Syarat-syarat Syahnya Hewan Kurban

Syarat-Syarat Sahnya Hewan Kurban

syarat kurban

Bismillahirrahmanirrahiim
Beberapa kajian hukum seputar ibadah kurban di hari Idul Adha (Udhiyah).

Maksud firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam… Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [Al-An’am: 162-163]

Ibadah Kurban

Berqurban di hari Idul Adha merupakan ibadah sunnah muakkadah, termasuk perbuatan yang paling dicintai Allah Ta’ala. Sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Maksud Hadits: “Tidak ada perbuatan manusia yang paling dicintai Allah Ta’ala pada hari kurban kecuali mengucurkan darah (hewan kurban) karena sesungguhnya hewan tersebut akan datang pada hari kiamat dengan bentuk seutuhnya (tanduknya, kukunya dan kulitnya) dan sesungguhnya darahnya akan sampai disisi Allah sebelum sampai ke bumi”.

Binatang kurban itu hendaklah binatang ternakan (An‘am) seperti: 1.Unta 2.Lembu/ sapi 3.kambing/ biri-biri kibasy/ domba.

Maksud Firman Allah Ta’ala: “Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syari‘atkan ibadat menyembelih kurban supaya mereka menyebut nama Allah sebagai bersyukur akan pengurniaanNya kepada mereka daripada binatang-binatang ternak yang disembelih itu” (Al-Hajj : 34).

Dalam Firman Allah yang lain merupakan anjuran berkurban seperti yang dijelaskan dalam surat Al-kautsar, Maksud Ayat:

  1. Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
  2. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu, dan berkorbanlah.
  3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

(yang dimaksud “berkorbanlah” di dalam ayat tersebut, menurut sebagian besar Mufassiriin adalah menyembelih hewan kurban di hari Idul Adha dan mensyukuri nikmat Allah).

Hukum-hukum berkurban

Seekor unta, lembu/ sapi itu diniatkan (kongsi) untuk tujuh jiwa dan masing-masing yang ikut andil dalam pembelian harus berniat satu tujuan, yaitu niat berkurban. Adapun Seekor kambing hanya untuk seorang saja tidak boleh diniatkan untuk dua jiwa. Bila diniatkan untuk dua jiwa/ orang, Udhiyanya (kurban) tidak sah, tapi tetap saja mendapat pahala sedekah bagi dirinya.

Paling utama/ Afdhal binatang yang dibuat kurban adalah yang berwarna putih, kemudian yang berwarna kekuning-kuningan, kemudian yang putih tetapi tidak sempurna putihnya, kemudian yang sebagian besar badannya berwarna putih, kemudian yang sebagian besar berwarna hitam, kemudian berwarna hitam semuanya, kemudian yang berwarna kemerah-merahan semuanya/ coklat condong pada warna merah.

Binatang itu hendaklah cukup umur

Untuk unta berumur lima tahun dan masuk tahun keenam serta sudah kupak (terlepas gigi depannya). Adapun sapi/ lembu atau kambing (selain kambing kibasy/ biri-biri/ domba) berumur dua tahun dan masuk tahun yang ketiga . Boleh juga kambing yang belum genap berumur dua tahun, dengan syarat sudah kupak (terlepas gigi depannya) dengan sendirinya dan umurnya sudah lebih dari 1 tahun.

Kambing kibasy/ biri-biri/ domba.

Bagi yang berkurban kambing jenis kibasy/ biri-biri/ domba, maka cukup yang berumur satu tahun atau belum mencapai umur satu tahun dengan syarat sudah kupak (terlepas gigi depannya) dan umurnya sudah lebih dari enam bulan.

Urutan keutamaan binatang untuk dijadikan kurban.
1.Unta 2.Lembu/ sapi 3.Kambing kibasy/ biri-biri/ domba 4.Kambing biasa pada umumnya.
Satu ekor Unta atau lembu/ sapi diniatkan (kongsi) untuk tujuh jiwa. Namun, tujuh ekor kambing untuk masing-masing orang, maka hal tersebut lebih afdhal/ utama. Lebih jelasnya, berkurban tujuh ekor kambing lebih afdhal dari pada satu ekor unta, disebabkan daging akan menjadi lebih banyak.

