Aturan dan Tata Cara Penyembelihan

Aturan dan Tata Cara Penyembelihan

Alhamdulillah, segala pujian hanyalah untuk Allah SWT yang menjadikan alam semesta ini. Selawat dan salam ke atas junjungan Baginda Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga dan sekalian para sahabatnya. Kami disini akan mengulas persoalan aturan dan tata cara penyembelihan. simak artikel berikut ini…

penyembelihan1
Pertama, tidak boleh menyembelih kecuali seorang muslim atau ahli kitab (yahudi dan nasrani) yang telah tamyiz (sejak tujuh tahun) dan berakal. Orang yang menyembelih harus berniat menyembelih untuk dimakan. Tidak boleh ditujukan untuk selain Allah dan tidak boleh menyebut nama selain Allah ketika menyembelih. Ini semua adalah syarat sah sembelihan.

Kedua, wanita dibolehkan untuk menyembelih hewan. Status sembelihan wanita adalah sah dan halal. Dalilnya adalah “Bahwa seorang budak perempuan milik Ka’ab bin Malik pernah menggembalakan kambing-kambing di Sala’ (nama sebuah daerah). Lalu salah satu kambingnya terkena sesuatu, lalu budak itu mendapatinya dan menyembelih kambing itu dengan batu. Kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam ditanya mengenai hal itu dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Makanlah kambing itu.” (HR Bukhari, No. 5081).

Ketiga, dianjurkan bagi orang yang berkurban untuk menyembelih kurbannya sendiri (tanpa diwakilkan). Namun jika penyembelihannya diwakilkan maka kurbannya sah.

Syekh Ali bin Hasan Al-Halabi mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya perselisihan di antara ulama dalam masalah ini.” (Ahkam Al-Idain, hal. 32). Apabila pemilik kurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya.

Keempat, wajib memperlakukan hewan dengan baik ketika menyembelih. Penyembelihan dilakukan dengan cara yang paling mudah dan paling cepat mematikan.

Dari Syaddad bin Aus radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan kepada semuanya. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Keterangan: ihsan adalah memperlakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. Berbuat ihsan ketika menyembelih, rinciannya sebagai berikut:

  1. Jika hewan sembelihannya berupa unta maka menyembelihnya dilakukan dengan berdiri dan kaki kiri depan ditekuk kemudian diikat.
    Allah berfirman: “Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah.”(QS. Al Haj: 36).
    Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma menjelaskan ayat di atas: (untanya) berdiri dengan tiga kaki, sedangkan satu kaki kiri depan diikat (Tafsir Ibnu Katsir untuk ayat ini).
    Jabir bin Abdillah radliallahu ‘anhuma mengatakan, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyembelih unta dengan posisi kaki kiri depan diikat, dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu daud dan dishahihkan Al-Albani).
  2. Jika hewan sembelihannya selain unta maka menyembelihnya sambil dibaringkan ke lambung kiri, dan orang yang menyembelih meletakkan kakinya di lehernya agar bisa menekan hewan sehingga tidak banyak bergerak.
    Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk, beliau sembelih dengan tangannya, dan beliau letakkan kaki beliau di atas leher hewan. (HR. Bukhari dan Muslim).

kelima, membaca basmalah ketika menyembelih. Dan ini hukumnya wajib Allah berfirman: “Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am: 121).

Untuk bacaan bismillah (tidak perlu ditambahi Ar-Rahman dan Ar-Rahiim) hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah.

Keenam, dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah.
Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk, beliau sembelih dengan tangannya, beliau baca basmalah dan bertakbir (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, menyebut orang yang menjadi atas nama kurban ketika menyembelih Dari Jabir bin Abdillah radliallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Pada saat menyembelih beliau mengucapkan: “Bismillah Wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan dishahihkan Al-Albani).

