Jual Kambing Qurban Murah Bandung

Jual Kambing Qurban Murah Bandung

Sebelum kami mengulas mengenai harga kambing qurban bandung. Kami akan mengulas sedikit mengenai Kurban Sebagai Simbol dalam Ajaran Islam, setelah itu langsung dilanjut dengan pembahasan haarga kambing di bandung. Cekidot….

Kurban sebagai Simbol dalam Ajaran Islam

Kurban merupakan salah satu aspek Islam sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya keikhlasan dan kebutuhan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada tuhannya. Adapun dalam arti yang lebih mendalam, kurban mengingatkan seorang Mukmin kepada satu peristiwa yang melukiskan satu kesediaan memberi kurban kepada yang lebih tinggi dan lebih besar. Bukan semata-mata pengorbanan kesenangan dan harta, tetapi pengorbanan sesuatu yang amat dicintai di dunia ini. Pengorbanan jiwa untuk sesuatu nilai yang lebih dari itu, yakni peristiwa pengorbanan yang diperintahkan Allah kepada Ibrahim dan anaknya, Ismail.

Ketika darah merah segar terpancar dari leher hewan kurban, semestinya setiap Muslim merenungkan kembali tentang hakikat kurban. Dengan demikian, momentum (peristiwa sejarah) yang bernilai mulia ini, tidak sekadar menjadi ritus (upacara) tanpa makna atau tradisi tanpa arti. Apabila hakikat kurban ini tidak tertangkap, jadilah ia sesuatu yang mubazir bahkan sia-sia. Semua prosedur dan teknik dalam melakukan ritual ini, termasuk maknanya, harus dipahami melampaui formalitasnya.

Apabila setiap Muslim mengenang kembali sikap tulus Ibrahim yang mengorbankan anak tercintanya, Ismail, dan disambut keikhlasan hati sang putra, terpancarlah sebuah teladan utama dalam kehidupan umat manusia. Suatu sikap hidup yang menyadari sepenuhnya keberadaan dirinya di dunia. Secara manusiawi, amat berat perintah yang diemban keduanya.

Peristiwa tersebut menggambarkan suatu kesabaran yang tinggi dari seorang Ibrahim yang sedang diuji Allah. Ibrahim harus bisa memilih antara cintanya kepada Allah atau cinta kepada anaknya. Ia harus memilih salah satu dari dua pilihan, yang kedua pilihan tersebut merupakan ujian baginya (cinta yang merupakan hidupnya atau kebenaran yang merupakan agamanya). Dan hal inilah yang dapat dilihat kesadaran tentang esensi ibadah seseorang.
Di dalam melaksanakan rites de passage (tamasya ritual) ibadah haji, yang salah satunya adalah melakukan proses penyembelihankurban, di sana akan dijumpai banyak simbol. Simbol-simbol inilah yang akan dibahas dalam artikel ini.

Simbol dalam Agama

Pengertian Simbol

Dalam setiap berpikir dan berkomunikasi dengan sesama, kita selalu menggunakan tanda. Bahasa lisan adalah salah satu dari kompleksitas tanda yang digunakan manusia. Ilmu yang membahas tentang tanda adalah semiotika atau semiologi, yang berasal dari bahasa Yunani, semeion, yang berarti tanda. Dunia manusia adalah dunia tanda.

Menurut Charles Sanders Pierce, tanda bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Dinamakan ikon jika hubungan antara tanda dan ditandai memiliki kemiripan. Disebut indeks karenaadanya kedekatan eksistensi antara tanda dan objek yang diacunya.

Dan yang ketiga simbol ini cenderung bersifat abstrak yang disepakati berdasarkan konvensi melalui proses panjang.
Meskipun bisa dibedakan, ketiga sistem tanda di atas tidak dapat dipisahkan secara mutlak. Dalam wacana ketuhanan, tampaknya bahasa simbol yang lebih menonjol. Tentang bahasa simbol dalam wacana ketuhanan, banyak pakar telah membahasnya.

Menurut Paul Tillich (w. 1965), ada enam karakter bahasa simbol. Empat di antaranya yang sangat penting diungkapkan adalah sebagai berikut:

  1. Simbol sebagai sistem tanda pada umumnya. Simbol menunjuk pada realitas yang berdiri di luar dirinya.
  2. Simbol tidak bersifat netral, melainkan selalu berpartisipasi ataupun terkait langsung dengan objek yang disimbolkan.
  3. Simbol yang mengungkapkan sebuah realitas yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata karena realitas itu begitu kompleks, agung, dan mengandung misteri.
  4. Simbol mampu membimbing dan membuka jiwa kita untuk menangkap realitas di luar diri kita yang tidak bisa diterangkan dengan bahasa sains.

