Panduan Kurban #2

Panduan Kurban #2

panduan kurban 2

Ulasan berikut ini meneruskan utuk artikel yang pedoman kurban. Yukkkk langsung saja di simak….

Urunan Kurban Satu Sekolahan

Terdapat satu tradisi di beberapa lembaga pendidikan di daerah kita, ketika ’Idul Adha tiba sebagian sekolahan menggalakkan kegiatan latihan kurban bagi siswa. Masing-masing siswa dibebani biaya sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari kurban. Apakah ini bisa dinilai sebagai ibadah kurban?

Perlu dipahami bahwa kurban adalah salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki aturan tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syari’at. Apabila keluar dari aturan ini, maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah kurban, alias kurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, biaya pengadaan untuk seekor kambing hanya boleh diambilkan dari satu orang. Oleh karena itu kasus ”tradisi kurban” seperti di atas tidak dapat dinilai sebagai kurban. Karena biaya pengadaan kambing diambil dari sejumlah siswa.

Berkurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal

Berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci sebagai berikut:
Pertama, orang yang meninggal bukan sebagai sasaran kurban utama, namun statusnya mengikuti kurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berkurban untuk dirinya dan keluarganya, sementara ada di antara keluarganya yang telah meninggal. Berkurban jenis ini dibolehkan, pahala kurbannya meliputi dirinya dan keluarganya, termasuk yang sudah meninggal.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Orang yang meninggal dunia termasuk salah satu yang mendapat pahala dari kurban seseorang. Berdasarkan hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk dirinya dan keluarga beliau. Sementara keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup istri beliau yang telah meninggal dan yang masih hidup. Demikian pula ketika beliau berkurban untuk umatnya. Di antara mereka ada yang sudah meninggal, dan ada yang belum dilahirkan. Namun, berkurban secara khusus atas nama orang yang telah meninggal, saya tidak mengetahui adanya dalil dalam masalah ini.” (Syarhul Mumthi’, 7:287).

Kedua, Berkurban khusus untuk orang yang meninggal karena si mayit pernah mewasiatkan agar keluarganya berkurban untuk dirinya apabila nanti dia telah meninggal. Berkurban untuk mayit dalam kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si mayit, dan nilai biaya untuk kurban kurang dari sepertiga total harta mayit.

Terdapat hadits dalam masalah ini, dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah berkurban dengan dua ekor kambing. Pada saat ditanya, beliau menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepadaku agar aku berkurban untuk beliau. Sekarang saya berkurban atas anama beliau.” Hadits ini diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi, namun status hadits ini dhaif, sebagaimana keterangan Syekh Al-Albani dalam Dhaif Sunan Abi Daud, No. 596.

Ibnu Utsaimin mengatakan, “Berkurban untuk orang yang telah meninggal apabila dia pernah berwasiat yang nilainya kurang dari sepertiga hartanya, atau dia mewakafkan hewannya maka wajib ditunaikan.” (Risalah Fiqhiyah Ibnu Utsaimin, Ahkam Udhiyah)

Beliau juga mengatakan, “Allah melarang untuk mengubah wasiat, kecuali jika wasiat tersebut adalah wasiat yang tidak benar atau wasiat yang mengandung dosa, seperti wasiat yang melebihi 1/3 atau diberikan kepada orang yang kaya. Allah berfirman:
“(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 182).

Wasiat untuk berkurban tidak termasuk penyimpangan maupun dosa, bahkan termasuk wasiat ibadah harta yang sangat utama.” (Risalah Dafnul Mayit, Ibnu Utsaimin, hlm. 75)

Ketiga, berkurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit. Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama Madzhab Hanbali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit.

Mereka mengkiyaskan (menyamakan) dengan sedekah atas nama mayit. Disebutkan dalam Fatwa Lajnah Daimah ketika ada pertanyaan tentang hukum berkurban atas nama mayit yang tidak pernah berwasiat untuk kurban. Mereka menjawab, “Berkurban atas nama mayit disyariatkan. Baik karena wasiat sebelumnya atau tidak ada wasiat sebelumnya. Karena ini masuk dalam lingkup masalah sedekah (atas nama mayit).” (Fatwa Lajnah, 21367)

Akan tetapi menyamakan ibadah kurban dengan sedekah adalah analogi yang kurang tepat. Karena tujuan utama berkurban bukan semata untuk sedekah dengan dagingnya, tapi lebih pada bentuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Pada kenyataannya, ibadah kurban tidak dimaksudkan semata untuk sedekah dengan dagingnya atau memanfaatkan dagingnya. Berdasarkan firman Allah:
“Dagingnya maupun darahnya tidak akan sampai kepada Allah, namun yang sampai kepada kalian adalah taqwa kalian” (QS. Al-Haj: 37).

