Setiap Yang Halal Tidak Memerlukan Yang Haram

By | Berita | No Comments

Setiap yang Halal Tidak Memerlukan yang Haram

kambing aqiqah

SALAH satu kebaikan Islam dan kemudahannya yang dibawakan untuk kepentingan ummat manusia, ialah “Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali di situ memberikan suatu jalan keluar yang lebih baik guna mengatasi kebutuhannya itu.” Hal ini seperti apa yang diterangkan oleh Ibnul Qayim dalam A’lamul Muwaqqi’in 2: 111 dan Raudhatul Muhibbin halaman 10. Beliau mengatakan: Allah mengharamkan mereka untuk mengetahui nasib dengan membagi-bagikan daging pada azlam, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya dengan doa istikharah. Allah mengharamkan mencari untung dengan menjalankan riba; tetapi di balik itu Ia berikan ganti dengan suatu perdagangan yang membawa untung. Allah mengharamkan berjudi, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa hadiah harta yang diperoleh dari berlomba memacu kuda, unta dan memanah. Allah juga mengharamkan sutera, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa aneka macam pakaian yang baik-baik, yang terbuat dari wool, kapuk dan cotton. Allah telah mengharamkan berbuat zina dan liwath, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa perkawinan yang halal. Allah mengharamkan minum minuman keras, tetapi dibalik itu Ia berikan gantinya berupa minuman yang lezat yang cukup berguna bagi rohani dan jasmani. Dan begitu juga Allah telah mengharamkan semua macam makanan yang tidak baik (khabaits), tetapi di balik itu Ia telah memberikan gantinya berupa makanan-makanan yang baik (thayyibat).

Begitulah, kalau kita ikuti dengan saksama seluruh hukum Islam ini, maka akan kita jumpai di situ, bahwa Allah s.w.t. tidak memberikan suatu kesempitan (baca haram) kepada hambanya, melainkan di situ juga dibuka suatu keleluasaan di segi lain. Karena Allah samasekali tidak menginginkan untuk mempersukar hambaNya dan membuat takut. Bahkan Ia berkehendak untuk memberikan kemudahan dan kebaikan serta betas-kasih kepada hambaNya. Sebagaimana difirmankan sendiri oleh Allah dalam al-Quran:
“Allah berkehendak akan menerangkan kepadamu dan memberikan petunjuk kepadamu tentang cara-cara (sunnah) yang dilakukan orang-orang sebelum kamu, dan Allah juga berkehendak untuk menerima taubatmu, dan Allah adalah Zat yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah berkehendak untuk menerima taubatmu, tetapi orang-orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya itu berkehendak untuk berpaling dengan palingan yang sangat. Allah (juga) berkehendak untuk memberikan keringanan kepadamu, sebab manusia itu dicipta dengan keadaan yang lemah.” (an-Nisa’: 26-27)

Nah itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat…

kambing aqiqah
Apabila anda ingin memesan aqiqah, cetering aqiqah, kambing aqiqah, kambing qurban, dan kambing guling anda bisa langsung menghubungi nomor berikut ini:

WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

Mengharamkan Yang Halal dan Menghalalkan Yang Haram sama dengan Syirik

By | Berita | No Comments

Mengharamkan yang Halal dan Menghalalkan yang Haram Sama dengan Syirik

32

KALAU Islam mencela sikap orang-orang yang suka menentukan haram dan halal itu semua, maka dia juga telah memberikan suatu kekhususan kepada mereka yang suka mengharamkan itu dengan suatu beban yang sangat berat, karena memandang, bahwa hal ini akan merupakan suatu pengungkungan dan penyempitan bagi manusia terhadap sesuatu yang sebenarnya oleh Allah diberi keleluasaan. Di samping hal tersebut memang karena ada beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh sementara ahli agama yang berlebihan.

Nabi Muhammad sendiri telah berusaha untuk memberantas perasaan berlebihan ini dengan segala senjata yang mungkin. Di antaranya ialah dengan mencela dan melaknat orang-orang yang suka berlebih-lebihan tersebut, yaitu sebagaimana sabdanya:
“Ingatlah! Mudah-mudahan binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan itu.” (3 kali). (Riwayat Muslim dan lain-lain)

Dan tentang sifat risalahnya itu beliau tegaskan: “Saya diutus dengan membawa suatu agama yang toleran.” (Riwayat Ahmad)

Yakni suatu agama yang teguh dalam beraqidah dan tauhid, serta toleran (lapang) dalam hal pekerjaan dan perundang-undangan. Lawan daripada dua sifat ini ialah syirik dan mengharamkan yang halal. Kedua sifat yang akhir ini oleh Rasulullah s.a.w. dalam Hadis Qudsinya dikatakan, firman Allah:
“Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, mengharamkan sesuatu yang halal dapat dipersamakan dengan syirik. Dan justeru itu pula al-Quran menentang keras terhadap sikap orang-orang musyrik Arab terhadap sekutu-sekutu dan berhala mereka, dan tentang sikap mereka yang berani mengharamkan atas diri mereka terhadap makanan dan binatang yang baik-baik, padahal Allah tidak mengizinkannya.

Diantaranya mereka telah mengharamkan bahirah (unta betina yang sudah melahirkan anak kelima), saibah (unta betina yang dinazarkan untuk berhala), washilah (kambing yang telah beranak tujuh) dan ham (Unta yang sudah membuntingi sepuluh kali; untuk ini dikhususkan buat berhala).

Orang-orang Arab di zaman Jahiliah beranggapan, kalau seekor unta betina beranak sudah lima kali sedang anak yang kelima itu jantan, maka unta tersebut kemudian telinganya dibelah dan tidak boleh dinaiki. Mereka peruntukkan buat berhalanya. Karena itu tidak dipotong, tidak dibebani muatan dan tidak dipakai untuk menarik air. Mereka namakan unta tersebut al-Bahirah yakni unta yang dibelah telinganya.

Dan kalau ada seseorang datang dari bepergian, atau sembuh dari sakit dan sebagainya dia juga memberikan tanda kepada seekor untanya persis seperti apa yang diperbuat terhadap bahirah itu. Unta tersebut mereka namakan saibah.

Kemudian kalau ada seekor kambing melahirkan anak betina, maka anaknya itu untuk yang mempunyai; tetapi kalau anaknya itu jantan, diperuntukkan buat berhalanya. Dan jika melahirkan anak jantan dan betina, maka mereka katakan: Dia telah sampai kepada saudaranya; oleh karena itu yang jantan tidak disembelih karena diperuntukkan buat berhalanya. Kambing seperti ini disebut washilah.

Dan jika seekor binatang telah membuntingi anak-anaknya, maka mereka katakan: Dia sudah dapat melindungi punggungnya. Yakni binatang tersebut tidak dinaiki, tidak dibebani muatan dan sebagainya. Binatang seperti ini disebut al-Haami.

Penafsiran dan penjelasan terhadap keempat macam binatang ini banyak sekali, juga berkisar dalam masalah tersebut Al-Quran bersikap keras terhadap sikap pengharaman ini, dan tidak menganggap sebagai suatu alasan karena taqlid kepada nenek-moyangnya dalam kesesatan ini. Firman Allah:
“Allah tidak menjadikan (mengharamkan) bahirah, saibah, washilah dan ham, tetapi orang-orang kafirlah yang berbuat dusta atas (nama) Allah, dan kebanyakan mereka itu tidak mau berfikir. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Mari kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul, maka mereka menjawab: Kami cukup menirukan apa yang kami jumpai pada nenek-nenek moyang kami; apakah (mereka tetap akan mengikutinya) sekalipun nenek-nenek moyangnya itu tidak berpengetahuan sedikitpun dan tidak terpimpin?” (al-Maidah : 103-104)

Dalam surah al-An’am ada semacam munaqasyah (diskusi) mendetail terhadap prasangka mereka yang telah mengharamkan beberapa binatang, seperti: unta, sapi, kambing biri-biri dan kambing kacangan.

Al-Quran membawakan diskusi tersebut dengan suatu gaya bahasa yang cukup dapat mematikan, akan tetapi dapat membangkitkan juga. Kata al-Quran:
“Ada delapan macam binatang; dari kambing biri-biri ada dua, dan dari kambing kacangan ada dua pula; katakanlah (Muhammad): Apakah kedua-duanya yang jantan itu yan diharamkan, atau kedua-duanya yang betina ataukah semua yang dikandung dalam kandungan yang betina kedua-duanya? (Cobalah) beri penjelasan aku dengan suatu dalil, jika kamu orang-orang yang benar! Begitu juga dari unta ada dua macam,- dan dari sapi ada dua macam juga; katakanlah (Muhammad!) apakah kedua-duanya yang jantan itu yang diharamkan, ataukah kedua-duanya yang betina?” (al-An’am: 143-144)

Di surah al-A’raf pun ada juga munaqasyah tersebut dengan suatu penegasan keingkaran Allah terhadap orang-orang yang suka mengharamkan dengan semaunya sendiri itu; di samping Allah menjelaskan juga beberapa pokok binatang yang diharamkan untuk selamanya. Ayat itu berbunyi sebagai berikut:
“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 32-33)

Seluruh munaqasyah ini terdapat pada surah-surah Makiyyah yang diturunkan demi mengkukuhkan aqidah dan tauhid serta ketentuan di akhirat kelak. Ini membuktikan, bahwa persoalan tersebut, dalam pandangan al-Quran, bukan termasuk dalam kategori cabang atau bagian, tetapi termasuk masalah-masalah pokok dan kulli.

Di Madinah timbul di kalangan pribadi-pribadi kaum muslimin ada orang-orang yang cenderung untuk berbuat keterlaluan, melebih-lebihkan dan mengharamkan dirinya dalam hal-hal yang baik. Untuk itulah maka Allah menurunkan ayat-ayat muhkamah (hukum) untuk menegakkan mereka dalam batas-batas ketentuan Allah dan mengernbalikan mereka ke jalan yang lempang.

Di antara ayat-ayat itu berbunyi sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman: Janganlah kamu mengharamkan yang baik-baik (dari) apa yang Allah telah halalkan buat kamu, dan jangan kamu melewati batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang suka melewati batas. Dan makanlah sebagian rezeki yang Allah berikan kepadamu dengan halal dan baik, dan takutlah kamu kepada Allah zat yang kamu beriman dengannya.” (al-Maidah: 87-88)

Nah itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat…

pe1
Apabila anda ingin memesan aqiqah, cetering aqiqah, kambing aqiqah, kambing qurban, dan kambing guling anda bisa langsung menghubungi nomor berikut ini:

WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

Mengharamkan Yang Halal akan Berakibat Timbulnya Bahaya dan Kejahatan

By | Berita | No Comments

Mengharamkan yang Halal akan Berakibat Timbulnya Kejahatan dan Bahaya

301

DI ANTARA hak Allah sebagai Zat yang menciptakan manusia dan pemberi nikmat yang tiada terhitung banyaknya itu, ialah menentukan halal dan haram dengan sesukanya, sebagaimana Dia juga berhak menentukan perintah-perintah dan syi’ar-syi’ar ibadah dengan sesukanya. Sedang buat manusia sedikitpun tidak ada hak untuk berpaling dan melanggar.

Ini semua adalah hak Ketuhanan dan suatu kepastian persembahan yang harus mereka lakukan untuk berbakti kepadaNya. Namun, Allah juga berbelas-kasih kepada hambaNya. Oleh karena itu dalam Ia menentukan halal dan haram dengan alasan yang ma’qul (rasional) demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Justeru itu pula Allah tidak akan menghalalkan sesuatu kecuali yang baik, dan tidak akan mengharamkan sesuatu kecuali yang jelek.

Benar! Bahwa Allah pernah juga mengharamkan hal-hal yang baik kepada orang-orang Yahudi. Tetapi semua itu merupakan hukuman kepada mereka atas kedurhakaan yang mereka perbuat dan pelanggarannya terhadap larangan Allah. Hai ini telah dijelaskan sendiri oleh Allah dalam firman Nya:

“Dan kepada orang-orang Yahudi kami haramkan semua binatang yang berkuku, dan dari sapi dan kambing kami haramkan lemak-lemaknya, atau (lemak) yang terdapat di punggungnya, atau yang terdapat dalam perut, atau yang tercampur dengan tulang. Yang demikian itu kami (sengaja) hukum mereka lantaran kedurhakaan mereka, dan sesungguhnya kami adalah (di pihak) yang benar.” (al-An’am: 146)

Di antara bentuk kedurhakaannya itu telah dijelaskan Allah dalam surah lain, yang antara lain berbunyi sebagai berikut:
“Sebab kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu, maka kami haramkan atas mereka (makanan-makanan) yang baik yang tadinya telah dihalalkan untuk mereka; dan sebab gangguan mereka terhadap agama Allah dengan banyak; dan sebab mereka memakan harta riba padahal telah dilarangnya; dan sebab mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil.” (an-Nisa’: 160-161)

Setelah Allah mengutus Nabi Muhammad, sebagai Nabi terakhir dengan membawa agama yang universal dan abadi, maka salah satu di antara rahmat kasih Allah kepada manusia, sesudah manusia itu matang dan dewasa berfikir, dihapusnya beban haram yang pernah diberikan Allah sebagai hukuman sementara yang bermotif mendidik itu, di mana beban tersebut cukup berat dan menegangkan leher masyarakat.