Pengertian kata “simbol” secara etimologis diambil dalam bahasa Yunani, symbolos, yang berarti tanda, ciri, lambang. Sedangkan yang diambil dari kata kerja bahasa Yunani, sumballo, berarti berwawancara, merenungkan, memperbandingkan, bertemu, melempar menjadi satu, menyatukan dua hal menjadi satu.

Bagi manusia, membuat simbol adalah aktivitas primer. Menciptakan simbol merupakan proses berpikir yang fundamental dan berlangsung sepanjang waktu. Pendapat seperti ini sukar dibantah kebenarannya. Buktinya, jika mau menyadari hal-hal di sekeliling kita sebentar saja, akan kita jumpai beraneka ragam simbol yang mengelilingi kita. Sebagai orang modern, kita tidak bisa lepas dari peranan simbol. Kebutuhan kita akan informasi dari media massa adalah salah satu bukti keterikatan kita akan simbol, karena susunan huruf yang ada adalah simbol untuk bahasa, sementara bahasa itu sendiri adalah simbol komunikasi manusia dalam interaksi sosialnya.

Pendek kata, sepanjang hidupnya manusia bergulat dengan simbol dan tanda. Simbol merupakan bagian integral dari hidup dan kehidupan manusia di planet bumi ini. Ernst Cassirer menyebut manusia sebagai makhluk “bersimbol” dalam karyanya yang berjudul Die Philosophie Der Symbolischen Formen (filsafat tentang bentuk-bentuk simbolik). Cassirer menempatkan simbol sebagai persoalan fundamental dalam hal konseptualisasi. Representasi simbolik merupakan fungsi esensial dari kesadaran manusia dan hadir tidak hanya dalam struktur sains, melainkan juga dalam mitos, agama, bahasa, seni, dan sejarah. Pada intinya manusia adalah binatang yang melakukan proses simbolisasi (a symbolizing animal).

Ada dua pendapat atau pemikiran ontologis tentang simbol. Di satu pihak ada yang menyatakan bahwa simbol adalah suatu hal yang imanen, dalam arti yang disatukan dalam simbol adalah bagian atau hal-hal yang di dalam manusia saja atau hal-hal yang terbatas dalam dimensi horisontal. Di lain pihak ada pemikiran yang berdasarkan keyakinan bahwa simbol menunjukkan kepada yang transenden, bahwa dalam simbolisasi oleh manusia selalu terdapat jawaban implisit manusia dalam dialog dengan yang lain. Jadi, menurut pemikiran ini, simbol juga bisa berdimensi metafisik.

Pembahasan mengenai sistem simbol dan tanda di atas akan lebih jelas relevansinya apabila pembahasannya pada persoalan keimanan dan ketuhanan. Setiap manusia merasa kenal Tuhan sehingga karenanya manusia menyebut nama dan sifat-sifatnya ketika berdoa atau ketika dalam situasi yang membahayakan. Sedangkan kata Tuhan (God), Allah, ataupun sebutan lain, semuanya itu tetap bersifat simbolik. Yang harus dibedakan adalah antara “nama” dan “yang diberi nama”, “simbol” dan “the thing symbolized”, “predikat” dan “substansi”, dan seterusnya.

Meskipun dalam tradisi keagamaan banyak nama Tuhan serta tempat dan orang yang disucikan, pada dasarnya tak suatu apa pun yang memiliki kesucian absolut kecuali Tuhan. Misalnya, Kabah bisa saja dikatakan suci tetapi kesuciannya tidak intrinsik. Oleh karenanya, jika seorang Muslim menyucikan Kabah sejajar dengan sikap menyucikan Tuhan, ia telah jatuh menjadi musyrik, sebab keyakinannya tidak jauh berbeda dari keyakinan orang Arab jahilliyah pra-Islam yang juga menyucikan patung. Tidak mengherankan jika bukti-bukti tentang adanya Tuhan itu ada hubungannnya dengan pengalaman manusia, sebab manusialah yang dapat mengetahui adanya Allah. Oleh karena itu, bukti tentang adanya Tuhan bukan hanya kenyataan bahwa alam itu ada, akan tetapi juga apa yang dapat dibuktikan oleh pengetahuan modern.

Di sinilah semiotika ketika membicarakan Tuhan setidaknya terbagi menjadi tiga mazhab. Pertama, mazhab materialisme- positivisme, yaitu kelompok pemikiran yang menegaskan bahwa ungkapan tentang Tuhan tidak memiliki makna. Kedua, mereka yang berpandangan bahwa kitab suci benar-benar merupakan kalam Tuhan, meskipun di sana terdapat banyak ungkapan simbolis dan metaforis, sehingga untuk memahami bahasa agama diperlukan interpretasi agar pesan yang dikandungnya bisa ditangkap secara benar.