Namun yang terpenting dari ibadah kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih.” (Syarhul Mumthi’, 7:287)

Sementara itu, sebagian ulama bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak diketahui adanya tuntunan dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam maupun para sahabat yang menyatakan mereka berkurban secara khusus atas nama orang yang telah meninggal.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan, beberapa orang istri, dan kerabat dekat yang beliau cintai, yang meninggal dunia mendahului beliau. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkurban secara khusus atas nama salah satu diantara mereka. Beliau tidak pernah berkurban atas nama pamannya Hamzah, atau atas nama istri beliau Khadijah atau istri beliau Zainab binti Khuzaimah, tidak pula untuk tiga putrinya dan anak-anaknya radliallahu ‘anhum. Andaikan ini disyariatkan, tentu akan dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Oleh Karena itu, hendaknya seseorang berkurban atas nama dirinya dan keluarganya. (Syarhul Mumthi’, 7:287).

Meskipun demikian, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tidaklah menganggap bentuk berkurban secara khusus atas nama mayit sebagai perbuatan bid’ah. Beliau mengatakan, “Sebagian ulama mengatakan, berqurban secara khusus atas nama mayit adalah bid’ah yang terlarang. Namun vonis bid’ah di sini terlalu berat, karena keadaan minimal yang bisa dikatakan bahwa kurban atas nama orang yang sudah meninggal termasuk sedekah. Dan terdapat dalil yang shahih tentang bolehnya bersedekah atas nama mayit” (Syarhul Mumthi’, 7:287)

Usia Hewan Kurban

Jabir radliallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (kurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Uqbah bin Amir radliallahu ‘anhu, mengatakan:
“Kami pernah berkurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menggunakan domba jadza’ah” (HR. Nasa’i 4382, Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan, “Sanadnya kuat. Hadis ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih sunan Nasa’i).

Keterangan:
Hewan musinnah adalah hewan yang sudah masuk usia dewasa. Disebut musinnah dari kata sinnun yang artinya gigi. Pada saat hewan ini menginjak usia musinnah, ada giginnya yang tanggal (poel). Di bawah usia musinnah adalah usia jadza’ah.
Usia musinnah dan jadza’ah hewan berbeda-beda. Berikut rinciannya:

  1. Jadza’ah untuk domba (gembel) : domba yang sudah berusia 6 bulan menurut Madzhab Hanafi dan Hanbali. Adapun menurut Maliki dan Syafi’i adalah domba yang sudah genap satu tahun.
  2. Musinnah untuk kambing, baik kambing jawa maupun domba adalah kambing yang sudah genap satu tahun, menurut Madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali. Sedangkan menurut Madzhab Syafi’i, kambing yang usiannya genap dua tahun.
  3. Musinnah untuk sapi adalah umur dua tahun, menurut Madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali. Sedangkan menurut Malikiyah, sapi yang usianya tiga tahun.
  4. Musinnah untuk unta adalah unta yang genap lima tahun, menurut Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbali.
    Dengan menggunakan batasan minimal dari perselisihan ulama di atas, usia minimal hewan kurban dapat disimpulkan dalam tabel berikut: Domba 6 bulan, Kambing (selain domba) 1 tahun, Sapi 2 tahun, dan Unta 5 tahun. (Shahih Fiqih Sunnah, II:371-372, Syarhul Mumti’, III:410, Taudhihul Ahkaam, IV:461)

Cacat Hewan Kurban

Cacat hewan kurban dibagi menjadi 3 macam:
Pertama, cacat yang menyebabkan tidak sah untuk digunakan berkurban Disebutkan dalam hadits, dari Al-Barra’ bin Azib radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil berisyarat dengan tangannya,

“Ada empat hewan yang tidak boleh dijadikan kurban: buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya ketika jalan, dan hewan yang sangat kurus, seperti tidak memiliki sumsum.” (HR. Nasa’i, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).