Binatang Kurban Hendaklah Sehat & Bebas dari Cacat.

Binatang yang tidak sah dijadikan kurban itu ialah:

  1. Binatang yang buta atau rusak matanya atau yang tidak dapat melihat sekalipun biji matanya masih ada. Jika matanya itu ada sedikit kecacatan seperti sedikit rabun tetapi masih bisa melihat, maka ia sah dibuat kurban.
  2. Binatang yang jelas pincang kakinya dengan perkiraan, bila ia berjalan bersama-sama sekumpulan kawan-kawan binatang yang lain untuk mencari makan, ia tidak dapat ikut berjalan bersama dengan binatang-binatang tersebut, bahkan ia tertinggal jauh dibelakang. bila pincangnya itu sedikit yaitu pincang yang tidak menghalangi mengikuti kawan-kawannya, maka ia sah dibuat kurban.
  3. Binatang yang nyata sakitnya sehingga berakibat binatang tersebut kurus dan kurang dagingnya. Tetapi jika sakitnya itu sedikit dan tidak mengurangi dagingnya maka ia sah dibuat kurban.
  4. Binatang yang kurus sekali akibat sakit, gila atau kurang makan dan sebagainya.
  5. Binatang yang telinganya terpotong walaupun sedikit atau yang tidak bertelinga sejak dilahirkan kerana telah hilang sebagian anggota yang bisa dimakan dan mengurangi dagingnya. Tetapi tidak mengapa jika telinganya koyak atau berlubang dengan syarat tidak ada yang berkurang dari dagingnya walaupun sedikit.
  6. Binatang yang terpotong ekornya walaupun sedikit atau terpotong sebagian lidahnya atau yang terpotong dari bagian pahanya. Adapun yang dilahirkan tanpa ekor sejak dilahirkannya, maka sah dibuat kurban.
  7. Binatang yang gugur semua giginya sehingga mengakibatkan tidak dapat makan rumput. Adapun yang ada sebagian giginya dan tidak menghalangi makan rumput dan tidak mengurangi dagingnya (tidak kurus) ia boleh dibuat kurban.
  8. Binatang yang berpenyakit gila atau yang kena penyakit kurap sekalipun sedikit.
  9. Binatang betina yang hamil. adapun binatang yang baru melahirkan boleh dibuat kurban berdasarkan pendapat Ibnu Hajar dalam kitabnya Tuhfah dan Arramli dalam kitabnya Nihayah.

Waktu Pelaksanaan Berkurban

Rasulullah SAW telah bersabdah, maksud Hadits: “Barang siapa yang menyembelih sebelum Sholat Ied sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya dan barang siapa yang menyembelih setelah sholat dan dua khutbahnya maka ia telah menyempurnakan ibadahnya dan ia telah melaksanakan sunnah orang orang beriman” (Bukhari & Muslim).

Lebih jelasnya, waktunya empat hari, yaitu diawali setelah Sholat Idul Adha dan dua khutbahnya (tanggal 10 Dzul Hijjah) sampai tenggelamnya matahari pada tanggal 13 Dzul Hijjah/ akhir hari tasyriq. Dan afdholnya, dilakukan di hari Idul Adha hingga matahari terbenam.

Anjuran Bagi yang Hendak Melaksanakan Ibadah Kurban

Maksud hadits: “Apabila kalian melihat hilal Dzul Hijjah dan salah seorang kalian ingin berkurban, maka hendaknya dia menahan rambut dan kuku-kukunya (maksudnya tidak memotongnya).” (HR. Muslim)

Hadits di atas menjelaskan, bahwa apabila telah masuk bulan Dzul Hijjah, dari hari pertama hingga tanggal 10 (hewan disembelih), hendaknya bagi yang berniat melaksanakan ibadah kurban tidak mengambil/ memotong sedikit pun dari rambut dan kukunya (termasuk bulu kumis, ketiak dan bagian bawah) sampai dia menyembelih hewannya. Larangan ini berlaku khusus bagi yang berniat hendak melaksanakan ibadah kurban saja. Adapun larangan tersebut hukumnya MAKRUH bagi yang meninggalkan, bukan HARAM.