Ketiga, pengenalan manusia yang paling tinggi tentang Tuhannya hanyalah bisa dijangkau dengan metabahasa, yaitu apa yang oleh kaum mistik disebut “the language of silent”.

Upacara Kurban sebagai Simbol Keagamaan

Kehidupan di alam semesta, dalam kesatuan sosial maupun sebagai individu, tidak dapat berlangsung kalau tidak dipelihara dan dirangsang dengan ritus-ritus yang menjamin kesesuaian dengan ketentuan-ketentuan kosmos atau ilahi. Begitulah pemikiran manusia-manusia religius, ritus-ritus inisiasi dipraktikkan di mana-mana. Mereka mengucilkan situasi-situasi kritis dan marginal dalam hidup individu dan kreatif.

Persiapan-persiapan sebelum kelahiran, upacara-upacara sekitar kelahiran, inisiasi pemberian nama, waktu pubertas, perkawinan, ketika sakit, dan upacara-upacara pemakaman diselenggarakan di seluruh dunia untuk mencegah bahaya-bahaya yang tersembunyi dalam perpindahan dari satu tahap kehidupan ke tahap yang lain dan untuk menjamin kontak yang sangat diperlukan dengan sang ilahi.

Tidak hanya kejadian-kejadian sangat penting dalam hidup, tetapi juga kegiatan-kegiatan kerja yang rutin serta permainan memeroleh kemajuan dan kekuatan dari ritus-ritus yang mengiringinya. Sebagai contoh, pembuatan perkakas, pembangunan rumah, pembuatan perahu, pengolahan tanah, berburu dan memancing, mengadakan perang; semua memerlukan inkarnasi, pengilahian, dan dedikasi.

Dari semua ritus ini, upacara kurban mempunyai tempat utama karena dengannya manusia religius mengadakan persembahan diri kepada dewa lewat satu pemberian. Hubungan serta komunikasi yang erat antara dia dengan dewa ditetapkan lewat keikutsertaan dan diambil bagian dalam persembahan yang disucikan. Oleh karena itu, tidak perlu diragukan bahwa upacara kurban tampak sebagai suatu ritus religius yang penting dan bagi banyak suku bangsa; kurban merupakan tindakan yang religius.

Upacara kurban dapat digambarkan sebagai persembahan ritual berupa makanan atau minuman atau binatang sebagai konsumsi bagi suatu makhluk supernatural. Berbeda dengan persembahan-persembahan ritual kepada penguasa-penguasa manusiawi dan juga dengan persembahan-persembahan lain kepada makhluk supernatural yang bukan berupa makanan, misalnya pembaktian pekerjaan seseorang bagi pelayanan Tuhan, penyucian hewan sederhana, sebagaimana diteliti oleh C. Levi-Strauss:
Dalam setiap masyarakat, komunikasi bekerja dalam tiga taraf yang berbeda: komunikasi para perempuan, komunikasi harta benda dan pelayanan, komunikasi pesan-pesan. Oleh karena itu, studi kekerabatan, ilmu ekonomi, dan linguistik mempunyai jenis-jenis problem yang sama pada taraf-taraf strategis yang berbeda dan sesungguhnya menyangkut bidang yang sama.

Begitu juga upacara kurban merupakan ilustrasi yang bagus untuk suatu bentuk komunikasi nonverbal karena mencakup pertukaran barang dan jasa pada taraf religius. Upacara kurban secara ritual adalah benar-benar suatu bentuk pertukaran manusia dan makhluk adikodrati; manusia pengorban memberikan barang-barangnya dan penerima illahi bereaksi. Segi persembahan dalam upacara adalah yang terpenting.

Dalam antropologi sosial, persembahan secara tidak langsung mengimplikasikan suatu pertukaran barang dan jasa. Meskipun dianggap muncul dari kehendak mereka, persembahan merupakan kewajiban dari tingkah laku sosial. Persembahan-persembahan dilakukan dengan pengharapan yang jelas bahwa ganjaran balasan akan diberikan lewat sesuatu cara.

