Category Archives: Tentang Qurban

Pengertian Qurban (Udhiyah)

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

PENGERTIAN QURBAN (UDHIYAH)

Qurban adalah binatang yang disembelih dengan tujuan ibadah kepada Allah pada Hari Raya Haji dan tiga hari kemudian (tanggal 11 sampai 13).

31 Pengertian Qurban

Hukum Ibadah Qurban

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa qurban dihukumi wajib. Sedangkan pada sebagian besarulama lainnya berpendapat qurban itu sunnah. Alasan yang berpendapat bahwa qurban wajib yaitu Firman Allah SWT :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر

“Sesungguhnya Kami telah memberi kepadanya nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah”. (Al-Kautsar : 1-2)

Sabda Rasulullah SAW yang artinya :

“Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami”. (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

Alasan untuk pendapat bahwa qurban dihukumi sunnah adalah Sabda Rasulullah SAW :

امرت باالنحروهو سنة لكم. رواه الترمذئ

“Saya disuruh menyembelih qurban dan qurban itu sunnah bagi kamu”. (Riwayat Tirmidzi)

علئ النحر وليس بوا جب عليكم. روه االدارقطني كتب

“Diwajibkan kepadaku berqurban, dan tidak wajib atas kamu”. (Riwayat Daruqutni)

Pengetahuan mengenai binatang yang sah untuk qurban ialah yang tidak bercacat, misalnya pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya dan telah berumur sebagai berikut :

  1. Domba (da’ni) yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.
  2. Kambing yang telah berumur dua tahun lebih.
  3. Unta yang telah berumur lima tahun lebih.

Sabda Rasulullah Muhammad SAW yang artinya :

Dari Barra’ bin Azib, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban : (1) rusak matanya, (2) sakit, (3) pincang, (4) kurus yang tidak berlemak lagi.” (Riwayat Ahmad, dan dinilai sahih oleh Tirmidzi).

Dari Jabir, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kamu menyembelih untuk qurban kecuali yang musinnah (telah berganti gigi). Jika sukar didapati, maka boleh jaz’ah (yang baru berumur 1 tahun lebih) dari biri-biri.” (Riwayat Muslim).

Seekor kambing hanya untuk qurban satu orang, diqiaskan dengan denda meninggalkan wajib haji. Tetapi seekor unta, kerbau dan sapi boleh diatasnamakan qurban tujuh orang. Dari Jabir, “Kami telah menyembelih qurban bersama-sama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuuh orang.” (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Abbas, “Pernah kami bersama-sama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, ketika itu datang Hari Qurban, maka kami bersama-sama menyembelih seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang.” (Riwayat Tirmidzi dan Nasai).

Waktu Menyembelih Qurban

Waktu untuk menyembelih binatang qurban yang dianjurkan Islam adalah mulai dari matahari setinggi tombak pada Hari Raya Haji sampai terbenam matahari tanggal 13 bulan Haji. Sabda Rasulullah SAW yang artinya :

“barang siapa menyembelih qurban sebelum shalat Hari Raya Haji, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa menyembelih qurban sesudah shalat hari Raya dan dua khotbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya, dan ia telah menjalani aturan Islam.” (Riwayat Bukhari)

Pada hadits tersebut, yangg dimaksud dengan shalat Hari Raya ialah waktunya, bukan shalatnya. Karena mengerjakan sholat tidak menjadi syarat menyembelih qurban. Sabda Rasulullah SAW :

كل ايام التشريق ذ بح. رواه احمد

“Semua haris Tasyriq (tanggal 11-13 Haji) adalah waktu menyembelih qurban.” (Riwayat Ahmad)

Sunnah Tatkala Menyembelih

Sewaktu menyembelih qurban disunnahkan beberapa perkara di bawah ini :

  1. Membaca bismillah
  2. Membaca sholawat atas nabi SAW
  3. Takbir (membaca Allahu Akbar)
  4. Berdoa supaya qurban diterima Allah, seperti : (Ya Allah, ini perbuatan dari perintah-Mu, saya kerjakan karena-Mu, terimalah oleh-Mu amalku ini)
  5. Binatang yang disembelih tersebut hendaklah dihadapkan ke arah kiblat

عن انس انه صلي الله عليه وسلم ضحي بكبشين املحين اقر نين ذبحهما بيد ه اكر يمة سمي و كبر. رواه البخا ريو مسلم

Dikabarkan oleh Anas bahwa Rasulullah SAW telah berqurban dengan dua ekor kambing yang baik-baik, beliau sembelih sendiri, beliau baca bismillah, danbeliau baca takbir (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW tatkala berqurban telah mengucapkan, “Ya Allah terimalah qurban Muhammad, keluarga dan umatnya.” (Riwayat Ahmad dan Muslim).

Paket Qurban Aqiqah Berkah

Agar ibadah qurban berjalan dengan lancar, Anda dapat memesan paket qurban syar’i pada Aqiqah Berkah. Tersedia hewan qurban sapi dan kambing. Harga hewan qurban sangat terjangkau untuk Anda khususnya di wilayah Jawa Timur. Pemesanan hewan qurban diluar Kab. Nganjuk, Madiun, Kediri, Jombang, Tulungagung dan Blitar minimal 10 ekor untuk kambing, dan minimal 5 ekor untuk sapi. Pemesanan hewan qurban secara kolektif atau grosir.

Anda dapat memesan hewan qurban secara online di nomor layanan Aqiqah Berkah :

SMS: 085749622504

Whatsapp: +6281335680602

Atau pemesanan secara offline dengan datang langsung ke kantor pusat Aqiqah Berkah di Jl. Raya Baron Timur No. 1 Baron Nganjuk.

Untuk menjawab kebutuhan hewan qurban saudara, saat ini Aqiqah Berkah telah menyediakan sapi dan kambing qurban untuk idul qurban 2016. Adapun hewan qurban yang saat ini ready stock dan dapat di pesan adalah :

A. Harga Sapi qurban 2016

1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-

2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Kambing qurban 2016

– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 24-29 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-

(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Sapi dan Kambing qurban di atas dapat Anda pesan melalui beberapa Paket Qurban 2016 Aqiqah Berkah yakni sebagai berikut :

Paket Qurban Peduli Syar’i : Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan paket qurban dari kota Anda (seluruh Indonesia).

Paket Qurban Mandiri Syar’i : Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban. Selanjutnya kami siap mengantar hewan qurban yang telah Anda pesan.

Adapun ketentuan sapi qurban yang diajarkan dalam islam diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Sapi telah memiliki kecukupan umur yaitu lebih dari 2 tahun

2. Sapi tidak memiliki aib (cacat fisik)

Kecacatan yang dilarang pada sapi qurban diantaranya adalah :

– Cacat matanya
– Kurus
– Sakit
– Patah tanduknya
– Pincang
– Terpotong telinganya

3. Sapi tidak kurus, sapi yang baik adalah sapi yang memiliki gemuk di bagian pantat, dada, dan leher

4. Sapi harus sehat

Sapi yang sehat diantaranya memiliki ciri-ciri :

– Bulunya terlihat mengkilat dan mulus
– Posisi kaki sapi : tidak bengkok, tungkai tegak, kuku sapi tidak bengkak, kaki depan sapi tegak dan relatif lurus.

5. Sapi jenis jantan dan betina dapat dijadikan qurban

Kurban di Dalam Islam

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Kurban di Dalam Islam

7

Menilik asal muasal pengertiannya, kurban berasal dari kata dasar qaraba. Secara harfiah kata qaraba mengandung pengertian mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan secara sosiologis kata qaraba memiliki cakupan makna yang sangat luas.

Menunjuk pada pengertian sebagaimana disebutkan diatas, maka seorang Muslim dapat dikatakan dekat kepada Allah jika orang yang bersangkutan merasa dekat dengan sesama, lebih-lebih kepada orang-orang yang selalu berada dalam kekurangan dan penderitaan.

Di sinilah makna sosial dari istilah kurban yang sebenarnya. Seekor hewan kurban hanyalah wujud dari keharusan untuk mengorbankan harta benda milik kita demi kemaslahatan dan kepentingan orang banyak yang merasa membutuhkan. Inilah bentuk kecintaan kepada Allah yang maujud dengan kecintaan terhadap sesama.

Menurut Ghufron A. Mas’adi, kurban berasal kata dari qaraba yang artinya mendekatkan. Segala jenis tindakan atau amalan yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Secara khusus, istilah ini berarti penyembelihan binatang kurban pada hari Idul Adha (hari raya penyembelihan kurban).

Fahmi Amhar dan Arum Harjanti, mengatakan bahwa menyembelih binatang kurban adalah mengenang kepatuhan Ibrahim dan keikhlasan Ismail akan perintah Allah.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari pada kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah yang telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kapada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Kemudian pengertian kurban yang lain adalah kurban merupakan binatang yang disembelih guna ibadah kepada Allah pada hari raya haji dan tiga hari kemudian (11 sampai 13) yang biasa kita sebut sebagai hari tasyriq.

Lain halnya dengan Ali Shariati dalam karyanya yang berjudul Hajj. Dia berpendapat bahwa dimaksudkannya berkurban yaitu karena ketiga berhala yang terdapat di Mina itu adalah patung-patung trinitas yang melambangkan tiga tahap kejahatan. Dan juga ketiga berhala tersebut melambangkan setan yang telah berusaha untuk memperdayakan Ibrahim. Seorang Muslim harus menempuh tiga tahap sebelum ia dapat membebaskan dirinya dari setiap macam perbudakan. Ia harus membuang ketamakan, mengalahkan sifat kebinatangan yang dicirikan oleh sikap mementingkan diri sendiri, dan naik ke tingkat Ibrahim dengan melakukan setiap sesuatu demi Allah.

Setelah menembak berhala yang terakhir tersebut, hendaklah segera berkurban. Shariati menjelaskan bahwa tahap terakhir dari evolusi dan idealisme adalah tahap kebebasan mutlak dan kepasrahan mutlak. Dahulu Ibrahim membawa putranya Ismail untuk dikurbankan di tempat ini (Mina). Dan kini kita berperan sebagai Ibrahim. Lantas siapakah Ismail kita yang merupakan simbolisme dari ibadah kurban sesungguhnya?

Dalam teori simbol yang dikemukakan oleh Paul Tillich, salah satu bahasa simbol yang dia ungkapkan adalah simbol sebagai sistem tanda umumnya. Dan juga diperkuat oleh pandangan Susane Langer dan Ernst Cassirer yang menjelaskan tentang posisi manusia sebagai homo simbolicum yang berkarya lewat tanda-tanda dari bidang yang paling konkret hingga sampai dengan tanda atau simbol keagamaan.

Selanjutnya Shariati dalam karya yang berjudul Hajj memberikan beberapa petunjuk atau tanda tentang apa dan siapa Ismail sebenarnya. Menurutnya, Ismail yang dia maksud adalah setiap sesuatu yang melemahkan iman, setiap sesuatu yang menghalangi perjalanan, setiap sesuatu yang membuat kita enggan menerima tanggung jawab, setiap sesuatu yang memikirkan kepentingan sendiri, setiap sesuatu yang membuat kita tidak dapat mendengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran, setiap sesuatu yang memaksa kita untuk melarikan diri, setiap sesuatu yang membuat kita mengemukakan alasan-alasan demi kemudahan dan setiap sesuatu yang membutakan mata dan menulikan telinga.

Ayat yang memerintahkan kurban adalah: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan kurban.” Asbabun nuzul dari ayat ini adalah Jibril datang kepada Rasulullah pada peristiwa Hudaibiyyah dan memerintahkan kurban serta salat. Rasulullah segera berdiri berkhotbah, kemudian salat dua rakaat dan menuju ke tempat kurban lalu memotong kurban.

Muhammad Abduh menafsirkan ayat tersebut dengan menjadikan salat semata-mata demi Tuhan serta menunjukkan sembelihan hewan kurban itu kepada Allah. Itu dikarenakan hanya Allah-lah pemelihara dan pelimpah segala kenikmatan bagi setiap diri manusia.

Dalam meneliti “keagamaan keagungan” sunah berkurban, kita dapat memahami betapa Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya yang dicintai untuk sesuatu yang besar, yaitu pengabdiannya kepada Tuhan. Kurban adalah pengabdian suci dan merupakan ujian terhadap ketabahan dan kekuatan iman seseorang untuk mencapai sesuatu yang besar. Memang kurban harus banyak diberikan, malah tiada kebahagiaan tanpa ada pengorbanan dan tidak ada sia-sia pengorbanan untuk menyukseskan segala macam bidang pembangunan dan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur pun diperlukan banyak pengorbanan, baik tenaga, harta, dan pikiran.

