Panduan Kurban

Panduan Kurban

panduan kurban
Kurang beberapa minggu lagi kita akan menyambut Idul Adha untuk orang islam. Berikut ini kami akan mengulas mengenai kurban. Yukkk mari di simakkk….

Pengertian Kurban

Kurban yang dalam bahasa Arabnya udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari ‘Idul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, karena datangnya hari raya tersebut (Al-Wajiz, hal. 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II:366)

Keutamaan Kurban

Menyembelih kurban termasuk amal salih yang memiliki keutamaan sangat besar. Disebutkan dalam hadis, dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi no.1493 dan Ibnu Majah no.3126. lihat Taudhihul Ahkam, IV:450)

Hadist di atas didhaifkan oleh sebagian ulama. Diantaranya Syekh Muhammad Nasirudin Al Albani. Sebagaimana keterangan beliau dalam Dhaif Ibnu Majah, hadist No. 671.

Akan tetapi, kegoncangan hadist di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berkurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan kurban pada hari ‘Idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau seharga dengan hewan kurban, atau bahkan lebih baik dari itu. Syekhul Islam mengatakan: “Berkurban, aqiqah, hadyu sunnah, semuanya lebih baik, dari pada sedekah dengan uang senilai hewan yang disembelih.” (Majmu’ Fatawa, 6:304)

Hal ini diarenakan, maksud terpenting dalam berkurban adalah mengamalkan sunnah dan syi’ar Islam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, bukan semata-mata nilai binatangnya. Disamping itu, menyembelih kurban lebih menampakkan syi’ar Islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih Fiqh Sunnah 2:379 dan Syarhul Mumthi’ 7:521).

Hukum Kurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat :
Pertama, Wajib, bagi orang yang memiliki kelapangan rizki. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al-Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad beserta beberapa ulama pengikut Imam Malik, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.

Syekh Ibn Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (Syarhul Mumti’, III:408) Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah No.3.123, Al-Hakim 7.672 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Pendapat kedua, kurban hukumnya sunnah mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan yang lainnya. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud

Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dimana beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak berkurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau tetanggaku mengira kurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).

Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berkurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih). Ibnu Hazm berkata, ”Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabat pun yang menyatakan bahwa kurban itu wajib.” (Al-Muhalla 5:295, dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah II:367-368, dan Taudhihul Ahkaam, IV:454).

Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semua dalil, menunjukkan bahwa masing-masing pendapat sama kuat.

Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasihatkan, “… selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berkurban. Karena dengan berkurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam. (Tafsir Adwa’ul bayan, hal. 1120).

Yakinlah, Allah akan segera memberikan ganti biaya kurban yang dikeluarkan oleh orang-orang yang berkurban. Setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdoa:
“Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdoa: “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Al-Bukhari No.1374 & Muslim No.1010).

Hewan Yang Boleh Untuk Kurban

Hewan kurban hanya boleh dari jenis bahimatul an’am (hewan ternak). Dalilnya adalah firman Allah, “Dan bagi setiap umat, Kami berikan tuntunan berkurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezeki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahimatul an’am).” (QS. Al Hajj: 34).

Dalam bahasa Arab, yang dimaksud bahimatul an’am hanya mencakup tiga jenis binatang yaitu: unta, sapi, atau kambing. Oleh karena itu, berkurban hanya sah dengan tiga hewan tersebut dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya kurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (Shahih Fiqih Sunnah, II:369 dan Al-Wajiz hal. 406)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berkurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis hewan ternak tersebut maka kurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berkurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka kurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’ III:409)

Hukum Kurban Kerbau

Para ulama menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2:2975). Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berkurban dengan kerbau. Baik dari kalangan Syafi’iyah, (Hasyiyah Al-Bajirami) maupun dari madzhab Hanafiyah (Al-‘Inayah Syarh Hidayah 14:192 dan Fathul Qodir 22:106). Mereka menganggap keduanya satu jenis.

Syekh Ibn Al-Utasimin pernah ditanya tentang hukum kurban dengan kerbau. Mengenai “Kerbau dan sapi memiliki perbedaan adalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun, Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-An’am: 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”

Beliau menjawab:
“Jika kerbau termasuk (jenis) sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam Al-Qur’an adalah jenis hewan yang dikenal orang Arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang Arab.” (Liqa’at Bab al-Maftuh 200/27)

Dalam situs resmi Syekh Shaleh Al-Fauzan, disebutkan salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada beliau, “Apakah kerbau juga termasuk jenis bahimatul an’am (3 hewan ternak)? Beliau menjawab: “Kerbau termasuk salah satu jenis sapi.”

Dengan demikia, bisa disimpulkan bahwa berkurban dengan kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi. Wallahu a’lam.

Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk kurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits dari Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, ”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, Minhaajul Muslim, hal. 264 dan 266).

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan kurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kurban tahun ini untuk bapaknya, tahun depan untuk ibunya, tahun berikutnya untuk anak pertama, dan seterusnya.

Sesungguhnya karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing kurban, sebelum menyembelih beliau mengatakan:
“Ya Allah ini (kurban) dariku dan dari umatku yang tidak berkurban.” (HR. Abu Daud No. 2810 dan Al-Hakim 4:229. Dishahihkan Syekh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 4:349).

Berdasarkan hadits ini, Syekh Ali bin Hasan Al-Halaby mengatakan, ”Kaum muslimin yang tidak mampu berkurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berkurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ahkamu Al-‘Idain, hlm. 79)

Adapun yang dimaksud “kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan unta sepuluh orang” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dan kurban unta hanya boleh dengan jumlah maksimal sepuluh orang.

