Hakikat Kurban

Hakikat Kurban

hakikat
Kepada Allah kita sampaikan segenap pernyataan syukur, sebab hanya dengan izin taufiq, hidayah, maghfirah dan inayah-Nya kita bisa melakukan segala sesuatu; terlebih-lebih lagi untuk melaksanakan keta’atan atas apa-apa yang diperintahkan dan meninggalkan segala apa yang dilarang.

Shalawat dan salam patut kita hantarkan sebanyak-banyaknya bagi hamba yang telah dijadikan Allah sebagai rahmat untuk semesta alam ini; Muhammad Rasulullah SAW; lantaran melalui beliaulah kita mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang baik dan yang buruk; Pengetahuan tentang segala sesuatu yang akan menyelamatkan dan membahagiakan kita di dunia dan di akhirat kelak. Mudah-mudahan shalawat dan salam yang senantiasa kita lafazkan tersebut akan menjadi syafaat; menjadi penolong bagi kita untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah; Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin ya rabbal ‘alamiin.

Sebagaimana yang telah kita maklumi bersama, maka dalam beberapa hari mendatang kita akan kembali melaksanakan perintah Allah yang berawal dari perintah-Nya kepada Ibrahim a.s, yakni menyembelih hewan-hewan kurban setelah sebelumnya kita menunaikan sholat idul Adha atau Idul Qurban sebagai penjabaran dari apa yang dititahkan Allah di dalam kitab-Nya; surah Al-Kautsar ayat 1-3:
”Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah orang yang terputus (dari nikmat Allah).”(Q.S.Al Kautsar 1-3)

Dalam kesempatan ini saya ingin mengingatkan kembali, bahwa bagi orang-orang yang memiliki kemampuan materi atau keuangan yang cukup, perintah berkurban tersebut adalah perintah yang wajib ditunaikan setiap tahunnya. Artinya; perintah tersebut tidak hanya diwajibkan sekali di dalam hidup, tetapi wajib setiap tahun bagi siapa saja yang memiliki harta atau materi untuk menyembelih kurban. Sebab ada yang beranggapan, bahwa kewajiban menyembelih hewan kurban itu hanya sekali saja dalam hidupnya, sementara yang lainnya hukumnya adalah sunat.

Syaikh Abdullah Al-Ghazali menjelaskan, bahwa kewajiban melaksanakan kurban setiap tahun itu tersirat dan tersurat dari perbuatan Rasulullah SAW ketika melaksanakan penyembelihan hewan kurban pada saat beliau selesai melaksanakan haji wada’ atau haji perpisahan; Bahwa dalam rangka menyikapi dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah kepada beliau; Setelah selesai melontar jumrah Rasulullah SAW kembali ke kemah beliau di Mina dan langsung menyembelih 63 ekor unta dengan maksud; setiap satu ekor unta adalah untuk satu tahun umur yang beliau jalani. Kemudian berdasarkan keadaan inilah banyak ulama yang menyatakan, bahwa orang yang mampu berkewajiban menyembelih kurban setiap tahunnya. Bahkan jika ia benar-benar berkemampuan, maka patutlah membayar hutangnya kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban sebanyak umur yang telah dilaluinya, dimana pada waktu itu ia belum memiliki kemampuan untuk berkurban; sebagaimana yang telah dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Lepas dari persoalan di atas, maka perintah berkurban yang mengacu pada sejarah Ibrahim a.s tersebut hanyalah merupakan isyarat dari Allah SWT untuk orang-orang yang beriman; Baik yang mampu secara materi maupun bagi yang tidak mampu. Bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah wajib berkurban dan mengorbankan segala sesuatu yang ada pada dirinya dalam rangka mengabdi kepada Allah yang telah menciptakannya. Sebab sebagaimana yang telah kita maklumi, bahwa tujuan utama diciptakannya manusia adalah semata-mata untuk mengabdi kepada Allah. Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi kewajibannya sebagai hamba Allah, maka orang yang beriman harus mampu membuang dan mencampakkan jauh-jauh sifat egoisme atau sifat mementingkan diri sendiri untuk memenuhi hak-hak Allah. Baik yang langsung berhubungan dengan Allah (hamblum-minallah) maupun melalui kepentingan orang lain (hablum-minannaas), yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Dan hal inilah yang sesungguhnya menjadi inti atau hakikat dari pengorbanan yang dilaksanakan oleh keluarga Ibrahim a.s

