Pengertian Qurban (Udhiyah)

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

PENGERTIAN QURBAN (UDHIYAH)

Qurban adalah binatang yang disembelih dengan tujuan ibadah kepada Allah pada Hari Raya Haji dan tiga hari kemudian (tanggal 11 sampai 13).

31 Pengertian Qurban

Hukum Ibadah Qurban

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa qurban dihukumi wajib. Sedangkan pada sebagian besarulama lainnya berpendapat qurban itu sunnah. Alasan yang berpendapat bahwa qurban wajib yaitu Firman Allah SWT :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر

“Sesungguhnya Kami telah memberi kepadanya nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah”. (Al-Kautsar : 1-2)

Sabda Rasulullah SAW yang artinya :

“Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami”. (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

Alasan untuk pendapat bahwa qurban dihukumi sunnah adalah Sabda Rasulullah SAW :

امرت باالنحروهو سنة لكم. رواه الترمذئ

“Saya disuruh menyembelih qurban dan qurban itu sunnah bagi kamu”. (Riwayat Tirmidzi)

علئ النحر وليس بوا جب عليكم. روه االدارقطني كتب

“Diwajibkan kepadaku berqurban, dan tidak wajib atas kamu”. (Riwayat Daruqutni)

Pengetahuan mengenai binatang yang sah untuk qurban ialah yang tidak bercacat, misalnya pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya dan telah berumur sebagai berikut :

  1. Domba (da’ni) yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.
  2. Kambing yang telah berumur dua tahun lebih.
  3. Unta yang telah berumur lima tahun lebih.

Sabda Rasulullah Muhammad SAW yang artinya :

Dari Barra’ bin Azib, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban : (1) rusak matanya, (2) sakit, (3) pincang, (4) kurus yang tidak berlemak lagi.” (Riwayat Ahmad, dan dinilai sahih oleh Tirmidzi).

Dari Jabir, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kamu menyembelih untuk qurban kecuali yang musinnah (telah berganti gigi). Jika sukar didapati, maka boleh jaz’ah (yang baru berumur 1 tahun lebih) dari biri-biri.” (Riwayat Muslim).

Seekor kambing hanya untuk qurban satu orang, diqiaskan dengan denda meninggalkan wajib haji. Tetapi seekor unta, kerbau dan sapi boleh diatasnamakan qurban tujuh orang. Dari Jabir, “Kami telah menyembelih qurban bersama-sama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuuh orang.” (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Abbas, “Pernah kami bersama-sama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, ketika itu datang Hari Qurban, maka kami bersama-sama menyembelih seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang.” (Riwayat Tirmidzi dan Nasai).

Waktu Menyembelih Qurban

Waktu untuk menyembelih binatang qurban yang dianjurkan Islam adalah mulai dari matahari setinggi tombak pada Hari Raya Haji sampai terbenam matahari tanggal 13 bulan Haji. Sabda Rasulullah SAW yang artinya :

“barang siapa menyembelih qurban sebelum shalat Hari Raya Haji, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa menyembelih qurban sesudah shalat hari Raya dan dua khotbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya, dan ia telah menjalani aturan Islam.” (Riwayat Bukhari)

Pada hadits tersebut, yangg dimaksud dengan shalat Hari Raya ialah waktunya, bukan shalatnya. Karena mengerjakan sholat tidak menjadi syarat menyembelih qurban. Sabda Rasulullah SAW :

كل ايام التشريق ذ بح. رواه احمد

“Semua haris Tasyriq (tanggal 11-13 Haji) adalah waktu menyembelih qurban.” (Riwayat Ahmad)

Sunnah Tatkala Menyembelih

Sewaktu menyembelih qurban disunnahkan beberapa perkara di bawah ini :

  1. Membaca bismillah
  2. Membaca sholawat atas nabi SAW
  3. Takbir (membaca Allahu Akbar)
  4. Berdoa supaya qurban diterima Allah, seperti : (Ya Allah, ini perbuatan dari perintah-Mu, saya kerjakan karena-Mu, terimalah oleh-Mu amalku ini)
  5. Binatang yang disembelih tersebut hendaklah dihadapkan ke arah kiblat

عن انس انه صلي الله عليه وسلم ضحي بكبشين املحين اقر نين ذبحهما بيد ه اكر يمة سمي و كبر. رواه البخا ريو مسلم

Dikabarkan oleh Anas bahwa Rasulullah SAW telah berqurban dengan dua ekor kambing yang baik-baik, beliau sembelih sendiri, beliau baca bismillah, danbeliau baca takbir (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW tatkala berqurban telah mengucapkan, “Ya Allah terimalah qurban Muhammad, keluarga dan umatnya.” (Riwayat Ahmad dan Muslim).

Paket Qurban Aqiqah Berkah

Agar ibadah qurban berjalan dengan lancar, Anda dapat memesan paket qurban syar’i pada Aqiqah Berkah. Tersedia hewan qurban sapi dan kambing. Harga hewan qurban sangat terjangkau untuk Anda khususnya di wilayah Jawa Timur. Pemesanan hewan qurban diluar Kab. Nganjuk, Madiun, Kediri, Jombang, Tulungagung dan Blitar minimal 10 ekor untuk kambing, dan minimal 5 ekor untuk sapi. Pemesanan hewan qurban secara kolektif atau grosir.

Anda dapat memesan hewan qurban secara online di nomor layanan Aqiqah Berkah :

SMS: 085749622504

Whatsapp: +6281335680602

Atau pemesanan secara offline dengan datang langsung ke kantor pusat Aqiqah Berkah di Jl. Raya Baron Timur No. 1 Baron Nganjuk.

Untuk menjawab kebutuhan hewan qurban saudara, saat ini Aqiqah Berkah telah menyediakan sapi dan kambing qurban untuk idul qurban 2016. Adapun hewan qurban yang saat ini ready stock dan dapat di pesan adalah :

A. Harga Sapi qurban 2016

1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-

2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Kambing qurban 2016

– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 24-29 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-

(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Sapi dan Kambing qurban di atas dapat Anda pesan melalui beberapa Paket Qurban 2016 Aqiqah Berkah yakni sebagai berikut :

Paket Qurban Peduli Syar’i : Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan paket qurban dari kota Anda (seluruh Indonesia).

Paket Qurban Mandiri Syar’i : Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban. Selanjutnya kami siap mengantar hewan qurban yang telah Anda pesan.

Adapun ketentuan sapi qurban yang diajarkan dalam islam diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Sapi telah memiliki kecukupan umur yaitu lebih dari 2 tahun

2. Sapi tidak memiliki aib (cacat fisik)

Kecacatan yang dilarang pada sapi qurban diantaranya adalah :

– Cacat matanya
– Kurus
– Sakit
– Patah tanduknya
– Pincang
– Terpotong telinganya

3. Sapi tidak kurus, sapi yang baik adalah sapi yang memiliki gemuk di bagian pantat, dada, dan leher

4. Sapi harus sehat

Sapi yang sehat diantaranya memiliki ciri-ciri :

– Bulunya terlihat mengkilat dan mulus
– Posisi kaki sapi : tidak bengkok, tungkai tegak, kuku sapi tidak bengkak, kaki depan sapi tegak dan relatif lurus.

5. Sapi jenis jantan dan betina dapat dijadikan qurban

Kurban di Dalam Islam

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Kurban di Dalam Islam

7

Menilik asal muasal pengertiannya, kurban berasal dari kata dasar qaraba. Secara harfiah kata qaraba mengandung pengertian mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan secara sosiologis kata qaraba memiliki cakupan makna yang sangat luas.

Menunjuk pada pengertian sebagaimana disebutkan diatas, maka seorang Muslim dapat dikatakan dekat kepada Allah jika orang yang bersangkutan merasa dekat dengan sesama, lebih-lebih kepada orang-orang yang selalu berada dalam kekurangan dan penderitaan.

Di sinilah makna sosial dari istilah kurban yang sebenarnya. Seekor hewan kurban hanyalah wujud dari keharusan untuk mengorbankan harta benda milik kita demi kemaslahatan dan kepentingan orang banyak yang merasa membutuhkan. Inilah bentuk kecintaan kepada Allah yang maujud dengan kecintaan terhadap sesama.

Menurut Ghufron A. Mas’adi, kurban berasal kata dari qaraba yang artinya mendekatkan. Segala jenis tindakan atau amalan yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Secara khusus, istilah ini berarti penyembelihan binatang kurban pada hari Idul Adha (hari raya penyembelihan kurban).

Fahmi Amhar dan Arum Harjanti, mengatakan bahwa menyembelih binatang kurban adalah mengenang kepatuhan Ibrahim dan keikhlasan Ismail akan perintah Allah.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari pada kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah yang telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kapada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Kemudian pengertian kurban yang lain adalah kurban merupakan binatang yang disembelih guna ibadah kepada Allah pada hari raya haji dan tiga hari kemudian (11 sampai 13) yang biasa kita sebut sebagai hari tasyriq.

Lain halnya dengan Ali Shariati dalam karyanya yang berjudul Hajj. Dia berpendapat bahwa dimaksudkannya berkurban yaitu karena ketiga berhala yang terdapat di Mina itu adalah patung-patung trinitas yang melambangkan tiga tahap kejahatan. Dan juga ketiga berhala tersebut melambangkan setan yang telah berusaha untuk memperdayakan Ibrahim. Seorang Muslim harus menempuh tiga tahap sebelum ia dapat membebaskan dirinya dari setiap macam perbudakan. Ia harus membuang ketamakan, mengalahkan sifat kebinatangan yang dicirikan oleh sikap mementingkan diri sendiri, dan naik ke tingkat Ibrahim dengan melakukan setiap sesuatu demi Allah.

Setelah menembak berhala yang terakhir tersebut, hendaklah segera berkurban. Shariati menjelaskan bahwa tahap terakhir dari evolusi dan idealisme adalah tahap kebebasan mutlak dan kepasrahan mutlak. Dahulu Ibrahim membawa putranya Ismail untuk dikurbankan di tempat ini (Mina). Dan kini kita berperan sebagai Ibrahim. Lantas siapakah Ismail kita yang merupakan simbolisme dari ibadah kurban sesungguhnya?

