Category Archives: Tanya Jawab

aqiqah berkah

Adakah Upaya AqiqahBerkah untuk meyakinkan Ayahanda dan Bunda agar peduli beraqiqah?

By | Tanya Jawab | 2 Comments

Adakah Upaya Aqiqah Berkah untuk meyakinkan Ayahanda & Bunda agar peduli beraqiqah?

Jawaban:

aqiqah berkah

Tanya Jawab

Ada, Berikut Upaya Aqiqah Berkah untuk meyakinkan Ayahanda & Bunda agar peduli beraqiqah dari Kami:

Kepada Yth.
Ayahanda/Bunda/Saudara/Saudari
Dimanapun Anda berada
Rahimakumullahu

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Syukur alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah Rabbul ‘Izzati. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW.

Ayahanda/Bunda/Saudara/Saudari yang di Muliakan Allah SWT …..
Sebelumnya kami ucapkan selamat atas kelahiran putera/puteri anda. Semoga menjadi putera/puteri yang sholih/sholihah berguna bagi masyarakat.

Sebagaimana kita fahami bersama bahwasanya aqiqah merupakan sunnah Rasulullah Muhammad SAW, sebagai bagian dari rasa syukur kita kepada Allah SWT atas lahirnya putera/puteri kita.

Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami supaya menyembelih aqiqah untuk anak laki-laki kami dua ekor dan untuk wanita seekor” (Terjemah HR.At-Tirmidzi)

Disamping itu, aqiqah ternyata merupakan bentuk sekaligus bukti kasih sayang kita kepada putera /puteri kita. Hal ini bisa kita fahami dari Sabda Rasulullah Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa anak-anak yang belum diaqiqahi ternyata tertahan (tergadai) pada aqiqahnya.
“Anak-anak tergadai (tertahan) pada aqiqahnya, disembelih pada hari ketujuh, dan pada hari itu pula dicukurlah ia dan diberi nama” (HR.At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Hasan).

Untuk itu, bila kita memiliki dana yang cukup, sebagai orang tua selayaknya kita menunaikan aqiqah terhadap putera/puteri kita sebagai wujud kasih sayang kita kepada kepada mereka.

Berbeda dengan qurban yang hanya dilakukan pada bulan dzulhijjah (10-13 Dzulhijjah), aqiqah justeru bisa dilakukan kapan saja dimanapun kita berada dan tidak mengenal waktu.

Agar aqiqah lebih bermakna dan tidak menumpuk dikota-kota besar semisal Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Balikpapan, Lampung, Medan, Batam, Kendari, Palu, Bali, Malang dll, bila aqiqah tersebut di tebar ke desa-desa baik lewat majelis taklim, panti asuhan, masjid, musholla, pondok pesantren,dll, kami dari qurban-aqiqah.com lewat program Tebar Hewan Aqiqah Badan Wakaf Zakat Infaq dan Shodaqoh Peduli Dhuafa, insya Allah siap membantu Ayahanda/Bunda/Saudara/Saudari untuk menyalurkan masakan hewan aqiqah tersebut.

Adapun keunggulan program Tebar Hewan Aqiqah dari program-program sejenis sehingga anda layak mempercayakan kepada kami dalam pengelolahan aqiqah karena :
– Berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam mengelolah aqiqah
– Lebih dari 8.000 hewan aqiqah dan qurban telah kami tebar
– Keuntungan dipergunakan untuk mensuport penggajian bagi karyawan atau relawan Peduli Dhuafa sehingga pendapatan ZISWAF dari Peduli Dhuafa bisa disalurkan 100% kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Untuk itu kami mengundang dengan kerendahan hati, penuh hormat kepada Ayahanda/Bunda/Saudara/Saudari agar berkenan menyalurkan hewan aqiqah (termasuk qurban) lewat program Tebar Hewan Aqiqah & Tebar Qurban Berkah Peduli Dhuafa.

Demikian, atas perhatian dan kepercayaannya kami sampaikan jazzakumullahu ahsanal jazza.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Aqiqah Berkah

Qurban untuk almarhum, bolehkah?

By | Tanya Jawab | 2 Comments
aqiqah berkah

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Dari, goen_sutowo@yahoo.com

Bolehkah kita ber Qurban untuk ayahanda yg sudah almarhum…?