Kerasulan Nabi Muhammad ini telah disebutkan dalam Taurat, dan namanya pun sudah dikenal oleh ahli-ahli kitab, yaitu seperti yang disebutkan dalam al-Quran:
“Mereka (ahli kitab) itu mengetahui dia (nama Muhammad) tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil dengan tugas untuk mengajak kepada kebajikan dan melarang daripada kemungkaran, dan menghalalkan kepada mereka yang baik-baik, dan mengharamkan atas mereka yang tidak baik, serta mencabut dari mereka beban mereka dan belenggu yang ada pada mereka.” (al-A’raf: 157)

Di dalam Islam caranya Allah menutupi kesalahan, bukan dengan mengharamkan barang-barang baik yang lain, tetapi ada beberapa hal yang di antaranya ialah:

  1. Taubat dengan ikhlas (taubatan nasuha). Taubat ini dapat menghapuskan dosa bagaikan air jernih yang dapat menghilangkan kotoran.
  2. Dengan mengerjakan amalan-amalan yang baik, karena amalan-amalan yang baik itu dapat menghilangkan kejelekan.
  3. Dengan bersedekah (shadaqah) karena shadaqah itu dapat menghapus dosa, bagaikan air yang dapat memadamkan api.
  4. Dengan ditimpa oleh beberapa musibah dan percobaan, dimana musibah dan percobaan itu dapat meleburkan kesalahan-kesalahan, bagaikan daun pohon kalau sudah kering akan menjadi hancur.

Dengan demikian, maka dalan Islam dikenal, bahwa mengharamkan sesuatu yang halal itu dapat membawa satu keburukan dan bahaya. Sedang seluruh bentuk bahaya adalah hukumnya haram. Sebaliknya yang bermanfaat hukumnya halal. Kalau suatu persoalan bahayanya lebih besar daripada manfaatnya, maka hal tersebut hukumnya haram. Sebaliknya, kalau manfaatnya lebih besar, maka hukumnya menjadi halal.

Kaidah ini diperjelas sendiri oleh al-Quran, misalnya tentang arak, Allah berfirman:
“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang hukumnya arak dan berjudi, maka jawablah: bahwa keduanya itu ada suatu dosa yang besar, di samping dia juga bermanfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” (al-Baqarah: 219)

Dan begitu juga suatu jawaban yang tegas dari Allah ketika Nabi Muhammad ditanya tentang masalah halal dalam Islam. Jawabannya singkat Thayyibaat (yang baik-baik). Yakni segala sesuatu yang oleh jiwa normal dianggapnya baik dan layak untuk dipakai di masyarakat yang bukan timbul karena pengaruh tradisi, maka hal itu dipandang thayyib (baik, bagus, halal).

Begitulah seperti yang dikatakan Allah dalam al-Quran:
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa saja yang dihalalkan untuk mereka? Maka jawablah: semua yang baik adalah dihalalkan buat kamu.” (al-Maidah: 4)

Dan firmanNya pula:
“Pada hari ini telah dihalalkan untuk kamu semua yang baik.” (al-Maidah: 5)

Oleh karena itu tidak layak bagi seorang muslim yang mengetahui dengan rinci tentang apa yang disebut jelek dan bahaya yang justeru karenanya hal tersebut diharamkan Allah, kemudian kadang-kadang dia akan menyembunyikan sesuatu yang mungkin nampak pada orang lain. Sebab kadang-kadang ada juga sesuatu kejelekan yang tidak tampak pada suatu masa, tetapi di waktu lain dia akan tampak. Waktu itu setiap mu’min harus mengatakan Sami’na Wa’athanaa (kami mendengarkan dan kami mematuhi).

Tidaklah kamu mengetahui, bahwa Allah telah mengharamkan daging babi, tetapi tidak seorang Islam pun yang mengerti sebab diharamkannya daging babi itu, selain karena kotor. Tetapi kemudian dengan kemajuan zaman, ilmu pengetahuan telah menyingkapkan, bahwa di dalam daging babi itu terdapat cacing pita dan bakteri yang membunuh.

Kalau sekiranya ilmu pengetahuan tidak membuka sesuatu yang terdapat dalam daging babi itu seperti tersebut di atas atau lebih dari itu, niscaya sampai sekarang ummat Islam tetap berkeyakinan, bahwa diharamkannya daging babi itu justeru karena najis (rijsun).

Contoh lain, misalnya Hadis Nabi yang mengatakan:
“Takutlah kamu kepada tiga pelaknat (tiga perkara yang menyebabkan seseorang mendapat laknat Allah), yaitu: buang air besar (berak) di tempat mata air, di jalan besar dan di bawah pohon (yang biasa dipakai berteduh).” (Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi)

Pada abad-abad permulaan tidak seorang pun tahu selain hanya karena kotor, yang tidak dapat diterima oleh perasaan yang sehat dan kesopanan umum. Tetapi setelah ilmu pengetahuan mencapai puncak kemajuannya, maka akhirnya kita mengetahui, bahwa justeru tiga pelaknat di atas adalah memang sangat berbahaya bagi kesehatan umum. Dia merupakan pangkal berjangkitnya wabah penyakit anak-anak, seperti anchylostoma dan bilharzia.

Begitulah, setelah sinar ilmu pengetahuan itu dapat menembus dan meliputi lapangan yang sangat luas, maka kita menjadi makin jelas untuk mengetahui halal dan haram serta rahasia setiap hukum. Bagaimana tidak! Sebab dia adalah hukum yang dibuat oleh Zat yang Maha Tahu, Maha Bijaksana dan Maha Berbelas-kasih kepada hambaNya. Yaitu seperti yang difirmankan Allah dalam al-Quran:
“Allah mengetahui orang yang suka berbuat jahat dari pada orang yang berbuat baik; dan jika Allah mau, niscaya Ia akan beratkan kamu, karena sesungguhnya Allah Maha Gagah dan Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 220)

Nah itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat…

Apabila anda ingin memesan aqiqah, cetering aqiqah, kambing aqiqah, kambing qurban, dan kambing guling anda bisa langsung menghubungi nomor berikut ini:

kambing kurban
WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

Apa Saja Yang Membawa Kepada Haram adalah Haram

By | Berita | No Comments

Apa Saja yang Membawa Kepada Haram adalah Haram

3

SALAH satu prinsip yang telah diakui oleh Islam, ialah: apabila Islam telah mengharamkan sesuatu, maka wasilah dan cara apapun yang dapat membawa kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram.

Oleh karena itu, kalau Islam mengharamkan zina misalnya, maka semua pendahuluannya dan apa saja yang dapat membawa kepada perbuatan itu, adalah diharamkan juga. Misalnya, dengan menunjukkan perhiasan, berdua-duaan (free love), bercampur dengan bebas, foto-foto telanjang (cabul), kesopanan yang tidak teratur (immoral), nyanyian-nyanyian yang kegila-gilaan dan lain-lain.

Dari sinilah, maka para ulama ahli fiqih membuat suatu kaidah: Apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram. Kaidah ini senada dengan apa yang diakui oleh Islam; yaitu bahwa dosa perbuatan haram tidak terbatas pada pribadi si pelakunya itu sendiri secara langsung, tetapi meliputi daerah yang sangat luas sekali, termasuk semua orang yang bersekutu dengan dia baik melalui harta ataupun sikap. Masing-masing mendapat dosa sesuai dengan keterlibatannya itu. Misalnya tentang arak, Rasulullah s.a.w. melaknat kepada yang meminumnya, yang membuat (pemeras), yang membawanya, yang diberinya, yang menjualnya dan seterusnya. Nanti insya Allah akan kami sebutkan.

Begitu juga dalam soal riba, akan dilaknat orang yang memakannya, yang memberikannya, penulisnya dan saksi-saksinya.

Begitulah, maka semua yang dapat membantu kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram juga. Dan semua orang yang membantu kepada orang yang berbuat haram, maka dia akan terlibat dalam dosanya juga.

Bersiasat Terhadap Hal yang Haram, Hukumnya adalah Haram

SEBAGAIMANA Islam telah mengharamkan seluruh perbuatan yang dapat membawa kepada haram dengan cara-cara yang nampak, maka begitu juga Islam mengharamkan semua siasat (kebijakan) untuk berbuat haram dengan cara-cara yang tidak begitu jelas dan siasat syaitan (yakni yang tidak nampak).

Rasulullah pernah mencela orang-orang Yahudi yang membuat suatu kebijakan untuk menghalalkan perbuatan yang dilarang (haram).

Maka sabda Rasulullah s.a.w.:
“Jangan kamu berbuat seperti perbuatan Yahudi, dan jangan kamu menganggap halal terhadap larangan-larangan Allah walaupun dengan siasat yang paling kecil.”

Salah satu contoh, misalnya, orang-orang Yahudi dilarang berburu pada hari Sabtu, kemudian mereka bersiasat untuk melanggar larangan ini dengan menggali, sebuah parit pada hari Jum’at supaya pada hari Sabtunya ikan-ikan bisa masuk ke dalam parit tersebut, dan akan diambilnya nanti pada hari Ahad.

Cara seperti ini dipandang halal oleh orang-orang yang memang bersiasat untuk melanggar larangan itu, tetapi oleh ahli-ahli fiqih dipandangnya suatu perbuatan haram, karena motifnya justeru untuk berburu baik dengan jalan bersiasat maupun cara langsung.

Termasuk bersiasat (helah), yaitu menamakan sesuatu yang haram dengan nama lain, dan merubah bentuk. padahal intinya itu juga. Sebab suatu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa sedikitpun tidak, berarti untuk merubah hukum hanya cukup dengan merubah nama, sedang bendanya itu-itu juga; atau dengan merubah bentuk, padahal hakikat bendanya itu-itu juga.

Oleh karena itu pula, siapapun yang merubah bentuk dengan niat sekedar siasat supaya dapat makan riba, atau membuat nama baru dengan niat supaya dapat minum arak, maka dosa riba dan arak tidak dapat hilang.

Untuk itulah, maka dalam beberapa Hadis Nabi disebutkan: “Sungguh akan ada satu golongan dari ummatku yang menganggap halal minum arak dengan memberikan nama lain.” (Riwayat Ahmad)

“Akan datang suatu masa di mana manusia menganggap halal riba dengan nama jual-beli.” Adalah salah satu keganjilan di zaman kita sekarang ini banyak orang menamakan tarian porno dengan nama seni tari, arak dinamakan minuman rohani dan riba dinamakan keuntungan dan sebagainya

Niat Baik Tidak Dapat Melepaskan yang Haram

ISLAM memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundang-undangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari)

Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan memperkuat tubuh supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah.

Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya kepada isterinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri dan keluarganya dari perbuatan maksiat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai ibadah yang berhak mendapat pahala. Untuk itu pula, maka Rasulullah s.a.w. pernah menyabdakan:
“Pada kemaluanmu itu ada sadaqah. Para sahabat kemudian bertanya: Apakah kalau kita melepaskan syahwat juga mendapatkan pahala? Jawab Nabi: Apakah kalau dia lepaskan pada yang haram, dia juga akan beroleh dosa? Maka begitu jugalah halnya kalau dia lepaskan pada yang halal, dia pun akan beroleh pahala.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dalam satu riwayat dikatakan:
“Barangsiapa mencari rezeki yang halal dengan niat untuk menjaga diri supaya tidak minta-minta, dan berusaha untuk mencukupi keluarganya, serta supaya dapat ikut berbelas kasih (membantu tetangganya), maka kelak dia akan bertemu Allah (di akhirat) sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.” (Riwayat Thabarani)

Begitulah, setiap perbuatan mubah yang dikerjakan oleh seorang mu’min, di dalamnya terdapat unsur niat yang dapat mengalihkan perbuatan tersebut kepada ibadah.

Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Sebab Islam selamanya menginginkan tujuan yang suci dan caranya pun harus suci juga. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Bahkan yang ada adalah sebaliknya, setiap tujuan baik, harus dicapai dengan cara yang baik pula.

Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid atau untuk terlaksananya rencana-rencana yang baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat baginya, sehingga dengan demikian dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat.

Demikian seperti apa yang diajarkan kepada kita oleh Rasulullah s.a.w., sebagaimana disabdakan:
“Sesungguhnya Allah itu baik, Ia tidak mau menerima kecuali yang baik pula. Allah pun memerintah kepada orang mu’min seperti halnya perintah kepada para Rasul.”

Kemudian Rasulullah membacakan ayat: “Hai para Rasul! Makanlah dari yang baik-baik (halal) dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya aku Maha Mengetahui apa saja yang kamu perbuat.” (al-Mu’minun: 51)

“Hai orang-orang yang beriman! Makanlah dari barang-barang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (al-Baqarah: 172)

“Kemudian ada seorang laki-laki yang datanq dari tempat yang jauh, rambutnya tidak terurus penuh dengan debu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa: yaa rab, yaa rab (hai Tuhanku, hai Tuhanku), padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan barang yang haram pula, maka bagaimana mungkin doanya itu dikabulkan?” (Riwayat Muslim dan Tarmizi)

Dan sabdanya pula:
“Barangsiapa mengumpulkan uang dari jalan yang haram kemudian dia sedekahkan harta itu, samasekali dia tidak akan beroleh pahala, bahkan dosanya akan menimpa dia ” (Riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim)

Dan sabdanya pula:
“Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

Menjauhkan Diri dari Syubhat Karena Takut Terlibat dalam Haram

SALAH satu daripada rahmat Allah terhadap manusia, yaitu: Ia tidak membiarkan manusia dalam kegelapan terhadap masalah halal dan haram, bahkan yang halal dijelaskan sedang yang haram diperinci. FirmanNya:
“Dan sungguh Allah telah menerangkan kepadamu apa-apa yang Ia haramkan atas kamu.” (al-An’am: 119)

Masalah halal yang sudah jelas, boleh saja dikerjakan. Dan soal haram pun yang sudah jelas, samasekali tidak ada rukhsah untuk mengerjakannya, selama masih dalam keadaan normal.

Tetapi di balik itu ada suatu persoalan, yaitu antara halal dan haram. Persoalan tersebut dikenal dengan nama syubhat, suatu persoalan yang tidak begitu jelas antara halal dan haramnya bagi manusia. Hal ini bisa terjadi mungkin karena tasyabbuh (tidak jelasnya) dalil dan mungkin karena tidak jelasnya jalan untuk menerapkan nas (dalil) yang ada terhadap suatu peristiwa.

Terhadap persoalan ini Islam memberikan suatu garis yang disebut Wara’ (suatu sikap berhati-hati karena takut berbuat haram). Dimana dengan sifat itu seorang muslim diharuskan untuk menjauhkan diri dari masalah yang masih syubhat, sehingga dengan demikian dia tidak akan terseret untuk berbuat kepada yang haram.

Cara semacam ini termasuk menutup jalan berbuat maksiat (saddudz dzara’i) yang sudah kita bicarakan terdahulu. Disamping itu cara tersebut merupakan salah satu macam pendidikan untuk memandang lebih jauh serta penyelidikan terhadap hidup dan manusia itu sendiri.

Dasar pokok daripada prinsip ini ialah sabda Nabi yang mengatakan: “Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, di antara keduanya itu ada beberapa perkara yang belum jelas (syubhat), banyak orang yang tidak tahu: apakah dia itu masuk bagian yang halal ataukah yang haram? Maka barangsiapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat,. dan barangsiapa mengerjakan sedikitpun daripadanya hampir-hampir ia akan jatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah! Bahwa tiap-tiap raja mempunyai daerah larangan. Ingat pula, bahwa daerah larangan Allah itu ialah semua yang diharamkan.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Tarmizi, dan riwayat ini adalah lafal Tarmizi).

Sesuatu yang Haram Berlaku Untuk Semua Orang

HARAM dalam pandangan syariat Islam mempunyai ciri menyeluruh dan mengusir. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang diharamkan untuk selain orang Arab (ajam) tetapi halal buat orang Arab. Tidak ada sesuatu yang dilarang untuk orang kulit hitam, tetapi halal, buat orang kulit putih. Tidak ada sesuatu rukhsah yang diberikan kepada suatu tingkatan atau suatu golongan manusia, yang dengan menggunakan nama rukhsah (keringanan) itu mereka bisa berbuat jahat yang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Mereka yang berbuat demikian itu sering menamakan dirinya pendeta, pastor, raja dan orang-orang suci. Bahkan tidak seorang muslim pun yang mempunyai keistimewaan khusus yang dapat menetapkan sesuatu hukum haram untuk orang lain, tetapi halal buat dirinya sendiri.

Sekali-kali tidak akan begitu! Allah adalah Tuhannya orang banyak, syariatNya pun untuk semua orang. Setiap yang dihalalkan Allah dengan ketetapan undang-undangnya, berarti halal untuk segenap ummat manusia.

Dan apa saja yang diharamkan, haram juga untuk seluruh manusia. Hal ini berlaku sampai hari kiamat. Misalnya mencuri, hukumnya adalah haram, baik si pelakunya itu seorang muslim ataupun bukan orang Islam; baik yang dicuri itu milik orang Islam ataupun milik orang lain. Hukumnya pun berlaku untuk setiap pencuri betapapun keturunan dan kedudukannya. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah dan yang dikumandangkannya.

Kata Rasulullah dalam pengumumannya itu: “Demi Allah! Kalau sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, pasti akan kupotong tangannya.” (Riwayat Bukhari)

Di zaman Nabi sudah pernah terjadi suatu peristiwa pencurian yang dilakukan oleh seorang Islam, tetapi ada suatu syubhat sekitar masalah seorang Yahudi dan seorang Muslim. Kemudian salah satu keluarganya yang Islam melepaskan tuduhan kepada seorang Yahudi dengan beberapa data yang dibuatnya dan berusaha untuk mengelakkan tuduhan terhadap rekannya yang beragama Islam itu, padahal dialah pencurinya, sehingga dia bermaksud untuk mengadukan hat tersebut kepada Nabi dengan suatu keyakinan, bahwa dia akan dapat bebas dari segala tuduhan dan hukuman.

Waktu itu turunlah ayat yang menyingkap kejahatan ini dan membebaskan orang Yahudi tersebut dari segala tuduhan. Rasulullah s.a.w. mencela orang Islam tersebut dan menjatuhkan hukuman kepada pelakunya.

Wahyu Allah berbunyi sebagai berikut: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan benar, supaya kamu menghukum diantara manusia dengan (faham) yang Allah beritahukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi pembela orang-orang yang khianat. Dan minta ampunlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan betas-kasih. Dan janganlah kamu membela orang-orang yang mengkhianati dirinya itu, karena sesungguhnya Allah tidak suka berkhianat dan berbuat dosa. Mereka bersembunyi (berlindung) kepada manusia, tetapi tidak mau bersembunyi kepada Allah, padahal Dia selalu bersama mereka ketika mereka mengatur siasatnya itu di waktu malam, yaitu sesuatu yang tidak diridhai dari perkataan itu, dan Allah maha meliputi semua apa yang mereka perbuat. Awaslah! Kamu ini adalah orang-orang yang membela mereka di dalam kehidupan dunia ini, maka siapakah yang akan membela mereka dari hukuman Allah kelak di hari kiamat? Atau siapakah yang akan mewakili untuk (menghadapi urusan) mereka itu?” (an Nisa’: 105-109)

Pernah juga terjadi suatu anggapan dalam agama Yahudi, bahwa riba itu hanya haram untuk seorang Yahudi jika berhutang kepada orang Yahudi yang lain. Tetapi berhutang kepada lain Yahudi tidaklah terlarang.

Demikianlah seperti yang tersebut dalam Ulangan 23: 19-20: “Maka tak boleh kamu mengambil bunga daripada saudaramu, baik bunga uang, baik bunga makanan, baik bunga barang sesuatu yang dapat makan bunga. Maka daripada orang lain bangsa boleh kamu mengambil bunga, tetapi daripada saudaramu tak boleh kamu mengambil bunga.”

Sifat mereka yang seperti ini diceritakan juga oleh al-Quran, di mana mereka membolehkan berbuat khianat terhadap orang lain, dan hal semacam itu dipandangnya tidak salah dan tidak berdosa.

Al-Quran mengatakan: “Di antara mereka ada beberapa orang yang apabila diserahi amanat dengan satu dinar pun, dia tidak mau menyampaikan amanat itu kepadamu, kecuali kalau kamu terus-menerus berdiri (menunggu); yang demikian itu karena mereka pernah mengatakan. tidak berdosa atas kami (untuk memakan hak) orang-orang bodoh itu, dan mereka juga berkata dusta atas (nama) Allah, padahal mereka sudah mengarti.” (Ali-Imran: 75)

Benar mereka telah berdusta atas nama Allah, yaitu dengan bukti, bahwa agama Allah itu pada hakikatnya tidak membeda-bedakan antara suatu kaum terhadap kaum lain dan melarang berbuat khianat melalui lidah setiap rasuINya.

Dan yang cukup kita sesalkan ialah, bahwa perasaan Israiliyah inilah yang merupakan kejahatan biadab, yang kiranya tidak patut untuk dinisbatkan kepada agama Samawi (agama Allah). Sebab budi yang luhur bahkan budi yang sebenarnya mestinya harus mempunyai ciri yang menyeluruh dan universal, sehingga tidak terjadi anggapan halal untuk ini tetapi haram untuk itu.

Perbedaan prinsip antara kita dan golongan badaiyah (primitif) hanyalah dalam hal luasnya daerah budi/akhlak. Bukan ada atau tidak adanya budi itu. Sebab soal amanat misalnya, menurut anggapan mereka dipandang sebagai suatu sikap yang baik dan terpuji, tetapi hanya khusus antar putera sesuatu kabilah. Kalau sudah keluar dari kabilah itu atau lingkungan keluarga, boleh saja berbuat khianat; bahkan kadang-kadang dipandang siasat baik atau sampai kepada wajib.

Pengarang Qishshatul Hadharah menceriterakan, bahwa semua golongan manusia hampir ada persesuaian dalam kepercayaan yang menunjukkan mereka lebih baik daripada yang lain. Misalnya bangsa Indian di Amerika, mereka menganggap dirinya sebagai hamba Tuhan yang terbaik. Tuhan menciptakan mareka ini sebagai manusia yang berjiwa besar khusus untuk dijadikan sebagai tauladan di mana manusia-manusia lainnya harus menaruh hormat kepadanya.

Salah satu suku Indian itu ada yang menganggap dirinya sebagai Manusia yang tidak ada taranya. Dan suku yang lain beranggapan, bahwa dirinya itu manusia diantara sekian banyak manusia. Suku Carbion mengatakan pula hanya kamilah yang disebut manusia sesungguhnya dan seterusnya.

Kesimpulannya, bahwa manusia primitif didalam mengatur cara pergaulannya dengan golongan lain tidak menggunakan jiwa etika yang lazim seperti yang biasa dipakai dalam berhubungan dengan kawan sesukunya.

Ini merupakan bukti nyata, bahwa etika (akhlak) merupakan fungsi yang paling ampuh guna memperkukuh jamaah dan memperteguh kekuatannya untuk menghadapi golongan lain. Oleh karena itu persoalan etika dan larangan tidak akan dapat berlaku (sesuai) melainkan untuk penduduk golongan itu sendiri. Untuk golongan lain, tidak lebih daripada tamu. Justeru itu boleh saja mereka mengikuti tradisi golongan tersebut sekedarnya saja.

Keadaan Terpaksa Membolehkan Yang Terlarang

ISLAM mempersempit daerah haram. Kendatipun demikian soal haram pun diperkeras dan tertutup semua jalan yang mungkin akan membawa kepada yang haram itu, baik dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi-sembunyi. Justeru itu setiap yang akan membawa kepada haram, hukumnya haram; dan apa yang membantu untuk berbuat haram, hukumnya haram juga; dan setiap kebijakan (siasat) untuk berbuat haram, hukumnya haram.

