Pengertian Aqiqah

By May 26, 2016 Uncategorized No Comments

PENGERTIAN AQIQAH

Aqiqah merupakan suatu penebusan sang bayi yang baru lahir sebagai bentuk syukur atas lahirnya anak ke dunia dengan disembelihkan hewan ternak berupa kambing dan dibagikan masakan daging sembelihan.

Makna Aqiqah

Sahabat Aqiqah Berkah yang dirahmati Allah, Aqiqah dalam istilah agama adalah sembelihan sembelihan untuk anak yang baru lahir baik anak laki-laki atau anak perempuan pada hari ke tujuh sejak kelahirannya dengan tujuan semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Nah, aqiqah juga dapat diartikan memutus atau melubangi. Hakikat adanya aqiqah anak laki ataupun anak perempuan merupakan upaya penebusan anak yang statusnya tergadai ketika lahir di dunia ini. Penebusan tersebut dilaksanakan melalui bentuk aqiqah.

Secara etimologis / lughawi aqiqah adalah memotong atau al-qat’u atau nama untuk rambut pada kepala bayi yang dilahirkan (اسم للشعر على رأس المولود). Menurut terminologi syariah (fiqih) akikah adalah hewan yang disembelih sebagai wujud rasa syukur atas karunia Allah atas lahirnya seorang anak baik laki-laki atau perempuan.

Al-Ghazi dalam kitab Fathul Qorib al-Mujib mendefinisikan aqiqah sebagai berikut :

(الذبيحة عن المولود يوم سابعه) أي يوم سابع ولادته بحسب يوم الولادة من السبع)

Kambing yang disembelih untuk bayi pada hari ketuju kelahiran.

Makna aqiqah dalam Islam dituangkan dalam sabda Rasulullah SAW sebagai berikut :

أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ

Artinya: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.

Dalil Aqiqah

Dalil yang mendasari adanya anjuran untuk aqiqah adalah sebagai berikut ini :

Hadits Riwayat Ahmad dan Imam Empat Hadits shahih menurut Tirmidzi.

كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويتصدق بوزن شعره فضة أو ما يعادلها ويسمى

Artinya: Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur habis1 rambutnya, dan diberi nama

Berdasarkan hadits diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasannya anak yang terlahir di dunia ini masih tergadai sehingga harus ditebus melalui aqiqah. Aqiqah baiknya dilaksanakan pada hari ke tujuh dengan menyembelih hewan ternak. Kemudian pada hari itu pula digunduli rambut si bayi dan diberi nama yang bagus.

Makna aqiqah dalam Islam sangat luas, namun hanya satu yang menjadi pokok pelaksanaannya yakni sebagai penebusan anak. Sedangkan makna aqiqah dalam Islam menurut Al-Ghazi dalam kitab Fathul Qorib al-Mujib adalah sebagai berikut :

الذبيحة عن المولود يوم سابعه) أي يوم سابع ولادته بحسب يوم الولادة من السبع

“Kambing yang disembelih untuk bayi pada hari ketuju kelahiran”

Hikmah Aqiqah

Selain itu, Al-Hafizh Ibnul Qayyim menyebutkan beberapa hikmah di laksanakannya syari’at aqiqah, antara lain:

  • Menghidupkan sunnah Nabi
  • Taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah dan syukur kepada-Nya
  • Membebaskan anak bayi dari pergadaian
  • Penyebab kebaikan anak, pertumbuhannya, keselamatannya, panjang umurnya, dan terhindar dari gangguan setan.

Menurut Syekh Abdullah Nasihih Ulwan dalam kitab “Tarbiyatul Aulad Fil Islam”, aqiqah memiliki hikmah diantaranya :

Aqiqah Berkah (8)

Pertama, menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabi Ibrahim AS saat menebus putra tercintanya Ismail AS.

Kedua, dalam aqiqah mengandung unsur perlindungan dari setan yang dapat mengganggu anak yang telah lahir itu dan ini sesuai dengan maksud hadits yang artinya “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya”.

Ketiga, aqiqah merupakan tebusan bagi anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari akhir. Seperti yang diutarakan Imam Ahmad, “Dia tergadai dari memberikan syafaat bagi kedua orangtuanya (dengan aqiqahnya).”

Keempat, aqiqah merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita dengan lahirnya anak.

Kelima, aqiqah merupakan sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syariat Islam dan bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

Keenam, aqiqah dapat memperkuat ukhuwah atau persaudaraan di antara warga masyarakat.

Ketujuh, aqiqah merupakan sarana untuk merealisasikan prinsip keadilan sosial dan menghapuskan gejela kemiskinan di dalam masyarakat. Misalnya dengan adanya masakan aqiqah yang diberikan kepada fakir miskin dan dhuafa.