Jawaban:

Ada khilafiyah mengenai hukum berqurban bagi orang yang sudah meninggal (al-tadh-hiyyah ‘an al-mayyit). Ada tiga pendapat. Pertama, hukumnya boleh baik ada wasiat atau tidak dari orang yang sudah meninggal. Ini pendapat ulama mazhab Hanafi, Hambali, dan sebagian ahli hadis seperti Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi. Kedua, hukumnya makruh. Ini pendapat ulama mazhab Maliki. Ketiga, hukumnya tidak boleh, kecuali ada wasiat sebelumnya dari orang yang meninggal. Ini pendapat ulama mazhab Syafi’i. (Hisamuddin Afanah, Al-Mufashshal fi Ahkam Al-Udhhiyah, hlm. 158; M. Adib Kalkul, Ahkam Al-Udhhiyah wa Al-Aqiqah wa At-Tadzkiyah, hlm. 24; Nada Abu Ahmad, Al-Jami’ li Ahkam Al-Udhhiyah, hlm. 48).

Pendapat pertama berdalil antara lain dengan hadis Aisyah RA bahwa ketika Nabi SAW akan menyembelih qurban, beliau berdoa,”Bismillah, Ya Allah terimalah [qurban] dari Muhammad, dari keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” (HR Muslim no 3637, Abu Dawud no 2410, Ahmad no 23351). Hadis ini menunjukkan Nabi SAW berqurban untuk orang yang sudah meninggal. Sebab beliau telah berqurban untuk keluarga Muhammad dan umat Muhammad, padahal di antara mereka ada yang sudah meninggal. (Hisamuddin Afanah, ibid., hlm. 161).

Pendapat kedua beralasan tidak ada dalil dalam masalah ini, sehingga hukumnya makruh. (Hisamuddin Afanah, ibid., hlm. 164). Sedang pendapat ketiga berdalil antara lain dengan firman Allah SWT (artinya),”Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS An-Najm [53] : 39). Juga dengan hadis Hanasy RA bahwa ia melihat Ali bin Abi Thalib RA menyembelih dua ekor kambing, lalu Hanasy bertanya,”Apa ini?” Ali menjawab,”Sesungguhnya Rasulullah SAW telah berwasiat kepadaku untuk berqurban untuknya, maka akupun menyembelih qurban untuk beliau.” (HR Abu Dawud no 2408, Tirmidzi no 1415). Hadis ini menunjukkan bolehnya berqurban untuk orang yang sudah meninggal jika dia berwasiat. Jika tidak ada wasiat hukumnya tidak boleh. (Imam Nawawi, Al-Majmu’ 8/406; Nihayatul Muhtaj 27/231, Mughni Al-Muhtaj 18/148, Tuhfatul Muhtaj 41/170).

Yang rajih (kuat) menurut kami adalah pendapat pertama. Sebab lafazh “umat Muhammad” dalam hadis Aisyah RA adalah lafazh umum, sehingga mencakup semua umat Muhammad, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, baik yang meninggal berwasiat atau tidak. Imam Shan’ani berkata,”Hadis ini menunjukkan sahnya seorang mukallaf melakukan perbuatan taat untuk orang lain, meskipun tidak ada perintah atau wasiat dari orang lain itu.” (Imam Shan’ani, Subulus Salam, 4/90).

Pendapat ketiga yang mensyaratkan wasiat, didasarkan pada mafhum mukhalafah (menarik pengertian implisit yang berlawanan dengan pengertian eksplisit). Artinya, jika Ali RA sah berqurban untuk Nabi SAW karena ada wasiat, maka kalau tidak ada wasiat hukumnya tidak sah. Mafhum mukhalafah ini tidak tepat, karena bertentangan dengan hadis Aisyah yang bermakna umum. Imam Taqiyuddin an-Nabhani berkata,”Mafhum mukhalafah tidak diamalkan jika ada nash Al-Qur`an dan As-Sunnah yang membatalkannya.” (Taqiyuddin an-Nabhani, Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah, 3/200).

Kesimpulannya, boleh hukumnya menyembelih qurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, baik ada wasiat maupun tidak darinya. Wallahu a’lam

Aqiqah Setelah Dewasa

Aqiqah Setelah Dewasa, Lebih Baik Dengan Biaya Sendiri Atau Orangtua?

By | Tanya Jawab | 3 Comments

Aqiqah Setelah Dewasa

Aqiqah Setelah Dewasa, Lebih Baik Dengan Biaya Sendiri Atau Orangtua?

2008-10-02

Orang tua saya memiliki 6 orang anak, 3 laki dan 3 wanita. Kata orang tua saya, semua anak-anaknya dulu belum diaqiqah karena kondisi waktu itu belum ada dana. Sampai sekarang 5 orang anaknya sudah menikah dan tinggal 1 (wanita, sudah bekerja dan memiliki penghasilan) yang belum menikah. Sekarang ini kami (anak-anaknya) bermaksud mengaqiqahkan diri. pertanyaan saya, menggunakan uang siapa untuk aqiqah kami, apa uang sendiri (karena anaknya sudah menikah dan sudah bekerja dan memiliki penghasilan) atau menggunakan uang orang tua ? trima kasih ustadz atas jawabannya.