Dalam waktu yang singkat ini memang tak dapat kita uraikan secara lebih rinci tentang hakikat kurban yang diperintahkan. Akan tetapi barangkali dapat kita renungkan bersama; Bagaimana keikhlasan dan kerelaan Ibrahim mengurbankan putra tersayangnya untuk kepentingan Allah SWT. Lihat pula bagaimana ikhlasnya sang isteri yang bernama Hajar melepaskan putra tersayangnya untuk kepentingan Ibrahim yang diperintahkan Tuhan, sehingga pada saat ia mendapat informasi dari Iblis laknatullah, yang menyamar sebagai seorang laki-laki untuk memberitahukan perbuatan Ibrahim kepada Ismail, Hajar dengan tegas berkarta: “Biarlah ia melakukan itu, jika hal itu memang diperintah oleh Tuhan kepadanya.” Dan simak pula sikap Ismail yang sabar ketika menanggapi permintaan ayahnya, agar dirinya mau disembelih untuk memenuhi perintah Tuhannya Ibrahim. Ismail yang baru berangkat remaja menjawab sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran:
”Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai pada umur sanggup untuk berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim pun berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat di dalam mimpiku, bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk sebagai orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ash-Shaffat: 102)

Menyimak kondisi-kondisi tersebut, maka mari kita bertanya pada diri masing-masing; Sanggupkah kita melakukan hal itu.

Menyimak kondisi dan kepentingan hidup yang kita hadapi dimasa sekarang ini, rasanya tentulah sulit bagi kita untuk berkorban sebagaimana yang dicontohkan Allah melalui keteladanan keluarga Ibrahim. Dalam hal ini jangankan untuk hal-hal yang bersifat hablum-minannaas, bahkan untuk urusan yang langsung berhubungan dengan Allah atau hablum-minallahpun banyak di antara kita yang masih enggan untuk melakukan-nya. Sebab kadang-kadang ketika muazzin sudah mengumandangkan azan, mengundang kita kepada Allah, masih banyak di antara kita yang enggan meninggalkan suatu pekerjaan atau kegiatan dunia yang ketika itu tengh asyik kita hadapi. Padahal apa yang kita lakukan itu tidaklah begitu penting dan masih bisa ditunda untuk menyelesaikannya, sementara sholat di awal waktu apalagi jika berjamaah di masjid atau musholla, tentu sudah kita ketahui keutamaannya.

Keteladanan pengorbanan keluarga Ibrahim hanyalah salah satu dari bagian-bagian pengorbanan yang wajib kita tunaikan dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Kalau kita tidak mampu berkorban dengan hewan kurban pada waktu-waktu yang telah ditetapkan Allah, maka masih banyak cara dan waktu lain yang dapat kita perbuat untuk berkurban kepada Allah. Dan dalam hal inilah Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya:
”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan yang kamu milikilah yang dapat mecapainya…..” (Q.S. Al-Hajj: 37)

Sesungguhnya di sepanjang umur kita lalui, maka kita terus menerus mendapat rahmat dan nikmat Allah. Bahkan yang kita sebut sebagai musibah; penyakit dan lain sebagainya itu adalah juga rahmat dan nikmat yang kita terima dari Allah dari sisi yang lain. Oleh karenanya memang benarlah apa yang dititahkan Allah, tak seorangpun yang mampu menghitung nikmat Allah. Bahkan nabi dan rasul-Nya sekalipun sebagaimana pernyataan Al-Quran surah An-Nahl ayat 18:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Oleh hal yang demikian itulah, lebih-lebih lagi kita memang diciptakan untuk hanya menyembah dan mengabdi kepada Allah, maka perintah fasholli li-lirob-bika wan-har hendaklah diaplikasikan dengan pemahaman sembahlahlah atau mengabdilah kepada Allah serta berkurbanlah untuk-Nya dengan segenap dan sebatas kemampuan yang dimiliki, sebagaimana yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya surah Al-Maa-idah ayat 35 :
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mana saja untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berkurbanlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Inilah beberapa hal yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan yang pendek ini. Mudah-mudahan dapat dipahami dan bersama-sama kita merealisasikannya dalam kehidupan yang kita jalani. Semoga Allah meridhoi setiap langkah dan perbuatan yang kita jalani.

Untuk Pemesanan Qurban dan Aqiqah: 085853444472

Leave a Reply

Your email address will not be published.