Begitulah seterusnya seperti yang telah kami sebutkan prinsip-prinsipnya di atas. Akan tetapi Islam pun tidak lupa terhadap kepentingan hidup manusia serta kelemahan manusia dalam menghadapi kepentingannya itu. Oleh karena itu Islam kemudian menghargai kepentingan manusia yang tiada terelakkan lagi itu, dan menghargai kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia. Justeru itu seorang muslim dalam keadaan yang sangat memaksa, diperkenankan melakukan yang haram karena dorongan keadaan dan sekedar menjaga diri dari kebinasaan.

Oleh karena itu Allah mengatakan, sesudah menyebut satu-persatu makanan yang diharamkan, seperti: bangkai, darah dan babi:
“Barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tiada berdosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 173)

Yang semakna dengan ini diulang dalam empat surat ketika menyebut masalah makanan-makanan yang haram.

Dan ayat-ayat ini dan nas-nas lainnya, para ahli fiqih menetapkan suatu prinsip yang sangat berharga sekali, yaitu: “Keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang.”

Tetapi ayat-ayat itupun tetap memberikan suatu pembatas terhadap si pelakunya (orang yang disebut dalam keadaan terpaksa) itu; yaitu dengan kata-kata ghaira baghin wala ‘aadin (tidak sengaja dan tidak melewati batas).

Ini dapat ditafsirkan, bahwa pengertian tidak sengaja itu, maksudnya: tidak sengaja untuk mencari kelezatan. Dan perkataan tidak melewati batas itu maksudnya: tidak melewati batas ketentuan hukum.

Dari ikatan ini, para ulama ahli fiqih menetapkan suatu prinsip lain pula, yaitu: adh-dharuratu tuqaddaru biqadriha (dharurat itu dikira-kirakan menurut ukurannya). Oleh karena itu setiap manusia sekalipun dia boleh tunduk kepada keadaan dharurat, tetapi dia tidak boleh menyerah begitu saja kepada keadaan tersebut, dan tidak boleh menjatuhkan dirinya kepada keadaan dharurat itu dengan kendali nafsunya. Tetapi dia harus tetap mengikatkan diri kepada pangkal halal dengan terus berusaha mencarinya.

Sehingga dengan demikian dia tidak akan tersentuh dengan haram atau mempermudah dharurat. Islam dengan memberikan perkenan untuk melakukan larangan ketika dharurat itu, hanyalah merupakan penyaluran jiwa keuniversalan Islam itu dan kaidah-kaidahnya yang bersifat kulli (integral). Dan ini adalah merupakan jiwa kemudahan Islam yang tidak dicampuri oleh kesukaran dan memperingan, seperti cara yang dilakukan oleh ummatummat dahulu.

Oleh karena itu benarlah apa yang dikatakan Allah dalam firmanNya: “Allah berkehendak memberikan kemudahan bagi kamu, dan Ia tidak menghendaki memberikan beban kesukaran kepadamu.” (al-Baqarah: 185)

“Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu sesuatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya kepadamu supaya kamu berterimakasih.” (al-Maidah: 6)

“Allah berkehendak untuk memberikan keringanan kepadamu, karena manusia itu dijadikan serba lemah.” (an-Nisa’: 28)

Nah itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat…

harga
Apabila anda ingin memesan aqiqah, cetering aqiqah, kambing aqiqah, kambing qurban, dan kambing guling anda bisa langsung menghubungi nomor berikut ini:

WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

Menentukan Halal Haram

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Menentukan Halal Haram Semata Mata Hak Allah

18

Bahwa Islam telah memberikan suatu batas wewenang untuk menentukan halal dan haram, yaitu dengan melepaskan hak tersebut dari tangan manusia, betapapun tingginya kedudukan manusia tersebut dalam bidang agama maupun duniawinya. Hak tersebut semata-mata ditangan Allah.

Bukan pastor, bukan pendeta, bukan raja dan bukan sultan yang berhak menentukan halal-haram. Barangsiapa bersikap demikian, berarti telah melanggar batas dan menentang hak Allah dalam menetapkan perundang-undangan untuk ummat manusia. Dan barangsiapa yang menerima serta mengikuti sikap tersebut, berarti dia telah menjadikan mereka itu sebagai sekutu Allah, sedang pengikutnya disebut “musyrik”.

Firman Allah: “Apakah mereka itu mempunyai sekutu yang mengadakan agama untuk mereka, sesuatu yang tidak diizinkan Allah?” (as- Syura: 21)

Al-Quran telah mengecap ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang telah memberikan kekuasaan kepada para pastor dan pendeta untuk menetapkan halal dan haram, dengan firmannya sebagai berikut: “Mereka itu telah menjadikan para pastor dan pendetanya sebagai tuhan selain Allah; dan begitu juga Isa bin Maryam (telah dituhankan), padahal mereka tidak diperintah melainkan supaya hanya berbakti kepada Allah Tuhan yang Esa, tiada Tuhan melainkan Dia, maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sekutukan.” (at-Taubah: 31)

‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam setelah dia mendengar ayat tersebut, kemudian ia berkata: Ya Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan pendeta itu.

Maka jawab Nabi s.a.w.: “Betul! Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

pe1
“Memang mereka (ahli kitab) itu tidak menyernbah pendeta dan pastor, tetapi apabila pendeta dan pastor itu menghalalkan sesuatu, mereka pun ikut menghalalkan juga; dan apabila pendeta dan pastor itu mengharamkan sesuatu, mereka pun ikut mengharamkan juga.”

Orang-orang Nasrani tetap beranggapan, bahwa Isa al-Masih telah memberikan kepada murid-muridnya ketika beliau naik ke langit suatu penyerahan (mandat) untuk menetapkan halal dan haram dengan sesuka hatinya. Hal ini tersebut dalam Injil Matius 18:18 yang berbunyi sebagai berikut: “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, barang apa yang kamu ikat di atas bumi, itulah terikat kelak di sorga; dan barang apa yang kamu lepas di atas bumi, itupun terlepas kelak di sorga.”

Al-Quran telah mengecap juga kepada orang-orang musyrik yang berani mengharamkan dan menghalalkan tanpa izin Allah, dengan kata-katanya sebagai berikut:
“Katakanlah! Apakah kamu menyetahui apa-apa yang Allah telah turunkan untuk kamu daripada rezeki, kemudian dijadikan sebagian daripadanya itu, haram dan halal; katakanlah apakah Allah telah memberi izin kepadamu, ataukah memang kamu hendak berdusta atas (nama) Allah?”(Yunus: 59)

Dan firman Allah juga:
“Dan jangan kamu berani mengatakan terhadap apa yang dikatakan oleh lidah-lidah kamu dengan dusta; bahwa ini halal dan ini haram, supaya kamu berbuat dusta atas (nama) Allah, sesungguhnya orang-orang yang berani berbuat dusta atas (nama) Allah tidak akan dapat bahagia.” (an-Nahl: 116)

Dari beberapa ayat dan Hadis seperti yang tersebut di atas, para ahli fiqih mengetahui dengan pasti, bahwa hanya Allahlah yang berhak menentukan halal dan haram, baik dalam kitabNya (al-Quran) ataupun melalui lidah RasulNya (Sunnah). Tugas mereka tidak lebih, hanya menerangkan hukum Allah tentang halal dan haram itu. Seperti firmanNya:
“Sungguh Allah telah menerangkan kepada kamu apa yang Ia haramkan atas kamu.” (al-An’am: 119)

Para ahli fiqih sedikitpun tidak berwenang menetapkan hukum syara’ ini boleh dan ini tidak boleh. Mereka, dalam kedudukannya sebagai imam ataupun mujtahid, pada menghindar dari fatwa, satu sama lain berusaha untuk tidak jatuh kepada kesalahan dalam menentukan halal dan haram (mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram).

Imam Syafi’i dalam al-Um 5 meriwayatkan, bahwa Qadhi Abu Yusuf, murid Abu Hanifah pernah mengatakan: “Saya jumpai guru-guru kami dari para ahli ilmu, bahwa mereka itu tidak suka berfatwa, sehingga mengatakan: ini halal dan ini haram, kecuali menurut apa yang terdapat dalam al-Quran dengan tegas tanpa memerlukan tafsiran.

Kata Imam Syafi’i selanjutnya, Ibnu Saib menceriterakan kepadaku dari ar-Rabi’ bin Khaitsam termasuk salah seorang tabi’in yang besar dia pernah berkata sebagai berikut: “Hati-hatilah kamu terhadap seorang laki-laki yang berkata: Sesungguhnya Allah telah menghalalkan ini atau meridhainya, kemudian Allah berkata kepadanya: Aku tidak menghalalkan ini dan tidak meridhainya. Atau dia juga berkata: Sesungguhnya Allah mengharamkan ini kemudian Allah akan berkata: “Dusta engkau, Aku samasekali tidak pernah mengharamkan dan tidak melarang dia.”

Imam Syafi’i juga pernah berkata: Sebagian kawan-kawanku pernah menceriterakan dari Ibrahim an-Nakha’i –salah seorang ahli fiqih golongan tabi’in dari Kufah– dia pernah menceriterakan tentang kawan-kawannya, bahwa mereka itu apabila berfatwa tentang sesuatu atau melarang sesuatu, mereka berkata: Ini makruh, dan ini tidak apa-apa. Adapun yang kalau kita katakan: Ini adalah halal dan ini haram, betapakah besarnya persoalan ini!

Demikianlah apa yang diriwayatkan oleh Abu Yusuf dari salafus saleh yang kemudian diambil juga oleh Imam Syafi’i dan diakuinya juga. Hal ini sama juga dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Muflih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Bahwa ulama-ulama salaf dulu tidak mau mengatakan haram, kecuali setelah diketahuinya dengan pasti.”
Kami dapati juga imam Ahmad, misalnya, kalau beliau ditanya tentang sesuatu persoalan, maka ia menjawab: Aku tidak menyukainya, atau hal itu tidak menyenangkan aku, atau saya tidak senang atau saya tidak menganggap dia itu baik.

Cara seperti ini dilakukan juga oleh imam-imam yang lain seperti Imam Malik, Abu Hanifah dan lain-lain.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Aqiqah Berkah

30 Dalil Qurban

Untuk sobat semua yang membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

  1. Kambing qurban 2016 (Ready Stock)
    – Jenis : Kambing / Domba Gibas
    – Berat : Mulai dari 24-29 kg
    – Umur : -+ 1 tahun
    – Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
    (Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)
  2. Harga Sapi qurban 2016 (Ready Stock)
    1) Sapi Jawa
    – Berat : Mulai dari 300 kg
    – Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
    2) Sapi Bali
    – Berat : Mulai dari 300 kg
    – Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
    (Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai harga kambing Aqiqah Berkah 2016. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :
WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Syari’at Qurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Syariat Berqurban

1

“… maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan Ber-Qurbanlah ” (QS. Al Kautsar/108:1-2)

Bagi seorang muslim yang merasa mampu sangat disunnahkan (sunnah mu’akad) dan ada mazhab yang mewajibkan seperti Imam Abu Hanifah untuk berkorban bagi yang mampu . Tidak seperti zakat ada nizabnya , hanya di sebutkan yang mampu untuk rasa syukur atas nikmat rezki yang telah diberikan dan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah sekaligus untuk Syi’ar Agama seperti Ibadah menyembelih hewan qurban telah disyariatkan pada tahun kedua Hijriah seperti zakat dan dua shalat Ied (Iedul Fitri dan Adha). Syariatnya telah ditetapkan di kitab quran, sunnah dan Ijma.

Sedangkan di kitab Quran Allah berfirman ” fa sholli li robbika wanhar” (maka shollah dan berkorbanlah), yang dimaksud sholat disini adalah sholat Ied (Wahbah Azzuhaly di kitabnya Fiqhul Islami wa adillatuh).

Sedangkan dalam sunnah seperti dalam hadis Aisyah “Tidak ada amalnya anak adam pada hari nahr (10, 11, 12, 13 Dhul hijjah) suatu amal yang lebih dicintai Ta’alallah dari menumpahkan mengalirkan darah (berqorban), yang sesungguhnya qurban itu akan datang di hari kiamat…..dan sesungguhnya akan mencapai Allah Azza w Jalla sebelum darahnya sampai ke atas bumi , maka bersihkan / sucikan dengannya (qurban) jiwa” (HR Al hakim, Ibnu Majah dan Tirmidi). Dan riwayatkan oleh Anas, Rasulullah SAW berkorban dua kibas / domba…. .yang disembelih dengan tangannya.