Anam

Aqiqah Setelah Dewasa

Aqiqah Setelah Dewasa ?

Jawab :

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada 2 (dua) pendapat fuqaha dalam masalah aqiqah setelah dewasa (baligh). Pertama, pendapat beberapa tabi’in, yaitu ‘Atha`, Al-Hasan Al-Bashri, dan Ibnu Sirin, juga pendapat Imam Syafi’i, Imam Al-Qaffal asy-Syasyi (mazhab Syafi’i), dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Mereka mengatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan (mustahab) mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Dalilnya adalah hadis riwayat Anas RA bahwa Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri setelah nubuwwah (diangkat sebagai nabi). (HR Baihaqi; As-Sunan Al-Kubra, 9/300; Mushannaf Abdur Razaq, no 7960; Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Ausath no 1006; Thahawi dalam Musykil Al-Atsar no 883).

Kedua, pendapat Malikiyah dan riwayat lain dari Imam Ahmad, yang menyatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, tidak mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Alasannya aqiqah itu disyariatkan bagi ayah, bukan bagi anak. Jadi si anak tidak perlu mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Selain itu, hadis Anas RA yang menjelaskan Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri dinilai dhaif sehingga tidak layak menjadi dalil. (Hisamuddin ‘Afanah, Ahkamul Aqiqah, hlm. 59; Al-Mufashshal fi Ahkam al-Aqiqah, hlm.137; Maryam Ibrahim Hindi, Al-’Aqiqah fi Al-Fiqh Al-Islami, hlm. 101; M. Adib Kalkul, Ahkam al-Udhiyyah wa Al-’Aqiqah wa At-Tadzkiyyah, hlm. 44).

Dari penjelasan di atas, nampak sumber perbedaan pendapat yang utama adalah perbedaan penilaian terhadap hadis Anas RA. Sebagian ulama melemahkan hadis tersebut, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (Fathul Bari, 12/12), Imam Ibnu Abdil Barr (Al-Istidzkar, 15/376), Imam Dzahabi (Mizan Al-I’tidal, 2/500), Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah (Tuhfatul Wadud, hlm. 88), dan Imam Nawawi (Al-Majmu’, 8/432). Imam Nawawi berkata,”Hadis ini hadis batil,” karena menurut beliau di antara periwayat hadisnya terdapat Abdullah bin Muharrir yang disepakati kelemahannya. (Al-Majmu’, 8/432).

Namun, Nashiruddin Al-Albani telah meneliti ulang hadis tersebut dan menilainya sebagai hadis sahih. (As-Silsilah al-Shahihah, no 2726). Menurut Al-Albani, hadis Anas RA ternyata mempunyai dua isnad (jalur periwayatan). Pertama, dari Abdullah bin Muharrir, dari Qatadah, dari Anas RA. Jalur inilah yang dinilai lemah karena ada Abdullah bin Muharrir. Kedua, dari Al-Haitsam bin Jamil, dari Abdullah bin Al-Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas RA. Jalur kedua ini oleh Al-Albani dianggap jalur periwayatan yang baik (isnaduhu hasan), sejalan dengan penilaian Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id (4/59).

Terkait penilaian sanad hadis, Imam Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan lemahnya satu sanad dari suatu hadis, tidak berarti hadis itu lemah secara mutlak. Sebab bisa jadi hadis itu mempunyai sanad lain, kecuali jika ahli hadis menyatakan hadis itu tidak diriwayatkan kecuali melalui satu sanad saja. (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, 1/345).

Berdasarkan ini, kami cenderung pada pendapat pertama, yaitu orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan mengaqiqahi dirinya sendiri setelah dewasa. Sebab dalil yang mendasarinya (hadis Anas RA), merupakan hadis sahih, mengingat ada jalur periwayatan lain yang sahih. Wallahu a’lam
Wallahu a’lam bishshawbab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Abdul Aziz

Aqiqah Setelah Dewasa

Aqiqah Peduli di TPQ Mamba'ul Huda Jombang

Kemana saja AqiqahBerkah sudah mendistribusikan Amanah Paket AqiqahPeduli Pelanggan?

By | Tanya Jawab | One Comment

Aqiqah Berkah sudah mendistribusikan Amanah Paket Aqiqah Peduli Pelanggan, ke berbagai Yayasan, Panti Asuhan, Majlis Ta’lim, PonPes, dll. Dan dokumentasinya adalah sebagai berikut:

Dokumentasi Aqiqah Berkah

Dan masih banyak lagi dokumentasi yang belum Kami tampilkan di halaman ini.