Dalam teori simbol yang dikemukakan oleh Paul Tillich, salah satu bahasa simbol yang dia ungkapkan adalah simbol sebagai sistem tanda umumnya. Dan juga diperkuat oleh pandangan Susane Langer dan Ernst Cassirer yang menjelaskan tentang posisi manusia sebagai homo simbolicum yang berkarya lewat tanda-tanda dari bidang yang paling konkret hingga sampai dengan tanda atau simbol keagamaan.

Selanjutnya Shariati dalam karya yang berjudul Hajj memberikan beberapa petunjuk atau tanda tentang apa dan siapa Ismail sebenarnya. Menurutnya, Ismail yang dia maksud adalah setiap sesuatu yang melemahkan iman, setiap sesuatu yang menghalangi perjalanan, setiap sesuatu yang membuat kita enggan menerima tanggung jawab, setiap sesuatu yang memikirkan kepentingan sendiri, setiap sesuatu yang membuat kita tidak dapat mendengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran, setiap sesuatu yang memaksa kita untuk melarikan diri, setiap sesuatu yang membuat kita mengemukakan alasan-alasan demi kemudahan dan setiap sesuatu yang membutakan mata dan menulikan telinga.

Ayat yang memerintahkan kurban adalah: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan kurban.” Asbabun nuzul dari ayat ini adalah Jibril datang kepada Rasulullah pada peristiwa Hudaibiyyah dan memerintahkan kurban serta salat. Rasulullah segera berdiri berkhotbah, kemudian salat dua rakaat dan menuju ke tempat kurban lalu memotong kurban.

Muhammad Abduh menafsirkan ayat tersebut dengan menjadikan salat semata-mata demi Tuhan serta menunjukkan sembelihan hewan kurban itu kepada Allah. Itu dikarenakan hanya Allah-lah pemelihara dan pelimpah segala kenikmatan bagi setiap diri manusia.

Dalam meneliti “keagamaan keagungan” sunah berkurban, kita dapat memahami betapa Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya yang dicintai untuk sesuatu yang besar, yaitu pengabdiannya kepada Tuhan. Kurban adalah pengabdian suci dan merupakan ujian terhadap ketabahan dan kekuatan iman seseorang untuk mencapai sesuatu yang besar. Memang kurban harus banyak diberikan, malah tiada kebahagiaan tanpa ada pengorbanan dan tidak ada sia-sia pengorbanan untuk menyukseskan segala macam bidang pembangunan dan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur pun diperlukan banyak pengorbanan, baik tenaga, harta, dan pikiran.

Dalam semangat berkurban yang ditunjukkan dengan rasa keikhlasan, akan menghasilkan sebuah amal dan sekaligus merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan. Dalam sejarah perjuangan, Rasulullah beserta para sahabatnya tak pernah meninggalkan semangat berkurban.

Pengorbanan yang mereka lakukan tak pernah sia-sia. Harapan kemenangan yang mereka cita-citakan tidak pernah padam, karena yakin bahwa Allah selalu menyertai perjuangan mereka. Hanya dengan pengorbanan yang ikhlas kepada Allah saja yang akan membuahkan hasil perjuangan dakwah. Demikianlah ketika hamba Allah senantiasa mengobarkan dalam dadanya semangat berkurban, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berjuang sendiri. Allah akan membantu dalam setiap usaha yang dilakukannya.

Segala sesuatu yang telah dikurbankan di jalan Allah merupakan amal yang pasti diperhitungkan. Harta dan diri kita merupakan aset yang besar untuk meraih pahala Allah manakala dapat tersalurkan ke jalan-Nya. Inilah yang disebut dengan orang yang berbuat kebaikan.

as
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Di dalam masalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya pun dituntut sebuah pengorbanan yang besar sebagai bukti atas kecintaan tersebut. Tingkat keimanan seorang Mukmin terlihat dari kadar pengorbanan yang dikeluarkan untuk kejayaan (kemenangan) Islam. Semua yang kita miliki entah keluarga, pekerjaan, jabatan, kedudukan, harta kekayaan yang melimpah, itu hanyalah sebagai ujian.

Oleh karena itu cara pemanfaatan yang paling tepat adalah dengan menjadikan sebagai wasilah (alat) untuk menuju ketakwaan kepada Allah, bukan sebagai ghayah (tujuan) kehidupan. Berkurban dengan semua itu demi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kisah Nabi Ibrahim mengandung teladan (ibrah) yang jelas akan sebuah pengorbanan. Betapa besar pengorbanan yang dilakukan Ibrahim. Itulah yang disebut dengan ridha Allah. Nabi Ibrahim merupakan sosok keluarga yang ideal. Keluarganya telah dipersembahkan hanya kepada Allah, dan bukan kepada selain-Nya, sehingga Allah memuji dan meridainya. Pengorbanan yang besar hanya bisa dilakukan dengan kepasrahan dan kesabaran yang besar pula serta didasari tawakkal kepada Allah SWT.

Seharusnya setiap manusia berbuat demikian. Cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh lebih diutamakan daripada cinta kepada keluarga, cinta kepada jabatan, cinta kepada kedudukan yang tinggi, ataupun cinta kepada harta yang melimpah. Jika telah melakukan hal yang demikian, maka derajat takwa akan diraih. Dengan kata lain takwa akan diperoleh manakala kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah atau syariat-Nya, yang di dalamnya ada tuntutan untuk melakukan suatu pengorbanan.

Ada beberapa pelajaran yang dapat diperoleh dari suatu pengorbanan yang ikhlas, di antaranya:
1. Nilai setiap amal bukan sekadar dilihat dari zahir dan kulit luarnya saja, tetapi justru tergantung pada motivasi yang melatarbelakangi amalan tersebut. Manakala bertolak dari niat ikhlas dan ketakwaan, sampailah kepada Allah. Sebaliknya ketika tidak ikhlas, tidak akan sampai kepada Allah.

2. Niat ikhlas dan ketakwaan itu harus dibarengi dengan cara-cara yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Modal keikhlasan saja tanpa dibarengi cara yang benar akan menyebabkan amal tersebut tertolak. Oleh karena itu para ulama memberi kaidah dan syarat diterimanya suatu amal itu adalah ikhlas dan benar.
Jadi kurban yang diterima oleh Allah dan mendapatkan ridha-Nya adalah yang berangkat dari niat ikhlas dan ketakwaan serta melaksanakannya sesuai ajaran Rasulullah.

Kurban sebenarnya sudah dikenalkan Allah pertama kali kepada anak-anak Nabi Adam:
Ceritakanlah kepada mereka (manusia) kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qobil); ia berkata (Qobil), “Aku pasti membunuhmu.” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah (hanya) akan menerima (kurban) dari orang- orang yang bertakwa.”

Menurut ayat tersebut, upacara kurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam, hanya bentuknya berbeda. Kurban sekarang memang dikaitkan dengan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim tentang penyembelihan putranya, Ismail. Dikatakan dalam Alquran bahwa sampai hari menjelang tua, Nabi Ibrahim belum dikarunia putra.

Sekalipun demikian, Nabi Ibrahim tidak berputus asa dari rahmat Allah untuk mendapatkan keturunan. Atas ikhtiar dan doa Nabi Ibrahim yang tak pernah putus asa itu, Allah berkenan memberi kabar gembira dengan akan datangnya seorang putra yang saleh (Ismail), yang akan melanjutkan misi kenabiannya. Namun, kebahagiaan keluarga Ibrahim terusik sewaktu anak yang didambakannya itu lahir.

Tak lama kemudian Nabi Ibhaim diperintahkan agar Ismail dan ibunya (Hajar) dibawa dan ditempatkan di padang pasir yang tandus dan gersang, yang dikenal sebagai kota Mekah sekarang.

Untuk mengetahui berapa tingkat keyakinan dan keimanan Nabi Ibrahim, Allah memberikan wahyu kepadanya agar menyembelih anaknya, Ismail. Putra yang sangat disayangi dan menjadi buah hati selama ini ternyata harus disembelih dengan tangannya sendiri.

Betapa pilu rasa hatinya apabila teringat perintah penyembelihan terhadap anaknya itu. Namun apa boleh dikata, kecintaan kepada Allah tidak boleh dikalahkan dengan kecintaan kepada anak. Perintah Allah untuk menyembelih anaknya harus dilaksanakan dengan hati yang amat berat.

Ismail putranya lalu dipanggil dan diberitahu mengenai perintah Allah tersebut. Ternyata Nabi Ismail putranya bukannya merasa susah dan khawatir, melainkan justru bersemangat mendorong ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim, untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah. Nabi Ismail pasrah, menyerahkan sepenuhnya yang bakal terjadi atas dirinya kepada Allah.

Begitu pula Nabi Ibrahim akhirnya menjadi mantap dan ikhlas semurni-murninya melaksanakan perintah Allah dengan menyembelih putranya yang tercinta di Mina.

Menghadapi hal ini, Ibrahim meminta pendapat putranya dengan berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu.

Mendengar pertanyaan bapaknya tersebut, Ismail menjawab dengan tenang:
Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatkan termasuk orang yang sabar.

Dan tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan putranya, turunlah malaikat yang berseru: Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpimu.

Sesungguhnya yang demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan (domba) yang besar.

Kejadian ini diperingati dan dijadikan syariat dalam agama Islam dengan mengadakan kurban hewan pada 10 Zulhijah. Dan setiap kali Nabi Ibrahim mendengar setan yang menggodanya, dijadikan manasik dalam ibadah haji, yaitu melempar jumrah tiga kali.

Ali Shariati menggambarkan ketiga berhala itu merupakan lawan dari ketiga tahap yang dilalui dalam penunaian ibadah haji. Berhala yang pertama (jumrah ula) adalah lawan dari tahap Arafat. Berhala yang kedua (jumrah wustha) adalah lawan dari tahap Masyair. Berhala yang ketiga (jumrah uqba) adalah lawan dari tahap Mina.