Ijma kaum muslimin atas disyariatkannya menyembelih hewan Qurban yang ditunjukkan oleh hadis bahwanya amal yang lebih dicinati oleh Allah pada hari “nahr” yang sesungguhnya qurban itu akan datang di hari kiamat atas sifat-sifat hewan qurban yang disembelihnya, dan darahnya sampai untuk diterima di sisi Allah sebelum darahnya mencapai tanah yang mana ibadah qurban ini adalah sunnahnyaNabi Ibrahim a.s.

2
Kata rasulullah SAW: Bahwa setiap bulu dari hewan qurban adalah satu kebaikan. (berapa banyak bulu domba / kambing / sapi / onta???)

Bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mendapatkan keluasan reziki untuk berqurban akan tetapi tidak berqurban maka janganlah hadir ketempat shalat kami”
“Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi dia tidak ber-Qurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami” ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah ).

Rasululllah SAW menyruh putrinya Fatimah untuk berdiri menykasikan sembelihan Qurbannya, karena setiap awal tetesan darahnya adalah mengampuni dosa-dosanya yang lalu.

Rasulullah SAW bersabda: Ber qurban yang baik dengan penuh perhitungan (semata-mata karena Allah Ta’ala) baginya adalah sebagai penghalang dari neraka.

Rasulullah SAW bersabda: Apabila menyembelih Qurban , perbaikilah sembelihannya (pisaunya yang tajam, cara-caranya sesuai dengan yang disyraiatkan).

Allah swt. berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi Ketaqwaan dari kamulah yang mencapainya. Demikianlah Allah Swt. telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang berbuat kebaikan!” ( QS. Al-Hajj: 37 )

PENGERTIAN QURBAN

QURBAN yaitu menyembelih hewan unta, sapi, domba, kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyri’ dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt.

QURBAN merupakan cermin keyakinan kepada keadilan Illahi dan kemanusiaan yang universal. Melalui ibadah Qurban, Allah Swt. mengajak seluruh kaum muslimin untuk menghayati makna kebersamaan dan solidaritas.

ANJURAN MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

“Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berqurbanlah” ( Qur’an Surat Al-Kautsar 1-2 ).

“Tidak ada amalan Bani Adam yang lebih dicintai Allah ketika Idul Adha melebihi menyembelih hewan Qurban” ( HR. Ahmad )

– KOLEKTIF DALAM BERQURBAN

Boleh kolektif/ bergabung dalam melaksanakan Qurban.

Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk berserikat dalam qurban unta atau sapi yaitu seekor untuk tujuh orang” ( HR Muslim )

Dalam kitab Al Majmu’ syarah Muhaddab oleh Imam Nawawi disebutkan bahwa Berqurban unta lebih utama / afdhal dari sapi karena lebih besar, dan sapi lebih baik dari domba karena sapi untuk sama dengan 7 ternak, dan berqurba domba sendirian lebih baik dari unta atau sapi yang patungan / di sharing / berserikat untuk 7 orang.

– BAGAIMANAKAH KETENTUAN HEWAN QURBAN?

Hewan Qurban wajib yang sehat. Rasulullah saw bersabda: “Empat macam hewan yang tidak sah dijadikan Qurban:
1. Yang rusak matanya 2. Yang sakit 3. Yang pincang 4. Yang kurus tidak berlemak” ( HR. Ahmad )

Umur ternak Qurban diusahakan :

  1. Kambing/domba telah berumur 1 tahun/ sudah berganti giginya.
  2. Sapi/kerbau telah berumur 2 tahun lebih.

Rasulullah saw. bersabda : “Janganlah kamu menyembelih Qurban kecuali yang musinnah (telah berganti gigi). Jika sukar didapati, maka boleh jadza’ah (yang berumur satu tahun lebih) dari biri-biri” ( HR. Muslim )

KAPAN WAKTUNYA PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN?

Waktu menyembelih Qurban ialah hari Nahar, dimulai sesudah shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11 – 13 Dzulhijjah ).

Cara menyembelih:

Ini daiambil dari kitab Al Majmu’ Syarah Muhaddab oleh Imam Nawawi (text aslinya dikutib dibawah)

Disunnatkan posisikan supaya yang menyembelih menghadap kiblat Disunnatkan sebelum baca “Bismillahi Allahu Akbar” baca “Allahumma minka wa ilayka Taqobbal Minnie” (kalau disembelih sendiri, kalau disembelihkan orang lain Minnie diganti dengan Min….sebut namanya) disunnahkan baca takbir (Allahu Akbar 3x) sebelum baca itu (sebelum mulai disembelih) dan disunnahkan juga abaca sholawat kepada Rasulullah SAW kemudian setelah seleasai disembelih disunnahkan baca takbir lagi 3x.

Yang berhak daging Qurban:

Dalam kitab Al Majmu’ disebutkan, sepertiga boleh dimakan, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga dishodakahkan. Seandainya semua dishodaqahkan baik saja, Allahu A’lam

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Aqiqah berkah

Untuk sobat semua yang ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2016 (Ready Stock)

  1. Jenis : Kambing / Domba Gibas
  2. Berat : Mulai dari 24-29 kg
  3. Umur : -+ 1 tahun
  4. Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
    (Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2016 (Ready Stock)

  1. Sapi Jawa
    – Berat : Mulai dari 300 kg
    – Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
  2. Sapi Bali
    – Berat : Mulai dari 300 kg
    – Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
    (Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2016 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2016 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota semarang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Nilai tambah hewan qurban Aqiqah Berkah

  1. Syarat hewan qurban sesuai syar’i
  2. Umur hewan telah mencukupi (Nishab)
  3. Dipelihara secara baik dan tidak ber-aib
  4. Ternak berasal dari daerah bebas penyakit menular
  5. Ternak berasal dari penampungan yang jelas
  6. Ternak mendapatkan perlakuan yang layak

Itulah tadi informasi mengenai harga kambing terbaru yang bisa kami sampaikan, daftar di atas kami ambil dari beberapa lapak kambing dan tentunya setiap daerah memiliki harga yang berbeda-beda, namun daftar harga di atas bisa dijadikan patokan dasar untuk anda dalam membeli atau menjual kambing.

3

Untuk Informasi Lebih lanjut Hubungi Kami :

TELPON/SMS : 085749622504

Hewan atau Kambing bisa dipilih di kandang kami dan Gratis titip hewan qurban sebelum di anatar.

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Menyambut Kelahiran Sang Buah Hati

By | Berita, Paket Aqiqah, Tentang Qurban | No Comments

Menyambut Kehadiran Sang Buah Hati

5

Di antara keutamaan dan kesempurnaan syariat islam ialah memuat segala sesuatu. Termasuk di antaranya adalah penjelasan hukum berkaitan dengan menanti si buah hati serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Dengan demikian para orang tua dapat melaksanakan kewajiban terhadap buah hatinya secara jelas. Alangkah indahnya masyarakat yang mampu melaksanakan syariat Allah di muka bumi ini dimulai dari keluarganya. Tentu saja untuk merealisasikan hal tersebut kita wajib mengikuti tuntunan yang Allah gariskan melalui Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mensyukuri Nikmat Allah Atas Kehadiran Buah Hati

Kedua orang tua ketika dianugerahi anak oleh Allah, hendaklah bersyukur kepada Allah atas nikmat tak terkira dari-Nya tersebut. Keadaan keluarga yang tidak Allah karuniai dengan anak tentulah akan terasa kurang sempurna dan sepi. Dalam Al-Quran Allah mengisahkan tentang sepasang suami istri yang berdoa kepada Rabbnya tatkala sang istri sedang mengandung.

Allah berfirman:
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu manusia dan menjadikan darinya istrinya, agar dia merasa tentram dengannya. Maka setelah dia mengumpulinya, istrinya mengandung kandungan ringan, terus merasa ringan beberapa waktu. Tatkala dia merasa berat, maka keduanya berdoa kepada Rabbnya, seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur.’ Tatkala Allah memberi anak yang sempurna kepada keduanya, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan kepada keduanya. Maha suci Allah terhadap apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al A’raaf: 189-190)

Ayat tersebut menunjukkan hendaklah orang tua bersyukur kepada Allah sebagaimana keduanya berdoa kepada-Nya tatkala bayi tersebut masih dalam kandungan.

6

Memberi Nama Yang Baik

Orang tua hendaknya memberi nama yang baik untuk buah hatinya. Rasulullah mengajari nama yang paling disukai oleh Allah. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim, Abu Dawud). Sering kali terjadi kesalahan pada sebagian orang tua, setelah anak diberi nama yang baik malah dipanggil dengan nama panggilan yang jelek. Contohnya Abdullah dipanggil dul, atau orang tua memberi nama yang diharamkan bahkan termasuk kesyirikan kepada Allah seperti Abdul Ka’bah, Abdul Rasul dan sejenisnya. Kebiasaan yang seperti ini harus ditinggalkan karena akan memberikan dampak yang tidak baik bagi orang tua maupun anaknya.

Aqiqah (Menyembelih Kambing)

Termasuk yang disyariatkan oleh Allah ketika menyambut buah hati adalah bersyukur kepada Allah dengan Aqiqah. Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ke tujuh dihitung mulai dari hari kelahiran. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya:
“Bayi laki-laki hendaklah diaqiqahi dua ekor kambing sedangkan bayi perempuan satu ekor kambing.” (Shahih, HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadis lain, Samurah bin Jundub menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh kambing aqiqah disembelih, rambut kepalanya dicukur serta diberi nama.” (Hasan Shahih, HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Mencukur Habis (baca: Menggundul) Rambut Bayi dan Bersedekah

Disyariatkan pula pada hari ke tujuh dilakukan ibadah-ibadah yang lain seperti:

  1. Mencukur habis rambut kepala dengan tidak melakukan qaza, yaitu mencukur sebagian dan membiarkan sebagian yang lain. Ibnu Umar menceritakan bahwa Rasulullah melarang qoza (HR. Bukhari). Perlu ada kehati-hatian saat mencukur rambut, karena kulit kepala bayi masih lunak.
  2. Bersedekah untuk orang miskin dengan senilai perak yang seberat rambut bayi. “Cukurlah rambut kepalanya (Al-Hasan) kemudian bersedekahlah dengan perak untuk orang-orang miskin seberat rambut tadi.” (Hasan, HR. Ahmad).

Perintah untuk mencukur habis rambut bayi ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan. Namun yang dirajihkan Syaikh Al Utsaimin, cukur habis ini hanya berlaku untuk bayi laki-laki (Lihat Syarh Mumti’ 7/540)

Demikian sedikit penjelasan tentang kewajiban orang tua ketika menanti buah hatinya. Pengorban yang diberikan oleh kedua orang berupa rasa syukur dengan aqiqah dan bersedekah dengan senilai perak yang seberat rambut sebenarnya tidak sebanding dengan karunia Allah yang diberikan kepada keduanya. Akan tetapi Allah ingin menguji siapakah yang bersyukur kepada-Nya dan siapakah yang tidak. Wallahu a’lam bishshawab.

301

Selanjutnya ini akan kami ulas mengenai Harga Kambing Kota Madiun 2016:

  1. Harga Kambing Gibas
    Kambing gibas juga sering disebut juga kambing gimbal. Secara umum, kambing gibas memiliki bulu berwarna putih. Adapun harga dari kambing gibas ini mulai berkisar dari harga Rp.600.000,- hingga Rp.2.400.000,- di tahun 2016 ini. Adapun harga kambing gibas memiliki harga yang terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan jenis kambing lainnya.
  2. Harga Kambing Kacang (Jawa)
    Kambing jawa juga sering disebut pula kambing kacang. Harga dari jenis kambing ini sangat bervariasi hal ini didasarkan pada jenis umur, kondisi fisik, kesehatan dan jenis kelamin. Adapun harga dari kambing kacang atau kambing jawa ini mulai berkisar dari harga Rp.800.000,- hingga Rp.2.600.000,- di tahun 2016 ini.
  3. Harga Kambing Etawa
    Kambing etawa juga sering disebut pula Jamnapari. Kambing etawa berasal dari India. Kambing ini merupakan jenis kambing yang memiliki 2 fungsi yaitu kambing pedaging dan kambing penghasil susu. Adapun harga dari kambing etawa ini mulai berkisar dari harga Rp.1.700.000,- hingga Rp.5.000.000,- di tahun 2016 ini.
  4. Harga Kambing Peranakan Etawa (PE)
    Jenis kambing peranakan etawa merupakan hasil persilangan antara kambing jawa (lokal) dengan kambing etawa. Adapun untuk harga kambing jenis PE ini mulai berkisar dari harga Rp.1.000.000,- hingga Rp.3.200.000,- di tahun 2016 ini.