Demikian pula dibolehkan, setelah membaca bismillah Allahu akbar, diikuti salah satu diantara bacaan berikut:

  1. hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795).
  2. hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shohibul qurban). Jika yang menyembelih bukan shohibul kurban.
  3. Berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shohibul kurban).”

Kedelapan, terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri), dan mengalirkan darah.
Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan seperti yang terdapat dalam kitab Shalatul ‘Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni):

  1. Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.
  2. Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher.
    Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.
  3. Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher.
    Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Catatan: Tidak terdapat do’a khusus yang panjang bagi shohibul kurban ketika hendak menyembelih. Wallahu a’lam.

Bolehkah Membaca Shalawat Ketika Menyembelih?

Tidak boleh mengucapkan shalawat ketika hendak menyembelih, karena beberapa alasan:

  1. Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan shalawat ketika menyembelih. Sementara beribadah tanpa dalil adalah perbuatan bid’ah.
  2. Bisa jadi ketika membaca shalawat pada saat menyembelih, muncul keinginan untuk bertawasul dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih. Dikhawatirkan ini akan mengantarkan kepada kesyirikan.
  3. Bisa jadi dengan membaca shalawat seseorang membayangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih, sehingga sembelihannya tidak murni untuk Allah. (Syarhul Mumti’ 7:492).

Pemanfaatan Hasil Sembelihan

Bagi pemilik hewan kurban dibolehkan memanfaatkan daging kurbannya dengan beberapa cara:

  1. Dimakan sendiri dan keluarganya
    Dibolehkan bagi sohibul kurban untuk ikut memakan hewan kurbannya. Termasuk berkurban karena nadzar, menurut pendapat yang benar. Sebagian ulama menyatakan shohibul kurban wajib makan bagian hewan kurbannya. Ini berdasarkan firman Allah: “Makanlah darinya dan berikan kepada orang yang sangat membutuhkan” (Qs. Al-Haj: 28).
  2. Disedekahkan kepada orang yang membutuhkan (miskin).
  3. Dihadiahkan kepada orang yang kaya.
    Pembagian antara disedekahkan, dihadiahkan, dan dimakan sendiri tidak harus persis dibagi rata sepertiga. Masing-masing boleh mendapatkan lebih dari itu. Misalnya, dimakan sendiri lebih dari 1/3 jatah daging.
  4. Disimpan untuk bahan makanan di lain hari.
    Penyimpanan ini hanya dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.
    Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa diantara kalian yang berkurban maka jangan sampai dia menjumpai subuh hari ketiga sesudah hari raya sedangkan dagingnya masih tersisa walaupun sedikit.” Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan, ”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka beliau menjawab, ”(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut mayoritas ulama, perintah yang terdapat dalam hadits ini hanya menunjukkan hukum sunnah, bukan wajib (Shahih Fiqih Sunnah, II:378). Oleh sebab itu, boleh menyedekahkan semua hasil sembelihan kurban. Sebagaimana diperbolehkan untuk disedekahkan seluruhnya kepada orang miskin dan sedikitpun tidak diberikan kepada orang kaya. (Minhaajul Muslim, hal. 266).

Bolehkah Memberikan Daging Kurban Kepada Orang Kafir?

Ulama Madzhab Maliki berpendapat makruhnya memberikan daging kurban kepada orang kafir. Imam Malik mengatakan: “(diberikan) kepada selain mereka (orang kafir) lebih aku sukai.” Sedangkan Syafi’iyah berpendapat haramnya memberikan daging kurban kepada orang kafir untuk kurban yang wajib (misalnya kurban nadzar) dan makruh untuk kurban yang sunnah. (Fatwa Syabakah Islamiyah No. 29.843).

Imam Al-Baijuri As-Syafi’i mengatakan dalam Al Majmu’ Syarhul Muhadzab disebutkan, boleh memberikan sebagian kurban sunnah kepada kafir dzimmi yang miskin. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk kurban yang wajib.” (Hasyiyah Al Baijuri 2:310).