Namun seandainya ada orang yang hendak membantu orang lain yang kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status kurbannya. Status bantuan di sini adalah hadiah bagi shohibul kurban. Apakah harus izin terlebih dahulu kepada pemilik hewan? Jawabnya: Tidak harus, karena dalam transaksi pemberian sedekah maupun hadiah tidak dipersyaratkan memberitahukan kepada orang yang diberi sedekah maupun hadiah. Allahu a’lam.

Batasan Anggota Keluarga yang Tercakup dalam Pahala Berkurban

Siapa saja anggota keluarga yang tercakup dalam kurban seekor kambing? Ulama berselisih pendapat tentang batasan “anggota keluarga” yang mencukupi satu hewan kurban.

Pertama, masih dianggap anggota keluarga, jika terpenuhi tiga hal: tinggal bersama, ada hubungan kekerabatan, dan shohibul kurban menanggung nafkah semuanya. Ini adalah pendapat madzhab malikiyah. Sebagaimana yang ditegaskan dalam At-Taj wa Iklil salah satu buku madzhab maliki- (4:364)

Kedua, semua orang yang berhak mendapatkan nafkah sohibul kurban. Ini adalah pendapat ulama mutaakhir di madzhab syafi’iyah.

Ketiga, semua orang yang tinggal serumah dengan sohibul kurban, meskipun bukan kerabatnya. Ini adalah pendapat beberapa ulama syafi’iyah, seperti Asy-Syarbini, Ar-Ramli, dan At-Thablawi.

Imam Ar-Ramli pernah ditanya. Apakah bisa dilaksanakan ibadah kurban untuk sekelompok orang yang tinggal dalam satu rumah, meskipun tidak ada hubungan kekerabatan di antara mereka? Beliau menjawab, “Ya bisa dilaksanakan.” (Fatawa ar-Ramli, 4:67)

Sementara Al-Haitami mengomentari fatwa Ar-Ramli, beliau mengatakan, “Mungkin maksud beliau adalah kerabatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Bisa juga yang dimaksud dengan ahlul bait (keluarga) di sini adalah semua orang yang mendapatkan nafkah dari satu orang, meskipun ada orang yang aslinya tidak wajib dinafkahi.” Sementara perkataan sahabat Abu Ayub ‘Seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya’ memungkinkan untuk dipahami dengan dua makna tersebut. Bisa juga dipahami sebagaimana zhahir hadits, yaitu setiap orang yang tinggal dalam satu rumah, interaksi mereka jadi satu, meskipun tidak ada hubungan kekerabatan. Ini merupakan pendapat sebagian ulama. Akan tetapi terlalu jauh (dari kebenaran). (Tuhfatul Muhtaj, 9:340)

Kesimpulannya, sebatas tinggal dalam satu rumah tidak bisa dikatakan sebagai ahli bait (keluarga). Batasan yang mungkin lebih tepat adalah batasan yang diberikan ulama madzhab Maliki. Sekelompok orang bisa tercakup ahlul bait (keluarga) kurban, jika terpenuhi tiga syarat: tinggal bersama, ada hubungan kekerabatan, dan tanggungan nafkah mereka dari kepala keluarga.

Wallahu a’lam…

Ketentuan untuk Sapi dan Unta

Seekor Sapi dijadikan kurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor unta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, ”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya ’Idul Adha maka kami pun berserikat untuk seekor sapi sebanyak tujuh orang dan sepuluh orang untuk kurban seekor unta.” (Shahih Sunan Ibnu Majah No. 2536, Al-Wajiz, hal. 406).

Dalam masalah pahala, ketentuan kurban sapi sama dengan ketentuan kurban kambing. Artinya, tujuh orang patungan untuk kurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari tujuh orang yang ikut patungan tersebut.

Arisan Kurban Kambing

Mengadakan arisan dalam rangka berkurban termasuk dalam pembahasan berhutang untuk kurban, karena hakikat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berkurban meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dari Sufyan At-Tsauri (Tafsir Ibnu Katsir, Al-Hajj:36). Sufyan At-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta kurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta kurban?” Beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman:
Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta qurban tersebut) (QS: Al Hajj:36). (Tafsir Ibnu Katsir, surat Al Hajj: 36)

Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah. Beliau menyarankan agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.

Salah satu putra Imam Ahmad, yang bernama Salih, pernah bertanya kepada beliau, “Ada seseorang yang anaknya baru lahir, namun dia tidak memiliki dana untuk aqiqah. Mana yang lebih baik menurut Ayah: berhutang untuk aqiqah, atau mengakhirkan aqiqahnya sampai dia memiliki kemudahan untuk melaksanakannya?”

Jawaban Imam Ahmad, “Hadis yang paling tegas dalam hal ini adalah hadis tentang Al-Hasan dari Samurah radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.’ Aku berharap jika dia berhutang (untuk aqiqah), agar Allah segera menggantinya, karena dia menghidupkan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajaran yang beliau bawa.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 64)

Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berkurban. Di antaranya adalah Syekh Ibn Utsaimin dan ulama-ulama tim fatwa islamweb.net dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 dan 28826). Syekh Ibn Utsaimin mengatakan: “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada menunaikan kurban.” (Syarhul Mumti’ 7:455).

Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi kurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, beliau menjawab: “Jika dihadapkan dua permasalahan antara berkurban atau melunasi hutang orang fakir maka lebih utama melunasi hutang, apalagi jika orang yang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (Majmu’ Fatawa wa Risalah Ibn Utsaimin 18:144).

Pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika berkurban dipahami untuk orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau untuk hutang yang jatuh temponya masih panjang.

Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang daripada kurban dipahami untuk orang yang kesulitan melunasi hutang atau pemiliknya meminta agar segera dilunasi.

Dengan demikian, jika arisan kurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berkurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a’lam.

Semoga Bermanfaat apa yang kami sampaikan di atas.

Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Save

Leave a Reply

Your email address will not be published.