Jika pada hari raya Idul Fitri fuqara’ dan masakin digembirakan dengan pembagian beras zakat fitrah, pada waktu Idhul Adha mereka digembirakan dengan pembagian daging kurban. Suatu garis sosial yang demikian tinggi dalam Islam di mana fakir miskin setiap saat harus selalu mendapat perhatian bantuan pangan dan tidak boleh dilupakan.

Selanjutnya Rasulullah selalu menghidupkan kembali kurban. Dalam hajinya, beliau berkurban seratus ekor onta, dan beliau pernah pula berkurban dengan dua ekor domba besar yang bertanduk dan tanpa cacat. Seekor diperuntukkan bagi tebusan dirinya dan semua keluarganya, sedang seekor lagi untuk tebusan umatnya.

harga
Menurut Ahmad Mursyidi, dari kisah keluarga Ibrahim di atas dapat diambil pelajaran yang sangat berharga, antara lain:

  1. Ikhtiar mesti disertai dengan doa permohonan kepada Allah. Ketidakberhasilan kita sekarang bukan mustahil karena kita terlalu banyak mengandalkan rasio, mengesampingkan doa permohonan kepada Allah.
  2. Keberhasilan merupakan karunia Allah sekaligus sebagai ujian apakah manusia bersyukur atau kufur, sebagaimana ungkapan Nabi Sulaiman, “Ini merupakan sebagian dari karunia Tuhanku, untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau aku kufur.”
  3. Betapa penting kekompakan antara semua anggota keluarga (bapak, ibu, dan anak) dalam menyikapi suatu permasalahan, kekompakan yang dilandasi kacamata keimanan kepada Allah.

Namun jika ditinjau dari perspektif sejarah, panggilan Ibrahim untuk mengunjungi Baitullah, yang kemudian dikukuhkan oleh Nabi Muhammad SAW, mengandung makna yang mendalam mengajak manusia kepada ajaran tauhid (monotheist) yang berdimensi kepemilikan sosial. Kedua sisi ajaran Islam ini tidak dapat dipisahkan, ibarat sebuah mata uang logam dengan dua permukaan (two sides of the same coin). Memang tidak ada mata uang logam tanpa dua permukaan. Menyatunya kedua permukaan mata uang tersebut dalam satu kesatuan yang utuh menjadikan benda tersebut dapat disebut dengan uang logam. Menyatunya dimensi tauhid yang bersifat transendental fungsional dan dimensi kepedulian sosial yang bersifat historis-empiris dalam satu keutuhan pandangan hidup mencerminkan sikap hidup keberagamaan Islam yang otentik dan tulus.

Setiap Yang Halal Tidak Memerlukan Yang Haram

By | Berita | No Comments

Setiap yang Halal Tidak Memerlukan yang Haram

kambing aqiqah

SALAH satu kebaikan Islam dan kemudahannya yang dibawakan untuk kepentingan ummat manusia, ialah “Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali di situ memberikan suatu jalan keluar yang lebih baik guna mengatasi kebutuhannya itu.” Hal ini seperti apa yang diterangkan oleh Ibnul Qayim dalam A’lamul Muwaqqi’in 2: 111 dan Raudhatul Muhibbin halaman 10. Beliau mengatakan: Allah mengharamkan mereka untuk mengetahui nasib dengan membagi-bagikan daging pada azlam, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya dengan doa istikharah. Allah mengharamkan mencari untung dengan menjalankan riba; tetapi di balik itu Ia berikan ganti dengan suatu perdagangan yang membawa untung. Allah mengharamkan berjudi, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa hadiah harta yang diperoleh dari berlomba memacu kuda, unta dan memanah. Allah juga mengharamkan sutera, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa aneka macam pakaian yang baik-baik, yang terbuat dari wool, kapuk dan cotton. Allah telah mengharamkan berbuat zina dan liwath, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa perkawinan yang halal. Allah mengharamkan minum minuman keras, tetapi dibalik itu Ia berikan gantinya berupa minuman yang lezat yang cukup berguna bagi rohani dan jasmani. Dan begitu juga Allah telah mengharamkan semua macam makanan yang tidak baik (khabaits), tetapi di balik itu Ia telah memberikan gantinya berupa makanan-makanan yang baik (thayyibat).

Begitulah, kalau kita ikuti dengan saksama seluruh hukum Islam ini, maka akan kita jumpai di situ, bahwa Allah s.w.t. tidak memberikan suatu kesempitan (baca haram) kepada hambanya, melainkan di situ juga dibuka suatu keleluasaan di segi lain. Karena Allah samasekali tidak menginginkan untuk mempersukar hambaNya dan membuat takut. Bahkan Ia berkehendak untuk memberikan kemudahan dan kebaikan serta betas-kasih kepada hambaNya. Sebagaimana difirmankan sendiri oleh Allah dalam al-Quran:
“Allah berkehendak akan menerangkan kepadamu dan memberikan petunjuk kepadamu tentang cara-cara (sunnah) yang dilakukan orang-orang sebelum kamu, dan Allah juga berkehendak untuk menerima taubatmu, dan Allah adalah Zat yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah berkehendak untuk menerima taubatmu, tetapi orang-orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya itu berkehendak untuk berpaling dengan palingan yang sangat. Allah (juga) berkehendak untuk memberikan keringanan kepadamu, sebab manusia itu dicipta dengan keadaan yang lemah.” (an-Nisa’: 26-27)

Nah itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat…

kambing aqiqah
Apabila anda ingin memesan aqiqah, cetering aqiqah, kambing aqiqah, kambing qurban, dan kambing guling anda bisa langsung menghubungi nomor berikut ini:

WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

Mengharamkan Yang Halal dan Menghalalkan Yang Haram sama dengan Syirik

By | Berita | No Comments

Mengharamkan yang Halal dan Menghalalkan yang Haram Sama dengan Syirik

32

KALAU Islam mencela sikap orang-orang yang suka menentukan haram dan halal itu semua, maka dia juga telah memberikan suatu kekhususan kepada mereka yang suka mengharamkan itu dengan suatu beban yang sangat berat, karena memandang, bahwa hal ini akan merupakan suatu pengungkungan dan penyempitan bagi manusia terhadap sesuatu yang sebenarnya oleh Allah diberi keleluasaan. Di samping hal tersebut memang karena ada beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh sementara ahli agama yang berlebihan.

Nabi Muhammad sendiri telah berusaha untuk memberantas perasaan berlebihan ini dengan segala senjata yang mungkin. Di antaranya ialah dengan mencela dan melaknat orang-orang yang suka berlebih-lebihan tersebut, yaitu sebagaimana sabdanya:
“Ingatlah! Mudah-mudahan binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan itu.” (3 kali). (Riwayat Muslim dan lain-lain)

Dan tentang sifat risalahnya itu beliau tegaskan: “Saya diutus dengan membawa suatu agama yang toleran.” (Riwayat Ahmad)

Yakni suatu agama yang teguh dalam beraqidah dan tauhid, serta toleran (lapang) dalam hal pekerjaan dan perundang-undangan. Lawan daripada dua sifat ini ialah syirik dan mengharamkan yang halal. Kedua sifat yang akhir ini oleh Rasulullah s.a.w. dalam Hadis Qudsinya dikatakan, firman Allah:
“Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, mengharamkan sesuatu yang halal dapat dipersamakan dengan syirik. Dan justeru itu pula al-Quran menentang keras terhadap sikap orang-orang musyrik Arab terhadap sekutu-sekutu dan berhala mereka, dan tentang sikap mereka yang berani mengharamkan atas diri mereka terhadap makanan dan binatang yang baik-baik, padahal Allah tidak mengizinkannya.

Diantaranya mereka telah mengharamkan bahirah (unta betina yang sudah melahirkan anak kelima), saibah (unta betina yang dinazarkan untuk berhala), washilah (kambing yang telah beranak tujuh) dan ham (Unta yang sudah membuntingi sepuluh kali; untuk ini dikhususkan buat berhala).

Orang-orang Arab di zaman Jahiliah beranggapan, kalau seekor unta betina beranak sudah lima kali sedang anak yang kelima itu jantan, maka unta tersebut kemudian telinganya dibelah dan tidak boleh dinaiki. Mereka peruntukkan buat berhalanya. Karena itu tidak dipotong, tidak dibebani muatan dan tidak dipakai untuk menarik air. Mereka namakan unta tersebut al-Bahirah yakni unta yang dibelah telinganya.

Dan kalau ada seseorang datang dari bepergian, atau sembuh dari sakit dan sebagainya dia juga memberikan tanda kepada seekor untanya persis seperti apa yang diperbuat terhadap bahirah itu. Unta tersebut mereka namakan saibah.

Kemudian kalau ada seekor kambing melahirkan anak betina, maka anaknya itu untuk yang mempunyai; tetapi kalau anaknya itu jantan, diperuntukkan buat berhalanya. Dan jika melahirkan anak jantan dan betina, maka mereka katakan: Dia telah sampai kepada saudaranya; oleh karena itu yang jantan tidak disembelih karena diperuntukkan buat berhalanya. Kambing seperti ini disebut washilah.

Dan jika seekor binatang telah membuntingi anak-anaknya, maka mereka katakan: Dia sudah dapat melindungi punggungnya. Yakni binatang tersebut tidak dinaiki, tidak dibebani muatan dan sebagainya. Binatang seperti ini disebut al-Haami.

Penafsiran dan penjelasan terhadap keempat macam binatang ini banyak sekali, juga berkisar dalam masalah tersebut Al-Quran bersikap keras terhadap sikap pengharaman ini, dan tidak menganggap sebagai suatu alasan karena taqlid kepada nenek-moyangnya dalam kesesatan ini. Firman Allah:
“Allah tidak menjadikan (mengharamkan) bahirah, saibah, washilah dan ham, tetapi orang-orang kafirlah yang berbuat dusta atas (nama) Allah, dan kebanyakan mereka itu tidak mau berfikir. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Mari kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul, maka mereka menjawab: Kami cukup menirukan apa yang kami jumpai pada nenek-nenek moyang kami; apakah (mereka tetap akan mengikutinya) sekalipun nenek-nenek moyangnya itu tidak berpengetahuan sedikitpun dan tidak terpimpin?” (al-Maidah : 103-104)

Dalam surah al-An’am ada semacam munaqasyah (diskusi) mendetail terhadap prasangka mereka yang telah mengharamkan beberapa binatang, seperti: unta, sapi, kambing biri-biri dan kambing kacangan.