Lajnah Daimah (Majlis Ulama Arab Saudi) ditanya tentang hukum memberikan daging kurban kepada orang kafir.

Jawaban Lajnah:
“Kita dibolehkan memberi daging kurban kepada orang kafir mu’ahid baik karena statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka menarik simpati merek. Namun, tidak dibolehkan memberikan daging kurban kepada orang kafir harby, karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah merendahkan mereka dan melemahkan kekuatan mereka. Hukum ini juga berlaku untuk pemberian sedekah. Hal ini berdasarkan firman Allah:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah 8)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti Abu Bakr radliallahu ‘anhu untuk menemui ibunya dengan membawa harta padahal ibunya masih musyrik.” (Fatwa Lajnah Daimah No. 1.997).

Kesimpulannya, memberikan bagian hewan kurban kepada orang kafir dibolehkan karena status hewan kurban sama dengan sedekah atau hadiah. Sementara kita boleh memberikan hadiah kepada orang kafir. Sedangkan pendapat yang melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.

Larangan Memperjualbelikan Hasil Sembelihan

Tidak diperbolehkan memperjualbelikan bagian hewan kurban sedikitpun. Baik daging, kulit, kepala, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mengurusi penyembelihan unta kurbannya. Beliau juga memerintahkannya saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggung unta tersebut. Dan dagingnya tidak boleh diberikan kepada tukang potong sedikitpun sebagai upah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan terdapat ancaman keras memperjual-belikan bagian dari hewan qurban, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menjual kulit hewan kurbannya maka ibadah qurbannya tidak ada nilainya.” (HR. Al-Hakim 2:390 dan Al-Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan, Hasan).

Catatan:
Pertama, termasuk memperjualbelikan bagian hewan kurban adalah menukar kulit atau kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing atau daging. Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.

Kedua, transaksi jual-beli kulit hewan kurban yang belum dibagikan adalah transaksi yang tidak sah. Artinya, penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli.

Hal ini sebagaimana perkataan Al-Baijuri: “Tidak sah jual beli (bagian dari hewan kurban) disamping transaksi ini adalah haram.” Beliau juga mengatakan: “Jual beli kulit hewan kurban juga tidak sah karena hadis yang diriwayatkan Hakim di atas. (Fiqh Syafi’i 2:311).

Ketiga, jika kulit sudah diberikan kepada orang lain, bagi orang yang menerima kulit, dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun shohibul kurban.

Larangan Mengupah Jagal Dengan Bagian Hewan Sembelihan

Dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu bahwa “Beliau pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan untanya dan agar membagikan seluruh bagian dari sembelihan unta tersebut, baik yang berupa daging, kulit tubuh maupun pelana. Dan dagingnya tidak boleh diberikan kepada tukang potong sedikitpun sebagai upah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam lafadz lainnya beliau berkata, ”Kami mengupahnya dari uang pribadi kami.” (HR. Muslim). Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama (Shahih Fiqih Sunnah, II:379).

Syekh Abdullah Al-Bassaam mengatakan, ”Tukang jagal tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Adapun yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika dia termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah miskin.” (Taudhihul Ahkaam, IV:464).

Pernyataan beliau semakna dengan pernyataan Ibnu Qosim yang mengatakan, “Haram menjadikan bagian hewan kurban sebagai upah bagi jagal.” Perkataan beliau ini dikomentari oleh Al-Baijuri: “Hal itu (mengupah jagal) semakna dengan jual beli. Namun jika jagal diberi bagian dari kurban dengan status sedekah bukan upah maka tidak haram.” (Hasyiyah Al-Baijuri As Syafi’i 2:311).

Adapun bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging kurban diperbolehkan memanfaatkannya sekehendaknya, bisa dimakan, dijual atau yang lainnya. Akan tetapi tidak diperkenankan menjualnya kembali kepada orang yang memberi hadiah atau sedekah kepadanya (Tata Cara Kurban, hal. 69).

Demikian itulah yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :
TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published.