Dalam semangat berkurban yang ditunjukkan dengan rasa keikhlasan, akan menghasilkan sebuah amal dan sekaligus merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan. Dalam sejarah perjuangan, Rasulullah beserta para sahabatnya tak pernah meninggalkan semangat berkurban.

Pengorbanan yang mereka lakukan tak pernah sia-sia. Harapan kemenangan yang mereka cita-citakan tidak pernah padam, karena yakin bahwa Allah selalu menyertai perjuangan mereka. Hanya dengan pengorbanan yang ikhlas kepada Allah saja yang akan membuahkan hasil perjuangan dakwah. Demikianlah ketika hamba Allah senantiasa mengobarkan dalam dadanya semangat berkurban, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berjuang sendiri. Allah akan membantu dalam setiap usaha yang dilakukannya.

Segala sesuatu yang telah dikurbankan di jalan Allah merupakan amal yang pasti diperhitungkan. Harta dan diri kita merupakan aset yang besar untuk meraih pahala Allah manakala dapat tersalurkan ke jalan-Nya. Inilah yang disebut dengan orang yang berbuat kebaikan.

as
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Di dalam masalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya pun dituntut sebuah pengorbanan yang besar sebagai bukti atas kecintaan tersebut. Tingkat keimanan seorang Mukmin terlihat dari kadar pengorbanan yang dikeluarkan untuk kejayaan (kemenangan) Islam. Semua yang kita miliki entah keluarga, pekerjaan, jabatan, kedudukan, harta kekayaan yang melimpah, itu hanyalah sebagai ujian.

Oleh karena itu cara pemanfaatan yang paling tepat adalah dengan menjadikan sebagai wasilah (alat) untuk menuju ketakwaan kepada Allah, bukan sebagai ghayah (tujuan) kehidupan. Berkurban dengan semua itu demi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kisah Nabi Ibrahim mengandung teladan (ibrah) yang jelas akan sebuah pengorbanan. Betapa besar pengorbanan yang dilakukan Ibrahim. Itulah yang disebut dengan ridha Allah. Nabi Ibrahim merupakan sosok keluarga yang ideal. Keluarganya telah dipersembahkan hanya kepada Allah, dan bukan kepada selain-Nya, sehingga Allah memuji dan meridainya. Pengorbanan yang besar hanya bisa dilakukan dengan kepasrahan dan kesabaran yang besar pula serta didasari tawakkal kepada Allah SWT.

Seharusnya setiap manusia berbuat demikian. Cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh lebih diutamakan daripada cinta kepada keluarga, cinta kepada jabatan, cinta kepada kedudukan yang tinggi, ataupun cinta kepada harta yang melimpah. Jika telah melakukan hal yang demikian, maka derajat takwa akan diraih. Dengan kata lain takwa akan diperoleh manakala kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah atau syariat-Nya, yang di dalamnya ada tuntutan untuk melakukan suatu pengorbanan.

Ada beberapa pelajaran yang dapat diperoleh dari suatu pengorbanan yang ikhlas, di antaranya:
1. Nilai setiap amal bukan sekadar dilihat dari zahir dan kulit luarnya saja, tetapi justru tergantung pada motivasi yang melatarbelakangi amalan tersebut. Manakala bertolak dari niat ikhlas dan ketakwaan, sampailah kepada Allah. Sebaliknya ketika tidak ikhlas, tidak akan sampai kepada Allah.

2. Niat ikhlas dan ketakwaan itu harus dibarengi dengan cara-cara yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Modal keikhlasan saja tanpa dibarengi cara yang benar akan menyebabkan amal tersebut tertolak. Oleh karena itu para ulama memberi kaidah dan syarat diterimanya suatu amal itu adalah ikhlas dan benar.
Jadi kurban yang diterima oleh Allah dan mendapatkan ridha-Nya adalah yang berangkat dari niat ikhlas dan ketakwaan serta melaksanakannya sesuai ajaran Rasulullah.

Kurban sebenarnya sudah dikenalkan Allah pertama kali kepada anak-anak Nabi Adam:
Ceritakanlah kepada mereka (manusia) kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qobil); ia berkata (Qobil), “Aku pasti membunuhmu.” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah (hanya) akan menerima (kurban) dari orang- orang yang bertakwa.”

Menurut ayat tersebut, upacara kurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam, hanya bentuknya berbeda. Kurban sekarang memang dikaitkan dengan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim tentang penyembelihan putranya, Ismail. Dikatakan dalam Alquran bahwa sampai hari menjelang tua, Nabi Ibrahim belum dikarunia putra.

Sekalipun demikian, Nabi Ibrahim tidak berputus asa dari rahmat Allah untuk mendapatkan keturunan. Atas ikhtiar dan doa Nabi Ibrahim yang tak pernah putus asa itu, Allah berkenan memberi kabar gembira dengan akan datangnya seorang putra yang saleh (Ismail), yang akan melanjutkan misi kenabiannya. Namun, kebahagiaan keluarga Ibrahim terusik sewaktu anak yang didambakannya itu lahir.

Tak lama kemudian Nabi Ibhaim diperintahkan agar Ismail dan ibunya (Hajar) dibawa dan ditempatkan di padang pasir yang tandus dan gersang, yang dikenal sebagai kota Mekah sekarang.

Untuk mengetahui berapa tingkat keyakinan dan keimanan Nabi Ibrahim, Allah memberikan wahyu kepadanya agar menyembelih anaknya, Ismail. Putra yang sangat disayangi dan menjadi buah hati selama ini ternyata harus disembelih dengan tangannya sendiri.

Betapa pilu rasa hatinya apabila teringat perintah penyembelihan terhadap anaknya itu. Namun apa boleh dikata, kecintaan kepada Allah tidak boleh dikalahkan dengan kecintaan kepada anak. Perintah Allah untuk menyembelih anaknya harus dilaksanakan dengan hati yang amat berat.

Ismail putranya lalu dipanggil dan diberitahu mengenai perintah Allah tersebut. Ternyata Nabi Ismail putranya bukannya merasa susah dan khawatir, melainkan justru bersemangat mendorong ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim, untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah. Nabi Ismail pasrah, menyerahkan sepenuhnya yang bakal terjadi atas dirinya kepada Allah.

Begitu pula Nabi Ibrahim akhirnya menjadi mantap dan ikhlas semurni-murninya melaksanakan perintah Allah dengan menyembelih putranya yang tercinta di Mina.

Menghadapi hal ini, Ibrahim meminta pendapat putranya dengan berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu.

Mendengar pertanyaan bapaknya tersebut, Ismail menjawab dengan tenang:
Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatkan termasuk orang yang sabar.

Dan tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan putranya, turunlah malaikat yang berseru: Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpimu.

Sesungguhnya yang demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan (domba) yang besar.

Kejadian ini diperingati dan dijadikan syariat dalam agama Islam dengan mengadakan kurban hewan pada 10 Zulhijah. Dan setiap kali Nabi Ibrahim mendengar setan yang menggodanya, dijadikan manasik dalam ibadah haji, yaitu melempar jumrah tiga kali.

Ali Shariati menggambarkan ketiga berhala itu merupakan lawan dari ketiga tahap yang dilalui dalam penunaian ibadah haji. Berhala yang pertama (jumrah ula) adalah lawan dari tahap Arafat. Berhala yang kedua (jumrah wustha) adalah lawan dari tahap Masyair. Berhala yang ketiga (jumrah uqba) adalah lawan dari tahap Mina.

Jika pada hari raya Idul Fitri fuqara’ dan masakin digembirakan dengan pembagian beras zakat fitrah, pada waktu Idhul Adha mereka digembirakan dengan pembagian daging kurban. Suatu garis sosial yang demikian tinggi dalam Islam di mana fakir miskin setiap saat harus selalu mendapat perhatian bantuan pangan dan tidak boleh dilupakan.

Selanjutnya Rasulullah selalu menghidupkan kembali kurban. Dalam hajinya, beliau berkurban seratus ekor onta, dan beliau pernah pula berkurban dengan dua ekor domba besar yang bertanduk dan tanpa cacat. Seekor diperuntukkan bagi tebusan dirinya dan semua keluarganya, sedang seekor lagi untuk tebusan umatnya.

harga
Menurut Ahmad Mursyidi, dari kisah keluarga Ibrahim di atas dapat diambil pelajaran yang sangat berharga, antara lain:

  1. Ikhtiar mesti disertai dengan doa permohonan kepada Allah. Ketidakberhasilan kita sekarang bukan mustahil karena kita terlalu banyak mengandalkan rasio, mengesampingkan doa permohonan kepada Allah.
  2. Keberhasilan merupakan karunia Allah sekaligus sebagai ujian apakah manusia bersyukur atau kufur, sebagaimana ungkapan Nabi Sulaiman, “Ini merupakan sebagian dari karunia Tuhanku, untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau aku kufur.”
  3. Betapa penting kekompakan antara semua anggota keluarga (bapak, ibu, dan anak) dalam menyikapi suatu permasalahan, kekompakan yang dilandasi kacamata keimanan kepada Allah.

Namun jika ditinjau dari perspektif sejarah, panggilan Ibrahim untuk mengunjungi Baitullah, yang kemudian dikukuhkan oleh Nabi Muhammad SAW, mengandung makna yang mendalam mengajak manusia kepada ajaran tauhid (monotheist) yang berdimensi kepemilikan sosial. Kedua sisi ajaran Islam ini tidak dapat dipisahkan, ibarat sebuah mata uang logam dengan dua permukaan (two sides of the same coin). Memang tidak ada mata uang logam tanpa dua permukaan. Menyatunya kedua permukaan mata uang tersebut dalam satu kesatuan yang utuh menjadikan benda tersebut dapat disebut dengan uang logam. Menyatunya dimensi tauhid yang bersifat transendental fungsional dan dimensi kepedulian sosial yang bersifat historis-empiris dalam satu keutuhan pandangan hidup mencerminkan sikap hidup keberagamaan Islam yang otentik dan tulus.

Menentukan Halal Haram

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Menentukan Halal Haram Semata Mata Hak Allah

18

Bahwa Islam telah memberikan suatu batas wewenang untuk menentukan halal dan haram, yaitu dengan melepaskan hak tersebut dari tangan manusia, betapapun tingginya kedudukan manusia tersebut dalam bidang agama maupun duniawinya. Hak tersebut semata-mata ditangan Allah.

Bukan pastor, bukan pendeta, bukan raja dan bukan sultan yang berhak menentukan halal-haram. Barangsiapa bersikap demikian, berarti telah melanggar batas dan menentang hak Allah dalam menetapkan perundang-undangan untuk ummat manusia. Dan barangsiapa yang menerima serta mengikuti sikap tersebut, berarti dia telah menjadikan mereka itu sebagai sekutu Allah, sedang pengikutnya disebut “musyrik”.

Firman Allah: “Apakah mereka itu mempunyai sekutu yang mengadakan agama untuk mereka, sesuatu yang tidak diizinkan Allah?” (as- Syura: 21)

Al-Quran telah mengecap ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang telah memberikan kekuasaan kepada para pastor dan pendeta untuk menetapkan halal dan haram, dengan firmannya sebagai berikut: “Mereka itu telah menjadikan para pastor dan pendetanya sebagai tuhan selain Allah; dan begitu juga Isa bin Maryam (telah dituhankan), padahal mereka tidak diperintah melainkan supaya hanya berbakti kepada Allah Tuhan yang Esa, tiada Tuhan melainkan Dia, maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sekutukan.” (at-Taubah: 31)

‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam setelah dia mendengar ayat tersebut, kemudian ia berkata: Ya Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan pendeta itu.

Maka jawab Nabi s.a.w.: “Betul! Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

pe1
“Memang mereka (ahli kitab) itu tidak menyernbah pendeta dan pastor, tetapi apabila pendeta dan pastor itu menghalalkan sesuatu, mereka pun ikut menghalalkan juga; dan apabila pendeta dan pastor itu mengharamkan sesuatu, mereka pun ikut mengharamkan juga.”