Al-Quran membawakan diskusi tersebut dengan suatu gaya bahasa yang cukup dapat mematikan, akan tetapi dapat membangkitkan juga. Kata al-Quran:
“Ada delapan macam binatang; dari kambing biri-biri ada dua, dan dari kambing kacangan ada dua pula; katakanlah (Muhammad): Apakah kedua-duanya yang jantan itu yan diharamkan, atau kedua-duanya yang betina ataukah semua yang dikandung dalam kandungan yang betina kedua-duanya? (Cobalah) beri penjelasan aku dengan suatu dalil, jika kamu orang-orang yang benar! Begitu juga dari unta ada dua macam,- dan dari sapi ada dua macam juga; katakanlah (Muhammad!) apakah kedua-duanya yang jantan itu yang diharamkan, ataukah kedua-duanya yang betina?” (al-An’am: 143-144)

Di surah al-A’raf pun ada juga munaqasyah tersebut dengan suatu penegasan keingkaran Allah terhadap orang-orang yang suka mengharamkan dengan semaunya sendiri itu; di samping Allah menjelaskan juga beberapa pokok binatang yang diharamkan untuk selamanya. Ayat itu berbunyi sebagai berikut:
“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 32-33)

Seluruh munaqasyah ini terdapat pada surah-surah Makiyyah yang diturunkan demi mengkukuhkan aqidah dan tauhid serta ketentuan di akhirat kelak. Ini membuktikan, bahwa persoalan tersebut, dalam pandangan al-Quran, bukan termasuk dalam kategori cabang atau bagian, tetapi termasuk masalah-masalah pokok dan kulli.

Di Madinah timbul di kalangan pribadi-pribadi kaum muslimin ada orang-orang yang cenderung untuk berbuat keterlaluan, melebih-lebihkan dan mengharamkan dirinya dalam hal-hal yang baik. Untuk itulah maka Allah menurunkan ayat-ayat muhkamah (hukum) untuk menegakkan mereka dalam batas-batas ketentuan Allah dan mengernbalikan mereka ke jalan yang lempang.

Di antara ayat-ayat itu berbunyi sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman: Janganlah kamu mengharamkan yang baik-baik (dari) apa yang Allah telah halalkan buat kamu, dan jangan kamu melewati batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang suka melewati batas. Dan makanlah sebagian rezeki yang Allah berikan kepadamu dengan halal dan baik, dan takutlah kamu kepada Allah zat yang kamu beriman dengannya.” (al-Maidah: 87-88)

Nah itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat…

pe1
Apabila anda ingin memesan aqiqah, cetering aqiqah, kambing aqiqah, kambing qurban, dan kambing guling anda bisa langsung menghubungi nomor berikut ini:

WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

Catering Aqiqah Nganjuk

By | Paket Aqiqah, Tentang Aqiqah | No Comments

Banyak, Enak dan Murah !!!

Hati-hati, jangan sampai kehabisan untuk memesan paket catering aqiqah Nganjuk. Karena aqiqah adalah sunnah muakad yang dapat kita laksanakan pada hari ketujuh, hari ke empat belas atau hari ke dua puluh satu sejak lahirnya anak.

Imam Asy Syafi’i mensyariatkan bahwa yang dianjurkan aqiqah adalah orang yang mampu. Dan aqiqah menjadi tanggung jawab ayah sebagai penanggung nafkah keluarga. Syarat hewan yang disembelih untuk aqiqah memiliki keadaan dan sifat yang sama halnya dengan syarat hewan qurban yakni sebagai berikut :

  1. Kambing yang sempurna (tidak cacat) berusia 1 (satu) tahun dan masuk usia (dua) tahun.
  2. Domba yang sempurna (tidak cacat) berusia 6 (enam) bulan dan masuk bulan ke-7 (tujuh).
  3. Tidak boleh ada anggota badan hewan yang cacat.
  4. Dagingnya tidak boleh dijual.

Aqiqah Berkah hadir di berbagai wilayah kota seperti jasa aqiqah Baron, jasa aqiqah Jatikalen, jasa aqiqah Nglawak, jasa aqiqah Prambon, jasa aqiqah Kertosono, jasa aqiqah Wilangan, Jasa aqiqah Pace dan wilayah kecamatan di Nganjuk lainnya.

ab (2)Kami siap melayani paket catering aqiqah Nganjuk dengan catering murah aqiqah mandiri untuk wilayah Jawa Timur dan wilayah sekitar Kabupaten Nganjuk. Aqiqah Berkah akan membantu kelancaran acara aqiqah putra putri anda dengan masakan yang lezat.

Selain menyediakan paket catering murah, tersedia pula kambing murah untuk aqiqah dan hewan qurban lainnya. Mengenai info paket dan pemesanan catering aqiqah Jawa Timur, silahkan hubungi nomor layanan 0858-5344-4472.

Bagi anda yang menginginkan untuk melaksanakan aqiqah mandiri, anda dapat mengundang kerabat dekat dan tetangga. Bila anda melakukan aqiqah peduli, kami siap membantu menyalurkan pada panti asuhan yang membutuhkan maupun kepada para dhuafa.

Hikmah disyariatkannya aqiqah antara lain :

  1. Aqiqah itu merupakan suatu pengorbanan yang akan mendekatkan anak kepada Allah sejak awal menghirup udara kehidupan.
  2. Suatu penebusan bagi anak dari berbagai musibah dan kehancuran.
  3. Bayaran utang anak untuk memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya.
  4. Sebagai media mengekspresikan rasa gembira dengan melaksanakan syariat islam dan semakin bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah Saw di hari kiamat.
  5. Dapat memberikan sumber jaminan sosial dan menghapus gejala kemiskinan di dalam masyarakat.

Tersedia dua paket catering aqiqah Nganjuk sebagai berikut :

AQIQAH MANDIRI

  1. Dikirim ke rumah Sohibul Aqiqah
  2. Wilayah Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Madiun, Bojonegoro dan sekitarnya
  3. Pilihan menu (pengganti sate) lapis, krengseng, sate rebus, rendang, dendeng ragi, rawon

Dapatkan bonus-bonus ketika memilih paket aqiqah mandiri :

# Bonus buku risalah aqiqah
# Bonus kirim antar
# Sertifikat pelaksanaan aqiqah

AQIQAH PEDULI (Tebar Aqiqah Berkah)

  1. Dikemas dalam bentuk walimatul aqiqah
  2. Masakan di antar ke panti asuhan, masyarakat yang membutuhkan, pondok pesantren, desa binaan lengkap dengan nasi, kerupuk, buah dan air mineral
  3. Shohibul aqiqah akan mendapatkan foto hewan aqiqah, ucapan terima kasih dari wakil penerima aqiqah, laporan dan dokumentasi pelaksanaan aqiqah.

Untuk pemesanan catering aqiqah Nganjuk dengan pilihan aqiqah peduli, saudara dapat menghubungi nomor layanan 0858-5344-4472. Aqiqah Berkah melayani paket catering murah aqiqah Nganjuk dan juga keperluan aqiqah lainnya seperti souvenir aqiqah. Dapatkan bonus buku risalah untuk pemesanan paket aqiqah mandiri.

Harga paket catering murah aqiqah dapat anda pilih sesuai keinginan anda dengan harga yang relatif murah sehingga sangat membantu anda untuk dapat melaksanakan aqiqah khususnya di bagi shohibul aqiqah. Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda.

Paket Aqiqah di Nganjuk

By | Paket Aqiqah, Tentang Aqiqah | No Comments

Mau tahu informasi mengenai paket aqiqah murah ? Cek disini untuk informasi paket Aqiqah Berkah Nganjuk dengan harga ekonomis.

Sebelum menelisik lebih dalam mengenai paket Aqiqah Berkah Nganjuk, maka kita perlu memahami terlebih dahulu hakikat aqiqah menurut syariat Islam.

Pengertian Aqiqah

Kata Aqiqah berasal dari kata Al-Aqqu yang berarti memotong (Al-Qoth’u). Al-Ashmu’l berpendapat bahwa aqiqah asalnya adalah rambut di kepala anak yang baru lahir. kambing yang dipotong disebut aqiqah karena rambut anak tersebut dipotong ketika kambing itu disembelih.

CateringHadits riwayat Abu Daud

(أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan

Aqiqah adalah sembelihan untuk anak yang baru lahir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Dalam aqiqah, yang disembelih adalah kambin, bukan ayam atau kelinci dan lain sebagainya.

Berdasarkan hadits diatas, bagi bayi laki-laki aqiqahnya dua ekor kambing yang seimbang atau setara dan bagi bayi perempuan aqiqahnya dengan seekor kambing. Oleh sebagian ulama disebut nasikah atau dzabihah (sembelihan).

Hukum Syariat Aqiqah

Hukum aqiqah menurut kalangan Syafi’i dan Hambali adalah sunnah muakkadah. Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafi’i dan Hambali dengan menyatakan aqiqah sunnah adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْـنَـةٌ بِـعَـقِـيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَـنْـهُ يَـوْمَ سَابِـعِـهِ وَيُـسَـمَّى فِيْـهِ وَيُـحْلَـقُ رَأْسُـهُ

“Setiap anak yang lahir tergadai aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dan pada hari itu ia diberi nama dan digunduli rambutnya.” (Hadits Sahih Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim).

