Kambing Qurban di Potong

kambing qurban di potong

Hai sobat Aqiqah Berkah…..pasti semua dalam keadaan baikkan. Kalian semua sudah pada tau kan apa itu qurban? Tapi apakah kalian tau bagaimana tata cara pemotongan hewan qurban?. Kalau belum yuk kita simak penjelasan dibawah ini.

kambing potong
Pengertian Qurban

Berqurban merupakan bagian dari Syariat Islam yang sudah ada semenjak manusia ada. Ketika putra-putra nabi Adam as. diperintahkan berqurban. Maka Allah Swt. menerima qurban yang baik dan diiringi ketakwaan dan menolak qurban yang buruk. Allah Swt berfirman:
“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Maa-idah 27).

Kata qurban berasal dari bahasa Arab qurban yang berarti dekat atau mendekatkan diri kepada sesuatu. Menurut istilah, qurban diartikan sebagai bentuk ibadah kepada Allah dengan menyembelih binatang pada hari raya ‘Idul Adlha dan hari Tasyriq untuk mendekatkan diri kepada Allah. Istilah yang digunakan dalam kitab-kitab fikih untuk qurban adalah udlhiyah, yang berarti menyembelih binatang pada pagi hari. Ibadah qurban semula merupakan syariat Nabi Ibrahim a.s. Beliau pertamatama mendapatkan perintah berqurban bukan dengan binatang, tetapi beliau diperintahkan untuk menyembelih puteranya yang sangat dicintainya, yaitu Nabi Isma’il a.s. Dengan ketaatan dan ketundukannya kepada Allah, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah untuk menyembelih puteranya itu. Namun, ketika Nabi Ibrahim meletakkan pisau penyembelihannya pada leher Nabi Isma’il, Allah mengganti Isma’il dengan domba, sehingga yang diqurbankan Ibrahim tidak lagi puteranya, tetapi seekor domba. Syariat Nabi ibrahim ini kemudian juga menjadi syariat Nabi Muhammad Saw.

Fadillah dan keutamaan berqurban antara lain:

  1. Qurban Pintu Mendekatkan Diri Kepada Allah
    Sungguh ibadah qurban adalah salah satu pintu terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagaimana halnya ibadah shalat. Ia juga menjadi media taqwa seorang hamba. Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman:
    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS:Al Hajj:37)
  2. Sebagai sikap Kepatuhan dan Ketaaan pada Allah
    Berqurban merupakan bentuk sikap kita patuh dan taat kepada Allah SWT Sebagaimana firman Allah surat Al Hajj ayat 37:
    “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [QS: Al Hajj : 34]
  3. Ajaran Nabi Ibrahim AS
    Berkurban juga menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim AS yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
  4. Sebagai Saksi Amal di Hadapan Allah
    Ibadah qurban mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allah SWT, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kabaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Juga kelak pada hari akhir nanti, hewan yang kita qurbankan akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT.
  5. Berdimensi Sosial Ekonomi
    Ibadah qurban juga memiliki sisi positif pada aspek sosial. Sebagaimana diketahui distribusi daging qurban mencakup seluruh kaum muslimin, dari kalangan manapun ia, fakir miskin hingga mampu sekalipun. Sehingga hal ini akan memupuk rasa solidaritas umat. Jika mungkin bagi si fakir dan miskin, makan daging adalah suatu yang sangat jarang. Tapi pada saat hari raya Idul Adha, semua akan merasakan konsumsi makanan yang sama.
  6. Membedakan dengan Orang Kafir
    Sejatinya qurban (penyembelihan hewan ternak) tidak saja dilakukan oleh umat Islam setiap hari raya idul adha tiba, tetapi juga oleh umat lainnya. Sebagai contoh, pada zaman dahulu orang-orang Jahiliyah juga melakukan qurban. Hanya saja yang menyembelih hewan qurban untuk dijadikan sebagai sesembahan kepada selain Allah.
    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [QS: al-An’am : 162-163]

Penyembelihan dan Syarat-syaratnya:

Penyembelihan (adz dzakat) adalah cara yang dapat menghalalkan suatu hewan untuk dikonsumsi yang dilakukan dengan cara menusuk leher hewan hingga mati (nahr), menyembelih atau dengan melukai. Nahr adalah yang penyembelihan yang dilakukan pada onta. Adapun pada hewan selain onta adalah dengan cara menggorok leher (sembelih) atau dengan cara melukai bagi hewan yang tidak mungkin dihilangkan nyawanya kecuali dengan cara melukai tersebut. Terdapat sembilan syarat penyembelihan:

1. Orang yang menyembelih adalah orang yang berakal dan bisa membedakan hal yang berbahaya dengan yang tidak (tamyiz). Dengan demikian tidak halal hukumnya sembelihan orang gila, orang yang dalam keadaan mabuk, anak kecil yang belum tamyiz dan orang tua bangka yang telah kehilangan sifat tamyiz dan semacamnya.

