Pro Kontra Vaksin dan Imunisasi

By July 27, 2016 Berita No Comments

PRO KONTRA VAKSIN DAN IMUNISASI

Kata ‘vaksin’ berarti senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh terhadap virus. Itulah sebabnya imunisasi identik dengan vaksinasi. Vaksin terbuat dari virus yang telah dilemahkan dengan menggunakan bahan tambahan seperti formaldehid dan thyrmorosal.

Teriyaki (2)Imunisasi dan vaksin adalah dua hal yang berbeda dimana sering terjadi kerancuan atas keduanya. Imunisasi adalah pemindahan atau transfer antibodi (biasanya disebut dengan daya tahan tubuh) secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu.

Sedangkan vaksin adalah pemberian vaksin (antigen dari virus atau bakteri) yang dapat merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”. Sumber : (Pedoman Imunisasi di Indonesia hal. 7, cetakan ketiga, 2008, penerbit Depkes)

Apabila membahas pro dan kontra vaksin dan imunisasi sudah tentu akan ada pihak yang sependapat dan juga yang tidak sependapat dengan adanya vaksin dan imunisasi. Pihak yang pro akan cenderung mendukung adanya vaksin. Sedangkan pihak yang kontra akan berseberangan dengan pihak yang pro. Berikut ini akan dijabarkan mengenai pro dan kontra penggunaan vaksin dan imunisasi, dikutip langsung dari laman website muslim.or.id

Beberapa pihak yang tidak sependapat adanya vaksin dan imunisasi memiliki beberapa alasan dan landasan antara lain :

  1. Vaksin dihukumi haram karena menggunakan media ginjal kera, babi, aborsi bayi, darah orang yang tertular penyakit infeksi yang notabene pengguna alkohol, obat bius, dan lain-lain. Ini semua haram dipakai secara syari’at.
  2. Efek samping yang membahayakan karena mengandung mercuri, thimerosal, aluminium, benzetonium klorida, dan zat-zat berbahaya lainnya yg akan memicu autisme, cacat otak, dan lain-lain.
  3. Lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya, banyak efek sampingnya.
  4. Kekebalan tubuh sebenarnya sudah ada pada setiap orang. Sekarang tinggal bagaimana seseorang menjaganya dan bergaya hidup sehat.
  5. Konspirasi dan akal-akalan oknum negara lainnya untuk memperbodoh dan meracuni negara berkembang dan negara muslim dengan menghancurkan generasi muda mereka.
  6. Adanya bisnis yang besar di balik program imunisasi bagi mereka yang berkepentingan. Mengambil uang orang-orang muslim.
  7. Menyingkirkan metode pengobatan dan pencegahan dari negara-negara berkembang dan negara muslim seperti minum madu, minyak zaitun, kurma, dan habbatussauda.
  8. Adanya beberapa laporan bahwa anak mereka yang tidak di-imunisasi masih tetap sehat, dan justru lebih sehat dari anak yang di-imunisasi.

Sedangkan beberapa alasan bagi mereka yang pro dengan adanya vaksin dan imunisasi adalah sebagai berikut ini :

Teriyaki (1)

  1. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena telah banyak kasus ibu hamil membawa virus Toksoplasma, Rubella, Hepatitis B yang membahayakan ibu dan janin. Bahkan bisa menyebabkan bayi baru lahir langsung meninggal. Dan bisa dicegah dengan vaksin.
  2. Vaksinasi penting dilakukan untuk mencegah penyakit infeksi berkembang menjadi wabah seperti kolera, difteri, dan polio. Apalagi saat ini berkembang virus flu burung yg telah mewabah. Hal ini menimbulkam keresahan bagi petugas kesahatan yang menangani. Jika tidak ada, mereka tidak akan mau dekat-dekat. Juga meresahkan masyarakat sekitar.
  3. Walaupun kekebalan tubuh sudah ada, akan tetapi kita hidup di negara berkembang yang notabene standar kesehatan lingkungan masih rendah. Apalagi pola hidup di zaman modern. Belum lagi kita tidak bisa menjaga gaya hidup sehat. Maka untuk antisipasi terpapar penyakit infeksi, perlu dilakukan vaksinasi.
  4. Efek samping yang membahayakan bisa kita minimalisasi dengan tanggap terhadap kondisi ketika hendak imunisasi dan lebih banyak cari tahu jenis-jenis merk vaksin serta jadwal yang benar sesuai kondisi setiap orang.
  5. Jangan hanya percaya isu-isu tidak jelas dan tidak ilmiah. Contohnya vaksinasi MMR menyebabkan autis. Padahal hasil penelitian lain yang lebih tersistem dan dengan metodologi yang benar, kasus autis itu ternyata banyak penyebabnya. Penyebab autis itu multifaktor (banyak faktor yang berpengaruh) dan penyebab utamanya masih harus diteliti.
  6. Jika ini memang konspirasi atau akal-akalan negara barat, mereka pun terjadi pro-kontra juga. Terutama vaksin MMR. Disana juga sempat ribut dan akhirnya diberi kebebasan memilih. Sampai sekarang negara barat juga tetap memberlakukan vaksin sesuai dengan kondisi lingkungan dan masyarakatnya.
  7. Mengapa beberapa negara barat ada yang tidak lagi menggunakan vaksinasi tertentu atau tidak sama sekali? Karena standar kesehatan mereka sudah lebih tinggi, lingkungan bersih, epidemik (wabah) penyakit infeksi sudah diberantas, kesadaran dan pendidikan hidup sehatnya tinggi. Mereka sudah mengkonsumsi sayuran organik. Bandingkan dengan negara berkembang. Sayuran dan buah penuh dengan pestisida jika tidak bersih dicuci. Makanan dengan zat pengawet, pewarna, pemanis buatan, mie instant, dan lain-lain. Dan perlu diketahui jika kita mau masuk ke beberapa negara maju, kita wajib divaksin dengan vaksin jenis tertentu. Karena mereka juga tidak ingin mendapatkan kiriman penyakit dari negara kita.
  8. Ada beberapa fatwa halal dan bolehnya imunisasi. Ada juga sanggahan bahwa vaksin halal karena hanya sekedar katalisator dan tidak menjadi bagian vaksinContohnya Fatwa MUI yang menyatakan halal. Dan jika memang benar haram, maka tetap diperbolehkan karena mengingat keadaan darurat, daripada penyakit infeksi mewabah di negara kita. Harus segera dicegah karena sudah banyak yang terjangkit polio, Hepatitis B, dan TBC.

Dari alasan pro dan kontra diatas, dapat kita fahami beberapa hal diantaranya imunisasi dan vaksin dihukumi mubah. Silahkan bagi Anda yang ingin melakukan imunisasi bila sesuai dengan keyakinan. Bagi yang tidak menginginkan imunisasi sesuai dengan keyakinan, dipersilahkan untuk tidak melakukannya karena ini tidak berdosa secara syariat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.