Orang-orang Nasrani tetap beranggapan, bahwa Isa al-Masih telah memberikan kepada murid-muridnya ketika beliau naik ke langit suatu penyerahan (mandat) untuk menetapkan halal dan haram dengan sesuka hatinya. Hal ini tersebut dalam Injil Matius 18:18 yang berbunyi sebagai berikut: “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, barang apa yang kamu ikat di atas bumi, itulah terikat kelak di sorga; dan barang apa yang kamu lepas di atas bumi, itupun terlepas kelak di sorga.”

Al-Quran telah mengecap juga kepada orang-orang musyrik yang berani mengharamkan dan menghalalkan tanpa izin Allah, dengan kata-katanya sebagai berikut:
“Katakanlah! Apakah kamu menyetahui apa-apa yang Allah telah turunkan untuk kamu daripada rezeki, kemudian dijadikan sebagian daripadanya itu, haram dan halal; katakanlah apakah Allah telah memberi izin kepadamu, ataukah memang kamu hendak berdusta atas (nama) Allah?”(Yunus: 59)

Dan firman Allah juga:
“Dan jangan kamu berani mengatakan terhadap apa yang dikatakan oleh lidah-lidah kamu dengan dusta; bahwa ini halal dan ini haram, supaya kamu berbuat dusta atas (nama) Allah, sesungguhnya orang-orang yang berani berbuat dusta atas (nama) Allah tidak akan dapat bahagia.” (an-Nahl: 116)

Dari beberapa ayat dan Hadis seperti yang tersebut di atas, para ahli fiqih mengetahui dengan pasti, bahwa hanya Allahlah yang berhak menentukan halal dan haram, baik dalam kitabNya (al-Quran) ataupun melalui lidah RasulNya (Sunnah). Tugas mereka tidak lebih, hanya menerangkan hukum Allah tentang halal dan haram itu. Seperti firmanNya:
“Sungguh Allah telah menerangkan kepada kamu apa yang Ia haramkan atas kamu.” (al-An’am: 119)

Para ahli fiqih sedikitpun tidak berwenang menetapkan hukum syara’ ini boleh dan ini tidak boleh. Mereka, dalam kedudukannya sebagai imam ataupun mujtahid, pada menghindar dari fatwa, satu sama lain berusaha untuk tidak jatuh kepada kesalahan dalam menentukan halal dan haram (mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram).

Imam Syafi’i dalam al-Um 5 meriwayatkan, bahwa Qadhi Abu Yusuf, murid Abu Hanifah pernah mengatakan: “Saya jumpai guru-guru kami dari para ahli ilmu, bahwa mereka itu tidak suka berfatwa, sehingga mengatakan: ini halal dan ini haram, kecuali menurut apa yang terdapat dalam al-Quran dengan tegas tanpa memerlukan tafsiran.

Kata Imam Syafi’i selanjutnya, Ibnu Saib menceriterakan kepadaku dari ar-Rabi’ bin Khaitsam termasuk salah seorang tabi’in yang besar dia pernah berkata sebagai berikut: “Hati-hatilah kamu terhadap seorang laki-laki yang berkata: Sesungguhnya Allah telah menghalalkan ini atau meridhainya, kemudian Allah berkata kepadanya: Aku tidak menghalalkan ini dan tidak meridhainya. Atau dia juga berkata: Sesungguhnya Allah mengharamkan ini kemudian Allah akan berkata: “Dusta engkau, Aku samasekali tidak pernah mengharamkan dan tidak melarang dia.”

Imam Syafi’i juga pernah berkata: Sebagian kawan-kawanku pernah menceriterakan dari Ibrahim an-Nakha’i –salah seorang ahli fiqih golongan tabi’in dari Kufah– dia pernah menceriterakan tentang kawan-kawannya, bahwa mereka itu apabila berfatwa tentang sesuatu atau melarang sesuatu, mereka berkata: Ini makruh, dan ini tidak apa-apa. Adapun yang kalau kita katakan: Ini adalah halal dan ini haram, betapakah besarnya persoalan ini!

Demikianlah apa yang diriwayatkan oleh Abu Yusuf dari salafus saleh yang kemudian diambil juga oleh Imam Syafi’i dan diakuinya juga. Hal ini sama juga dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Muflih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Bahwa ulama-ulama salaf dulu tidak mau mengatakan haram, kecuali setelah diketahuinya dengan pasti.”
Kami dapati juga imam Ahmad, misalnya, kalau beliau ditanya tentang sesuatu persoalan, maka ia menjawab: Aku tidak menyukainya, atau hal itu tidak menyenangkan aku, atau saya tidak senang atau saya tidak menganggap dia itu baik.

Cara seperti ini dilakukan juga oleh imam-imam yang lain seperti Imam Malik, Abu Hanifah dan lain-lain.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Aqiqah Berkah

30 Dalil Qurban

Untuk sobat semua yang membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

  1. Kambing qurban 2016 (Ready Stock)
    – Jenis : Kambing / Domba Gibas
    – Berat : Mulai dari 24-29 kg
    – Umur : -+ 1 tahun
    – Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
    (Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)
  2. Harga Sapi qurban 2016 (Ready Stock)
    1) Sapi Jawa
    – Berat : Mulai dari 300 kg
    – Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
    2) Sapi Bali
    – Berat : Mulai dari 300 kg
    – Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
    (Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai harga kambing Aqiqah Berkah 2016. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :
WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Syari’at Qurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Syariat Berqurban

1

“… maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan Ber-Qurbanlah ” (QS. Al Kautsar/108:1-2)

Bagi seorang muslim yang merasa mampu sangat disunnahkan (sunnah mu’akad) dan ada mazhab yang mewajibkan seperti Imam Abu Hanifah untuk berkorban bagi yang mampu . Tidak seperti zakat ada nizabnya , hanya di sebutkan yang mampu untuk rasa syukur atas nikmat rezki yang telah diberikan dan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah sekaligus untuk Syi’ar Agama seperti Ibadah menyembelih hewan qurban telah disyariatkan pada tahun kedua Hijriah seperti zakat dan dua shalat Ied (Iedul Fitri dan Adha). Syariatnya telah ditetapkan di kitab quran, sunnah dan Ijma.

Sedangkan di kitab Quran Allah berfirman ” fa sholli li robbika wanhar” (maka shollah dan berkorbanlah), yang dimaksud sholat disini adalah sholat Ied (Wahbah Azzuhaly di kitabnya Fiqhul Islami wa adillatuh).

Sedangkan dalam sunnah seperti dalam hadis Aisyah “Tidak ada amalnya anak adam pada hari nahr (10, 11, 12, 13 Dhul hijjah) suatu amal yang lebih dicintai Ta’alallah dari menumpahkan mengalirkan darah (berqorban), yang sesungguhnya qurban itu akan datang di hari kiamat…..dan sesungguhnya akan mencapai Allah Azza w Jalla sebelum darahnya sampai ke atas bumi , maka bersihkan / sucikan dengannya (qurban) jiwa” (HR Al hakim, Ibnu Majah dan Tirmidi). Dan riwayatkan oleh Anas, Rasulullah SAW berkorban dua kibas / domba…. .yang disembelih dengan tangannya.

Ijma kaum muslimin atas disyariatkannya menyembelih hewan Qurban yang ditunjukkan oleh hadis bahwanya amal yang lebih dicinati oleh Allah pada hari “nahr” yang sesungguhnya qurban itu akan datang di hari kiamat atas sifat-sifat hewan qurban yang disembelihnya, dan darahnya sampai untuk diterima di sisi Allah sebelum darahnya mencapai tanah yang mana ibadah qurban ini adalah sunnahnyaNabi Ibrahim a.s.

2
Kata rasulullah SAW: Bahwa setiap bulu dari hewan qurban adalah satu kebaikan. (berapa banyak bulu domba / kambing / sapi / onta???)

Bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mendapatkan keluasan reziki untuk berqurban akan tetapi tidak berqurban maka janganlah hadir ketempat shalat kami”
“Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi dia tidak ber-Qurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami” ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah ).

Rasululllah SAW menyruh putrinya Fatimah untuk berdiri menykasikan sembelihan Qurbannya, karena setiap awal tetesan darahnya adalah mengampuni dosa-dosanya yang lalu.

Rasulullah SAW bersabda: Ber qurban yang baik dengan penuh perhitungan (semata-mata karena Allah Ta’ala) baginya adalah sebagai penghalang dari neraka.

Rasulullah SAW bersabda: Apabila menyembelih Qurban , perbaikilah sembelihannya (pisaunya yang tajam, cara-caranya sesuai dengan yang disyraiatkan).

Allah swt. berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi Ketaqwaan dari kamulah yang mencapainya. Demikianlah Allah Swt. telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang berbuat kebaikan!” ( QS. Al-Hajj: 37 )

PENGERTIAN QURBAN

QURBAN yaitu menyembelih hewan unta, sapi, domba, kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyri’ dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt.

QURBAN merupakan cermin keyakinan kepada keadilan Illahi dan kemanusiaan yang universal. Melalui ibadah Qurban, Allah Swt. mengajak seluruh kaum muslimin untuk menghayati makna kebersamaan dan solidaritas.

ANJURAN MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

“Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berqurbanlah” ( Qur’an Surat Al-Kautsar 1-2 ).

“Tidak ada amalan Bani Adam yang lebih dicintai Allah ketika Idul Adha melebihi menyembelih hewan Qurban” ( HR. Ahmad )

– KOLEKTIF DALAM BERQURBAN

Boleh kolektif/ bergabung dalam melaksanakan Qurban.

Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk berserikat dalam qurban unta atau sapi yaitu seekor untuk tujuh orang” ( HR Muslim )

Dalam kitab Al Majmu’ syarah Muhaddab oleh Imam Nawawi disebutkan bahwa Berqurban unta lebih utama / afdhal dari sapi karena lebih besar, dan sapi lebih baik dari domba karena sapi untuk sama dengan 7 ternak, dan berqurba domba sendirian lebih baik dari unta atau sapi yang patungan / di sharing / berserikat untuk 7 orang.

– BAGAIMANAKAH KETENTUAN HEWAN QURBAN?

Hewan Qurban wajib yang sehat. Rasulullah saw bersabda: “Empat macam hewan yang tidak sah dijadikan Qurban:
1. Yang rusak matanya 2. Yang sakit 3. Yang pincang 4. Yang kurus tidak berlemak” ( HR. Ahmad )

Umur ternak Qurban diusahakan :

  1. Kambing/domba telah berumur 1 tahun/ sudah berganti giginya.
  2. Sapi/kerbau telah berumur 2 tahun lebih.

Rasulullah saw. bersabda : “Janganlah kamu menyembelih Qurban kecuali yang musinnah (telah berganti gigi). Jika sukar didapati, maka boleh jadza’ah (yang berumur satu tahun lebih) dari biri-biri” ( HR. Muslim )

KAPAN WAKTUNYA PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN?

Waktu menyembelih Qurban ialah hari Nahar, dimulai sesudah shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11 – 13 Dzulhijjah ).

Cara menyembelih:

Ini daiambil dari kitab Al Majmu’ Syarah Muhaddab oleh Imam Nawawi (text aslinya dikutib dibawah)

Disunnatkan posisikan supaya yang menyembelih menghadap kiblat Disunnatkan sebelum baca “Bismillahi Allahu Akbar” baca “Allahumma minka wa ilayka Taqobbal Minnie” (kalau disembelih sendiri, kalau disembelihkan orang lain Minnie diganti dengan Min….sebut namanya) disunnahkan baca takbir (Allahu Akbar 3x) sebelum baca itu (sebelum mulai disembelih) dan disunnahkan juga abaca sholawat kepada Rasulullah SAW kemudian setelah seleasai disembelih disunnahkan baca takbir lagi 3x.