PAKET AQIQAH BERKAH

Jenis-jenis paket di Aqiqah Berkah :

AQIQAH MANDIRI

  1. Dikirim ke rumah Sohibul Aqiqah
  2. Wilayah Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Madiun, Ngawi, Bojonegoro dan sekitarnya
  3. Pilihan menu (pengganti sate) lapis, krengseng, sate rebus, rendang, dendeng ragi, rawon

Dapatkan paket aqiqah mandiri untuk wilayah Nganjuk, dan sekitarnya. Bagi yang berdomisili di luar Jawa Timur, solusi kami adalah pemesanan paket aqiqah peduli. Dapatkan paket aqiqah murah dari Aqiqah Berkah, baik Aqiqah Berkah Jombang, Aqiqah Berkah Kediri, Aqiqah Berkah Malang, Aqiqah Berkah Surabaya, Aqiqah Berkah Magetan, Aqiqah Berkah Ponorogo, Aqiqah Berkah Ngawi,Aqiqah Berkah Bojonegoro dan wilayah Jawa Timur lainnya.

MACAM PAKET MANDIRI AQIQAH DI NGANJUK

* ) Tipe A harga Rp 1.100.000 dengan Kambing Betina jenis masakan 250 tusuk sate & 1 panci Gule
*) Tipe B harga Rp 1.200.000 dengan Kambing Betina jenis masakan 300 tusuk sate & 1 panci Gule
*) Tipe C harga Rp 1.300.000 dengan Kambing Betina jenis masakan 350 tusuk sate & 1 panci Gule
*) Tipe D harga Rp 1.400.000 dengan Kambing Betina jenis masakan 450 tusuk sate & 1 panci Gule
*) Tipe E harga Rp 1.500.000 dengan Kambing Betina jenis masakan 500 tusuk sate & 1 panci Gule
*) Tipe A harga Rp 1.600.000 dengan Kambing Jantan jenis masakan 250 tusuk sate & 1 panci Gule
*) Tipe B harga Rp 1.750.000 dengan Kambing Jantan jenis masakan 300 tusuk sate & 1 panci gule
*) Tipe C harga Rp 1.850.000 dengan Kambing Jantan jenis masakan 350 tusuk sate & 1 panci gule
*) Tipe D harga Rp 2.050.000 dengan Kambing Jantan jenis masakan 450 tusuk sate & 1 panci gule
*) Tipe E harga Rp 2.150.000 dengan Kambing Jantan jenis masakan 500 tusuk sate & 1 panci gule

AQIQAH PEDULI

  1. Aqiqah dikemas dalam bentuk walimatul aqiqah
  2. Masakan aqiqah akan diantar ke panti asuhan, pondok pesantren, desa binaan dan masyarakat fakir miskin yang membutuhkan
  3. Shohibul aqiqah akan mendapatkan foto hewan sembelihan aqiqah, ucapan terima kasih dari wakil penerima aqiqah, laporan pelaksanaan aqiqah serta dokumentasi pelaksanaan aqiqah.

MACAM PAKET PEDULI AQIQAH DI NGANJUK

*) Aqiqah Peduli Tipe A Kambing Betina, harga RP 1.435.000,- sebanyak 50 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe B Kambing Betina, harga RP 1.700.000,- sebanyak 60 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe C Kambing Betina, harga RP 1.800.000,- sebanyak 70 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe D Kambing Betina, harga Rp 1.900.000,- sebanyak 80 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe E Kambing Betina, harga Rp 2.100.000,- sebanyak 90 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe A Kambing Jantan, harga Rp 1.800.000,- sebanyak 50 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe B Kambing Jantan, harga Rp 1.950.000,- sebanyak 60 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe C Kambing Jantan, harga Rp 2.150.000,- sebanyak 70 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe D Kambing Jantan, harga Rp 2.250.000,- sebanyak 80 porsi
*) Aqiqah Peduli Tipe E Kambing Jantan, harga Rp 2.450.000,- sebanyak 90 porsi

Bagaimana cara pemesanan paket aqiqah di Nganjuk ? Untuk pemesanan paket aqiqah, berikut ini kami sajikan cara mudah pemesanan :

  1. Silahkan telephone di nomor layanan kami 085853444472 dan dapatkan penjelasan lebih detil.
  2. Atau lakukan konfirmasi kepada Customer Service kami melalui SMS atau Email : Nama Anak, Tempat
  3. Tanggal Lahir, Nama Bapak dan Nama Ibu, Tanggal permintaan pelaksanaan aqiqah, Alamat pengiriman laporan Aqiqah Peduli
  4. Transfer dana ke nomor rekening lemabaga (a.n. Peduli Dhuafa)
  5. Konfirmasikan apabila sudah menyelesaikan transfer dana
  6. Sesuai tanggal yang disepakati, aqiqah akan dilaksanakan
  7. H+3 laporan pelaksanaan aqiqah kami kirim via pos ke alamat yang ditentukan
  8. Laporan sampai di shohibul aqiqah (Perkiraan H+5 dan seterusnya, mohon konfirmasi apabila laporan pelaksanaan sudah diterima atau belum sampai tempat tujuan shohibul aqiqah).

Semoga informasi diatas bermanfaat untuk pembaca dan sahabat Aqiqah Berkah di Nganjuk dan sekitarnya. Jangan lupa untuk membagikan informasi diatas agar bermanfaat ketika ada saudara yang akan melangsungkan aqiqah.

Paket Aqiqah Berkah Nganjuk

By | Paket Aqiqah, Tentang Aqiqah | No Comments

Mau tahu informasi mengenai paket aqiqah murah ? Cek disini untuk informasi paket Aqiqah Berkah Nganjuk dengan harga ekonomis.

Sebelum menelisik lebih dalam mengenai paket Aqiqah Berkah Nganjuk, maka kita perlu memahami terlebih dahulu hakikat aqiqah menurut syariat Islam.

Pengertian Aqiqah

Kata Aqiqah berasal dari kata Al-Aqqu yang berarti memotong (Al-Qoth’u). Al-Ashmu’l berpendapat bahwa aqiqah asalnya adalah rambut di kepala anak yang baru lahir. kambing yang dipotong disebut aqiqah karena rambut anak tersebut dipotong ketika kambing itu disembelih.

Hadits riwayat Abu Daud

(أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ)

Artinya: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.

Aqiqah adalah sembelihan untuk anak yang baru lahir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Dalam aqiqah, yang disembelih adalah kambin, bukan ayam atau kelinci dan lain sebagainya.

Berdasarkan hadits diatas, bagi bayi laki-laki aqiqahnya dua ekor kambing yang seimbang atau setara dan bagi bayi perempuan aqiqahnya dengan seekor kambing. Oleh sebagian ulama disebut nasikah atau dzabihah (sembelihan).

Hukum Syariat Aqiqah

Hukum aqiqah menurut kalangan Syafi’i dan Hambali adalah sunnah muakkadah. Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafi’i dan Hambali dengan menyatakan aqiqah sunnah adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْـنَـةٌ بِـعَـقِـيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَـنْـهُ يَـوْمَ سَابِـعِـهِ وَيُـسَـمَّى فِيْـهِ وَيُـحْلَـقُ رَأْسُـهُ

“Setiap anak yang lahir tergadai aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dan pada hari itu ia diberi nama dan digunduli rambutnya.” (Hadits Sahih Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim).

Dari Ummu Kurzin Al-Ka’biyah ra ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda :

أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَقَّ عَنْ اَلْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

Artinya: Nabi beraqiqah untuk Hasan dan Husein masing-masing seekor kambing kibas (Hadits riwayat Abu Daud)

PAKET AQIQAH BERKAH

Jenis-jenis paket aqiqah di Aqiqah Berkah :

Aqiqah Mandiripaket 1

  1. Dikirim kerumah Sohibul Aqiqah
  2. Wilayah Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Madiun dan sekitarnya.
  3. Pilihan menu (pengganti sate) lapis, krengseng, sate rebus, rendang, dendeng ragi, rawon

Aqiqah Peduli (Tebar Aqiqah Berkah)

  1. Dikemas dalam bentuk walimatul aqiqah.
  2. Masakan di antar ke panti asuhan, masyarakat yang membutuhkan, pondok pesantren, desa binaan lengkap dengan nasi, kerupuk, buah dan air mineral.
  3. Shohibul aqiqah akan mendapatkan foto hewan aqiqah, ucapan terima kasih dari wakil penerima aqiqah, laporan dan dokumentasi pelaksanaan aqiqah.

Para ulama mengatakan, hikmah dan tujuan aqiqah antara lain sebagai berikut :

  1. Memelihara atau melindungi anak dari segala bahaya yang menimpanya dengan aqiqah yang telah diberikan untuk anak. Sebagaimana kita ketahui, bahwa pada usia bayi, sangat rentan dengan bahaya yang menimpanya, karena pada saat itu daya tahan tubuhnya belum stabil.
  2. Memberi nama dan bercukur rambut. Pada saat aqiqah, orangtua memberikan nama kepada anaknya. Memberikan nama adalah salah satu kewajiban orangtua terhadap anaknya. Sebaiknya anak diberi nama-nama yang baik sesuai ketentuan aqiqah. Contoh untuk nama-nama yang baik adalah Abdullah, Abdurrahman,juga dibolehkan dengan memberi nama Malaikat, Nabi dan nama-nama dari al-Qur’an.

Tidak dibolehkan untuk memberi nama yang disembah selain Allah, seperti Abdul Uzza, Abdul Hubal, Abdul Umar, Abdul Ka’bah, dan Hasya Abdul Muthallib. Juga di makruhkan memberikan memberikan nama seperti Yasar, Rabah, Nujaih, Aflah karena nama-nama tersebut terkadang sebagai sarana mendatangkan kesialan.

Sebagaimana riwayat dari Samurah bahwa Nabi SAW bersabda, “Janganlah engkau memberi nama anakmu itu dengan Yasar, Rabbah, Nujaih, dan Aflah. Karena sesungguhnya jika engkau menanyakannya, Apakah ia memang demikian?Jangan sampai ada yang menjawab “Tidak”. (HR. Muslim).

