Qurban Atas Nama Orang Lain

QURBAN ATAS NAMA ORANG LAIN

Sabda Rasulullah Myhammad SAW, “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang benmanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya”. (HR Muslim)

Qurban Untuk Orang Lain, Bolehkah - (1)

Dibalik perayaan Idul Adha atau hari raya qurban, tentunya akan banyak pertanyaan sebagi diskusi ringan masyarakat seputar fiqih qurban. Percakapan dan diskusi yang akan berujung pada pemaknaan dan pengertian mengenai berbagai macam hukum qurban. Salah satu yang sering dipertanyakan adalah mengenai boleh atau tidaknya qurban atas nama orang lain ?

Apabila ditilik dari keutamaannya, ibadah qurban merupakan salah satu ibadah yang menjadi syiar Islam. Dalam Idul Adha inilah momentum terbaik untuk mewujudkan dan membuktikan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah.

Hukum qurban yang paling banyak diketahui dan difahami oleh kesepakatan ulama adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang diutamakan. Diutamakan pada siapa? Hukum qurban adalah sunnah bagi yang mampu dan berkecukupan untuk melaksanakannya. Apabilaseorang muslim mampu namun meninggalkan atau tak sempat melaksanakan ibadah qurban dengan berbagai alasan, maka hukumnya adalah makruh.

Qurban Untuk Orang Lain, Bolehkah -

Lalu bagaimana dengan konteks ada seorang hamba yang mampu, namun ingin memberikan kebaikan kepada saudaranya atau orang terdekatnya yang kurang mampu untuk berqurban dalam bentuk qurban atas namanya, sehingga saudara atau temannya yang kurang mampu itu tetap bisa mendapatkan pahala, kebaikan, dan keutamaan ibadah qurban. Atau mungkin berqurban untuk saudara, orangtua atau seseorang yang telah meninggal.

Para ulama telah sepakat bahwa sedekah seseorang kepada orang yang telah meninggal akan sampai kepadanya, demikian pula ibadah-ibadah harta lainnya, seperti membebaskan budak. Sedangkan perselisihan yang terjadi dikalangan para ulama adalah pada masalah ibadah badaniyah, seperti sholat, puasa, membaca Al Qur’an dikarenakan adanya riwayat dari Aisyah didalam shohihain dari Nabi saw, ”Barangsiapa yang meninggal dan masih memiliki kewajiban puasa maka hendaklah walinya berpuasa untuknya.” (Majmu’ Fatawa juz V hal 466, Maktabah Syamilah)

Imam Nawawi juga mengatakan didalam Syarahnya, ”Para ulama telah sependapat bahwa doa seseorang kepada orang yang sudah meninggal akan sampai kepadanya demikan pula halnya dengan sedekah yang ditujukan kepada orang yang meninggal, pahalanya akan sampai kepadanya dan tidak mesti orang itu harus anaknya. (Al Majmu’ juz XV hal 522, Maktabah Syamilah)

Dalil lain yang juga dijadikan landasan oleh para ulama didalam membolehkan qurban bagi orang yang meninggal adalah firman Allah swt, ”dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” (QS. An Najm : 39)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir juga menyelipkan sabda Rasulullah saw, ”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim) dan dia mengatakan, ”Tiga golongan didalam hadits ini, sebenarnya semua berasal dari usaha, kerja keras dan amalnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,’Sesungguhnya makanan yang paling baik dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya seorang anak adalah hasil dari usaha (orang tua) nya.” (Abu Daud, Tirmidzi, an Nasai dan Ahmad) Dan sedekah jariyah seperti wakaf dan yang sejenisnya adalah buah dari amal dan wakafnya.

Diperbolehkan bagi seseorang yang ingin berqurban di Hari Raya Idul Adha untuk orang lain kemudian menyerahkan kepadanya sejumlah uang seharga hewan qurban itu tapi tetap meminta kepadanya untuk membelikannya hewan kurban dan disembelih pada waktu-waktu kurban, sehingga sasaran dari ibadah kurban akan terpenuhi. Ini juga dapat dilaksanakan melalui Aqiqah Berkah dengan nama paket qurban peduli syar’i.

Leave a Reply

Your email address will not be published.