2. Penyembelih haruslah seorang muslim atau kafir kitaby, yakni orang yang menisbahkan diri kepada agama Yahudi atau Nasrani. Seorang muslim halal sembelihannya baik laki-laki atau wanita, orang fasik atau orang bertakwa, baik suci atau berhadas. Adapun sembelihan kafir kitaby juga halal, baik yang berasal dari keturunan kitaby asli ataupun bukan. Seluruh umat Islam telah sepakat bahwa sembelihan kafir kitaby itu halal, karena firman Allah:
“Dan makanan orang-orang yang telah diberi kitab itu halal bagi kalian.” (QS. Al Maidah:5)

Nabi juga memakan kambing yang dihadiahkan oleh seorang wanita Yahudi. Beliau juga pernah memakan roti gandum dan kulit yang sudah kurang enak pada perjamuan yang diadakan oleh seorang Yahudi yang mengundang beliau. Sedangkan orang-orang kafir selain ahli kitab, sembelihannya tidak halal berdasarkan mafhum ayat di atas, karena petikan ayat “alladzina uutul kitaab” terdiri dari isim maushul dan shilah maushul, dua jabatan kalimat ini setara dengan isim musytaq yang mengandung sifat maknawi. Sehingga hukum ditemukan jika ditemukan sifat maknawi. Namun jika sifat maknawi tidak ditemukan maka hukum tidak bisa ditetapkan.

3. Ada kesengajaan untuk menyembelih. adapun “menyembelih” merupakan suatu perbuatan yang membutuhkan niat, sehingga jika tidak ada niat menyembelih maka sembelihannya tidak sah, sebagaimana hal orang yang diserang seekor hewan kemudian membunuh hewan tersebut untuk membela diri.

4. Disembelih untuk selain Allah, Jika seekor hewan disembelih untuk selain Allah maka sembelihan menjadi tidak halal, sebagaimana halnya menyembelih hewan untuk mengagungkan berhala, penghuni kubur, raja, orang tua dan semacamnya, karena firman Allah: “Dan hewan yang disembelih untuk berhala…” (QS. Al Maidah: 3)

5. Tidak disebut padanya nama selain Allah seperti dengan nama Nabi, dengan nama Jibril atau dengan nama fulan. Jika disebutkan padanya nama selain Allah maka tidak halal meski nama Allah juga disebut. Karena firman Allah: “Dan apa-apa yang disebutkan selain Allah padanya….” (QS. Al-Maidah: 3)

6. Disebut nama Allah padanya, dengan mengatakan saat menyembelih “dengan nama Allah”. Karena firman Allah: “Maka makanlah hewan yang padanya disebutkan nama Allah jika kalian adalah orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat-Nya!” (QS. Al An’am: 118)

Adapun jika penyembelihnya adalah orang yang bisu sehingga tidak bisa mengucapkan bismillah, maka ia dapat menggantinya dengan isyarat, karena firman Allah:“Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian!!” (QS. At Taghabun: 16)

7. Menggunakan alat yang tajam yang mampu mengalirkan darah, baik terbuat dari besi, batu, kaca atau yang lainnya, karena sabda Nabi: “Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah padanya maka makanlah asal bukan gigi atau kuku. Akan kuceritakan kepada kalian mengenai hal itu, sungguh gigi itu termasuk tulang sedangkan kuku merupakan pisau orang Ethiopia (Nasrani-pent).” (HR. Jamaah)

Adapun jika nyawa hewan tersebut hilang nyawanya dengan alat yang tidak tajam maka tidak halal, misalnya dicekik, dipingsankan dengan listrik dan semacamnya hingga mati. Akan tetapi jika hewan itu disetrum dengan listrik hingga pingsan kemudian disembelih dengan cara syar’i dan diketahui bahwa hewan tersebut tetap dalam keadaan hidup, maka hewan tersebut halal.

8. Mengalirnya darah dari penyembelihan. Karena sabda Nabi : “Apa saja yang mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah padanya maka makanlah!” (HR. Jamaah) Jika hewannya tidak bisa dikuasai karena lari kencang atau terperosok ke dalam sumur, goa dan semacamnya, maka asal darah bisa mengalir pada bagian tubuh yang mana saja sudah mencukupi. Akan tetapi yang lebih utama adalah memilih bagian tubuh yang menyebabkan nyawanya lebih cepat keluar, karena hal tersebut lebih menyenangkan bagi hewan dan lebih tidak menyiksa. Namun jika hewan tersebut bisa dikuasai maka menyembelihnya harus pada leher bagian bawah hingga dua tulang rahang dan dua buah pembuluh darah besar yang mengelilingi tenggorokan terputus. Tentunya akan lebih sempurna jika bisa memutus tenggorokan (jalan napas) dan kerongkongan (jalan makan dan minum). Hal ini dikarenakan hal-hal yang menyebabkan hewan tetap hidup segera hilang yaitu darah, tenggorokan serta kerongkongan. Namun demikian jika yang terputus hanya dua pembuluh darah maka sembelihan tetap sah.

