ahmad dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.a sesungguhnya Nabi saw didatangi seorang laki-laki, Lalu si laki-laki itu berkata : Saya harus memotong seekor (onta/sapi) badanah (onta/sapi yang gemuk). Dan saya memang seorang yang mampu, tetapi saya tidak mendapatkan badanah itu, lalu saya akan membelinya. Kemudian Nabi saw menyuruhnya membeli tujuah ekor kambing, kemudian disembelihnya (HR. Ahmad dan Ibnu Majjah)

Dari Jabir, ia berkata : Aku disuruh Rasulullah bersekutu dalam seekor onta atau sapi, untuk setiap tujuh orang dengan seekor badanah. (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Dari Atha bin Yasar ia berkata :” Aku pernah bertanya kepada Ayyub al Ashari :Bagiamana qurban yang pernah kamu lakukan di zaman Rasulullah saw ? maka jawabanya : Adalah seseorang di zaman Rasulullah saw (biasa) qurban seekor kambing untuk dirinya dan untuk keluarganya, lalu mereka (keluarga) itu makan dan membagikan kepada fakir miskin, sehingga orang-orang ramai-ramai begitu. Begitulah akhirnya menjadi seperti yang kamu lihat sekarang ini (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi).

WAKTU PENYEMBELIHAN

Seluruh hari Tasriq merupakan waktu penyembelihan “ (HR.Ahmad)

Dari Anas ia berkata : Nabi saw bersabda pada hari nahr:” Barangsiapa menyembelih (qurban) sebelum shalat, maka hendaklah ia mengulangi “ (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Dari Jundab bin Sufyan al Bajali, sesungguhnya ia pernah shalat bersama Rasulullah saw pada hari Adlha-ia berkata- lalu ia salam, tiba-tiba di situ ada daging,sedang sembelihan-sembelihan qurban itu sudah dikenal, maka Rasulullah saw pun mengenal bahwa binatan-binatang qurban tersebut telah disembelih sebelum shalat. Kemudian ia bersabda :” Barangsiapa menyembelih (qurban) sebelum shalat, maka hendaklah ia menyembelih yang lain sebegai gantinya, dan siapa yang belum terlanjur menymbelih sehingga kita selesai mengerjakan shalat, maka hendaklah ia menyembelih dengan menyebut asma Allah” (HR. Ahmad, Bukhori, dan Muslim)

MEMAKAN DAN MEMBAGI DAGING QURBAN SERTA MENYIMPANNYA

Dari Aisyah, ia berkata : Ahli-ahli rumah dari penduduk desa pada datang pada hari penyembelihan qurban, di zaman Rasulullah saw, lalu Rasulullah saw bersabda :”simpanlah-sampai tiga kali-, kemudian sedekahkanlah yang tersisa”. Sesudah itu mereka bertanya : Ya Raulullah ! Orang-orang pada membuat tempat air dari kulit qurban mereka dan diisinya dengan samin. Maka bertanya Nabi :”apa?” Mereka bertanya : apakah engkau melarang makan daging qurban sesuadah tiga hari ? Jawab Nabi “Aku hanya melarang kalian karena masih ada orang-orang yang sangat membutuhkan, tetapi sekarang makanlah, simpanlah dan sedekahkanlah” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Dari Jabir , Ia berkata : Kami tidak pernah makan daging-daging onta kami lebih dari tiga hari Mina, lalu Rasulullah saw memberi kelonggaran kepada kami, yaitu ia bersabda “makanlah dan jadikanlah perbekalan”. (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Dari Abu Sa’id : sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Hai penduduk Medinah ! janglah kamu makan daging qurban sesudah tiga hari”. Lalu mereka mengadu kepada Rasulullah, bahwa mereka mempunyai keluarga, bujang dan khadam. Maka ia bersabda :”Makanlah, berikanlah, tahanlah dan simpanlah”. (HR. Muslim)

“Dari Buraidah, ia berkata : Rasulullah saw bersabda :” Aku pernah melarang kalian makan daging qurban sesudah tiga hari, supaya orang yang mampu bisa menyantuni orang yang tidak mampu. Maka makanlah apa yang nampak bagi kamu, berikanlah dan simpanlah. (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi)

“Kami pernah membawa perbekalan dari daging qurban ke Medinah di zaman Rasulullah saw”. (HR. Bukhori dan Muslim)

HAL- – HAL YANG HARUS DIJAUHI OLEH ORANG YANG HENDAK BERQURBAN

Dari Ummu Salamah r.a sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : Apabila kamu telah melihat hilal (tanggal satu) dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu itu hendak berqurban, maka hendaklah ia menahan rambut dan kuku-kukunya (HR. Jama’ah kecuali Bukhori)

Dari suatu lafal dari Abu Daud, yang juga dari Muslim dan Nasai dikatakan :”Barangsiapa yang memeiliki qurban untuk disembelihnya, kemudian apabila hilal Dzul Hijjah telah nampak, maka jangan sekali-kali dia memotong rambut dan kuku-kukunya hingga ia berqurban

HIKMAH IBADAH QURBAN DALAM IDUL QURBAN

  1. Sebagai manipestasi dan ujian ketakwaan kaum muslimin terhadap Allah swt
  2. Menebar semangat berqorban dan sifat dermawan diantara sesama kaum muslimin.
  3. Sebagai ujian bagi yang diamanahi kekayaan yang berlebih dari yang lainya untuk mengorbankan
  4. Sebagai ujian bagi yang diamanahi kekayaan yang berlebih dari yang lainya untuk mengorbankan sebagian dari hartanya bagi kemaslahatan saudaranya.
  5. Sebagai parameter ketaatan kita terhadap Allah swt.
  6. Media bersyukur dan berbagi nikmat kekayaan yang Allah limpahkan dan lain-lain

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai qurban, idul qurban dan hakikat qurban. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS            : 085749622504

 

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-