Yang berhak daging Qurban:

Dalam kitab Al Majmu’ disebutkan, sepertiga boleh dimakan, sepertiga dihadiahkan dan sepertiga dishodakahkan. Seandainya semua dishodaqahkan baik saja, Allahu A’lam

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Aqiqah berkah

Untuk sobat semua yang ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2016 (Ready Stock)

  1. Jenis : Kambing / Domba Gibas
  2. Berat : Mulai dari 24-29 kg
  3. Umur : -+ 1 tahun
  4. Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
    (Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2016 (Ready Stock)

  1. Sapi Jawa
    – Berat : Mulai dari 300 kg
    – Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
  2. Sapi Bali
    – Berat : Mulai dari 300 kg
    – Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
    (Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2016 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2016 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota semarang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Nilai tambah hewan qurban Aqiqah Berkah

  1. Syarat hewan qurban sesuai syar’i
  2. Umur hewan telah mencukupi (Nishab)
  3. Dipelihara secara baik dan tidak ber-aib
  4. Ternak berasal dari daerah bebas penyakit menular
  5. Ternak berasal dari penampungan yang jelas
  6. Ternak mendapatkan perlakuan yang layak

Itulah tadi informasi mengenai harga kambing terbaru yang bisa kami sampaikan, daftar di atas kami ambil dari beberapa lapak kambing dan tentunya setiap daerah memiliki harga yang berbeda-beda, namun daftar harga di atas bisa dijadikan patokan dasar untuk anda dalam membeli atau menjual kambing.

3

Untuk Informasi Lebih lanjut Hubungi Kami :

TELPON/SMS : 085749622504

Hewan atau Kambing bisa dipilih di kandang kami dan Gratis titip hewan qurban sebelum di anatar.

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Menyambut Kelahiran Sang Buah Hati

By | Berita, Paket Aqiqah, Tentang Qurban | No Comments

Menyambut Kehadiran Sang Buah Hati

5

Di antara keutamaan dan kesempurnaan syariat islam ialah memuat segala sesuatu. Termasuk di antaranya adalah penjelasan hukum berkaitan dengan menanti si buah hati serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Dengan demikian para orang tua dapat melaksanakan kewajiban terhadap buah hatinya secara jelas. Alangkah indahnya masyarakat yang mampu melaksanakan syariat Allah di muka bumi ini dimulai dari keluarganya. Tentu saja untuk merealisasikan hal tersebut kita wajib mengikuti tuntunan yang Allah gariskan melalui Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mensyukuri Nikmat Allah Atas Kehadiran Buah Hati

Kedua orang tua ketika dianugerahi anak oleh Allah, hendaklah bersyukur kepada Allah atas nikmat tak terkira dari-Nya tersebut. Keadaan keluarga yang tidak Allah karuniai dengan anak tentulah akan terasa kurang sempurna dan sepi. Dalam Al-Quran Allah mengisahkan tentang sepasang suami istri yang berdoa kepada Rabbnya tatkala sang istri sedang mengandung.

Allah berfirman:
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu manusia dan menjadikan darinya istrinya, agar dia merasa tentram dengannya. Maka setelah dia mengumpulinya, istrinya mengandung kandungan ringan, terus merasa ringan beberapa waktu. Tatkala dia merasa berat, maka keduanya berdoa kepada Rabbnya, seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur.’ Tatkala Allah memberi anak yang sempurna kepada keduanya, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan kepada keduanya. Maha suci Allah terhadap apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al A’raaf: 189-190)

Ayat tersebut menunjukkan hendaklah orang tua bersyukur kepada Allah sebagaimana keduanya berdoa kepada-Nya tatkala bayi tersebut masih dalam kandungan.

6

Memberi Nama Yang Baik

Orang tua hendaknya memberi nama yang baik untuk buah hatinya. Rasulullah mengajari nama yang paling disukai oleh Allah. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim, Abu Dawud). Sering kali terjadi kesalahan pada sebagian orang tua, setelah anak diberi nama yang baik malah dipanggil dengan nama panggilan yang jelek. Contohnya Abdullah dipanggil dul, atau orang tua memberi nama yang diharamkan bahkan termasuk kesyirikan kepada Allah seperti Abdul Ka’bah, Abdul Rasul dan sejenisnya. Kebiasaan yang seperti ini harus ditinggalkan karena akan memberikan dampak yang tidak baik bagi orang tua maupun anaknya.

Aqiqah (Menyembelih Kambing)

Termasuk yang disyariatkan oleh Allah ketika menyambut buah hati adalah bersyukur kepada Allah dengan Aqiqah. Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ke tujuh dihitung mulai dari hari kelahiran. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya:
“Bayi laki-laki hendaklah diaqiqahi dua ekor kambing sedangkan bayi perempuan satu ekor kambing.” (Shahih, HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadis lain, Samurah bin Jundub menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh kambing aqiqah disembelih, rambut kepalanya dicukur serta diberi nama.” (Hasan Shahih, HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Mencukur Habis (baca: Menggundul) Rambut Bayi dan Bersedekah

Disyariatkan pula pada hari ke tujuh dilakukan ibadah-ibadah yang lain seperti:

  1. Mencukur habis rambut kepala dengan tidak melakukan qaza, yaitu mencukur sebagian dan membiarkan sebagian yang lain. Ibnu Umar menceritakan bahwa Rasulullah melarang qoza (HR. Bukhari). Perlu ada kehati-hatian saat mencukur rambut, karena kulit kepala bayi masih lunak.
  2. Bersedekah untuk orang miskin dengan senilai perak yang seberat rambut bayi. “Cukurlah rambut kepalanya (Al-Hasan) kemudian bersedekahlah dengan perak untuk orang-orang miskin seberat rambut tadi.” (Hasan, HR. Ahmad).

Perintah untuk mencukur habis rambut bayi ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan. Namun yang dirajihkan Syaikh Al Utsaimin, cukur habis ini hanya berlaku untuk bayi laki-laki (Lihat Syarh Mumti’ 7/540)

Demikian sedikit penjelasan tentang kewajiban orang tua ketika menanti buah hatinya. Pengorban yang diberikan oleh kedua orang berupa rasa syukur dengan aqiqah dan bersedekah dengan senilai perak yang seberat rambut sebenarnya tidak sebanding dengan karunia Allah yang diberikan kepada keduanya. Akan tetapi Allah ingin menguji siapakah yang bersyukur kepada-Nya dan siapakah yang tidak. Wallahu a’lam bishshawab.

301

Selanjutnya ini akan kami ulas mengenai Harga Kambing Kota Madiun 2016:

  1. Harga Kambing Gibas
    Kambing gibas juga sering disebut juga kambing gimbal. Secara umum, kambing gibas memiliki bulu berwarna putih. Adapun harga dari kambing gibas ini mulai berkisar dari harga Rp.600.000,- hingga Rp.2.400.000,- di tahun 2016 ini. Adapun harga kambing gibas memiliki harga yang terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan jenis kambing lainnya.
  2. Harga Kambing Kacang (Jawa)
    Kambing jawa juga sering disebut pula kambing kacang. Harga dari jenis kambing ini sangat bervariasi hal ini didasarkan pada jenis umur, kondisi fisik, kesehatan dan jenis kelamin. Adapun harga dari kambing kacang atau kambing jawa ini mulai berkisar dari harga Rp.800.000,- hingga Rp.2.600.000,- di tahun 2016 ini.
  3. Harga Kambing Etawa
    Kambing etawa juga sering disebut pula Jamnapari. Kambing etawa berasal dari India. Kambing ini merupakan jenis kambing yang memiliki 2 fungsi yaitu kambing pedaging dan kambing penghasil susu. Adapun harga dari kambing etawa ini mulai berkisar dari harga Rp.1.700.000,- hingga Rp.5.000.000,- di tahun 2016 ini.
  4. Harga Kambing Peranakan Etawa (PE)
    Jenis kambing peranakan etawa merupakan hasil persilangan antara kambing jawa (lokal) dengan kambing etawa. Adapun untuk harga kambing jenis PE ini mulai berkisar dari harga Rp.1.000.000,- hingga Rp.3.200.000,- di tahun 2016 ini.

Nah mungkin itu yang bisa kami sampaikan. uraian di atas bisa menjadi patokan anda untuk membeli kambing yang berkualitas. Jadi sebelum membeli kita liat dulu kambing yang akan kita beli, sehat ataukah tidak. jika membeli kambing haruslah sangat berhati-hati. Tapi para sahabat tidak perlu kawatir untuk membeli kambing, di Aqiqah Berkah tempatnya kambing yang berkualitas, sehat, tidak cacat dan terbaik. Dan di ambil dari kandang sendiri, hasil peternakan sendiri. Harga kambing akikah di Aqiqah Berkah lebih terjangkau, apabila dibandingakan dengan yang lainnya. Untuk informasi dan pemesanan anda bisa menghubungi nomor di bawah ini.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS            : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Tafsir Sosial Kontekstual Ibadah Qurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Tafsir Sosial Kontekstual Ibadah Kurban

Kurban merupakan ajaran yang hampir menyatu dalam segi waktu pelaksanaannya dengan ibadah haji. Namun berbeda dari segi tempat dan pelakunya. Ibadah kurban biasa dilakukan pada saat hari raya idul adha. Dengan lain bahasa, bila kita mendengar Idul Adha, maka langsung terlintas pada benak kita akan tradisi ber-qurban, yang sangat identik dengan menyembelih hewan qurban.

4
Dalam konteks ini, Komaruddin Hidayat dalam buku “Memahami bahasa Agama” mengurai benang kusut pemahaman bahasa agama yang perlu dimengerti untuk mencari esensi dalam praktik kehidupan beragama sehari-hari (Komaruddin Hidayat, 1996: 8-38).

Fuad Amsari dalam buku “Islam Kaafah: Tantangan Sosial dan Aplikasinya di Indonesia”, mengulas pentingnya upaya menjadi muslim yang sempurna dan total dalam mempraktikkan ajarannya (Fuad Amsari, 1995: 19-89). Dalam hal ini, tentu diantaranya adalah soal bagaimana mengamalkan ajaran kurban sesuai dengan syariat dan tuntunan agama Islam.

Namun tidak berlebihan, bila kita mau terus menerus kembali berusaha menjawab jujur, bahwa peringatan hari-hari besar keagamaan atau aktivitas dan praktik ibadah seperti kurban apakah lebih kita jadikan sebagai kegiatan rutin biasa (ritual) atau memang sebagai ekspresi iman dan taqwa karena Allah.

Perilaku kita tetap berjalan seperti hari-hari biasanya atau berubah setelah menjalankan semua ibadah. Kita tidak peduli terhadap sesama, kita tidak takut kepada peringatan-Nya atau sebaliknya. Lalu tindakan yang merugikan orang banyak tetap saja kita lakukan atau tidak. Pola hidup yang jor-joran juga semakin surut atau diganti dengan pola hidup suka berbagi.

Realitas kehidupan yang menunjukkan banyak saudara-saudara di sekitar kita yang hidup dalam kemiskinan, serba kekurangan dan mengalami tekanan hidup yang semakin berat tentu bagian dari tantangan ibadah yang lebih praktis dan berdampak secara sosial. Dalam konteks inilah, pembahasan dan penafsiran sosial dalam praktik ibadah kurban penting didiskusikan lebih lanjut.

Lebih dari itu, di setiap saat perayaan hari raya keagamaan tiba, kita juga selalu diingatkan mengenai pesan moral yang terkandung di dalamnya. Kita diingatkan untuk selalu mengagungkan nama-Nya, membagi kasih sayang terhadap sesama, dan kita diingatkan untuk selalu menjauhi larangan-Nya. Apakah kita kemudian dengan sadar melaksanakan semua itu?Apakah kita peduli dengan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya?

Dari dulu hingga sekarang, topik kurban selalu menjadi bahasan penting dan menarik. Di awal tulisan ini, pembahasan difokuskan pada apa yang dimaksud dengan kurban. Secara etimologi, qurban yang sering ditulis dalam tulisan ini dengan huruf awal k berarti mendekat/pendekatan. Sedangkan menurut istilah adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya. Salah satu ajaran Islam yang penuh dengan kesakralan (suci) dan juga syarat dengan muatan kemanusiaan adalah ibadah qurban.

Dalam konteks ini, ibadah kurban adalah kesempatan bagi si miskin untuk merasakan kenikmatan dari si kaya. Mengalirnya darah-darah suci dari hewan qurban akan menghanyutkan noktah-noktah hitam di hati manusia, memercikkan aroma harum jalinan kasih antara sesama sembari menyemaikan rona ceria di wajah masing-masing.

Lewat ibadah kurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Terlebih saat ini bangsa Indonesia sedang berduka, di mana saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana alam yang telah merenggut ratusan ribu nyawa, keluarga dan harta. Melalui ibadah kurban ini, kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di negeri tersebut.

Dari sinilah, M. Quraish Shihab menyatakan ibadah kurban merupakan ibadah yang sempurna sepanjang hayat manusia. Pasalnya, ibadah kurban merupakan ajaran tertua sepanjang sejarah kehidupan manusia yang terus berlangsung hingga saat ini (M. Quraish Shihab, 2008: 38- 40).