Nah mungkin itu yang bisa kami sampaikan. uraian di atas bisa menjadi patokan anda untuk membeli kambing yang berkualitas. Jadi sebelum membeli kita liat dulu kambing yang akan kita beli, sehat ataukah tidak. jika membeli kambing haruslah sangat berhati-hati. Tapi para sahabat tidak perlu kawatir untuk membeli kambing, di Aqiqah Berkah tempatnya kambing yang berkualitas, sehat, tidak cacat dan terbaik. Dan di ambil dari kandang sendiri, hasil peternakan sendiri. Harga kambing akikah di Aqiqah Berkah lebih terjangkau, apabila dibandingakan dengan yang lainnya. Untuk informasi dan pemesanan anda bisa menghubungi nomor di bawah ini.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS            : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Tafsir Sosial Kontekstual Ibadah Qurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Tafsir Sosial Kontekstual Ibadah Kurban

Kurban merupakan ajaran yang hampir menyatu dalam segi waktu pelaksanaannya dengan ibadah haji. Namun berbeda dari segi tempat dan pelakunya. Ibadah kurban biasa dilakukan pada saat hari raya idul adha. Dengan lain bahasa, bila kita mendengar Idul Adha, maka langsung terlintas pada benak kita akan tradisi ber-qurban, yang sangat identik dengan menyembelih hewan qurban.

4
Dalam konteks ini, Komaruddin Hidayat dalam buku “Memahami bahasa Agama” mengurai benang kusut pemahaman bahasa agama yang perlu dimengerti untuk mencari esensi dalam praktik kehidupan beragama sehari-hari (Komaruddin Hidayat, 1996: 8-38).

Fuad Amsari dalam buku “Islam Kaafah: Tantangan Sosial dan Aplikasinya di Indonesia”, mengulas pentingnya upaya menjadi muslim yang sempurna dan total dalam mempraktikkan ajarannya (Fuad Amsari, 1995: 19-89). Dalam hal ini, tentu diantaranya adalah soal bagaimana mengamalkan ajaran kurban sesuai dengan syariat dan tuntunan agama Islam.

Namun tidak berlebihan, bila kita mau terus menerus kembali berusaha menjawab jujur, bahwa peringatan hari-hari besar keagamaan atau aktivitas dan praktik ibadah seperti kurban apakah lebih kita jadikan sebagai kegiatan rutin biasa (ritual) atau memang sebagai ekspresi iman dan taqwa karena Allah.

Perilaku kita tetap berjalan seperti hari-hari biasanya atau berubah setelah menjalankan semua ibadah. Kita tidak peduli terhadap sesama, kita tidak takut kepada peringatan-Nya atau sebaliknya. Lalu tindakan yang merugikan orang banyak tetap saja kita lakukan atau tidak. Pola hidup yang jor-joran juga semakin surut atau diganti dengan pola hidup suka berbagi.

Realitas kehidupan yang menunjukkan banyak saudara-saudara di sekitar kita yang hidup dalam kemiskinan, serba kekurangan dan mengalami tekanan hidup yang semakin berat tentu bagian dari tantangan ibadah yang lebih praktis dan berdampak secara sosial. Dalam konteks inilah, pembahasan dan penafsiran sosial dalam praktik ibadah kurban penting didiskusikan lebih lanjut.

Lebih dari itu, di setiap saat perayaan hari raya keagamaan tiba, kita juga selalu diingatkan mengenai pesan moral yang terkandung di dalamnya. Kita diingatkan untuk selalu mengagungkan nama-Nya, membagi kasih sayang terhadap sesama, dan kita diingatkan untuk selalu menjauhi larangan-Nya. Apakah kita kemudian dengan sadar melaksanakan semua itu?Apakah kita peduli dengan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya?

Dari dulu hingga sekarang, topik kurban selalu menjadi bahasan penting dan menarik. Di awal tulisan ini, pembahasan difokuskan pada apa yang dimaksud dengan kurban. Secara etimologi, qurban yang sering ditulis dalam tulisan ini dengan huruf awal k berarti mendekat/pendekatan. Sedangkan menurut istilah adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya. Salah satu ajaran Islam yang penuh dengan kesakralan (suci) dan juga syarat dengan muatan kemanusiaan adalah ibadah qurban.

Dalam konteks ini, ibadah kurban adalah kesempatan bagi si miskin untuk merasakan kenikmatan dari si kaya. Mengalirnya darah-darah suci dari hewan qurban akan menghanyutkan noktah-noktah hitam di hati manusia, memercikkan aroma harum jalinan kasih antara sesama sembari menyemaikan rona ceria di wajah masing-masing.

Lewat ibadah kurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Terlebih saat ini bangsa Indonesia sedang berduka, di mana saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana alam yang telah merenggut ratusan ribu nyawa, keluarga dan harta. Melalui ibadah kurban ini, kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di negeri tersebut.

Dari sinilah, M. Quraish Shihab menyatakan ibadah kurban merupakan ibadah yang sempurna sepanjang hayat manusia. Pasalnya, ibadah kurban merupakan ajaran tertua sepanjang sejarah kehidupan manusia yang terus berlangsung hingga saat ini (M. Quraish Shihab, 2008: 38- 40).

Tafsir Sosial Kontekstual Ibadah Kurban

Memahami ibadah kurban perlu banyak pendekatan, salah satunya adalah pendekatan sosial kontekstual. Ahmad Izzan dalam buku “Ulumul Qur’an: Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Qur’an” menjelaskan bahwa memahami dan menafsirkan al-Qur’an bisa dilakukan dengan cara mengaitkan antara teks al-Qur’an dengan konteksnya untuk kesempurnaan pemahaman (Ahmad Izzan, 2011: 8-19).

Dengan nada yang berbeda tapi sama maksudnya, Syafrudin dalam buku “Paradigma Tafsir Tekstual & Kontekstual”, juga mengungkap kelebihan pendekatan kontekstual ketimbang hanya dengan memakai paradigma tekstual (Syafrudin, 2009: 19-29). Menurutnya, pendekatan kontekstual bisa menjembatani pemahaman teks yang kadang terputus dan terhenti pada bacaan dan tulisan. Di sini, pendekatan konteks dianggap bisa mengarahkan pembaca pada tujuan dan tindakan nyata.

Pradana Boy dalam buku “Fikih Jalan Tengah: Dialektika Hukum Islam dan Masalah-masalah Masyarakat Modern” menengarai bahwa problem krusial penafsiran al-Qur’an memang selalu berujung pada ranah fikih sebagai kunci praktis dalam ajaran Islam. Di sinilah, ungkap Boy, perlunya jalan tengah yang lebih arif, bijak, adil dan fleksibel sebagai respons keunikan tradisi, budaya dan khazanah Islam yang tersebar di segala penjuru alam dan zaman (Pradana Boy, 2008: 4-14).

Secara epistemologis, Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (ed.) dalam buku “Epistemologi Tafsir Kontemporer”, memberikan dasar-dasar pengetahuan tentang tafsir kontemporer yang sesuai dengan konteks tetapi tetap tidak melupakan teks aslinya (Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (ed.), 2011: 23-48).

Namun dalam konteks ini kita diingatkan oleh Islah Gusmian dalam buku “Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi”, terkait tafsir menafsir kita perlu memahami dan menghayati apakah penafsiran yang dimaksud mengarah pada kepentingan tertentu dan ideologi-ideologi ataukah murni pada penafsiran yang membawa ke arah keadilan dan kesejahteraan sosial (Islah Gusmian, 2003: 8-29).

Hal itu semua merupakan cakrawala dan wawasan baru yang menarik untuk dijadikan referensi pemahaman dalam studi tafsir sosial kontekstual dalam suatu masalah dan bahasan keislaman. Nashruddin Baidan dalam buku “Wawasan Baru Ilmu Tafsir”, mengungkap pentingnya penafsir dan pembaca untuk memupuk wawasan baru dalam semua bidang keilmuan, tidak terkecuali dalam ilmu tafsir itu sendiri (Nashruddin Baidan, 2011: 5-18).

Dari sini, memahami ibadah kurban bukan semata-mata ibadah individual. Ibadah kurban sebagai ibadah yang secara khusus dilaksanakan sekali dalam setahun dalam hitungan bulan Qamariyah, tepatnya pada hari besar Islam yaitu Idul Adha, merupakan ibadah sosial yang luarbiasa manfaatnya. Ibadah kurban termasuk hari raya besar dalam agama Islam. Penyebutan hari besar Islam untuk idul adha ini disebabkan beberapa hal. Pertama, pada hari itu kaum muslim melakukan shalat sunat Idul Adha. Kedua, adanya perhelatan agung yaitu ibadah haji di Makkah. Ketiga, dalam momentum ini pula, ada peristiwa penyembelihan hewan kurban.

Pada masa Rasulullah, konon katanya, peringatan hari raya Idul Adha sangat semarak melebihi semaraknya hari raya Idul Fitri. Namun, hal itu berbeda dengan sekarang, justru sebaliknya Hari Raya Idul Fitri jauh lebih semarak dibanding Idul Adha. Memang banyak faktor yang melatari kenapa saat ini berbeda dengan kehidupan di masa rasulullah. Terlepas dari perdebatan atas persoalan ini, fenomena kurban menjadi penting untuk dicari hikmahnya (M. Quraish Shihab, 1997: 46).

Dalam momen kurban, hampir setiap muslim yang berkemampuan melaksanakan penyembelihan hewan kurban, entah secara perorangan ataupun berkelompok. Di sekolah- sekolah pun diadakan penyembelihan hewan qurban sebagai suatu sarana untuk mendidik siswa. Secara etimologis, qurban diartikan mendekat/ pendekatan. Dalam pengertian terminologisnya qurban adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan dengan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya (QS Al Maidah, 5: 27).

Bila dilacak historisitasnya, ibadah qurban sudah ada sejak Nabi Adam. Menurut M. Quraish Shihab, dalam tafsir al-Misbah, qurban pertama kali yang terjadi di muka bumi ini adalah qurban yang diselenggarakan oleh dua putera Nabi Adam (Habil dan Qabil) kepada Allah (M. Quraish Shihab, 2002: 30). Secara formalistik, ungkap Quraish Shihab, sejarah ibadah qurban bermula dari Nabi Ibrhaim As. Yakni, tatkala ia bermimpi disuruh Tuhan-nya untuk menyembelih Nabi Ismail As, seorang putra yang sangat dicintainya (Q.S Ash-Shaffat, 37: 102- 110). Singkat alkisah, dari persitiwa kenabian Ibrahim inilah ibadah qurban muncul dan menjadi tradisi umat Islam hingga saat ini. Apa makna sosial ibadah qurban?

Sebetulnya, banyak makna yang dapat dipetik dari ibadah qurban ini, baik secara ruhiyah maupun secara sosial-kemasyarakatan. Secara ruhiyah, ibadah ini bisa menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran ritual dari para pelakunya. Secara sosial-kemasyarakatan, ibadah qurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan qurban berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiannya pada sesama, utamanya kaum miskin dan mustadzafiin.

Secara esensial, tentu saja, tujuan ibadah qurban bagi umat Islam adalah semata-mata mencari ridla Allah SWT. Ibadah qurban ini dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal ketaqwaan kepada Allah. Allah akan menilai ibadah ini sebagai wujud ketaqwaan hamba kepada-Nya. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS Al Hajj, 22: 37). Hal ini pulalah yang menjadi sebab tertolaknya qurban salah seorang dari kedua putera Nabi Adam A.S dan diterima-Nya qurban yang lain. Bukanlah suatu nilai yang tinggi dan banyak di mata Allah, qurban yang banyak tetapi tanpa keikhlasan dan ketakwaan orang yang berqurban hal itu sama saja tak ternilai di mata Allah SWT.

Kebanyakan kita menilai ibadah qurban, mungkin cenderung melihat sesuatu dari lahirnya yang tampak, padahal Tuhan melihat sebaliknya yaitu keikhlasan.

Mungkin tatkala kita melihat seseorang berqurban hanya dengan seekor kambing, kita menganggapnya remeh. Kita lebih memandang besar dan hormat kepada orang yang berqurban dengan seekor sapi yang gemuk. Padahal belum tentu penilaian kita benar. Sebenar-benar penilai hanyalah Allah. Mungkin saja di mata Allah lebih tinggi nilai seekor kambing tadi karena taqwa di hati orang yang berqurban. Jadi tak ada yang menghalangi seseorang untuk berqurban sedikit jika disertai hati yang suci, taqwa dan ikhlas. Dan tidak ada kepastian diterimanya qurban yang banyak dari seseorang tanpa ketaqwaan dan keikhlasan. Namun di sini bukan berarti tidak diperbolehkan berqurban dengan jumlah banyak, saya kira, berqurban banyak pun boleh asal disertai dengan taqwa dan ikhlas. Taqwa dan ikhlas menjadi inti amal, mengapa? Sebab, banyak sebagian dari kita tatkala beramal hanya untuk mencari muka, dan pujian semata.