Dalam lingkup upacara, bisa dibedakan menjadi dua macam kategori yang terpisah satu sama lain: upacara dan ritual. Dalam Buddhisme, makna upacara berarti setiap organisasi kompleks apa pun dari kegiatan manusia yang tidak hanya bersifat sekadar teknis ataupun rekreasional dan berkaitan dengan penggunaan cara-cara tindakan yang ekspresif dari hubungan sosial. Segala cara tingkah laku yang demikian itu, entah yang sudah lazim atau sesuai dengan mode. Goody mendefinisikan ritual sebagai suatu kategori adat perilaku yang dibakukan, di mana hubungan antara sarana-sarana dengan tujuan tidak bersifat intrinsik, dengan kata lain sifatnya irasional atau nonrasional.

Susanne longer memperlihatkan bahwa ritual merupakan ungkapan yang lebih bersifat logis daripada hanya bersifat psikologis. Ritual memperlihatkan tatanan atas simbol-simbol yang diobjekkan. Simbol-simbol ini mengungkapkan perilaku dan perasaan, serta membentuk disposisi pribadi dari para pemuja mengikuti modelnya masing-masing. Pengobjekan ini penting untuk kelanjutan dan kebersamaan dalam kelompok keagamaan.

Contoh upacara kurban ada pada penduduk primitif. Upacara kurban tersebut adalah sebuah ibadah kepada leluhur di mana hubungan antara yang hidup dengan yang mati diungkapkan. Di antara penduduk Mende di Sierra Leone, semua ikut ambil bagian dalam upacara ini. Upacara dilakukan di tempat doa yang terletak pada semak-semak pohon. Di hadapan semua anggota keluarga, diletakkan seekor unggas dan beras. Kemudian mereka semua meletakkan makanan dan setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing. Kalau makanan yang dipersembahkan kepada leluhur sudah dimakan burung-burung atau binatang yang lewat, maka itulah tanda bahwa pengorbanan sudah diterima. Kalau tidak, upacara harus diulang pada hari berikutnya. Dasar kepercayaan dalam pengorbanan seperti ini adalah bahwa roh-roh leluhur mengharapkan bagian mereka dari kemakmuran saudara-saudaranya yang masih hidup dan dari rumah tangga mereka.
Lain halnya dengan upacara kurban pada umat Islam. Orang Islam yang mampu diwajibkan untuk mengeluarkan kurban setiap tahun, seekor domba untuk setiap orang atau sapi dan unta untuk tujuh orang. Binatang kurban ini harus disembelih pada Hari Raya Kurban atau selama tiga hari sesudahnya. Di luar waktu tersebut tidak sah. Penyembelihannya boleh diwakilkan dan dagingnya dibagikan untuk fakir miskin. Kemudian mengenai pengorbanan yang akan diterima adalah pengorbanan yang dilandasi dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya.

Penyembelihan hewan kurban tersebut sebagai tradisi keagamaan yang dimulai sejak Nabi Ibrahim dan dikukuhkan dalam syariat Nabi Muhammad; merupakan suatu qurbah (sarana pendekatan diri kepada Allah). Untuk membuktikan kebaktian dan kepatuhan kita kepada petunjuk-Nya, yaitu memantapkan tauhid kita kepada-Nya dan ikut memperhatikan kemaslahatan masyarakat dengan kesediaan berkurban harta dan tenaga sampai kepada jiwa apabila hal itu diperlukan untuk terwujudnya kemaslahatan bersama.

Ajaran Islam tidak melarang sama sekali penyembelihan hewan untuk maksud ibadah, tetapi di sini ditekankan bahwa ibadah itu semata-mata untuk Allah saja sebagai konsekuensi kepercayaan tauhid. Penyembelihan hewan kurban itu dimaksudkan bukan untuk disia-siakan begitu saja.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Kota Bandung

Untuk sobat semua yang tinggal di Bandung dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2016 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 24-29 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2016 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2016 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2016 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota semarang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Nilai tambah hewan qurban Aqiqah Berkah
– Syarat hewan qurban sesuai syar’i
– Umur hewan telah mencukupi (Nishab)
– Dipelihara secara baik dan tidak ber-aib
– Ternak berasal dari daerah bebas penyakit menular
– Ternak berasal dari penampungan yang jelas
– Ternak mendapatkan perlakuan yang layak

Silahkan bagi sahabat Aqiqah Berkah yang ada di wilayah Bandung dan sekitarnya yang ingin memesan penawaran paket qurban 2016 dari kami. Karena kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra anda yang beramanah untuk membantu kelancaran ibadah qurban anda. Pesan paket qurban yang anda kehendaki mulai dari sekarang, untuk mendapatkan harga yang ekonomis. Berikut kontak kami yang dapat anda hubungi.

TELPON /SMS :

0858-5344-4472

—___—Aqiqah Berkah Siap Membantu Pelaksanaan Qurban dan Aqiqah Anda—___—

Leave a Reply

Your email address will not be published.