Tafsir Sosial Kontekstual Ibadah Kurban

Memahami ibadah kurban perlu banyak pendekatan, salah satunya adalah pendekatan sosial kontekstual. Ahmad Izzan dalam buku “Ulumul Qur’an: Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Qur’an” menjelaskan bahwa memahami dan menafsirkan al-Qur’an bisa dilakukan dengan cara mengaitkan antara teks al-Qur’an dengan konteksnya untuk kesempurnaan pemahaman (Ahmad Izzan, 2011: 8-19).

Dengan nada yang berbeda tapi sama maksudnya, Syafrudin dalam buku “Paradigma Tafsir Tekstual & Kontekstual”, juga mengungkap kelebihan pendekatan kontekstual ketimbang hanya dengan memakai paradigma tekstual (Syafrudin, 2009: 19-29). Menurutnya, pendekatan kontekstual bisa menjembatani pemahaman teks yang kadang terputus dan terhenti pada bacaan dan tulisan. Di sini, pendekatan konteks dianggap bisa mengarahkan pembaca pada tujuan dan tindakan nyata.

Pradana Boy dalam buku “Fikih Jalan Tengah: Dialektika Hukum Islam dan Masalah-masalah Masyarakat Modern” menengarai bahwa problem krusial penafsiran al-Qur’an memang selalu berujung pada ranah fikih sebagai kunci praktis dalam ajaran Islam. Di sinilah, ungkap Boy, perlunya jalan tengah yang lebih arif, bijak, adil dan fleksibel sebagai respons keunikan tradisi, budaya dan khazanah Islam yang tersebar di segala penjuru alam dan zaman (Pradana Boy, 2008: 4-14).

Secara epistemologis, Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (ed.) dalam buku “Epistemologi Tafsir Kontemporer”, memberikan dasar-dasar pengetahuan tentang tafsir kontemporer yang sesuai dengan konteks tetapi tetap tidak melupakan teks aslinya (Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsudin (ed.), 2011: 23-48).

Namun dalam konteks ini kita diingatkan oleh Islah Gusmian dalam buku “Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi”, terkait tafsir menafsir kita perlu memahami dan menghayati apakah penafsiran yang dimaksud mengarah pada kepentingan tertentu dan ideologi-ideologi ataukah murni pada penafsiran yang membawa ke arah keadilan dan kesejahteraan sosial (Islah Gusmian, 2003: 8-29).

Hal itu semua merupakan cakrawala dan wawasan baru yang menarik untuk dijadikan referensi pemahaman dalam studi tafsir sosial kontekstual dalam suatu masalah dan bahasan keislaman. Nashruddin Baidan dalam buku “Wawasan Baru Ilmu Tafsir”, mengungkap pentingnya penafsir dan pembaca untuk memupuk wawasan baru dalam semua bidang keilmuan, tidak terkecuali dalam ilmu tafsir itu sendiri (Nashruddin Baidan, 2011: 5-18).

Dari sini, memahami ibadah kurban bukan semata-mata ibadah individual. Ibadah kurban sebagai ibadah yang secara khusus dilaksanakan sekali dalam setahun dalam hitungan bulan Qamariyah, tepatnya pada hari besar Islam yaitu Idul Adha, merupakan ibadah sosial yang luarbiasa manfaatnya. Ibadah kurban termasuk hari raya besar dalam agama Islam. Penyebutan hari besar Islam untuk idul adha ini disebabkan beberapa hal. Pertama, pada hari itu kaum muslim melakukan shalat sunat Idul Adha. Kedua, adanya perhelatan agung yaitu ibadah haji di Makkah. Ketiga, dalam momentum ini pula, ada peristiwa penyembelihan hewan kurban.

Pada masa Rasulullah, konon katanya, peringatan hari raya Idul Adha sangat semarak melebihi semaraknya hari raya Idul Fitri. Namun, hal itu berbeda dengan sekarang, justru sebaliknya Hari Raya Idul Fitri jauh lebih semarak dibanding Idul Adha. Memang banyak faktor yang melatari kenapa saat ini berbeda dengan kehidupan di masa rasulullah. Terlepas dari perdebatan atas persoalan ini, fenomena kurban menjadi penting untuk dicari hikmahnya (M. Quraish Shihab, 1997: 46).

Dalam momen kurban, hampir setiap muslim yang berkemampuan melaksanakan penyembelihan hewan kurban, entah secara perorangan ataupun berkelompok. Di sekolah- sekolah pun diadakan penyembelihan hewan qurban sebagai suatu sarana untuk mendidik siswa. Secara etimologis, qurban diartikan mendekat/ pendekatan. Dalam pengertian terminologisnya qurban adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan dengan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya (QS Al Maidah, 5: 27).

Bila dilacak historisitasnya, ibadah qurban sudah ada sejak Nabi Adam. Menurut M. Quraish Shihab, dalam tafsir al-Misbah, qurban pertama kali yang terjadi di muka bumi ini adalah qurban yang diselenggarakan oleh dua putera Nabi Adam (Habil dan Qabil) kepada Allah (M. Quraish Shihab, 2002: 30). Secara formalistik, ungkap Quraish Shihab, sejarah ibadah qurban bermula dari Nabi Ibrhaim As. Yakni, tatkala ia bermimpi disuruh Tuhan-nya untuk menyembelih Nabi Ismail As, seorang putra yang sangat dicintainya (Q.S Ash-Shaffat, 37: 102- 110). Singkat alkisah, dari persitiwa kenabian Ibrahim inilah ibadah qurban muncul dan menjadi tradisi umat Islam hingga saat ini. Apa makna sosial ibadah qurban?

Sebetulnya, banyak makna yang dapat dipetik dari ibadah qurban ini, baik secara ruhiyah maupun secara sosial-kemasyarakatan. Secara ruhiyah, ibadah ini bisa menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran ritual dari para pelakunya. Secara sosial-kemasyarakatan, ibadah qurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan qurban berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiannya pada sesama, utamanya kaum miskin dan mustadzafiin.

Secara esensial, tentu saja, tujuan ibadah qurban bagi umat Islam adalah semata-mata mencari ridla Allah SWT. Ibadah qurban ini dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal ketaqwaan kepada Allah. Allah akan menilai ibadah ini sebagai wujud ketaqwaan hamba kepada-Nya. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS Al Hajj, 22: 37). Hal ini pulalah yang menjadi sebab tertolaknya qurban salah seorang dari kedua putera Nabi Adam A.S dan diterima-Nya qurban yang lain. Bukanlah suatu nilai yang tinggi dan banyak di mata Allah, qurban yang banyak tetapi tanpa keikhlasan dan ketakwaan orang yang berqurban hal itu sama saja tak ternilai di mata Allah SWT.

Kebanyakan kita menilai ibadah qurban, mungkin cenderung melihat sesuatu dari lahirnya yang tampak, padahal Tuhan melihat sebaliknya yaitu keikhlasan.

Mungkin tatkala kita melihat seseorang berqurban hanya dengan seekor kambing, kita menganggapnya remeh. Kita lebih memandang besar dan hormat kepada orang yang berqurban dengan seekor sapi yang gemuk. Padahal belum tentu penilaian kita benar. Sebenar-benar penilai hanyalah Allah. Mungkin saja di mata Allah lebih tinggi nilai seekor kambing tadi karena taqwa di hati orang yang berqurban. Jadi tak ada yang menghalangi seseorang untuk berqurban sedikit jika disertai hati yang suci, taqwa dan ikhlas. Dan tidak ada kepastian diterimanya qurban yang banyak dari seseorang tanpa ketaqwaan dan keikhlasan. Namun di sini bukan berarti tidak diperbolehkan berqurban dengan jumlah banyak, saya kira, berqurban banyak pun boleh asal disertai dengan taqwa dan ikhlas. Taqwa dan ikhlas menjadi inti amal, mengapa? Sebab, banyak sebagian dari kita tatkala beramal hanya untuk mencari muka, dan pujian semata.

Selain makna sosial di atas, Ibadah qurban juga bisa menjadi sarana untuk membentuk kepribadian yang penuh toleransi, media menebar kasih sayang, serasi dan jauh dari keegoisan. Hubungan yang baik akan terjalin antara yang kaya dan miskin. Setidaknya selama beberapa hari tersebut orang-orang yang miskin akan merasakan kesenangan. Kalau saja hal itu bisa berlangsung terus–setidaknya untuk kebutuhan pokok-tentu tingkat kemiskinan di masyarakat kita akan menurun. Di dalam masyarakat akan tercipta ketenangan dan ketentraman. Sebab, tidak ada lagi perbedaan status/ keadaan hidup yang mencolok. Pengorbanan yang tumbuh dalam pelaksanaan ibadah qurban itu akan mengikis sikap egois dan kikir. Berkurangnya–atau bahkan hilangnya-sikap egois dan kikir itu akan berpengaruh baik bagi kehidupan dan penghidupan orang itu sendiri dan masyarakat luas.

Selanjutnya, berqurban merupakan ibadah wajib menurut sebagian ulama dan sunnat muakkad menurut ulama yang lain, dengan berqurban pula kita mendidik diri kita dan keluargauntuk meresapi makna pengorbanan sebagaimana Nabiyullah Ibrahim As memberikan contoh pengorbanan secara hakiki, dan penyembelihan hewan qurban adalah salah satu ritual dari makna pengorbanan itu untuk menggapai ketaqwaan kepada Allah SWT. Sehingga banyaknya hewan qurban yang disembelih menunjukkan respon masyarakat terhadap seruan ibadah qurban makin meningkat.

Daging Qurban, bukan semata pesta sate dan gulai? Tetapi, Ibadah qurban yang kita tunaikan sudah saatnya berfungsi bukan saja menggugurkan kewajiban tapi lebih dari itu mampu memberikan manfaat dan menjadi solusi sebagai jawaban atas kondisi riil yang terjadi di masyarakat. Banyak dari kebiasaan kita dalam berqurban hanyalah identik dengan pesta sate dan gulai dalam 2 sampai 3 hari setelah Idul Adha, sementara dalam waktu 12 bulan ke depan kembali masyarakat (terutama di daerah-daerah miskin) memakan daging hanyalah menjadi khayalan, belum lagi kondisi alam Indonesia yang rentan terhadap bencana alam, yang selalu saja menjadi pemandangan umum ketika bencana alam tiba.

Padahal, dibalik kesadaran kaum muslimin untuk berqurban serta melimpahnya hewan yang diqurbankan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik, tersimpan potensi yang sangat besar bahwa daging qurban digunakan sebagai sarana untuk membina masyarakat miskin, serta daerah-daerah bencana alam. Sebagian yang lain dicadangkan untuk mengantisipasi daerah-daerah yang rawan bencana alam.

Pelaksanaan qurban yang dilakukan oleh umat terdahulu memang sangat berbeda dengan syari’at qurban dalam Islam. Dalam Islam, risalah qurban merupakan ibadah yang syarat dengan makna. Kisah pengurbanan Nabi Ibrahim As. yang hendak mengurbankan anaknya, Ismail As yang kemudian diganti oleh Allah dengan domba, mengandung pesan bahwa pelaksanaan qurban selayaknya tidak membawa derita bagi manusia. Patut direnungkan bahwa, pelaksanaan ibadah qurban dalam Islam tidak hanya mengandung dimensi ibadah kepada Allah, tapi juga dimensikemanusiaan.

Dimensi kemanusiaan ini nampak pada distribusi daging hewan qurban kepada yang berhak (Q.S.al-Hajj, 22: 36). Karenanya, para ulama ada yang membagi daging qurban menjadi tiga, yaitu: dimakan, diberikan kepada fakir miskin, dan disimpan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah.” Walaupun demikian, dimensi-dimensi tersebut tidak akan bermakna apa-apa bila tanpa dilandasi dengan refleksi taqwa kepada Allah SWT. Dengan kata lain, aplikasi solidaritas sosial yang diwujudkan melalui qurban harus dilandasi niat yang ikhlas. Bukan niat untuk mencari popularitas, ingin dikenal orang dermawan atau ingin dipikir orang hebat.