Selain makna sosial di atas, Ibadah qurban juga bisa menjadi sarana untuk membentuk kepribadian yang penuh toleransi, media menebar kasih sayang, serasi dan jauh dari keegoisan. Hubungan yang baik akan terjalin antara yang kaya dan miskin. Setidaknya selama beberapa hari tersebut orang-orang yang miskin akan merasakan kesenangan. Kalau saja hal itu bisa berlangsung terus–setidaknya untuk kebutuhan pokok-tentu tingkat kemiskinan di masyarakat kita akan menurun. Di dalam masyarakat akan tercipta ketenangan dan ketentraman. Sebab, tidak ada lagi perbedaan status/ keadaan hidup yang mencolok. Pengorbanan yang tumbuh dalam pelaksanaan ibadah qurban itu akan mengikis sikap egois dan kikir. Berkurangnya–atau bahkan hilangnya-sikap egois dan kikir itu akan berpengaruh baik bagi kehidupan dan penghidupan orang itu sendiri dan masyarakat luas.

Selanjutnya, berqurban merupakan ibadah wajib menurut sebagian ulama dan sunnat muakkad menurut ulama yang lain, dengan berqurban pula kita mendidik diri kita dan keluargauntuk meresapi makna pengorbanan sebagaimana Nabiyullah Ibrahim As memberikan contoh pengorbanan secara hakiki, dan penyembelihan hewan qurban adalah salah satu ritual dari makna pengorbanan itu untuk menggapai ketaqwaan kepada Allah SWT. Sehingga banyaknya hewan qurban yang disembelih menunjukkan respon masyarakat terhadap seruan ibadah qurban makin meningkat.

Daging Qurban, bukan semata pesta sate dan gulai? Tetapi, Ibadah qurban yang kita tunaikan sudah saatnya berfungsi bukan saja menggugurkan kewajiban tapi lebih dari itu mampu memberikan manfaat dan menjadi solusi sebagai jawaban atas kondisi riil yang terjadi di masyarakat. Banyak dari kebiasaan kita dalam berqurban hanyalah identik dengan pesta sate dan gulai dalam 2 sampai 3 hari setelah Idul Adha, sementara dalam waktu 12 bulan ke depan kembali masyarakat (terutama di daerah-daerah miskin) memakan daging hanyalah menjadi khayalan, belum lagi kondisi alam Indonesia yang rentan terhadap bencana alam, yang selalu saja menjadi pemandangan umum ketika bencana alam tiba.

Padahal, dibalik kesadaran kaum muslimin untuk berqurban serta melimpahnya hewan yang diqurbankan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik, tersimpan potensi yang sangat besar bahwa daging qurban digunakan sebagai sarana untuk membina masyarakat miskin, serta daerah-daerah bencana alam. Sebagian yang lain dicadangkan untuk mengantisipasi daerah-daerah yang rawan bencana alam.

Pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh umat terdahulu memang sangat berbeda dengan syari’at qurban dalam Islam. Dalam Islam, risalah qurban merupakan ibadah yang syarat dengan makna. Kisah pengurbanan Nabi Ibrahim As. yang hendak mengurbankan anaknya, Ismail As yang kemudian diganti oleh Allah dengan domba, mengandung pesan bahwa pelaksanaan qurban selayaknya tidak membawa derita bagi manusia. Patut direnungkan bahwa, pelaksanaan ibadah qurban dalam Islam tidak hanya mengandung dimensi ibadah kepada Allah, tapi juga dimensikemanusiaan.

Dimensi kemanusiaan ini nampak pada distribusi daging hewan qurban kepada yang berhak (Q.S.al-Hajj, 22: 36). Karenanya, para ulama ada yang membagi daging qurban menjadi tiga, yaitu: dimakan, diberikan kepada fakir miskin, dan disimpan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah.” Walaupun demikian, dimensi-dimensi tersebut tidak akan bermakna apa-apa bila tanpa dilandasi dengan refleksi taqwa kepada Allah SWT. Dengan kata lain, aplikasi solidaritas sosial yang diwujudkan melalui qurban harus dilandasi niat yang ikhlas. Bukan niat untuk mencari popularitas, ingin dikenal orang dermawan atau ingin dipikir orang hebat.

Lebih dari itu, pembagian daging qurban kepada mereka yang barhak merupakan upaya pendekatan psikologis atas kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Ibadah qurban adalah wahana hubungan kemanusiaan yang dilandasi oleh semangat sense of belonging dan sense of responsibility yang bisa menyuburkan kasih sayang antar sesama dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah., s.w.t, (taqarrub ilallah). Dengan adanya ibadah qurban, dimaksudkan pula untuk menjembatani hubungan antara si kaya dan si miskin agar tetap harmonis. Si kaya tidak menyombongkan dirinya dan si miskin pun merasa bahwa ia tidak sendiri memikul hidup yang berat ini. Ternyata, masih banyak saudaranya (para aghniya’) yang senantiasa ikhlas memberikan bantuan kepada mereka yang lemah (para dhu’afa).

6
Wujud kepedulian sesama lewat ibadah qurban ini merupakan satu rangkaian pengabdian kepada Allah yang memiliki dimensi ibadah murni dan juga dimensi kemanusiaan. Dengan kata lain, hablun minannas merupakan salah satu faktor terjalinnya hablun minallah secara baik.

Sesuai dengan asal katanya “Qaruba” yang berarti dekat. Dengan demikian ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah sekaligus ungkapan syukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan kepada kita. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah., s.w.t, dalam Q.S.al-Hajj, 22: 36.

Lewat ibadah qurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Melalui ibadah qurban ini kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita tersebut.

Demikian itu yang mungkin bisa kami sampaikan…

Untuk sobat semua yang tinggal di Seluruh Indonesia dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2016 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 24-29 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2016 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2016 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2016 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota semarang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Nilai tambah hewan qurban Aqiqah Berkah

  1. Syarat hewan qurban sesuai syar’i
  2. Umur hewan telah mencukupi (Nishab)
  3. Dipelihara secara baik dan tidak ber-aib
  4. Ternak berasal dari daerah bebas penyakit menular
  5. Ternak berasal dari penampungan yang jelas
  6. Ternak mendapatkan perlakuan yang layak

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai harga kambing 2016. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

5
Informasi dan Pemesanan :
TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Garis Panduan Pelaksanaan Ibadah Qurban Menurut Perspektif Islam

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

GARIS PANDUAN PELAKSANAAN IBADAH QURBAN MENURUT PERSPEKTIF ISLAM

32

Tafsiran

Qurban

Nama bagi sesuatu yang diqurbankan atau nama bagi ternakan yang disembelih pada Hari Raya Adha. Menurut fiqh ia bermaksud menyembelih ternakan tertentu dengan taqarrub kepada Allah SWT pada masa-masa tertentu. Ia juga diertikan sebagai ternakan an’am yang disembelih pada Hari Nahar dengan tujuan bertaqarrub kepada Allah SWT.

Individu yang hendak melaksanakan qurban

Individu muslim yang berniat hendak melaksanakan qurban (tidak termasuk organisasi, syarikat atau persatuan)

Pihak yang hendak menguruskan qurban

Orang perseorangan atau syarikat atau persatuan yang bersetuju untuk mengurus bagi pihak individu yang hendak melaksanakan ibadah qurban.

Nazar

Nazar adalah janji kepada Allah SWT. Menurut al-Mawardi, nazar ialah iltizam (mewajibkan diri) untuk melakukan qurbah (sesuatu yang boleh menghampirkan diri dengan Allah) yang pada asalnya tidak wajib di sisi syarak.

Qurban Nazar

Qurban yang diwajibkan ke atas individu yang berazam untuk melakukan qurban nazar. Contohnya apabila seseorang menyebut “Wajib ke atas diriku berqurban seekor kambing kerana Allah SWT”.

Qurban Sunat (tatawu‘)

Qurban yang dilakukan bukan niat kerana bernazar. Ia dikira sunat kerana tidak ada sebab-sebab dan syarat menjadikannya wajib.

Sunat Muakkadah

Sunat yang amat dituntut untuk melakukan ibadah qurban dan makruh meninggalkan bagi yang berkemampuan.

Hari Nahar

Hari Raya Adha iaitu pada 10 Zulhijjah.

Hari Tasyrik

11, 12 dan 13 Zulhijjah.

Hikmah Ibadah Qurban

Ia disyariatkan sebagai tanda bersyukur terhadap Allah SWT di atas segala nikmat-Nya yang berbagai dan juga di atas kekalnya manusia dari tahun ke tahun. Ia juga bertujuan menjadi kifarat bagi pelakunya sama ada disebabkan kesilapan-kesilapan yang telah dilakukan ataupun dengan sebab kecuaiannya dalam menunaikan kewajipan di samping memberikan kelegaan kepada keluarga orang yang berqurban dan juga mereka yang lain.

Hukum Berqurban

Menurut pandangan jumhur ulama hukum melaksanakan ibadah qurban adalah sunat (sunat muakkadah) bagi individu yang berkemampuan. Pandangan ulama mazhab Shafi‘i adalah sunat ’ain bagi setiap orang sekali dalam seumur hidup. Menurut pandangan yang masyhur di kalangan ulama mazhab Maliki adalah makruh meninggalkannya bagi mereka yang mampu. Manakala bagi mereka yang berniat untuk melakukan qurban nazar maka hukum melaksanakannya adalah wajib.

Jenis Qurban

Qurban terbahagi kepada dua jenis iaitu qurban nazar (wajib) dan qurban sunat.

Hukum Daging Qurban

  1. Ditegah memakan daging bagi orang yang melakukan qurban nazar (wajib) dan juga ahli keluarga di bawah tanggungannya walaupun sedikit sebagai mana juga ditegah memberikan daging qurban tersebut kepada orang bukan Islam.
  2. Kulit, lemak, daging, susu, kaki, kepala dan bulu-bulunya haram dijual oleh orang melakukan ibadah qurban sama ada wajib atau sunat.
  3. Bahagian atau anggota sembelihan qurban tidak harus dikhususkan kepada tukang sembelih sebagai upah melakukan sembelihan kecuali bahagian atau anggota tersebut diberikan oleh individu yang melakukan qurban.
  4. Sunat bagi individu yang melakukan qurban sunat (tatawu’) memakan daging qurbannya.

Pembahagian Daging Qurban

Pembahagian daging qurban terbahagi kepada dua jenis iaitu sembelihan qurban wajib (nazar) dan sembelihan sunat seperti yang berikut:

  1. Pembahagian daging qurban wajib atau nazar:
    Wajib semua dagingnya termasuk kulit dan tanduk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin dan haram bagi pihak orang yang berqurban memakan dagingnya atau memanfaatkan sembelihan itu untuk kepentingan dirinya.
  2. Pembahagian daging qurban sunat ada beberapa cara iaitu:
    (a) Menurut pandangan ulama mazhab Hanafi dan Hanbali daging qurban dibahagikan kepada tiga bahagian seperti yang berikut:
    1/3 – untuk dimakan oleh pihak yang berqurban dan ahli keluarganya.
    1/3 – untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin.
    1/3 – untuk dihadiahkan kepada sahabat handai termasuk orang kaya atau jiran-jiran atau saudaranya.
    (b) Menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i qaul jadid:
    1/3 – untuk dimakan oleh pihak yang berqurban dan ahli keluarganya.
    1/3 – untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin.
    1/3 – untuk dihadiahkan kepada sahabat handai termasuk orang kaya atau jiran-jiran.
    (c) Menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i qaul qadim:
    ½ – untuk dimakan oleh pihak yang berqurban dan ahli keluarganya.
    ½ – untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin.
    (d) Menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i qaul asah wajib disedekahkan daging walaupun dengan kadar yang sedikit seperti setengah kilo atau setengah kati dengan syarat hendaklah daripada daging yang mentah, bukannya yang telah dimasak. Tujuannya supaya orang fakir atau miskin itu boleh memasak daging itu mengikut seleranya atau membolehkan dia menjualnya kepada orang Islam yang lain bagi mendapatkan harga dalam bentuk mata wang ataupun pertukaran dengan barangan yang lain.
    (e) Yang paling afdhal menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i ialah bersedekah semuanya kecuali pada beberapa ketul atau sesuap yang agak berpatutan dimakan oleh orang yang berqurban untuk mengambil berkat seperti sebahagian hati kerana ianya sunat dimakan. Amalan ini pernah dilakukan oleh Nabi SAW ketika Baginda melakukan qurban.

