Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

HUKUM AQIQAH SETELAH DEWASA

Bagaimana hukum aqiqah setelah dewasa atau sudah baligh ? Aqiqah merupakan suatu penebusan anak ketika lahir ke dunia dengan syarat dan ketentuan dalam Islam. Disembelihkan hewan ternak berupa kambing atau domba dan dicukur rambutnya.

22 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa 1

Melaksanakan aqiqah hukumnya adalah sunnah muakad menurut pendapat mayoritas ulama. Perintah melaksanakan aqiqah ditujukan kepada orangtua yakni ayah yang menanggung nafkah sang anak. Karena itu, tidak wajib bagi sang ibu untuk mengaqiqahi sang anak.

Apabila ketika sang bayi lahir dan belum ditunaikan aqiqah, sunnah melaksanakan aqiqah belumlah gugur. Meskipun sang anak sudah mencapai usia baligh. Apabila orangtua memiliki kemampuan melaksanakan aqiqah, maka dia dianjurkan untuk memberikan aqiqah bagi sang anak yang belum di aqiqahi tersebut.

Bagaimana bila sang orangtua belum mengaqiqahi anaknya dan sang anak melakukan aqiqah untuk diri sendiri ? Dalam hal ini, ulama berbeda pandangan dan pendapat. Terdapat dua pendapat fuqaha dalam masalah aqiqah setelah dewasa atau telah baligh.

Pertama, pendapat beberapa tabi’in, yaitu ‘Atha`, Al-Hasan Al-Bashri, dan Ibnu Sirin, juga pendapat Imam Syafi’i, Imam Al-Qaffal asy-Syasyi (mazhab Syafi’i), dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Mereka mengatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan (mustahab) mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Dalilnya adalah hadis riwayat Anas RA bahwa Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri setelah nubuwwah (diangkat sebagai nabi). (HR Baihaqi; As-Sunan Al-Kubra, 9/300; Mushannaf Abdur Razaq, no 7960; Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Ausath no 1006; Thahawi dalam Musykil Al-Atsar no 883).

Kedua, pendapat Malikiyah dan riwayat lain dari Imam Ahmad, yang menyatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, tidak mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Alasannya aqiqah itu disyariatkan bagi ayah, bukan bagi anak. Jadi si anak tidak perlu mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Selain itu, hadis Anas RA yang menjelaskan Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri dinilai dhaif sehingga tidak layak menjadi dalil. (Hisamuddin ‘Afanah, Ahkamul Aqiqah, hlm. 59; Al-Mufashshal fi Ahkam al-Aqiqah, hlm.137; Maryam Ibrahim Hindi, Al-’Aqiqah fi Al-Fiqh Al-Islami, hlm. 101; M. Adib Kalkul, Ahkam al-Udhiyyah wa Al-’Aqiqah wa At-Tadzkiyyah, hlm. 44).

Berdasarkan penjelasan diatas, nampak sumber perbedaan pendapat yang utama mengenai hukum aqiqah setelah dewasa adalah perbedaan penilaian terhadap hadis Anas RA. Sebagian ulama melemahkan hadis tersebut, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (Fathul Bari, 12/12), Imam Ibnu Abdil Barr (Al-Istidzkar, 15/376), Imam Dzahabi (Mizan Al-I’tidal, 2/500), Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah (Tuhfatul Wadud, hlm. 88), dan Imam Nawawi (Al-Majmu’, 8/432). Imam Nawawi berkata,”Hadis ini hadis batil,” karena menurut beliau di antara periwayat hadisnya terdapat Abdullah bin Muharrir yang disepakati kelemahannya. (Al-Majmu’, 8/432).

22 Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

Namun, Nashiruddin Al-Albani telah meneliti ulang hadis tersebut dan menilainya sebagai hadis sahih. (As-Silsilah al-Shahihah, no 2726). Menurut Al-Albani, hadis Anas RA ternyata mempunyai dua isnad (jalur periwayatan). Pertama, dari Abdullah bin Muharrir, dari Qatadah, dari Anas RA. Jalur inilah yang dinilai lemah karena ada Abdullah bin Muharrir. Kedua, dari Al-Haitsam bin Jamil, dari Abdullah bin Al-Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas RA. Jalur kedua ini oleh Al-Albani dianggap jalur periwayatan yang baik (isnaduhu hasan), sejalan dengan penilaian Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id (4/59).

Terkait penilaian sanad hadis, Imam Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan lemahnya satu sanad dari suatu hadis, tidak berarti hadis itu lemah secara mutlak. Sebab bisa jadi hadis itu mempunyai sanad lain, kecuali jika ahli hadis menyatakan hadis itu tidak diriwayatkan kecuali melalui satu sanad saja. (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, 1/345).

Berdasarkan ini, kami cenderung pada pendapat pertama, yaitu orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan mengaqiqahi dirinya sendiri setelah dewasa. Sebab dalil yang mendasarinya (hadis Anas RA), merupakan hadis sahih, mengingat ada jalur periwayatan lain yang sahih. Wallahu a’lam

Sahabat Aqiqah Berkah yang dirahmati Allah, semoga pengetahuan mengenai hukum aqiqah setelah dewasa diatas dapat menjadi pencerah dan bermanfaat untuk saudara muslim semua. Bagi yang ingin beraqiqah untuk disalurkan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa, silahkan hubungi Aqiqah Berkah, karena Aqiqah Berkah akan senantiasa membantu kelancaran ibadah aqiqah Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.