Mengharamkan Yang Halal akan Berakibat Timbulnya Bahaya dan Kejahatan

By | Berita | No Comments

Mengharamkan yang Halal akan Berakibat Timbulnya Kejahatan dan Bahaya

301

DI ANTARA hak Allah sebagai Zat yang menciptakan manusia dan pemberi nikmat yang tiada terhitung banyaknya itu, ialah menentukan halal dan haram dengan sesukanya, sebagaimana Dia juga berhak menentukan perintah-perintah dan syi’ar-syi’ar ibadah dengan sesukanya. Sedang buat manusia sedikitpun tidak ada hak untuk berpaling dan melanggar.

Ini semua adalah hak Ketuhanan dan suatu kepastian persembahan yang harus mereka lakukan untuk berbakti kepadaNya. Namun, Allah juga berbelas-kasih kepada hambaNya. Oleh karena itu dalam Ia menentukan halal dan haram dengan alasan yang ma’qul (rasional) demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Justeru itu pula Allah tidak akan menghalalkan sesuatu kecuali yang baik, dan tidak akan mengharamkan sesuatu kecuali yang jelek.

Benar! Bahwa Allah pernah juga mengharamkan hal-hal yang baik kepada orang-orang Yahudi. Tetapi semua itu merupakan hukuman kepada mereka atas kedurhakaan yang mereka perbuat dan pelanggarannya terhadap larangan Allah. Hai ini telah dijelaskan sendiri oleh Allah dalam firman Nya:

“Dan kepada orang-orang Yahudi kami haramkan semua binatang yang berkuku, dan dari sapi dan kambing kami haramkan lemak-lemaknya, atau (lemak) yang terdapat di punggungnya, atau yang terdapat dalam perut, atau yang tercampur dengan tulang. Yang demikian itu kami (sengaja) hukum mereka lantaran kedurhakaan mereka, dan sesungguhnya kami adalah (di pihak) yang benar.” (al-An’am: 146)

Di antara bentuk kedurhakaannya itu telah dijelaskan Allah dalam surah lain, yang antara lain berbunyi sebagai berikut:
“Sebab kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu, maka kami haramkan atas mereka (makanan-makanan) yang baik yang tadinya telah dihalalkan untuk mereka; dan sebab gangguan mereka terhadap agama Allah dengan banyak; dan sebab mereka memakan harta riba padahal telah dilarangnya; dan sebab mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil.” (an-Nisa’: 160-161)

Setelah Allah mengutus Nabi Muhammad, sebagai Nabi terakhir dengan membawa agama yang universal dan abadi, maka salah satu di antara rahmat kasih Allah kepada manusia, sesudah manusia itu matang dan dewasa berfikir, dihapusnya beban haram yang pernah diberikan Allah sebagai hukuman sementara yang bermotif mendidik itu, di mana beban tersebut cukup berat dan menegangkan leher masyarakat.

Kerasulan Nabi Muhammad ini telah disebutkan dalam Taurat, dan namanya pun sudah dikenal oleh ahli-ahli kitab, yaitu seperti yang disebutkan dalam al-Quran:
“Mereka (ahli kitab) itu mengetahui dia (nama Muhammad) tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil dengan tugas untuk mengajak kepada kebajikan dan melarang daripada kemungkaran, dan menghalalkan kepada mereka yang baik-baik, dan mengharamkan atas mereka yang tidak baik, serta mencabut dari mereka beban mereka dan belenggu yang ada pada mereka.” (al-A’raf: 157)

Di dalam Islam caranya Allah menutupi kesalahan, bukan dengan mengharamkan barang-barang baik yang lain, tetapi ada beberapa hal yang di antaranya ialah:

  1. Taubat dengan ikhlas (taubatan nasuha). Taubat ini dapat menghapuskan dosa bagaikan air jernih yang dapat menghilangkan kotoran.
  2. Dengan mengerjakan amalan-amalan yang baik, karena amalan-amalan yang baik itu dapat menghilangkan kejelekan.
  3. Dengan bersedekah (shadaqah) karena shadaqah itu dapat menghapus dosa, bagaikan air yang dapat memadamkan api.
  4. Dengan ditimpa oleh beberapa musibah dan percobaan, dimana musibah dan percobaan itu dapat meleburkan kesalahan-kesalahan, bagaikan daun pohon kalau sudah kering akan menjadi hancur.

Dengan demikian, maka dalan Islam dikenal, bahwa mengharamkan sesuatu yang halal itu dapat membawa satu keburukan dan bahaya. Sedang seluruh bentuk bahaya adalah hukumnya haram. Sebaliknya yang bermanfaat hukumnya halal. Kalau suatu persoalan bahayanya lebih besar daripada manfaatnya, maka hal tersebut hukumnya haram. Sebaliknya, kalau manfaatnya lebih besar, maka hukumnya menjadi halal.

Kaidah ini diperjelas sendiri oleh al-Quran, misalnya tentang arak, Allah berfirman:
“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang hukumnya arak dan berjudi, maka jawablah: bahwa keduanya itu ada suatu dosa yang besar, di samping dia juga bermanfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” (al-Baqarah: 219)

Dan begitu juga suatu jawaban yang tegas dari Allah ketika Nabi Muhammad ditanya tentang masalah halal dalam Islam. Jawabannya singkat Thayyibaat (yang baik-baik). Yakni segala sesuatu yang oleh jiwa normal dianggapnya baik dan layak untuk dipakai di masyarakat yang bukan timbul karena pengaruh tradisi, maka hal itu dipandang thayyib (baik, bagus, halal).

Begitulah seperti yang dikatakan Allah dalam al-Quran:
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa saja yang dihalalkan untuk mereka? Maka jawablah: semua yang baik adalah dihalalkan buat kamu.” (al-Maidah: 4)

Dan firmanNya pula:
“Pada hari ini telah dihalalkan untuk kamu semua yang baik.” (al-Maidah: 5)

Oleh karena itu tidak layak bagi seorang muslim yang mengetahui dengan rinci tentang apa yang disebut jelek dan bahaya yang justeru karenanya hal tersebut diharamkan Allah, kemudian kadang-kadang dia akan menyembunyikan sesuatu yang mungkin nampak pada orang lain. Sebab kadang-kadang ada juga sesuatu kejelekan yang tidak tampak pada suatu masa, tetapi di waktu lain dia akan tampak. Waktu itu setiap mu’min harus mengatakan Sami’na Wa’athanaa (kami mendengarkan dan kami mematuhi).

Tidaklah kamu mengetahui, bahwa Allah telah mengharamkan daging babi, tetapi tidak seorang Islam pun yang mengerti sebab diharamkannya daging babi itu, selain karena kotor. Tetapi kemudian dengan kemajuan zaman, ilmu pengetahuan telah menyingkapkan, bahwa di dalam daging babi itu terdapat cacing pita dan bakteri yang membunuh.

Kalau sekiranya ilmu pengetahuan tidak membuka sesuatu yang terdapat dalam daging babi itu seperti tersebut di atas atau lebih dari itu, niscaya sampai sekarang ummat Islam tetap berkeyakinan, bahwa diharamkannya daging babi itu justeru karena najis (rijsun).

Contoh lain, misalnya Hadis Nabi yang mengatakan:
“Takutlah kamu kepada tiga pelaknat (tiga perkara yang menyebabkan seseorang mendapat laknat Allah), yaitu: buang air besar (berak) di tempat mata air, di jalan besar dan di bawah pohon (yang biasa dipakai berteduh).” (Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi)

Pada abad-abad permulaan tidak seorang pun tahu selain hanya karena kotor, yang tidak dapat diterima oleh perasaan yang sehat dan kesopanan umum. Tetapi setelah ilmu pengetahuan mencapai puncak kemajuannya, maka akhirnya kita mengetahui, bahwa justeru tiga pelaknat di atas adalah memang sangat berbahaya bagi kesehatan umum. Dia merupakan pangkal berjangkitnya wabah penyakit anak-anak, seperti anchylostoma dan bilharzia.

Begitulah, setelah sinar ilmu pengetahuan itu dapat menembus dan meliputi lapangan yang sangat luas, maka kita menjadi makin jelas untuk mengetahui halal dan haram serta rahasia setiap hukum. Bagaimana tidak! Sebab dia adalah hukum yang dibuat oleh Zat yang Maha Tahu, Maha Bijaksana dan Maha Berbelas-kasih kepada hambaNya. Yaitu seperti yang difirmankan Allah dalam al-Quran:
“Allah mengetahui orang yang suka berbuat jahat dari pada orang yang berbuat baik; dan jika Allah mau, niscaya Ia akan beratkan kamu, karena sesungguhnya Allah Maha Gagah dan Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 220)

Nah itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat…

Apabila anda ingin memesan aqiqah, cetering aqiqah, kambing aqiqah, kambing qurban, dan kambing guling anda bisa langsung menghubungi nomor berikut ini:

kambing kurban
WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

Apa Saja Yang Membawa Kepada Haram adalah Haram

By | Berita | No Comments

Apa Saja yang Membawa Kepada Haram adalah Haram

3

SALAH satu prinsip yang telah diakui oleh Islam, ialah: apabila Islam telah mengharamkan sesuatu, maka wasilah dan cara apapun yang dapat membawa kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram.

Oleh karena itu, kalau Islam mengharamkan zina misalnya, maka semua pendahuluannya dan apa saja yang dapat membawa kepada perbuatan itu, adalah diharamkan juga. Misalnya, dengan menunjukkan perhiasan, berdua-duaan (free love), bercampur dengan bebas, foto-foto telanjang (cabul), kesopanan yang tidak teratur (immoral), nyanyian-nyanyian yang kegila-gilaan dan lain-lain.

Dari sinilah, maka para ulama ahli fiqih membuat suatu kaidah: Apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram. Kaidah ini senada dengan apa yang diakui oleh Islam; yaitu bahwa dosa perbuatan haram tidak terbatas pada pribadi si pelakunya itu sendiri secara langsung, tetapi meliputi daerah yang sangat luas sekali, termasuk semua orang yang bersekutu dengan dia baik melalui harta ataupun sikap. Masing-masing mendapat dosa sesuai dengan keterlibatannya itu. Misalnya tentang arak, Rasulullah s.a.w. melaknat kepada yang meminumnya, yang membuat (pemeras), yang membawanya, yang diberinya, yang menjualnya dan seterusnya. Nanti insya Allah akan kami sebutkan.