Hukum Aqiqah

Hukum aqiqah menurut para ahli fiqih adalah sebagai berikut ini :

  1. Hukumnya sunnah. Ulama yang berpendapat demikian diantaranya Imam Malik, ulama madinah, Imam Syafi’i beserta pengikutnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsur dan sebagian besar ulama fiqih dan ijtihad.
  2. Hukumnya wajib. Ulama yang berpendapat demikian adalah Imam Hasa al-Bashri, al-Laits ibn Sa’ad dan lainnya. Dalil yang mendasari pemikiran tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Hasan dari Samurah ibn Jundab dari Nabi SAW beliau bersabda, “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya”.
  3. Hukum yang ketiga adalah pendapat yang mengingkari disyariatkannya Aqiqah. Ulama yang berpendapat demikian adalah ulama penganut Madzhab Hanafi.

Hukum melaksanakan akikah menurut para ulama adalah sunah muakadah. Ada pula ulama yang menjelaskan bahwa akikah sebagai penebus, artinya disini akikah itu akan menjadikan terlepasnya kekangan syetan yang mengiringi bayi sejak lahir.

Berikut ini perbedaan pendapat di antara ahli fiqih tentang kebolehan / tidak dibolehkannya menyembelih aqiqah bila waktunya bukan pada hari ketujuh

Al-Malikiyah

Madzhab Al-Malikiyah menetapkan bahwasannya waktu untuk menyembelih hewan aqiqah hanya di hari ketujuh saja. Apabila dilaksanakan diluar waktu tersebut (sesudah atau sebelumnya) menurut Madzhab Al-Malikiyah tidak menyariatkan penyembelihan hewan aqiqah. Artinya penyembelihan hewan aqiqah hanya sah dilaksanakan pada hari ketujuh saja.

Asy-Syafi’iyah

Menurut pendapat Asy-Syafi’iyah lebih luas lagi karena madzhab Syafi’i membolehkan melaksanakan aqiqah disembelih meski belum masuk hari ketujuh. Madzhab Asy-SYafi’i juga membolehkan disembelihkan aqiqah meski waktunya sudah lewat dari hari ketujuh.

Pandangan madzhab Syafi’i lebih memberikan toleran, menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh adalah waktu ikhtiyar. Maksudnya adalah waktu yang sebaiknya dipilih. Namun seandainya tidak ada pilihan, maka boleh dilakukan kapan saja.

Al-Hanabilah

Madzhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa bila seseorang tidak mampu untuk menyembelih kambing aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran sang bayi, maka dia masih diperbolehkan untuk menyembelihnya pada hari ke empat belas. Dan bila pada hari ke empat belasnya juga tidak mampu melaksanakannya maka boleh dilaksanakan pada hari ke dua puluh satu.

Ibnu Hazm menyebutkan bahwa tidak disyariatkan bila menyembelih kambing aqiqah sebelum hari ketujuh, namun bila lewat dari hari ke tujuh maka tetap bisa dilaksanakan sampai kapan saja.

Penting untuk diketahui bahwa Ibnu Hizm termasuk kalangan yang mewajibkan penyembelihan hewan aqiqah. Sehingga karena dalam pandangan wajib, maka bila tidak dikerjakan wajib untuk menggantinya pula atau mengqadla dan qadla tetap berlaku hingga kapanpun.

Hewan Akikah

Pembahasan mengenai hewan aqiqah, Rasul hanya menjelaskan dalam hadits bahwa hewan sembelihan aqiqah berupa kambing, domba atau sejenis dari keduanya. Artinya hewan utama atau simbol adanya pelaksanaan aqiqah adalah dengan menyembelih hewan ternak berupa kambing.

Syarat hewan yang disembelih untuk aqiqah memiliki kesamaan sidat dan keadaan dengan hewan yang disembelih untuk qurban. Mengenai usia hewan aqiqah terutama kambing juga sama dengan usia hewan qurban yakni ditas usia satu tahun.

Tujuan Aqiqah

Tujuan akikah pada dasarnya adalah mendidik anak menjadi hamba yang dekat dengan Allah SWT. Sebab, aqiqah merupakan tindakan yang berqurban. Namun secara khusus, tujuan dan manfaat aqiqah adalah bentuk syukur atas rahmat dan anugerah Allah kepada muslim dengan kehadiran anak dalam kehidupan keluarga. Tujuan dan manfaat aqiqah akan tercapai bila upacara atau pelaksanaan aqiqah dilaksanakan dengan tulus ikhlas dan mengikuti adab aqiqah yang telah ditetapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.