Diri Individu Yang Dituntut Melakukan Ibadah Qurban

Syarat-syarat bagi individu yang dituntut melakukan ibadah qurban adalah seperti yang berikut:

  1. Seorang Islam yang masih hidup. Tidak boleh melakukan untuk si mati jika dia tidak meninggalkan wasiat.
  2. Seorang yang merdeka. Tidak dituntut ke atas hamba.
  3. Mencapai umur akil baligh dan berakal.
  4. Bermukim iaitu menetap di sesuatu kawasan.
  5. Mampu melaksanakan – orang yang mampu ialah mereka yang mempunyai harga/nilai (duit) untuk berbelanja mendapatkan ternakan qurban, yang lebih daripada keperluannya dan keperluan mereka yang berada di bawah tanggungannya untuk Hari Raya dan Hari-hari Tasyrik kerana tempoh itulah masa bagi melakukan qurban.

Syarat Kepada Orang Yang Melakukan Qurban

Untuk memenuhi syarat-syarat sah orang yang berqurban mempunyai tiga perkara:

  1. Amalan Qurban hendaklah disertakan dengan niat untuk mentaqarrubkan diri kepada Allah SWT.
  2. Hendaklah niat qurban diiringi semasa menyembelih atau semasa membeli ternakan qurban.
  3. Hendaklah memilih ternakan qurban yang boleh dikongsi bahagian seperti unta, lembu dan kerbau untuk tujuh orang bagi tujuan melakukan ibadah qurban sahaja.

Syarat Sah Haiwan Ternakan Qurban

Untuk memenuhi syarat-syarat sah sesuatu ibadah qurban, perkara-perkara tersebut adalah disyaratkan ke atas haiwan ternakan berkenaan:

  1. Ibadah qurban tidak sah kecuali dengan menggunakan haiwan an’am(ternakan) iaitu unta, lembu, kambing, biri-biri dan semua yang termasuk dalam jenisnya, sama ada jantan atau betina, yang menjadi baka ataupun dikasi. Dengan itu tidak sah berqurban dengan menggunakan ternakan yang lain selain daripada hewan an’am(ternakan) seperti kerbau liar, kijang, rusa, pelanduk dan seumpamanya.
  2. Hendaklah penyembelihan qurban itu dalam masa yang tertentu iaitu pada Hari Nahar dan meliputi dua malam iaitu malam ke-11 dan malam ke-12 Zulhijjah (tetapi makruh). Qurban tidak sah dilakukan pada malam Hari Raya atau malam ke-10 Zulhijjah. Begitu juga tidak sah dilakukan pada malam ke-14 Zulhijjah.
  3. Hendaklah ternakan yang diqurbankan itu tidak mempunyai kecacatan seperti tempang, buta, telinga koyak, patah sebelah tanduk atau cedera pada tubuh badan atau kurus sehingga tidak mempunyai lemak, maka tidak terlaksana untuk dijadikan qurban.
  4. Setiap ternakan yang dijadikan sembelihan qurban hendaklah sihat dan bebas daripada sebarang penyakit.
  5. Hendaklah haiwan yang diqurbankan telah mencapai satu tahap minimum umur yang diharuskan untuk berqurban iaitu:
    (a) unta (ibil) – berumur 5 tahun masuk tahun ke-6.
    (b) lembu/kerbau (baqarah) – berumur 2 tahun masuk tahun ke-3.
    (c) kambing (ma‘zi) – berumur 2 tahun masuk tahun ke-3.
    (d) biri-biri (dha’ni) – berumur 1 tahun masuk tahun ke-2 ataupun telah bersalin gigi di hadapan.

Waktu Menyembelih Qurban

Penyembelihan qurban hendaklah dilakukan apabila berlalu tempoh sekadar selesainya dua rakaat solat sunat Hari Raya Adha serta bacaan khutbah. Waktu penyembelihan qurban berterusan siang dan malam (makruh pada waktu malam) sehingga Hari Tasyrik yang terakhir (13 Zulhijjah) sebelum terbenamnya matahari.

Syarat Penyembelih Haiwan Qurban

Afdal bagi orang yang melakukan qurban menyembelih qurbannya dan sama-sama turut hadir menyaksikannya. Walau bagaimanapun dia boleh mewakilkan kepada orang lain atau syarikat atau persatuan yang bersetuju untuk menguruskan ibadah qurban dengan syarat-syarat seperti yang berikut:

  1. Penyembelih qurban hendaklah seorang muslim. Jika qurban itu disembelih oleh orang kafir yang diwakilkan oleh tuan qurban, maka qurban itu tidak sah, dan makruh sekiranya dia seorang ahli kitab.
  2. Seorang yang telah mumayyiz dan berakal kecuali gila dan mabuk. Makruh mewakilkan ke atas kanak-kanak dan perempuan haid.
  3. Lelaki ataupun perempuan (namun yang afdal melakukan qurban adalah orang lelaki dan sunat orang perempuan mewakilkan kepada orang lelaki).
  4. Mampu melakukannya dan dilakukan tanpa ada paksaan.

Syarat Alat Menyembelih

Alat menyembelih hendaklah tajam yang boleh menghiris dan memutuskan dua urat leher (pembuluh darah – wadajain), sehingga dapat mengalirkan darah, urat mari’ (saluran makanan) dan halqum (saluran pernafasan) dan bukan menggunakan alat yang tumpul seperti tulang dan gigi haiwan.

Kawasan Penyembelihan Ternakan Qurban

Antara perkara-perkara yang perlu diberi perhatian semasa aktiviti penyembelihan ialah seperti yang berikut:

  1. Hendaklah ditentukan di tempat yang khusus yang merangkumi aspek keselamatan dan kebersihan tempat tersebut;
  2. Tempat singgah/simpanan ternakan qurban hendaklah lapang, teduh dan selamat;
  3. Hendaklah menyediakan air minuman yang bersih dan makanan yang mencukupi bagi haiwan berkenaan;
  4. Tapak penyembelihan ternakan qurban hendaklah sesuai, bersih dan selamat;
  5. Darah penyembelihan tidak boleh dialirkan ke saliran awam;
  6. Tempat melapah jika dilakukan di atas lantai hendaklah sesuai dan bersih
  7. Daging yang telah dilapah hendaklah digantung pada tiang yang tidak karat dan ketinggian tiang yang bersesuaian agar daging yang dipotong tidak mencecah lantai;
  8. Tempat memotong daging hendaklah menggunakan meja yang sesuai, bersih dan selamat;
  9. Penyembelihan yang dilakukan di balai raya, padang awam, taman perumahan, luar perkarangan masjid, surau, serta rumah persendirian hendaklah menitikberatkan aspek kebersihan bagi memastikan daging qurban bersih dan juga selamat untuk dimakan.
  10. Afdal dilakukan di kawasan rumah kerana dapat disaksikan oleh ahli keluarga.

Perkara Sunat Ketika Berqurban

Antara perkara sunat ketika berqurban adalah seperti yang berikut:

  1. Menambat ternakan qurban menjelang Hari Nahar – makanan hewan sembelihan sebelum qurban – pastikan tidak makan makanan yang syubhah (makan rumput di kawasan yang bukan milik tuan hewan qurban).
  2. Meletakkan tanda serta menutup tubuh ternakan qurban supaya dapat merasakan kepentingan qurban.
  3. Melakukan penyembelihan qurban dengan sendiri.
  4. Membaca tasmiyah(bismillah).
  5. Penyembelih dan ternakan sunat mengadap ke arah qiblat.
  6. Sunat memilih ternakan yang paling baik.
  7. Sunat menunggu ternakan yang disembelih itu sehingga sejuk dan semua anggotanya tidak bergerak lagi atau benar-benar mati dan barulah dilapah.
  8. Orang yang melakukan qurban disunatkan tidak bercukur dan tidak memotong kukunya setelah tiba bulan Zulhijjah sehingga dia telah selesai berqurban.

Perkara Makruh Ketika Berqurban

Antara perkara yang makruh ketika berqurban adalah seperti yang berikut:

  1. Makruh melakukan qurban ternakan yang carik telinganya atau terpotong sedikit dibelakang telinganya.
  2. Makruh memotong bulu ternakan yang hendak diqurbankan bagi tujuan kegunaan sendiri jika boleh memudharatkannya.
  3. Makruh menjadikan ternakan qurban yang pecah dan patah tanduknya dan tiada bertanduk.
  4. Makruh memerah susu ternakan yang hendak dijadikan qurban dan meminumnya kecuali disedekahkan susu tersebut.
  5. Makruh bagi orang yang hendak berqurban memotong kukunya dan bercukur.
  6. Makruh melakukan sembelihan qurban pada waktu malam.

Kebajikan Haiwan Sembelihan Qurban

Antara perkara-perkara yang boleh ditambah selain melakukan amalan sunat ketika berqurban ialah:

  1. Ternakan yang menunggu untuk disembelih tidak boleh melihat ternakan lain yang sedang disembelih;
  2. Tidak digalakkan mengasah pisau di hadapan ternakan yang hendak disembelih.
  3. Melakukan sembelihan dengan cepat dan teratur.
  4. Membawa sembelihan ke tempat yang khusus dengan cara yang baik bukan cara yang kasar dan tidak diseret kakinya.

Cara Menyembelih Haiwan Qurban

Cara menyembelih ternakan qurban adalah seperti yang berikut:

  1. Niat atau qasad untuk sembelih qurban;
  2. Membaringkan dan menghadapkan rusuk kiri haiwan ke arah kiblat dan kepalanya diangkatkan sedikit;
  3. Direbahkan dengan menggunakan tali yang sesuai, tempat yang sesuai dan tidak menyebabkan kecederaan kepada ternakan dengan memastikan kebajikan haiwan terjamin;
  4. Membaca tasmiyyyah ( bismillah / bismillah Allahu akbar );
  5. Berselawat ke atas Nabi SAW;
  6. Bertakbir sebelum atau selepas membaca bismillah dengan menyebut ال إله إال اهلل واهلل أكبر اهلل أكبر وهلل الحمد اهلل أكبر اهلل أكرب اهلل أكرب اهلل أكرب 64
  7. Penyembelih hendaklah memegang kulit tengkuknya di bahagian bawah dagunya dan menariknya sehingga nampak jelas kulitnya;
  8. Meletakkan alat menyembelih di leher dengan memotong biji halqum, urat mari’ dan dua urat di leher kiri kanan hewan (wadajain);
  9. Penyembelihan hendaklah dilakukan dengan kadar segera dan tidak diselangi dengan amalan-amalan lain;
  10. Berdoa kepada Allah SWT agar ibadah qurban diterima.

Pengurusan Sisa Ternakan Qurban

331

Perkara-perkara yang mesti dititikberatkan selepas penyembelihan ternakan qurban ialah mengurus sisa qurban yang tidak diperlukan seperti yang berikut:

  1. Bahan pepejal seperti lemak, tanduk, tulang hendaklah dibungkus dan dilupuskan dengan cara yang bersesuaian; dan
  2. Bahan cecair seperti najis, sisa darah penyembelihan hendaklah ditanam.

Agihan Daging Qurban

Sebelum melaksanakan pengagihan daging qurban, beberapa urusan yang berkaitan dengannya hendaklah diputuskan melalui jawatan kuasa yang dibentuk untuk memudahkan urusan pengagihan daging qurban kepada pihak-pihak yang telah dikenal pasti seperti yang berikut:

  1. Memastikan daging qurban cukup untuk diagihkan kepada pihak- pihak yang telah disenaraikan;
  2. Menyediakan senarai penerima daging qurban mengikut keutamaan;
  3. Mengutamakan golongan fakir dan miskin yang telah dikenal pasti status mereka;
  4. Mengagihkan daging qurban kepada mereka yang tinggal di kawasan terpencil;
  5. Menyediakan kontena sejuk (jika perlu) untuk menempatkan daging qurban sebelum ia diagih ke kawasan pendalaman; dan
  6. Mengagihkan daging qurban kepada golongan yang berada sekiranya terdapat lebihan daging qurban tersebut.

Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

341

Informasi dan Pemesanan :
WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-