Begitu juga dalam soal riba, akan dilaknat orang yang memakannya, yang memberikannya, penulisnya dan saksi-saksinya.

Begitulah, maka semua yang dapat membantu kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram juga. Dan semua orang yang membantu kepada orang yang berbuat haram, maka dia akan terlibat dalam dosanya juga.

Bersiasat Terhadap Hal yang Haram, Hukumnya adalah Haram

SEBAGAIMANA Islam telah mengharamkan seluruh perbuatan yang dapat membawa kepada haram dengan cara-cara yang nampak, maka begitu juga Islam mengharamkan semua siasat (kebijakan) untuk berbuat haram dengan cara-cara yang tidak begitu jelas dan siasat syaitan (yakni yang tidak nampak).

Rasulullah pernah mencela orang-orang Yahudi yang membuat suatu kebijakan untuk menghalalkan perbuatan yang dilarang (haram).

Maka sabda Rasulullah s.a.w.:
“Jangan kamu berbuat seperti perbuatan Yahudi, dan jangan kamu menganggap halal terhadap larangan-larangan Allah walaupun dengan siasat yang paling kecil.”

Salah satu contoh, misalnya, orang-orang Yahudi dilarang berburu pada hari Sabtu, kemudian mereka bersiasat untuk melanggar larangan ini dengan menggali, sebuah parit pada hari Jum’at supaya pada hari Sabtunya ikan-ikan bisa masuk ke dalam parit tersebut, dan akan diambilnya nanti pada hari Ahad.

Cara seperti ini dipandang halal oleh orang-orang yang memang bersiasat untuk melanggar larangan itu, tetapi oleh ahli-ahli fiqih dipandangnya suatu perbuatan haram, karena motifnya justeru untuk berburu baik dengan jalan bersiasat maupun cara langsung.

Termasuk bersiasat (helah), yaitu menamakan sesuatu yang haram dengan nama lain, dan merubah bentuk. padahal intinya itu juga. Sebab suatu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa sedikitpun tidak, berarti untuk merubah hukum hanya cukup dengan merubah nama, sedang bendanya itu-itu juga; atau dengan merubah bentuk, padahal hakikat bendanya itu-itu juga.

Oleh karena itu pula, siapapun yang merubah bentuk dengan niat sekedar siasat supaya dapat makan riba, atau membuat nama baru dengan niat supaya dapat minum arak, maka dosa riba dan arak tidak dapat hilang.

Untuk itulah, maka dalam beberapa Hadis Nabi disebutkan: “Sungguh akan ada satu golongan dari ummatku yang menganggap halal minum arak dengan memberikan nama lain.” (Riwayat Ahmad)

“Akan datang suatu masa di mana manusia menganggap halal riba dengan nama jual-beli.” Adalah salah satu keganjilan di zaman kita sekarang ini banyak orang menamakan tarian porno dengan nama seni tari, arak dinamakan minuman rohani dan riba dinamakan keuntungan dan sebagainya

Niat Baik Tidak Dapat Melepaskan yang Haram

ISLAM memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundang-undangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari)

Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan memperkuat tubuh supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah.

Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya kepada isterinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri dan keluarganya dari perbuatan maksiat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai ibadah yang berhak mendapat pahala. Untuk itu pula, maka Rasulullah s.a.w. pernah menyabdakan:
“Pada kemaluanmu itu ada sadaqah. Para sahabat kemudian bertanya: Apakah kalau kita melepaskan syahwat juga mendapatkan pahala? Jawab Nabi: Apakah kalau dia lepaskan pada yang haram, dia juga akan beroleh dosa? Maka begitu jugalah halnya kalau dia lepaskan pada yang halal, dia pun akan beroleh pahala.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dalam satu riwayat dikatakan:
“Barangsiapa mencari rezeki yang halal dengan niat untuk menjaga diri supaya tidak minta-minta, dan berusaha untuk mencukupi keluarganya, serta supaya dapat ikut berbelas kasih (membantu tetangganya), maka kelak dia akan bertemu Allah (di akhirat) sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.” (Riwayat Thabarani)

Begitulah, setiap perbuatan mubah yang dikerjakan oleh seorang mu’min, di dalamnya terdapat unsur niat yang dapat mengalihkan perbuatan tersebut kepada ibadah.

Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Sebab Islam selamanya menginginkan tujuan yang suci dan caranya pun harus suci juga. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Bahkan yang ada adalah sebaliknya, setiap tujuan baik, harus dicapai dengan cara yang baik pula.

Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid atau untuk terlaksananya rencana-rencana yang baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat baginya, sehingga dengan demikian dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat.

Demikian seperti apa yang diajarkan kepada kita oleh Rasulullah s.a.w., sebagaimana disabdakan:
“Sesungguhnya Allah itu baik, Ia tidak mau menerima kecuali yang baik pula. Allah pun memerintah kepada orang mu’min seperti halnya perintah kepada para Rasul.”

Kemudian Rasulullah membacakan ayat: “Hai para Rasul! Makanlah dari yang baik-baik (halal) dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya aku Maha Mengetahui apa saja yang kamu perbuat.” (al-Mu’minun: 51)

“Hai orang-orang yang beriman! Makanlah dari barang-barang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (al-Baqarah: 172)

“Kemudian ada seorang laki-laki yang datanq dari tempat yang jauh, rambutnya tidak terurus penuh dengan debu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa: yaa rab, yaa rab (hai Tuhanku, hai Tuhanku), padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan barang yang haram pula, maka bagaimana mungkin doanya itu dikabulkan?” (Riwayat Muslim dan Tarmizi)

Dan sabdanya pula:
“Barangsiapa mengumpulkan uang dari jalan yang haram kemudian dia sedekahkan harta itu, samasekali dia tidak akan beroleh pahala, bahkan dosanya akan menimpa dia ” (Riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim)

Dan sabdanya pula:
“Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

Menjauhkan Diri dari Syubhat Karena Takut Terlibat dalam Haram

SALAH satu daripada rahmat Allah terhadap manusia, yaitu: Ia tidak membiarkan manusia dalam kegelapan terhadap masalah halal dan haram, bahkan yang halal dijelaskan sedang yang haram diperinci. FirmanNya:
“Dan sungguh Allah telah menerangkan kepadamu apa-apa yang Ia haramkan atas kamu.” (al-An’am: 119)

Masalah halal yang sudah jelas, boleh saja dikerjakan. Dan soal haram pun yang sudah jelas, samasekali tidak ada rukhsah untuk mengerjakannya, selama masih dalam keadaan normal.

Tetapi di balik itu ada suatu persoalan, yaitu antara halal dan haram. Persoalan tersebut dikenal dengan nama syubhat, suatu persoalan yang tidak begitu jelas antara halal dan haramnya bagi manusia. Hal ini bisa terjadi mungkin karena tasyabbuh (tidak jelasnya) dalil dan mungkin karena tidak jelasnya jalan untuk menerapkan nas (dalil) yang ada terhadap suatu peristiwa.

Terhadap persoalan ini Islam memberikan suatu garis yang disebut Wara’ (suatu sikap berhati-hati karena takut berbuat haram). Dimana dengan sifat itu seorang muslim diharuskan untuk menjauhkan diri dari masalah yang masih syubhat, sehingga dengan demikian dia tidak akan terseret untuk berbuat kepada yang haram.

Cara semacam ini termasuk menutup jalan berbuat maksiat (saddudz dzara’i) yang sudah kita bicarakan terdahulu. Disamping itu cara tersebut merupakan salah satu macam pendidikan untuk memandang lebih jauh serta penyelidikan terhadap hidup dan manusia itu sendiri.

Dasar pokok daripada prinsip ini ialah sabda Nabi yang mengatakan: “Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, di antara keduanya itu ada beberapa perkara yang belum jelas (syubhat), banyak orang yang tidak tahu: apakah dia itu masuk bagian yang halal ataukah yang haram? Maka barangsiapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat,. dan barangsiapa mengerjakan sedikitpun daripadanya hampir-hampir ia akan jatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah! Bahwa tiap-tiap raja mempunyai daerah larangan. Ingat pula, bahwa daerah larangan Allah itu ialah semua yang diharamkan.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Tarmizi, dan riwayat ini adalah lafal Tarmizi).

Sesuatu yang Haram Berlaku Untuk Semua Orang

HARAM dalam pandangan syariat Islam mempunyai ciri menyeluruh dan mengusir. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang diharamkan untuk selain orang Arab (ajam) tetapi halal buat orang Arab. Tidak ada sesuatu yang dilarang untuk orang kulit hitam, tetapi halal, buat orang kulit putih. Tidak ada sesuatu rukhsah yang diberikan kepada suatu tingkatan atau suatu golongan manusia, yang dengan menggunakan nama rukhsah (keringanan) itu mereka bisa berbuat jahat yang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Mereka yang berbuat demikian itu sering menamakan dirinya pendeta, pastor, raja dan orang-orang suci. Bahkan tidak seorang muslim pun yang mempunyai keistimewaan khusus yang dapat menetapkan sesuatu hukum haram untuk orang lain, tetapi halal buat dirinya sendiri.

Sekali-kali tidak akan begitu! Allah adalah Tuhannya orang banyak, syariatNya pun untuk semua orang. Setiap yang dihalalkan Allah dengan ketetapan undang-undangnya, berarti halal untuk segenap ummat manusia.

Dan apa saja yang diharamkan, haram juga untuk seluruh manusia. Hal ini berlaku sampai hari kiamat. Misalnya mencuri, hukumnya adalah haram, baik si pelakunya itu seorang muslim ataupun bukan orang Islam; baik yang dicuri itu milik orang Islam ataupun milik orang lain. Hukumnya pun berlaku untuk setiap pencuri betapapun keturunan dan kedudukannya. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah dan yang dikumandangkannya.

