Pembagian Hukum Syar’i

By July 26, 2016 Berita No Comments

PEMBAGIAN HUKUM SYAR’I

Apa yang telah saudara ketahui menenai hukum syar’i ? Pada umumnya ulama ushul fiqih membagi hukum syar’i menjadi dua bagian yakni taklifi dan wadh’i. pada artikel kali ini, kita akan membahas mengenai hukum taklifi lebih mendalam. Sedangkan hukum wadh’i akan dibahas dalam artikel lainnya.

26 Pembagian Hukum Syari

HUKUM TAKLIFI

Yang dimaksud dengan hukum taklifi adalah syar’i yang mengandung tuntutan (untuk dikerjakan atau ditinggalkan oleh para mukalaf) atau yang mengandung pilihan antara yang dikerjakan dan ditinggalkan. (H. Alaiddin Koto, 2004 hal 41).

Hukum taklifi ini terbagi kedalam lima bagian yakni ijab, nadb, tahrim, karabah dan ibadah. Ijab (wajib) adalah firman yang menuntut melakukan suatu perbuatan dengan tuntunan pasti. Misalnya firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 43, yang artinya :

“Dan dirikanlah sholat, tunaikan zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah : 43)

Nadb (Sunnah) adalah firman Allah yang menuntut melakukan suatu perbuatan dengan perbuatan yang tidak pasti, tetapi hanya berupa anjuran untuk berbuat. Misalnya firman Allah surat Al-Baqarah ayat 282 :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaknya kamu menuliskannya”.

Tahrim (Haram) adalah firman Allah yang menuntut untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti. Misalnya, firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3 :

“Diharamkan bagi mu (memakan) bangkai, darah dan daging babi”.

Karahah (makruh) adalah firman Allah yang menuntut untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan dengan tuntutan yang tidak pasti, tetapi hanya berupa anjuran untuk tidak berbuat. Misalnya, firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 101 :

“Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu nisacaya menyusahkanmu”.

Ibahah (Mubah) adalah firman Allah yang memberi kebebasan kepada mukalaf untuk melakukan sesuatu perbuatan. Misalnya firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 235 :

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran”.

Ulama hanafiyah membagi hukum taklifi menjadi tujuh bagian yaitu dengan membagi firman yang menuntut melakukan suatu perbuatan dengan tuntutan pasti kepada dua bagian, yaitu fardhu dan ijab. Begitu juga firman yang menuntut untuk tidak melakukan suatu perbuatan dengan pasti kepada dua bagian yaitu tahrim dan karahah tanzih.

26 Pembagian Hukum Syari

Menurut kelompok ini bila suatu perintah didasarkan dalil yang qath’i seperti dalil Al-Quran dan Hadits Mutawatir maka perintah itu disebut fardhu. Namun, bila suruhan itu berdasarkan dalil yang zhanni ia dinamakan ijab. Begitu pula larangan, bila larangan itu berdasarkan dalil zhanny maka ia disebut karahah tanzih.

Dengan pembagian seperti tersebut diatas, ualam hanafiyah membagi hukum taklifi menjadi fardhu, ijab, tahrim, karahah tanzih, nadb dan ibadah.

Meskipun golongan terakhir ini membagi hukum taklifi menjadi tujuh bagian, tetapi pada umumnya ulama sepakat membagi hukum tersebut menjadi lima bagian. Kelima macam hukum tersebut menimbulkan efek terhadap perbuatan mukalaf dan efek itulah yang dinamakan al-ahkam al-khamsah oleh ahli fiqih yakni wajib, haram, mandub, makruh, dan mubah. (H. Aliddin Koto, 2004 hal 42-44).

Itulah tadi dasar pembagian hukum syar’i. pada artikel selanjutnya akan dijelaskan mengenai kelima hukum taklifi, sedangkan pada artikel lainnya akan mencoba djelaskan mengenai hukum wadh’i. Semoga artikel diatas bermanfaat untuk saudara muslim.

Meskipun hanya secara singkat penjelasan mengenai pembagian hukum syar’i diatas, pada dasarnya syariat diartikan sebagai hukum atau aturan yang ditetapkan Allah buat hamba-Nya untuk ditaati. Baik itu berkaitan dengan hubungan mereka dengan Allah maupun hubungan antara sesama manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.