9. Penyembelih adalah orang yang mendapatkan izin secara syar’i untuk menyembelih.

Waktu Penyembelihan Hewan Qurban

Waktu penyembelihan hewan qurban adalah mulai dari matahari setinggi tombak pada hari raya Idul Adha sampai terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah. Baiknya setelah pelaksanaan shalat sunat Idul Adha. Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa menyembelih qurban sebelum shalat Idul Adha, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih qurban setelah shalat Idul Adha dan 2 khotbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya, dan ia telah menjalani aturan Islam.” (HR. Bukhari).

Adapun masa diperbolehkannya melaksanakan qurban adalah selama hari-hari tasyriq, yaitu 3 hari setelah hari adha, berdasarkan hadits Rasulullah dari Jubair bin Muth’im:
“Pada setiap hari-hari tasyriq ada sembelihan.” (HR Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Al-Baihaqi).

Akhir waktu penyembelihan qurban adalah tenggelamnya matahari pada hari ketiga hari Tasyriq. Dan hari-hari Tasyriq menurut pendapat yang benar adalah 3 hari setelah Yaumun Nahr (hari ‘Idul Adha). Allah SWT berfirman:
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya.” (Al-Baqarah: 203).

Dinamakan hari Tasyriq karena pada hari-hari tersebut umumnya orang menjemur daging dari hewan qurban supaya awet. Dan diperbolehkan untuk menyembelih hewan qurban pada 4 hari tersebut, mulai tanggal 10 sampai tanggal 13 Dzulhijjah baik siang ataupun malam, tidak ada perbedaan dari sisi keutamaan.

Adap Menyembelih Hewan Qurban

Ada beberapa adab menyembelih yang harus diperhatikan meski tidak menjadi syarat kehalalan suatu sembelihan, di antara adab-adab itu adalah:

  1. Hewan dihadapkan ke kiblat sewaktu menyembelih
  2. Menyembelih dengan cara yang baik, yakni menggunakan alat yang tajam dan dilewatkan pada bagian tubuh yang akan disembelih dengan kuat dan dengan cepat.
  3. Melakukan nahr untuk onta dan menyembelih (dzabh) untuk hewan yang lain. Onta dinahr dalam keadaan berdiri dan kaki depannya yang sebelah kiri dalam kondisi terikat. Jika tidak memungkinkan maka nahr dilakukan pada saat onta dalam posisi menderum. Hewan selain onta disembelih dalam posisi lambung hewan sebelah kiri berada di bawah. Jika penyembelih kesulitan bekerja dengan tangannya dalam posisi seperti itu maka penyembelihan dilakukan dalam posisi lambung kanan hewan berada di bawah, dengan catatan posisi ini lebih menyenangkan hewan qurban dan lebih mudah bagi penyembelih. Disunnahkan agar salah satu kaki penyembelih diletakkan pada lehernya supaya hewan tersebut lebih terkontrol. Adapun tindakan menahan kaki-kaki hewan dan menduduki tubuh hewan yang akan disembelih maka itu adalah perbuatan yang tidak ada dalilnya dalam Sunnah Nabi. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu faedah tidak menahan kaki-kaki hewan adalah agar aliran darah makin deras disebabkan kaki bebas bergerak dan menggoncangkan diri.
  4. Memutus tenggorokan dan kerongkongan di samping memutus dua pembuluh darah besar di leher.
  5. Tidak menampakkan pisau kepada hewan pada saat mengasah. Hewan tersebut seharusnya hanya melihat pisau pada saat menyembelih.
  6. Bertakbir setelah membaca bismillah.
  7. Setelah membaca bismillah dan bertakbir kemudian menyebutkan nama orang yang menjadi tujuan qurban atau akikah dan berdoa kepada Allah semoga menerima ibadah tersebut. Misalnya mengucapkan: “Dengan nama Allah yang Mahabesar, Ya Allah dari-Mu dan untuk-Mu dariku)” jika sembelihan itu untuk dirinya atau “dari fulan” jika sembelihan itu untuk orang lain. “Wahai Allah terimalah dariku” jika sembelihan tersebut untuknya atau “dari fulan” jika sembelihan tersebut untuk orang lain.

Hal-hal yang Dimakruhkan Dalam Sembelihan

  1. Menggunakan alat penyembelih yang tidak tajam. Terdapat ulama yang menyatakan bahwa hal ini hukumnya haram dan itulah pendapat yang benar.
  2. Hewan yang akan disembelih melihat pisau yang sedang diasah.
  3. Ketika ada hewan disembelih, hewan yang giliran berikutnya ikut menonton proses penyembelihan.
  4. Melakukan tindakan-tindakan yang menyakitkan setelah di sembelih sebelum nyawa hewan tersebut meninggalkan jasadnya, seperti mematahkan leher, menguliti atau memotong sebagian anggota tubuhnya. Ulama yang berpendapat bahwa tindakan ini hukumnya haram.

Itulah tadi informasi tentang tata cara pemotongan hewan qurban. Bagi sobat semua yang ingin melaksanakan qurban, kami Aqiqah Berkah siap membantu pelaksanaan qurban anda.

Untuk Informasi lebih lanjut hubungi :

TELPON/SMS :

0858-5344-4472

 

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah-_-

Save

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published.