Kata Rasulullah dalam pengumumannya itu: “Demi Allah! Kalau sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, pasti akan kupotong tangannya.” (Riwayat Bukhari)

Di zaman Nabi sudah pernah terjadi suatu peristiwa pencurian yang dilakukan oleh seorang Islam, tetapi ada suatu syubhat sekitar masalah seorang Yahudi dan seorang Muslim. Kemudian salah satu keluarganya yang Islam melepaskan tuduhan kepada seorang Yahudi dengan beberapa data yang dibuatnya dan berusaha untuk mengelakkan tuduhan terhadap rekannya yang beragama Islam itu, padahal dialah pencurinya, sehingga dia bermaksud untuk mengadukan hat tersebut kepada Nabi dengan suatu keyakinan, bahwa dia akan dapat bebas dari segala tuduhan dan hukuman.

Waktu itu turunlah ayat yang menyingkap kejahatan ini dan membebaskan orang Yahudi tersebut dari segala tuduhan. Rasulullah s.a.w. mencela orang Islam tersebut dan menjatuhkan hukuman kepada pelakunya.

Wahyu Allah berbunyi sebagai berikut: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan benar, supaya kamu menghukum diantara manusia dengan (faham) yang Allah beritahukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi pembela orang-orang yang khianat. Dan minta ampunlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan betas-kasih. Dan janganlah kamu membela orang-orang yang mengkhianati dirinya itu, karena sesungguhnya Allah tidak suka berkhianat dan berbuat dosa. Mereka bersembunyi (berlindung) kepada manusia, tetapi tidak mau bersembunyi kepada Allah, padahal Dia selalu bersama mereka ketika mereka mengatur siasatnya itu di waktu malam, yaitu sesuatu yang tidak diridhai dari perkataan itu, dan Allah maha meliputi semua apa yang mereka perbuat. Awaslah! Kamu ini adalah orang-orang yang membela mereka di dalam kehidupan dunia ini, maka siapakah yang akan membela mereka dari hukuman Allah kelak di hari kiamat? Atau siapakah yang akan mewakili untuk (menghadapi urusan) mereka itu?” (an Nisa’: 105-109)

Pernah juga terjadi suatu anggapan dalam agama Yahudi, bahwa riba itu hanya haram untuk seorang Yahudi jika berhutang kepada orang Yahudi yang lain. Tetapi berhutang kepada lain Yahudi tidaklah terlarang.

Demikianlah seperti yang tersebut dalam Ulangan 23: 19-20: “Maka tak boleh kamu mengambil bunga daripada saudaramu, baik bunga uang, baik bunga makanan, baik bunga barang sesuatu yang dapat makan bunga. Maka daripada orang lain bangsa boleh kamu mengambil bunga, tetapi daripada saudaramu tak boleh kamu mengambil bunga.”

Sifat mereka yang seperti ini diceritakan juga oleh al-Quran, di mana mereka membolehkan berbuat khianat terhadap orang lain, dan hal semacam itu dipandangnya tidak salah dan tidak berdosa.

Al-Quran mengatakan: “Di antara mereka ada beberapa orang yang apabila diserahi amanat dengan satu dinar pun, dia tidak mau menyampaikan amanat itu kepadamu, kecuali kalau kamu terus-menerus berdiri (menunggu); yang demikian itu karena mereka pernah mengatakan. tidak berdosa atas kami (untuk memakan hak) orang-orang bodoh itu, dan mereka juga berkata dusta atas (nama) Allah, padahal mereka sudah mengarti.” (Ali-Imran: 75)

Benar mereka telah berdusta atas nama Allah, yaitu dengan bukti, bahwa agama Allah itu pada hakikatnya tidak membeda-bedakan antara suatu kaum terhadap kaum lain dan melarang berbuat khianat melalui lidah setiap rasuINya.

Dan yang cukup kita sesalkan ialah, bahwa perasaan Israiliyah inilah yang merupakan kejahatan biadab, yang kiranya tidak patut untuk dinisbatkan kepada agama Samawi (agama Allah). Sebab budi yang luhur bahkan budi yang sebenarnya mestinya harus mempunyai ciri yang menyeluruh dan universal, sehingga tidak terjadi anggapan halal untuk ini tetapi haram untuk itu.

Perbedaan prinsip antara kita dan golongan badaiyah (primitif) hanyalah dalam hal luasnya daerah budi/akhlak. Bukan ada atau tidak adanya budi itu. Sebab soal amanat misalnya, menurut anggapan mereka dipandang sebagai suatu sikap yang baik dan terpuji, tetapi hanya khusus antar putera sesuatu kabilah. Kalau sudah keluar dari kabilah itu atau lingkungan keluarga, boleh saja berbuat khianat; bahkan kadang-kadang dipandang siasat baik atau sampai kepada wajib.

Pengarang Qishshatul Hadharah menceriterakan, bahwa semua golongan manusia hampir ada persesuaian dalam kepercayaan yang menunjukkan mereka lebih baik daripada yang lain. Misalnya bangsa Indian di Amerika, mereka menganggap dirinya sebagai hamba Tuhan yang terbaik. Tuhan menciptakan mareka ini sebagai manusia yang berjiwa besar khusus untuk dijadikan sebagai tauladan di mana manusia-manusia lainnya harus menaruh hormat kepadanya.

Salah satu suku Indian itu ada yang menganggap dirinya sebagai Manusia yang tidak ada taranya. Dan suku yang lain beranggapan, bahwa dirinya itu manusia diantara sekian banyak manusia. Suku Carbion mengatakan pula hanya kamilah yang disebut manusia sesungguhnya dan seterusnya.

Kesimpulannya, bahwa manusia primitif didalam mengatur cara pergaulannya dengan golongan lain tidak menggunakan jiwa etika yang lazim seperti yang biasa dipakai dalam berhubungan dengan kawan sesukunya.

Ini merupakan bukti nyata, bahwa etika (akhlak) merupakan fungsi yang paling ampuh guna memperkukuh jamaah dan memperteguh kekuatannya untuk menghadapi golongan lain. Oleh karena itu persoalan etika dan larangan tidak akan dapat berlaku (sesuai) melainkan untuk penduduk golongan itu sendiri. Untuk golongan lain, tidak lebih daripada tamu. Justeru itu boleh saja mereka mengikuti tradisi golongan tersebut sekedarnya saja.

Keadaan Terpaksa Membolehkan Yang Terlarang

ISLAM mempersempit daerah haram. Kendatipun demikian soal haram pun diperkeras dan tertutup semua jalan yang mungkin akan membawa kepada yang haram itu, baik dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi-sembunyi. Justeru itu setiap yang akan membawa kepada haram, hukumnya haram; dan apa yang membantu untuk berbuat haram, hukumnya haram juga; dan setiap kebijakan (siasat) untuk berbuat haram, hukumnya haram.

Begitulah seterusnya seperti yang telah kami sebutkan prinsip-prinsipnya di atas. Akan tetapi Islam pun tidak lupa terhadap kepentingan hidup manusia serta kelemahan manusia dalam menghadapi kepentingannya itu. Oleh karena itu Islam kemudian menghargai kepentingan manusia yang tiada terelakkan lagi itu, dan menghargai kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia. Justeru itu seorang muslim dalam keadaan yang sangat memaksa, diperkenankan melakukan yang haram karena dorongan keadaan dan sekedar menjaga diri dari kebinasaan.

Oleh karena itu Allah mengatakan, sesudah menyebut satu-persatu makanan yang diharamkan, seperti: bangkai, darah dan babi:
“Barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tiada berdosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 173)

Yang semakna dengan ini diulang dalam empat surat ketika menyebut masalah makanan-makanan yang haram.

Dan ayat-ayat ini dan nas-nas lainnya, para ahli fiqih menetapkan suatu prinsip yang sangat berharga sekali, yaitu: “Keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang.”

Tetapi ayat-ayat itupun tetap memberikan suatu pembatas terhadap si pelakunya (orang yang disebut dalam keadaan terpaksa) itu; yaitu dengan kata-kata ghaira baghin wala ‘aadin (tidak sengaja dan tidak melewati batas).

Ini dapat ditafsirkan, bahwa pengertian tidak sengaja itu, maksudnya: tidak sengaja untuk mencari kelezatan. Dan perkataan tidak melewati batas itu maksudnya: tidak melewati batas ketentuan hukum.

Dari ikatan ini, para ulama ahli fiqih menetapkan suatu prinsip lain pula, yaitu: adh-dharuratu tuqaddaru biqadriha (dharurat itu dikira-kirakan menurut ukurannya). Oleh karena itu setiap manusia sekalipun dia boleh tunduk kepada keadaan dharurat, tetapi dia tidak boleh menyerah begitu saja kepada keadaan tersebut, dan tidak boleh menjatuhkan dirinya kepada keadaan dharurat itu dengan kendali nafsunya. Tetapi dia harus tetap mengikatkan diri kepada pangkal halal dengan terus berusaha mencarinya.

Sehingga dengan demikian dia tidak akan tersentuh dengan haram atau mempermudah dharurat. Islam dengan memberikan perkenan untuk melakukan larangan ketika dharurat itu, hanyalah merupakan penyaluran jiwa keuniversalan Islam itu dan kaidah-kaidahnya yang bersifat kulli (integral). Dan ini adalah merupakan jiwa kemudahan Islam yang tidak dicampuri oleh kesukaran dan memperingan, seperti cara yang dilakukan oleh ummatummat dahulu.

Oleh karena itu benarlah apa yang dikatakan Allah dalam firmanNya: “Allah berkehendak memberikan kemudahan bagi kamu, dan Ia tidak menghendaki memberikan beban kesukaran kepadamu.” (al-Baqarah: 185)

“Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu sesuatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya kepadamu supaya kamu berterimakasih.” (al-Maidah: 6)

“Allah berkehendak untuk memberikan keringanan kepadamu, karena manusia itu dijadikan serba lemah.” (an-Nisa’: 28)

Nah itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat…

harga
Apabila anda ingin memesan aqiqah, cetering aqiqah, kambing aqiqah, kambing qurban, dan kambing guling anda bisa langsung menghubungi nomor berikut ini:

WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504