Keterangan:

  1. Buta sebelah yang jelas butanya.
    Jika butanya belum jelas –orang yang melihatnya menilai belum buta meskipun pada hakikatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh dikurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. Ulama Madzhab Syafi’i menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk kurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.
  2. Sakit yang jelas sakitnya.
    Jika sakitnya belum jelas, misalnya, hewan tersebut kelihatannya masih sehat maka boleh dikurbankan.
  3. Pincang dan tampak jelas pincangnya.
    Artinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Apabila baru terlihat pincang namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan kurban.
  4. Hewan yang sangat kurus, seperti tidak memiliki sumsum.
    Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari empat jenis cacat di atas maka lebih tidak layak untuk digunakan berkurban. (Shahih Fiqih Sunnah, II:373 dan Syarhul Mumti’ 3:294).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya ketika menyebutkan empat cacat tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadits boleh digunakan sebagai kurban. (Syarhul Mumthi’ 7:464)

Kedua, Cacat yang menyebabkan makruh untuk berkurban, ada dua:

  1. Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong.
  2. Tanduknya pecah atau patah. (Shahih Fiqih Sunnah, II:373)

Terdapat hadits yang menyatakan larangan berkurban dengan hewan yang memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun haditsnya dha’if, sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh dipakai untuk kurban. (Syarhul Mumthi’ 7:470)

Ketiga, Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan kurban (boleh dijadikan untuk kurban) namun kurang sempurna.
Selain enam jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan kurban. Misalnya, tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. Wallahu a’lam
(Shahih Fiqih Sunnah, II:373)

Hewan Kurban Mengalami Kecelakaan

Kasus pertama
Jika seseorang membeli hewan untuk kurban dalam keadaan sehat dan bebas dari cacat, kemudian mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan cacat parah. Apa yang harus dilakukan?
Jawabnya, jika kecelakaan yang terjadi pada hewan ini, di luar kesengajaan pemilik dan bukan karena keteledoran, maka boleh untuk disembelih dengan niat kurban dan dihukumi sebagai kurban yang sah.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Jika seseorang telah menentukan hewan yang sehat dan bebas dari cacat untuk kurban, kemudian mengalami cacat yang seharusnya tidak boleh untuk dikurbankan, maka dia boleh menyembelihnya dan sah sebagai hewan kurban. Ini merupakan pendapat Atha’, Hasan Al-Bashri, An-Nakha’i, Az-Zuhri, At-Tsauri, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ishaq bin Rahuyah.” (al-Mughni, 13:373).

Dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini adalah sebuah riwayat yang disebutkan Al-Baihaqi, dari Ibnu Zubair radliallahu ‘anhu, bahwa didatangkan kepada beliau hewan kurbannya berupa unta yang buta sebelah. Lalu ia mengatakan, “Jika hewan ini mengalami cacat matanya setelah kalian membelinya maka lanjutkan berkurban dengan hewan ini. Namun jika cacat ini sudah ada sebelum kalian membelinya maka gantilah dengan hewan lain.” Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ mengatakan: Sanad riwayat ini shahih. (al-Majmu’, 8:328). Syekh Ibnu Utsaimin menjelaskan dalam Ahkam Al-Udhiyah wa Dzakah, hal. 10.

Jika hewan yang hendak dijadikan kurban mengalami cacat, maka ada dua keadaan:

  1. Cacat tersebut disebabkan perbuatan atau keteledoran pemiliknya maka wajib diganti dengan yang sama, sifat dan ciri-cirinya, atau yang lebih baik. Selanjutnya, hewan yang cacat tadi menjadi miliknya dan bisa dia gunakan sesuai keinginannya.
  2. Cacat tersebut bukan karena perbuatannya dan bukan karena keteledorannya, maka dia boleh menyembelihnya dan hukumnya sah sebagai kurban. Karena hewan ini adalah amanah yang dia pegang, sehingga ketika mengalami di luar perbuatan dan keteledorannya maka tidak ada masalah dan tidak ada tanggungan untuk mengganti.
    Kasus kedua

Hewan yang hendak dijadikan kurban mengalami kecelakaan, hingga sekarat, bolehkah disembelih?
Jawab:
Jika penyembelihan hewan tersebut dilakukan sebelum shalat ‘Id, maka tidak bisa dinilai kurban. Karena diantara syarat berkurban adalah dilakukan di waktu tertentu.

Dengan demikian, pemiliknya wajib mengganti hewan kurban yang lain. Dalilnya adalah hadits dari Jundub bin Sufyan, beliau mengatakan: Saya pernah mendapati ‘Idul Adha bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah beliau selesai shalat, beliau melihat ada kambing yang sudah disembelih. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menyembelih hewan sebelum shalat ‘Id maka hendaknya dia menyembeli kambing penggantinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, jika penyembelihan hewan yang sekarat itu dilakukan setelah shalat, sementara ketika hewan ini dibeli dalam keadaan sehat dan bebas dari cacat, maka bisa dijadikan kurban dan hukumnya sah sebagai kurban.

Demikian penjelasan Syekh Muhamad bin Shalih Al-Munajid di islamqa.com. semoga bermanfaat untuk anda semuanya,,,,

Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published.