Lebih dari itu, pembagian daging qurban kepada mereka yang barhak merupakan upaya pendekatan psikologis atas kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Ibadah qurban adalah wahana hubungan kemanusiaan yang dilandasi oleh semangat sense of belonging dan sense of responsibility yang bisa menyuburkan kasih sayang antar sesama dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah., s.w.t, (taqarrub ilallah). Dengan adanya ibadah qurban, dimaksudkan pula untuk menjembatani hubungan antara si kaya dan si miskin agar tetap harmonis. Si kaya tidak menyombongkan dirinya dan si miskin pun merasa bahwa ia tidak sendiri memikul hidup yang berat ini. Ternyata, masih banyak saudaranya (para aghniya’) yang senantiasa ikhlas memberikan bantuan kepada mereka yang lemah (para dhu’afa).

6
Wujud kepedulian sesama lewat ibadah qurban ini merupakan satu rangkaian pengabdian kepada Allah yang memiliki dimensi ibadah murni dan juga dimensi kemanusiaan. Dengan kata lain, hablun minannas merupakan salah satu faktor terjalinnya hablun minallah secara baik.

Sesuai dengan asal katanya “Qaruba” yang berarti dekat. Dengan demikian ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah sekaligus ungkapan syukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan kepada kita. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah., s.w.t, dalam Q.S.al-Hajj, 22: 36.

Lewat ibadah qurban, akan tumbuh rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Melalui ibadah qurban ini kita ketuk pintu hati kemanusiaan, rasa kepedulian sosial serta merasa senasib sepenanggungan terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita tersebut.

Demikian itu yang mungkin bisa kami sampaikan…

Untuk sobat semua yang tinggal di Seluruh Indonesia dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2016 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 24-29 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2016 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2016 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2016 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota semarang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Nilai tambah hewan qurban Aqiqah Berkah

  1. Syarat hewan qurban sesuai syar’i
  2. Umur hewan telah mencukupi (Nishab)
  3. Dipelihara secara baik dan tidak ber-aib
  4. Ternak berasal dari daerah bebas penyakit menular
  5. Ternak berasal dari penampungan yang jelas
  6. Ternak mendapatkan perlakuan yang layak

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai harga kambing 2016. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

5
Informasi dan Pemesanan :
TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Garis Panduan Pelaksanaan Ibadah Qurban Menurut Perspektif Islam

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

GARIS PANDUAN PELAKSANAAN IBADAH QURBAN MENURUT PERSPEKTIF ISLAM

32

Tafsiran

Qurban

Nama bagi sesuatu yang diqurbankan atau nama bagi ternakan yang disembelih pada Hari Raya Adha. Menurut fiqh ia bermaksud menyembelih ternakan tertentu dengan taqarrub kepada Allah SWT pada masa-masa tertentu. Ia juga diertikan sebagai ternakan an’am yang disembelih pada Hari Nahar dengan tujuan bertaqarrub kepada Allah SWT.

Individu yang hendak melaksanakan qurban

Individu muslim yang berniat hendak melaksanakan qurban (tidak termasuk organisasi, syarikat atau persatuan)

Pihak yang hendak menguruskan qurban

Orang perseorangan atau syarikat atau persatuan yang bersetuju untuk mengurus bagi pihak individu yang hendak melaksanakan ibadah qurban.

Nazar

Nazar adalah janji kepada Allah SWT. Menurut al-Mawardi, nazar ialah iltizam (mewajibkan diri) untuk melakukan qurbah (sesuatu yang boleh menghampirkan diri dengan Allah) yang pada asalnya tidak wajib di sisi syarak.

Qurban Nazar

Qurban yang diwajibkan ke atas individu yang berazam untuk melakukan qurban nazar. Contohnya apabila seseorang menyebut “Wajib ke atas diriku berqurban seekor kambing kerana Allah SWT”.

Qurban Sunat (tatawu‘)

Qurban yang dilakukan bukan niat kerana bernazar. Ia dikira sunat kerana tidak ada sebab-sebab dan syarat menjadikannya wajib.

Sunat Muakkadah

Sunat yang amat dituntut untuk melakukan ibadah qurban dan makruh meninggalkan bagi yang berkemampuan.

Hari Nahar

Hari Raya Adha iaitu pada 10 Zulhijjah.

Hari Tasyrik

11, 12 dan 13 Zulhijjah.

Hikmah Ibadah Qurban

Ia disyariatkan sebagai tanda bersyukur terhadap Allah SWT di atas segala nikmat-Nya yang berbagai dan juga di atas kekalnya manusia dari tahun ke tahun. Ia juga bertujuan menjadi kifarat bagi pelakunya sama ada disebabkan kesilapan-kesilapan yang telah dilakukan ataupun dengan sebab kecuaiannya dalam menunaikan kewajipan di samping memberikan kelegaan kepada keluarga orang yang berqurban dan juga mereka yang lain.

Hukum Berqurban

Menurut pandangan jumhur ulama hukum melaksanakan ibadah qurban adalah sunat (sunat muakkadah) bagi individu yang berkemampuan. Pandangan ulama mazhab Shafi‘i adalah sunat ’ain bagi setiap orang sekali dalam seumur hidup. Menurut pandangan yang masyhur di kalangan ulama mazhab Maliki adalah makruh meninggalkannya bagi mereka yang mampu. Manakala bagi mereka yang berniat untuk melakukan qurban nazar maka hukum melaksanakannya adalah wajib.

Jenis Qurban

Qurban terbahagi kepada dua jenis iaitu qurban nazar (wajib) dan qurban sunat.

Hukum Daging Qurban

  1. Ditegah memakan daging bagi orang yang melakukan qurban nazar (wajib) dan juga ahli keluarga di bawah tanggungannya walaupun sedikit sebagai mana juga ditegah memberikan daging qurban tersebut kepada orang bukan Islam.
  2. Kulit, lemak, daging, susu, kaki, kepala dan bulu-bulunya haram dijual oleh orang melakukan ibadah qurban sama ada wajib atau sunat.
  3. Bahagian atau anggota sembelihan qurban tidak harus dikhususkan kepada tukang sembelih sebagai upah melakukan sembelihan kecuali bahagian atau anggota tersebut diberikan oleh individu yang melakukan qurban.
  4. Sunat bagi individu yang melakukan qurban sunat (tatawu’) memakan daging qurbannya.

Pembahagian Daging Qurban

Pembahagian daging qurban terbahagi kepada dua jenis iaitu sembelihan qurban wajib (nazar) dan sembelihan sunat seperti yang berikut:

  1. Pembahagian daging qurban wajib atau nazar:
    Wajib semua dagingnya termasuk kulit dan tanduk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin dan haram bagi pihak orang yang berqurban memakan dagingnya atau memanfaatkan sembelihan itu untuk kepentingan dirinya.
  2. Pembahagian daging qurban sunat ada beberapa cara iaitu:
    (a) Menurut pandangan ulama mazhab Hanafi dan Hanbali daging qurban dibahagikan kepada tiga bahagian seperti yang berikut:
    1/3 – untuk dimakan oleh pihak yang berqurban dan ahli keluarganya.
    1/3 – untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin.
    1/3 – untuk dihadiahkan kepada sahabat handai termasuk orang kaya atau jiran-jiran atau saudaranya.
    (b) Menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i qaul jadid:
    1/3 – untuk dimakan oleh pihak yang berqurban dan ahli keluarganya.
    1/3 – untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin.
    1/3 – untuk dihadiahkan kepada sahabat handai termasuk orang kaya atau jiran-jiran.
    (c) Menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i qaul qadim:
    ½ – untuk dimakan oleh pihak yang berqurban dan ahli keluarganya.
    ½ – untuk disedekahkan kepada fakir dan miskin.
    (d) Menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i qaul asah wajib disedekahkan daging walaupun dengan kadar yang sedikit seperti setengah kilo atau setengah kati dengan syarat hendaklah daripada daging yang mentah, bukannya yang telah dimasak. Tujuannya supaya orang fakir atau miskin itu boleh memasak daging itu mengikut seleranya atau membolehkan dia menjualnya kepada orang Islam yang lain bagi mendapatkan harga dalam bentuk mata wang ataupun pertukaran dengan barangan yang lain.
    (e) Yang paling afdhal menurut pandangan ulama mazhab Shafi‘i ialah bersedekah semuanya kecuali pada beberapa ketul atau sesuap yang agak berpatutan dimakan oleh orang yang berqurban untuk mengambil berkat seperti sebahagian hati kerana ianya sunat dimakan. Amalan ini pernah dilakukan oleh Nabi SAW ketika Baginda melakukan qurban.

Diri Individu Yang Dituntut Melakukan Ibadah Qurban

Syarat-syarat bagi individu yang dituntut melakukan ibadah qurban adalah seperti yang berikut:

  1. Seorang Islam yang masih hidup. Tidak boleh melakukan untuk si mati jika dia tidak meninggalkan wasiat.
  2. Seorang yang merdeka. Tidak dituntut ke atas hamba.
  3. Mencapai umur akil baligh dan berakal.
  4. Bermukim iaitu menetap di sesuatu kawasan.
  5. Mampu melaksanakan – orang yang mampu ialah mereka yang mempunyai harga/nilai (duit) untuk berbelanja mendapatkan ternakan qurban, yang lebih daripada keperluannya dan keperluan mereka yang berada di bawah tanggungannya untuk Hari Raya dan Hari-hari Tasyrik kerana tempoh itulah masa bagi melakukan qurban.

Syarat Kepada Orang Yang Melakukan Qurban

Untuk memenuhi syarat-syarat sah orang yang berqurban mempunyai tiga perkara:

  1. Amalan Qurban hendaklah disertakan dengan niat untuk mentaqarrubkan diri kepada Allah SWT.
  2. Hendaklah niat qurban diiringi semasa menyembelih atau semasa membeli ternakan qurban.
  3. Hendaklah memilih ternakan qurban yang boleh dikongsi bahagian seperti unta, lembu dan kerbau untuk tujuh orang bagi tujuan melakukan ibadah qurban sahaja.

Syarat Sah Haiwan Ternakan Qurban

Untuk memenuhi syarat-syarat sah sesuatu ibadah qurban, perkara-perkara tersebut adalah disyaratkan ke atas haiwan ternakan berkenaan:

  1. Ibadah qurban tidak sah kecuali dengan menggunakan haiwan an’am(ternakan) iaitu unta, lembu, kambing, biri-biri dan semua yang termasuk dalam jenisnya, sama ada jantan atau betina, yang menjadi baka ataupun dikasi. Dengan itu tidak sah berqurban dengan menggunakan ternakan yang lain selain daripada hewan an’am(ternakan) seperti kerbau liar, kijang, rusa, pelanduk dan seumpamanya.
  2. Hendaklah penyembelihan qurban itu dalam masa yang tertentu iaitu pada Hari Nahar dan meliputi dua malam iaitu malam ke-11 dan malam ke-12 Zulhijjah (tetapi makruh). Qurban tidak sah dilakukan pada malam Hari Raya atau malam ke-10 Zulhijjah. Begitu juga tidak sah dilakukan pada malam ke-14 Zulhijjah.
  3. Hendaklah ternakan yang diqurbankan itu tidak mempunyai kecacatan seperti tempang, buta, telinga koyak, patah sebelah tanduk atau cedera pada tubuh badan atau kurus sehingga tidak mempunyai lemak, maka tidak terlaksana untuk dijadikan qurban.
  4. Setiap ternakan yang dijadikan sembelihan qurban hendaklah sihat dan bebas daripada sebarang penyakit.
  5. Hendaklah haiwan yang diqurbankan telah mencapai satu tahap minimum umur yang diharuskan untuk berqurban iaitu:
    (a) unta (ibil) – berumur 5 tahun masuk tahun ke-6.
    (b) lembu/kerbau (baqarah) – berumur 2 tahun masuk tahun ke-3.
    (c) kambing (ma‘zi) – berumur 2 tahun masuk tahun ke-3.
    (d) biri-biri (dha’ni) – berumur 1 tahun masuk tahun ke-2 ataupun telah bersalin gigi di hadapan.

Waktu Menyembelih Qurban

Penyembelihan qurban hendaklah dilakukan apabila berlalu tempoh sekadar selesainya dua rakaat solat sunat Hari Raya Adha serta bacaan khutbah. Waktu penyembelihan qurban berterusan siang dan malam (makruh pada waktu malam) sehingga Hari Tasyrik yang terakhir (13 Zulhijjah) sebelum terbenamnya matahari.

