Kambing Kurban di Cirebon

By September 1, 2016 Berita No Comments

Kambing Kurban di Cirebon

Para sahabat yang berbahagia kini sebelum kami mengulas mengenai kambing qurban di Cirebon. Kami akan mengulas dahulu mengenai perempuan belum menjadi subjek dalam sejarah qurban. Simak ulasan berikut ini…

sapi-qurban-sehat
Tema qurban sering kali dibicarakan dalam berbagai forum. Bedanya dengan yang dikaji di sini adalah upaya mengaitkan tema qurban ini dengan perempuan yang sering kali menjadi korban dalam berbagai tindak kekerasan. Kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual. Tema ini menjadi lebih aktual manakala disajikan bersamaan dengan momen Idul Adha atau Idul Qurban. Kajian tentang qurban selama ini hanya dikaitkan dengan pengurbanan yang dilakukan Ibrahim AS terhadap Ismail. Sedikit sekali atau bahkan tidak ditemukan adanya perspektif perempuan dalam memaknai ritual Haji atau Idul Qurban.

Perempuan Belum Menjadi Subjek dalam Sejarah Qurban

Bila dilihat dalam istilah Arab maka qurban berasal dari kata q-r-b artinya dekat. Qurban berarti melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Istilah lain untuk hewan qurban adalah al-ud-hiyyah yang berarti suatu pemberian kepada Tuhan yang didasarkan kepada ketaatan-ketaatan tanpa resiko. Dalam hal ini ada sejenis cinta tidak bersyarat dan tidak akan pernah dipertanyakan atau diragukan. Mungkin dalam dalam bahasa perkawinan hal tersebut dapat disamakan dengan istilah ”mawaddah wa rahmah” Mawaddah adalah sebuah ketaatan yang masih didasarkan pada syarat-syarat tertentu.

Tetapi kalau rahmah maka dalam hal ini berarti seseorang akan selalu memberikan sesuatu dan justru akan menemukan makna ketika ia memberi. Sangat disayangkan dalam keseharian kita justru semangat udhiyyah seperti di atas semakin hilang. Ketika ada kata take and give (memberi dan menerima), maka yang sering muncul justru keakuan. Padahal yang ingin diajarkan dalam semangat kurban tadi adalah bagaimana orang berpikir untuk selalu memberi (tanpa berharap menerima pamrih). Berkaitan dengan istilah bahasa korban dan kurban saya pikir hal ini adalah hanya upaya bahasa Indonesia yang membedakannya. Sedangkan kalau dilihat ke bahasa Inggris, korban seringkali diterjemahkan sebagai victim, padahal korban yang dimaksud dalam istilah keagamaan Islam adalah sebuah dedikasi kepada Tuhan.

Disinilah terlihat sejauh mana kemampuan bahasa itu sendiri mentransformasi satu makna budaya yang nuansanya agak teologis. Kalau ada bahasa ad-ha, yud-hi, maka bagi saya itu adalah sebuah refleksi diri yang nuansanya menggambarkan satu jiwa yang tidak pernah mempertanyakan dan selalu berfikir untuk memberi, karena dengan memberi, orang tersebut menemukan kebahagiaan.

Batasannya mungkin ketika tidak ada lagi orang yang berpikir pada formalistis. Seringkali kita terjebak dalam bahasa aku sudah berkorban’ yang berarti ‘aku sudah menyelesaikan sesuatu secara formal’. Yang dijadikan pijakan dasar ibadah qurban adalah keinginan memberi. Maka tidak ada batas berkorban, yang ada hanya hitungan tahun, atau hitungan jumlah, misalnya satu sapi untuk tujuh orang. Semakin banyak orang berkeinginan untuk memberi maka pengorbanan menjadi sesuatu yang ringan untuk dilakukan. Saya mengangkat cerita Ibrahim, terutama cerita Ismail, tergambar di dalamnya gambaran cinta yang tulus dari seorang hamba kepada Tuhannya. Kalaupun itu kemudian muncul melalui sebuah mimpi maka dia pun tidak akan pernah meragukan mimpi itu.

Mungkin kita dapat memulai perbincangan dengan sejarah qurban. Memang selama ini sejarah didominasi oleh laki-laki karena yang terlibat di dalamnya adalah laki-laki. Walaupun ada perempuan di balik ‘panggung’ sejarah, tetapi tampaknya dalam sejarah kurban tersebut lebih banyak dilihat sebagai skenario teologis Ibrahim dan Ismail. Dalam sejarah tersebut tidak pernah memunculkan pertimbangan seorang ibu (Siti Hajar) yang juga merasa mempunyai anak kesayangan. Dialog-dialog yang ada dalam sejarah qurban tidak pernah melibatkan suara dari Siti Hajar sebagai seorang ibu. Saya kira untuk mengangkat isu gender dalam sejarah qurban, perlu dilihat posisi Hajar. Saya sendiri belum menemukan di mana suara Hajar dapat didengar. Saya pikir mungkinkah ada satu pembuangan sejarah dari proses pengurbanan tersebut oleh kelompok-kelompok tertentu yang berkepentingan hanya untuk memunculkannya sebagai isu ibadah saja.

