Pembagian Hukum Syar’i II

By July 27, 2016 Berita No Comments

PEMBAGIAN HUKUM SYAR’I II

Hukum taklifi terbagi ke dalam lima bagian antara lain wajib, haram, mandub, makruh dan mubah. Kelima macam hukum itulah yang menimbulkan efek terhadap perbuatan mukalaf dan efek itulah yang dinamakan al ahkam al khamsah oleh ahli fiqih. (H. Alaiddin Koto, 2004, hal 42-44).

27 Pembagian Hukum Syari

Pembagian hukum taklifi, dibagi menjadi lima bagian. Pada artikel terdahulu telah disampaikan penjabaran mengenai hukum taklifi. Berikut ini akan dijabarkan mengenai kelima bagian hukum taklifi tersebut.

WAJIB

Pada pokoknya yang disebut dengan wajib adalah segala perbuatan yang diberi pahala bila dikerjakan dan diberi siksa (‘iqab) bila ditinggalkan. Misal, mengerjakan beberapa rukun islam yang lima. Dilihat dari beberapa segi, wajib terbagi menjadi empat :

1. Dilihat dari segi tertentu atau tidak tertentunya perbuatan yang dituntut. Wajib dibagi menjadi dua :

a. Wajib mu’ayyan (ditentukan) yaitu yang telah ditentukan macam perbuatannya. Misal, membaca al fatihah atau tahiyyat dalam sholat.
b. Wajib mukhayyar (dipilih) yaitu yang boleh dipilih salah satu dari beberapa macam perbuatan yang telah ditentukan. Misal, kifarat sumpah yang memberi pilihan tiga alternatif, memberi makan sepuluh orang miskin atau memberi pakaian sepuluh orang miskin atau memerdekakan budak.

2. Dilihat dari segi siapa aja yang mengharuskan memperbuatnya, wajib terbagi kepada dua bagian :

a. Wajib ‘ain yaitu wajib yang dibebankan atas pundak setiap mukalaf. Misal, mengerjakan sholat lma waktu, puasa ramadhan dan lain sebagainya. Wajib ini disebut fardhu ‘ain.
b. Wajib kifayah yaitu kewajiban yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat, tanpa melihat siapa yang mengerjakannya. Apabila kewajiban itu tekah ditunaikan salah seorang diantara mereka, hilanglah tuntutan terhadap yang lainnya. Namun, apabila tidak seorangpun yang mengerjakannya, berdosalah semua anggota masyarakat tersebut. Misal, mendirikan tempat ibadah, mensholati jenazah.

3. Dilihat dari segi kadar (kuantitasnya), wajib terbagi kepada dua bagian :

a. Wajib muhaddad, yaitu kewajiban yang ditentukan kadar atau jumlahnya. Misal, jumlah zakat yang mesti dikeluarkan, jumlah rakaat sholat.
b. Wajib ghairu muhaddad yaitu kewajiban yang tidak ditentukan batas bilangannya. Misal, membelanjakan harta di jalan Allah, berjihad, tolong-menolong.

27 Pembagian Hukum Syari 2

HARAM

Haram adalah segala perbuatan yang dilarang untuk mengerjakannya. Orang yang melakukan akan disiksa, berdosa (‘iqab) dan yang meninggalkannya akan mendapat pahala. Misal, mencuri, membunuh, berzina, menafkahi orang yang menjadi tanggungannya. Perbuatan ini disebut juga dengan maksiat, qabih.

Secara garis besar, haram terbagi menjadi dua :

a. Haram karena perbuatan itu sendiri, atau haram karena zatnya. Haram seperti ini pada pokoknya adalah haram yang memang diharapkan sejak semula, Misal, membunuh, zina, mencuri.
b. Haram karena berkaitan dengan perbuatan lain atau haram karena faktor lain yang datang kemudian. Misal, jual beli yang hukum asalnya mubah, berubah menjadi haram ketika azan jumat sudah berkumandang. Begitu juga dengan puasa Ramadhan yang semula wajib berubah menjadi haram karena dengan berpuasa itu akan menimbulkan sakit yang mengancam keselamatan jiwa.

MANDUB

Mandub adalah segala perbuatan yang dilakukan akan mendapatkan pahala, tetapi bila tidak dilakukan akan dikenakan siksa, dosa (‘iqab). Biasanyamandub ini disebut juga sunat atau mustahab dan terbagi menjadi :

1. Sunat ‘ain yaitu segala perbuatan yang dianjurkan kepada setiap pribadi mukalaf untuk dikerjakan. Misal, sholat sunat rowatib.
2. Sunat kifayah yaitu segala perbuatan yang dianjurkan untuk diperbuat cukup oleh salah seorang saja dari suatu kelompok. Misal, mengucapkan salam, mendoakan orang bersin.

Selain itu, sunat juga terbagi kepada :

a. Sunat muakkad yaitu perbuatan sunat yang senantiasa dikerjakan oleh Rasul atau lebih banyak dikerjakan Rasul dari pada tidak dikerjakannya. Misal, sholat hari raya, aqiqah.
b. Sunat ghairu muakkad yaitu segala macam perbuatan sunat yang tidak selalu dikerjakan Rasul. Misal, bersedekah pada fakir miskin.

MAKRUH

Adapun yang dimaksud dengan makruh adalah perbuatan yang bila ditinggalkan, orang yang meninggalkannya mendapat pahala tetapi orang yang mengerjakannya tidak mendapat dosa (‘iqab). Misal, memakan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap.

Pada umumnya, ulama membagi makruh kepada dua bagian :

1. makruh Tanzih, yaitu segala perbuatan yang meninggalkan lebih baik daripada mengerjakan. Seperti contohnya tersebut diatas.
2. Makruh tahrim, yaitu segala perbuatan yang dilarang tetapi dalil yang melarang itu zhanny, bukan qhat’i. Misal bermain catur, memakan kala dan memakan daging ular (menurut madzhab Hanafiyah dan madzhab Malikiyah).

MUBAH

Mubah adalah segala perbuatan yang diberi pahala karena perbuatannya dan tidak berdosan karena meninggalkannya. Secara umum, mubah ini dinamakan juga halal atau jaiz.

Leave a Reply

Your email address will not be published.