Syarat Penyembelih Haiwan Qurban

Afdal bagi orang yang melakukan qurban menyembelih qurbannya dan sama-sama turut hadir menyaksikannya. Walau bagaimanapun dia boleh mewakilkan kepada orang lain atau syarikat atau persatuan yang bersetuju untuk menguruskan ibadah qurban dengan syarat-syarat seperti yang berikut:

  1. Penyembelih qurban hendaklah seorang muslim. Jika qurban itu disembelih oleh orang kafir yang diwakilkan oleh tuan qurban, maka qurban itu tidak sah, dan makruh sekiranya dia seorang ahli kitab.
  2. Seorang yang telah mumayyiz dan berakal kecuali gila dan mabuk. Makruh mewakilkan ke atas kanak-kanak dan perempuan haid.
  3. Lelaki ataupun perempuan (namun yang afdal melakukan qurban adalah orang lelaki dan sunat orang perempuan mewakilkan kepada orang lelaki).
  4. Mampu melakukannya dan dilakukan tanpa ada paksaan.

Syarat Alat Menyembelih

Alat menyembelih hendaklah tajam yang boleh menghiris dan memutuskan dua urat leher (pembuluh darah – wadajain), sehingga dapat mengalirkan darah, urat mari’ (saluran makanan) dan halqum (saluran pernafasan) dan bukan menggunakan alat yang tumpul seperti tulang dan gigi haiwan.

Kawasan Penyembelihan Ternakan Qurban

Antara perkara-perkara yang perlu diberi perhatian semasa aktiviti penyembelihan ialah seperti yang berikut:

  1. Hendaklah ditentukan di tempat yang khusus yang merangkumi aspek keselamatan dan kebersihan tempat tersebut;
  2. Tempat singgah/simpanan ternakan qurban hendaklah lapang, teduh dan selamat;
  3. Hendaklah menyediakan air minuman yang bersih dan makanan yang mencukupi bagi haiwan berkenaan;
  4. Tapak penyembelihan ternakan qurban hendaklah sesuai, bersih dan selamat;
  5. Darah penyembelihan tidak boleh dialirkan ke saliran awam;
  6. Tempat melapah jika dilakukan di atas lantai hendaklah sesuai dan bersih
  7. Daging yang telah dilapah hendaklah digantung pada tiang yang tidak karat dan ketinggian tiang yang bersesuaian agar daging yang dipotong tidak mencecah lantai;
  8. Tempat memotong daging hendaklah menggunakan meja yang sesuai, bersih dan selamat;
  9. Penyembelihan yang dilakukan di balai raya, padang awam, taman perumahan, luar perkarangan masjid, surau, serta rumah persendirian hendaklah menitikberatkan aspek kebersihan bagi memastikan daging qurban bersih dan juga selamat untuk dimakan.
  10. Afdal dilakukan di kawasan rumah kerana dapat disaksikan oleh ahli keluarga.

Perkara Sunat Ketika Berqurban

Antara perkara sunat ketika berqurban adalah seperti yang berikut:

  1. Menambat ternakan qurban menjelang Hari Nahar – makanan hewan sembelihan sebelum qurban – pastikan tidak makan makanan yang syubhah (makan rumput di kawasan yang bukan milik tuan hewan qurban).
  2. Meletakkan tanda serta menutup tubuh ternakan qurban supaya dapat merasakan kepentingan qurban.
  3. Melakukan penyembelihan qurban dengan sendiri.
  4. Membaca tasmiyah(bismillah).
  5. Penyembelih dan ternakan sunat mengadap ke arah qiblat.
  6. Sunat memilih ternakan yang paling baik.
  7. Sunat menunggu ternakan yang disembelih itu sehingga sejuk dan semua anggotanya tidak bergerak lagi atau benar-benar mati dan barulah dilapah.
  8. Orang yang melakukan qurban disunatkan tidak bercukur dan tidak memotong kukunya setelah tiba bulan Zulhijjah sehingga dia telah selesai berqurban.

Perkara Makruh Ketika Berqurban

Antara perkara yang makruh ketika berqurban adalah seperti yang berikut:

  1. Makruh melakukan qurban ternakan yang carik telinganya atau terpotong sedikit dibelakang telinganya.
  2. Makruh memotong bulu ternakan yang hendak diqurbankan bagi tujuan kegunaan sendiri jika boleh memudharatkannya.
  3. Makruh menjadikan ternakan qurban yang pecah dan patah tanduknya dan tiada bertanduk.
  4. Makruh memerah susu ternakan yang hendak dijadikan qurban dan meminumnya kecuali disedekahkan susu tersebut.
  5. Makruh bagi orang yang hendak berqurban memotong kukunya dan bercukur.
  6. Makruh melakukan sembelihan qurban pada waktu malam.

Kebajikan Haiwan Sembelihan Qurban

Antara perkara-perkara yang boleh ditambah selain melakukan amalan sunat ketika berqurban ialah:

  1. Ternakan yang menunggu untuk disembelih tidak boleh melihat ternakan lain yang sedang disembelih;
  2. Tidak digalakkan mengasah pisau di hadapan ternakan yang hendak disembelih.
  3. Melakukan sembelihan dengan cepat dan teratur.
  4. Membawa sembelihan ke tempat yang khusus dengan cara yang baik bukan cara yang kasar dan tidak diseret kakinya.

Cara Menyembelih Haiwan Qurban

Cara menyembelih ternakan qurban adalah seperti yang berikut:

  1. Niat atau qasad untuk sembelih qurban;
  2. Membaringkan dan menghadapkan rusuk kiri haiwan ke arah kiblat dan kepalanya diangkatkan sedikit;
  3. Direbahkan dengan menggunakan tali yang sesuai, tempat yang sesuai dan tidak menyebabkan kecederaan kepada ternakan dengan memastikan kebajikan haiwan terjamin;
  4. Membaca tasmiyyyah ( bismillah / bismillah Allahu akbar );
  5. Berselawat ke atas Nabi SAW;
  6. Bertakbir sebelum atau selepas membaca bismillah dengan menyebut ال إله إال اهلل واهلل أكبر اهلل أكبر وهلل الحمد اهلل أكبر اهلل أكرب اهلل أكرب اهلل أكرب 64
  7. Penyembelih hendaklah memegang kulit tengkuknya di bahagian bawah dagunya dan menariknya sehingga nampak jelas kulitnya;
  8. Meletakkan alat menyembelih di leher dengan memotong biji halqum, urat mari’ dan dua urat di leher kiri kanan hewan (wadajain);
  9. Penyembelihan hendaklah dilakukan dengan kadar segera dan tidak diselangi dengan amalan-amalan lain;
  10. Berdoa kepada Allah SWT agar ibadah qurban diterima.

Pengurusan Sisa Ternakan Qurban

331

Perkara-perkara yang mesti dititikberatkan selepas penyembelihan ternakan qurban ialah mengurus sisa qurban yang tidak diperlukan seperti yang berikut:

  1. Bahan pepejal seperti lemak, tanduk, tulang hendaklah dibungkus dan dilupuskan dengan cara yang bersesuaian; dan
  2. Bahan cecair seperti najis, sisa darah penyembelihan hendaklah ditanam.

Agihan Daging Qurban

Sebelum melaksanakan pengagihan daging qurban, beberapa urusan yang berkaitan dengannya hendaklah diputuskan melalui jawatan kuasa yang dibentuk untuk memudahkan urusan pengagihan daging qurban kepada pihak-pihak yang telah dikenal pasti seperti yang berikut:

  1. Memastikan daging qurban cukup untuk diagihkan kepada pihak- pihak yang telah disenaraikan;
  2. Menyediakan senarai penerima daging qurban mengikut keutamaan;
  3. Mengutamakan golongan fakir dan miskin yang telah dikenal pasti status mereka;
  4. Mengagihkan daging qurban kepada mereka yang tinggal di kawasan terpencil;
  5. Menyediakan kontena sejuk (jika perlu) untuk menempatkan daging qurban sebelum ia diagih ke kawasan pendalaman; dan
  6. Mengagihkan daging qurban kepada golongan yang berada sekiranya terdapat lebihan daging qurban tersebut.

Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

341

Informasi dan Pemesanan :
WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Ibadah Qurban, Bukti Cinta Kepada Allah

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Ibadah Qurban, Bukti Cinta kepada Allah

291

Subhanallah, ibadah qurban merupakan ibadah bukti cinta kepada Allah Aza wajjalla. Nabi Ibrahim karena saking cintanya kepada Allah, anak tercinta yang sekian lama dirindukan, rela dikorbankan. Lebih hebat lagi Siti Hajar, anak yang dikandung dan dilahirkan, rela dikorbankan demi cintanya kepada Allah. Lebih hebat lagi Ismail, dirinya rela dikorbankan, demi cintanya kepada Allah.

Karena itu mereka menjadi keluarga kecintaan dan kekasih Allah. Karena cintanya yang luar biasa, mereka pun diabadikan dalam shalat. Kama sholaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali ibrahim. Kama barakta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim. Dalam ibadah haji, mereka pun diabadikan.

Allah pun mengabadikan mereka saat ‘Idul Qurban. Ini adalah aplikasi cintanya seorang mukmin kepada Allah. Bukan hewan korbannya, tapi cintanya kepada Allah. Lan tanamul birra hataa tuhibunii mimma tuhibuhu. Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan sempurna dari Allah atau nilai yang maksimal, misal seratus, kecuali engkau memberikan apa yang paling dicintai. Oleh karena itu hewan yang dikorbankan harus yang terbaik. Kemampuan kita yang terbaik. Tidak boleh cacat, umur yang cukup dan sebagainya. Kalau Nabi Ibrahim diminta anaknya, masa kita hanya hewan korban. Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar.

Kemudian dalam ibadah qurban, juga diajarkan mencintai keluarga. Justru cintanya kepada keluarga itu cinta kepada Allah. Dengan mengajak keluarga berkorban berarti mencintai Allah dan mencintai keluarganya sendiri. Karena hikmah kecintaan kepada Allah adalah kecintaan kepada keluarga.

Kemudian, subhanallah, tidak ada musuh yang paling besar dari agama ini, dan itu adalah salah satu penyakit umat saat ini, yaitu penyakit bakhil. Maka qurban mencabut sikap bakhil ini, laa yadhulal jannah al bakhiil wa lau kaana ‘aabidan. Orang bakhil tidak akan masuk surga walaupun ia ahli ibadah. Jadi harus ada wujud nyata kalau ingin masuk surga, yaitu ibadah sosial. Maka hikmah yang ketiga dari ibadah qurban ini adalah ibadah sosial. Carefully terhadap para dhu’afa, bahkan kepada mustad’afin. Karena itu sudah selayaknya dalam pembagian korban, mereka dapat pembagian yang merata.

301

Islam itu ritual sosial. Shalat, Allahu akbar, kemudian salam. Apalagi puncaknya haji. Haji ini subhanallah, konferensi akbar umat Islam. Islam agama yang tidak terikat dengan teritorial geografis, rasis dan nasionalisme. Bahkan Islam agama yang tidak terikat waktu. Yang mengikat Islam Allah dan rasul-Nya. Inilah ajaran khilafah. Agama internasional yang dipersiapkan oleh Allah sebagai rahmatan lil alamin.

Ibadah qurban itu ritual yang sosialnya luar biasa. Apalagi saat sekarang ini, saat mahal rasanya lezatnya daging. Dan tidak ada daging yang paling lezat kecuali daging saat ‘Idul Adha. Kita sudah merasakan daging di mana pun, tapi daging ‘Idul Adha punya keunikan tersendiri.

Kemudian ibadah qurban juga mengajarkan kekompakan umat Islam. Dari cara-cara menyembelih itu ada kekompakan. Kemudian diajarkan juga etika dalam penyembelihan. Itu adalah gladi resik atau latihan untuk jihad perang. Jadi jangan takut melihat darah. Siti Aisyah itu sebelumnya takut darah. Tapi diperintahkan oleh Rasulullah untuk melihat darah saat menyembelih hewan korban, maka Aisyah pun berani melihat darah. Bahkan di berbagai tempat orang-orang pun hadir saat penyembelihan itu. Ini agar umat ini punya nyali. Jangan ciut melihat darah. Dan ini juga sebagai latihan menyembelih. Jadi kalau nanti perang pun maka umat Islam siap. Subhanallah. Itu sekalian show of force, unjuk kekuatan umat Islam. Bayangkan kalau semua aghniya melakukan itu. Allahu akbar.