Kembali agak jauh ke belakang. Sejarah yang diwarisi hingga sekarang nampaknya lebih banyak dirujuk dan dimaknai dari peristiwa kurban zaman Ibrahim. Kalaupun dilihat jauh kebelakang maka secara simbolis masalah kurban yang dilakukan Qobil dan Habil adalah bagian dari simbol-simbol dari sebuah gambaran penyerahan diri secara tulus. Yaitu ketika sebuah perintah ketuhanan (titah ilahiyah) perlu ditaati.

Kalau dalam aturan (qaidah) awalnya yaitu ketika anak-anak Adam tersebut berebut seorang perempuan, maka memang perempuan kemudian muncul hanya sebagai obyek yang diperebutkan.

Yang menarik dari dua peristiwa tersebut (perintah kurban dan perebutan perempuan) adalah bahwa tidak ada perempuan yang diposisikan sebagai subyek dalam masalah tersebut, paling tidak dengan menyuarakan identitas dirinya. Akan tetapi saya melihat bahwa dua peristiwa pada zaman Nabi Adam ini tidak terlalu signifikan dalam sejarah ritual Islam, karena saya melihat yang dicontohkan oleh Qabil dan Habil lebih kental pada sejarah permusuhannya. Kalaupun ada unsur ‘ubudiyah (ibadah) dalam konstruksi fiqh yang dianut sekarang maka hal itu tidak merujuk kepada peristiwa tersebut.

Ketika sejarah telah menggambarkan ketidakterlibatan Hajar maka mungkin kita dapat memahaminya melalui konteks historisnya yaitu di mana posisi Hajar adalah hanya sebagai isteri kedua dan pernah ‘dibuang’. Nash-nash yang menyuarakan Hajar sangat jelas menyebutkan bahwa dia harus diusir dan dibuang di satu tempat. Bagi saya hal ini adalah sebuah tantangan moral. Apakah pengorbanan Hajar itu dapat dipahami sejak dia diusir dari keluarga utama? Bagi saya walaupun itu tidak diungkapkan secara jelas, tetapi sejarah mengungkapkan bahwa ada jiwa seorang ibu yang lebih dari sekadar mengatakan bahwa dia pun berkorban.

Ungkapan-ungkapan yang ada hanyalah sebuah kebisuan dan hal ini dapat diartikan sebagai sebuah bentuk kepasrahan. Saya justru lebih menangkap bahwa Hajar terbentuk sebagai istri kedua yang berada dalam posisi subordinatif dari istri pertama suaminya. Sehingga sulit mengharapkan untuk melibatkannya sebagai pelaku utama dalam ‘drama kosmik’ qurban .

Dalam agama, yang paling dalam adalah hal moralitas. Apa yang dicontohkan dalam sejarah Ismail dan Ibrahim adalah gambaran dari sebuah ungkapan yang melintas batas-batas formalisme. Yang dimunculkan dari makna kurban bagi perempuan adalah justru ketulusan yang luar biasa. Kemudian kita mencoba memperjuangkan perempuan dan laki-laki melalui simbol-simbol ideologis yang ada. Saya setuju ketika pemberdayaan perempuan dengan segala upayanya mampu melebur hal-hal yang sangat formal ke dalam makna-makna yang lebih jauh, dibandingkan bahasa-bahasa fiqh dan hukum. Kalaupun kemudian ada bahasa hukum yang ingin membebaskan perempuan dari segi kekerasan, maka bagi saya akarnya adalah tidak semestinya ada pihak yang dikorbankan lagi. Maka berpikirlah untuk tidak menjadi pelaku yang mengorbankan orang lain. Dan hal itulah yang dikutip dalam sebuah hadis bahwa kebaikan adalah kemampuan untuk membahagiakan orang lain. Menurut saya makna qurban salah satunya datang dari contoh Ibrahim yang menyembelih anaknya. Ismail sebagai anak Ibrahim yang harus disembelih adalah perwakilan dari laki-laki.

Nah itulah mungkin yang dapat kami sampaikan mengenai pembagian hewan qurban. Barikut ini harga kambing qurban di Cirebon.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Cirebon

Untuk sobat semua yang tinggal di Cirebon dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2016 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 24-29 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2016 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2016 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2016 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota semarang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Nilai tambah hewan qurban Aqiqah Berkah

  1. Syarat hewan qurban sesuai syar’i
  2. Umur hewan telah mencukupi (Nishab)
  3. Dipelihara secara baik dan tidak ber-aib
  4. Ternak berasal dari daerah bebas penyakit menular
  5. Ternak berasal dari penampungan yang jelas
  6. Ternak mendapatkan perlakuan yang layak

Silahkan bagi sahabat Aqiqah Berkah yang ada di wilayah Cirebon dan sekitarnya yang ingin memesan penawaran paket qurban 2016 dari kami. Karena kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra anda yang beramanah untuk membantu kelancaran ibadah qurban anda. Pesan paket qurban yang anda kehendaki mulai dari sekarang, untuk mendapatkan harga yang ekonomis. Berikut kontak kami yang dapat anda hubungi.

TELPON / SMS : 085853444472

Leave a Reply

Your email address will not be published.