Esensi yang paling bisa diambil dari ibadah qurban itu adalah pengorbanan. Jadi nilai pengorbanan itu, seberapa besar pengorbanan kita kepada Allah, maka sebesar itu cinta kita kepada Allah. Makin besar pengorbanan kita, maka makin besar cinta Allah kepada kita. Dusta kalau kita cinta tanpa berkorban. Cinta tidak cukup mengatakan aku cinta padamu, tapi mana bukti cintamu padaku.

Haji itu salah satu bentuk cinta orang kepada Allah. Ia tinggalkan keluarganya. Harta seperti kulkas misalnya tidak dibawa. Jabatan memakai pakain ihram, ia siap mati. Nah orang yang berkorban itu membuktikan cintanya kepada Allah. Allahu akbar, walillahilhamdu. Jadi takbirnya itu benar. Allah Maha besar, segala puji bagi Allah. Jika ia membaca Allahu akbar walilahilhamdu kemudian berkorban maka ia benar takbirnya. Tapi kalau tidak berkorban maka ia cuma sebatas dzikiran.

Makanya orang yang berdzikir dan berjihad itu tidak bisa dipisahkan. Orang berdzikir itu berjihad, orang berjihad itu berdzikir. Alquran surat al anfat ayat 45, :Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menghadapi musuh-musuh maka hadapi mereka dengan sabar dan berdzikirlah sebanyak-banyaknya , niscaya kamu akan menang. Ini kekuatan spiritual dan kekuatan material. Dua hal ini tak dapat dipisahkan. Walau pun dapat dibeda-bedakan tapi kedua-duanya menyambung menjadi energi jihad yang luar biasa.

Saya mengenalkan suatu istilah dengan jihad realita. Tidaklah kalian mencapai kecintaan sempurna kepada saudaramu sampai kamu mencintai saudaramu seperti dirimu. Maka jihad realita adalah apa yang bisa diperbuat di lingkungan kita yang kita saksikan. Di depan mata kita saksikan penderitaan umat. Bukan hanya dhu’afa tapi mustad’afin. Mereka itu dilemahkan oleh sistem kufar. Dan ini membutuhkan pengorbanan dari kita baik pikiran, tenaga, harta benda.

Inilah esensi dari pengorbanan yang sebenarnya. Bagaimana mungkin kita bisa tidur sementara darah syuhada terus mengalir. Dan orang dianggap belum sempurna doanya sebelum mendoakan mustad’afin dan mujahidin. Allahumanshur mujahidin fi falestin, fi afghan fi iraq, fi kashmir, fi fatani thailand, moro fhilifhin, wa jaalna minhum. Itulah wujud kecintaan kita kepada Allah. Jika kita cinta kepada Allah maka kita cinta kepada orang-orang yang dicintai Allah. Nuriman/pendi diolah dari wawancara.

Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

311
Informasi dan Pemesanan :
WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Kurban Dengan Kambing

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Kurban Dengan Kambing

20

Ada beberapa kriteria ideal yang harus diperhatikan untuk mencapai keafdhalan prima dalam beribadah qurban. Di antaranya:

  1. Berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ
    “Beliau berqurban dengan dua kambing kibasy yang berwarna putih bercampur hitam lagi bertanduk.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)
  2. Berwarna hitam pada kaki, perut dan kedua matanya. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mendatangkan kambing kibasy bertanduk, menginjak pada hitam, menderum pada hitam, dan memandang pada hitam, untuk dijadikan hewan qurban.” (HR. Muslim no. 1967)
  3. Gemuk dan mahal. Dalilnya adalah hadits Anas yang telah lewat, riwayat Abu ‘Awanah (no. 7796) dengan lafadz: سَمِيْنَيْنِ (gemuk). Dalam lafadz lain ثَمِيْنَيْنِ (mahal).

Faedah: Mana yang lebih afdhal, kualitas hewan qurban atau kuantitasnya?
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menjawab:
“Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang shahih adalah dengan perincian:

  1. Bila taraf kehidupan masyarakatnya makmur dan lapang, maka kualitas hewan lebih afdhal.
  2. Bila mereka dalam kesempitan hidup, maka semakin banyak kuantitasnya semakin afdhal, supaya kemanfaatan hewan qurban merata untuk seluruh masyarakat.” (Syarh Bulughil Maram, 6/73-74)

Cacat yang Menghalangi Keabsahan Hewan Qurban

Cacat yang menghalangi keabsahan hewan qurban dibagi menjadi dua:

1. Yang disepakati oleh para ulama
Diriwayatkan dari Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di depan kami, beliau bersabda:

أَرْبَعٌ لاَ تَجُوْزُ فِي اْلأُضْحِيَّةِ: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيْضُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لاَ تُنْقِي

“Empat hal yang tidak diperbolehkan pada hewan qurban: yang rusak matanya dan jelas kerusakannya, yang sakit dan jelas sakitnya, yang pincang dan jelas pincangnya, dan yang kurus dan tidak bersumsum.” (HR. Abu Dawud no. 2802, At-Tirmidzi no. 1502, Ibnu Majah no. 3144 dengan sanad yang dishahihkan oleh An-Nawawi rahimahullahu dalam Al-Majmu’, 8/227)

Dalam hadits ini ada empat perkara yang dilarang pada hewan qurban menurut kesepakatan ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Qudamah rahimahullahu dalam Syarhul Kabir (5/175) dan An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (8/231, cet. Dar Ihya`ut Turats Al-‘Arabi). Keempat perkara tersebut adalah:

  1.  الْعَوْرَاءُ yaitu hewan yang telah rusak dan memutih matanya, dengan kerusakan yang jelas.
  2. الْمَرِيْضُ yaitu hewan yang nampak sakitnya, dan dapat diketahui dengan dua cara:
    – keadaan penyakitnya yang dinilai sangat nampak, seperti tha’un, kudis, dan semisalnya.
    – pengaruh penyakit yang nampak pada hewan tersebut, seperti kehilangan nafsu makan, cepat lelah, dan semisalnya.
  3. الْعَرْجَاءُ yaitu hewan yang pincang dan nampak kepincangannya. Ketentuannya adalah dia tidak bisa berjalan bersama dengan hewan-hewan yang sehat sehingga selalu tertinggal. Adapun hewan yang pincang namun masih dapat berjalan normal bersama kawanannya maka tidak mengapa.
  4. الْعَجْفَاءُ dalam riwayat lain الْكَسِيْرَةُ yaitu hewan yang telah tua usianya, pada saat yang bersamaan dia tidak memiliki sumsum. Ada dua persyaratan yang disebutkan dalam hadits ini:
    الْعَجْفَاءُ yaitu yang kurus
    لاَ تُنْقِي yaitu yang tidak bersumsum.

2. Menurut pendapat yang rajih
Ada beberapa cacat yang masih diperbincangkan para ulama, namun yang rajih adalah tidak boleh ada pada hewan qurban. Di antaranya adalah (lihat Asy-Syarhul Mumti’, 3/394-397):

  1.  الْعَمْيَاءُ yaitu hewan yang sudah buta kedua matanya, walaupun tidak jelas kebutaannya. Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (8/231) bahkan menukilkan kesepakatan ulama tentang masalah ini.
  2.   الْمُغْمَى عَلَيْهَا yaitu hewan yang jatuh dari atas lalu pingsan. Selama dia dalam kondisi pingsan maka tidak sah, sebab dia termasuk hewan yang jelas sakitnya.
  3. الْمَبْشُومَةُ yaitu kambing yang membesar perutnya karena banyak makan kurma. Dia tidak bisa buang angin dan tidak diketahui keselamatannya dari kematian kecuali bila dia buang air besar. Maka dia termasuk hewan yang jelas sakitnya selama belum buang air besar.
  4. مَقْطُوعَةُ الْقَوَائِمِ yaitu hewan yang terputus salah satu tangan/kakinya atau bahkan seluruhnya. Sebab kondisinya lebih parah daripada hewan yang pincang (الْعَرْجَاءُ).
  5. الزُّمْنَى yaitu hewan yang tidak bisa berjalan sama sekali.

Cacat yang tidak memengaruhi keabsahan hewan qurban

Di antaranya ada yang tidak berpengaruh sama sekali karena sangat sedikit atau ringan sehingga dimaafkan. Ada pula yang mengurangi keafdhalannya namun masih sah untuk dijadikan hewan qurban. Di antaranya:

  1.  الْحَتْمَى yaitu hewan yang telah ompong giginya.
  2. الْجَدَّاءُ yaitu hewan yang telah kering kantong susunya, yakni tidak bisa lagi mengeluarkan air susu.
  3. الْعَضْبَاءُ yaitu hewan yang hilang mayoritas telinga atau tanduknya, baik itu memanjang atau melebar.
    Adapun hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
    نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُضَحَّى بِأَعْضَبِ الْقَرْنِ وَاْلأُذُنِ
    “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berqurban dengan hewan yang hilang mayoritas tanduk dan telinganya.”
    Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2805), At-Tirmidzi (no. 1509), Ibnu Majah (no. 3145), dan yang lainnya, dan didhaifkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Tahqiq Al-Mustadrak (4/350) karena dalam sanadnya ada Jurai bin Kulaib As-Sadusi. Ibnul Madini berkata: “Dia majhul.” Abu Hatim berkata: “(Seorang) syaikh, haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.
  4. الْبَتْرَاءُ yaitu hewan yang tidak berekor, baik itu karena asal penciptaannya (memang asalnya seperti itu) atau karena dipotong.
  5. الْجَمَّاءُ yaitu hewan yang memang asalnya tidak bertanduk.
  6. الْخَصِيُّ yaitu hewan yang dikebiri.
  7. الْمُقَابَلَةُ yaitu hewan yang terputus ujung telinganya.
  8. الْمُدَابَرَةُ yaitu hewan yang terputus bagian belakang telinganya.
  9. الشَرْقَاءُ yaitu hewan yang pecah telinganya.
  10. الْخَرْقَاءُ yaitu hewan yang telinganya berlubang.
    Adapun hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang berisikan larangan dari al-muqabalah, al-mudabarah, asy-syarqa`, dan al-kharqa`, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 1503), Abu Dawud (no. 2804), Ibnu Majah (no. 3142), adalah hadits yang dhaif. Didhaifkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Tahqiq Al-Mustadrak (4/350), karena dalam sanadnya ada Syuraih bin Nu’man. Abu Hatim berkata: “Mirip orang majhul, haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.” Al-Bukhari berkata tentang hadits ini: “Tidak shahih secara marfu’.”

21

Cacat yang disebutkan di atas dan yang semisalnya dinilai tidak berpengaruh karena dua alasan:

  1. Tidak ada dalil shahih yang melarangnya. Sedangkan hukum asal pada hewan qurban adalah sah hingga ada dalil shahih yang melarangnya.
  2. Dalil yang melarangnya adalah dhaif.

Wallahul muwaffiq.

Syarat-Syarat Hewan Kurban Dan Hukum Yang Berkaitan Dengannya

Hewan Kurban atau dalam bahasa Arabnya dinamakan Udhiyyah adalah hewan (sep:kambing dll) yang disembelih setelah selesai melakukan shalat I’edul Adha semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah,sebagaimana difirmankan oleh Allah ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Katakanlah sesungguhnya shalatku,sembelihanku,serta hidup dan matiku untuk Allah pemilik semesta Alam”(al-An’am:162).

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum melakukan penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu,akan tetapi pendapat yang kuat mengatakan wajib,hal ini berdasarkan dalil-dalil yang shahih yang menunjukkan hal ini,di antaranya adalah sabda Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan lalu dia tidak menyembelih(hewan kurban) maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami”.(HR.Ahmad (I/321) dengan sanad hasan).

Di dalam hadits yang mulia ini Rasulullah melarang seorang yang punya kemampuan lalu dia tidak menyembelih hewan kurban untuk mendatangi tempat shalat beliau,ini menunjukkan bahwa orang tersebut telah meninggalkan sesuatu yang wajib,seolah-olah beliau mengatakan bahwa tidak ada gunanya melakukan amal ibadah kalau dia meninggalkan perkara wajib ini.

Nah itulah yang dapat kami sampaikan mengenai Kurban dengan kambing. Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

23
Informasi dan Pemesanan :
Whatsapp : +6281335680602
TELPON/SMS : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-