Demikian penjelasan singkat ini (Ala Madzhab Assyafi’i) yang dapat al-faqir uraikan, Semoga dapat menambah maklumat bagi semua umat Islam yang berniat melakukan ibadah Kurban. Wallohu A’lam Bi Showab.

Salah Beli Kambing Qurban

Alhamdulillah, meskipun dunia lagi heboh-hebohnya krisis global, Allah masih mengijinkan saya dan memberi rezeki untuk berqurban pada tahun ini. Minggu sore kemarin,bersama “pacar” kedua saya si Mio hitam, saya hunting kambing qurban keliling wilayah perum Tangerang. Setelah survei ke beberapa tempat, jatuhlah pilihan saya di lapak kambing di daerah perumahan harapan kita Tangerang,setelah looking-looking kambing di sana, mulailah saya memilih dan menawar harga kambing, dan akhirnya kambing putih menjadi pilihan saya.

Karena ga mungkin saya satu motor bareng sang kambing, si kambing saya naikan ke becak. Si penumpang becak rupanya ga betah berada di atas becak, sepanjang perjalanan selalu mengembik…( teriak-teriak gitu dehh ). Supaya tuh kambing bisa diam pak pengemudi becak mengambil inisiatif mengambil sedikit rumput, ternyata cara tersebut berhasil, sisa perjalanan ke tempat Qurban si kambing asik ngemil rumput muda.

Sampai di masjid dekat rumah, kambing saya serahkan ke panitia. Eitt..sebelum dimasukan ke tempat isolasi, kambing diperiksa dulu, kuping, mata, kaki, kulit semuanya mulus dan lulus uji, tapi…. pas mulut kambing dibuka dan diperiksa giginya, ternyata kambing qurban saya tidak memenuhi syarat karena gigi kambing belum kopak ( saya ga tau bahasa indonesianya kopak apa yah ?? ). Gigi kopak di sini adalah gigi kambing pada bagian depan ada dua gigi yang besar-besar, sedangkan kambing qurban saya giginya masih rapi dan kecil-kecil jadi dikhawatirkan kambing tersebut belum genap satu tahun umurnya.

Kata panitia yang memeriksa,qurban kambing tidak sah apabila :

  1. Buta sebelah yang jelas/tampak
  2. Sakit yang jelas.
  3. Pincang yang jelas
  4. Sangat kurus, tidak mempunyai sumsum tulang.
  5. Umurnya belum setahun.
  6. Telinga dan ekornya putus atau telinganya sobek, memanjang atau melebar
  7. Bagian tubuh lengkap.
  8. Gila
  9. Kehilangan gigi ( ompong )
  10. Tidak bertanduk dan tanduknya patah.

Sempet kesel sih sama si penjual kambing, kenapa menjual kambing qurban yang tidak memenuhi syarat, tapi setelah mikir dua kali saya baru “ngeh” bahwa Allah sedang memberikan ilmu baru kepada saya dari kejadian tersebut, andaikan ga salah beli mungkin sampai sekarang saya ga tau ilmu memilih kambing Qurban.

Akhirnya, si kambing putih tersebut terhindar dari kematian, setelah saya tukarkan kembali dengan kambing yang lainnya yang memenuhi syarat Qurban.

Syarat Hewan Qurban/Qurban (tsaniyyah ,Yang Berhak Menerima Qurban dan Harus Jantan? )

Berdasarkan sejumlah dalil baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, para ulama membuat kesimpulan hukum tentang masalah hewan yang layak dijadikan sembelihan qurban.

Di antaranya yaitu:

  1. Yang boleh dijadikan hewan sembelihan qurban hanyalah terbatas pada unta, sapi (termasuk kerbau), dan kambing dengan segala jenisnya. Sedangkan jenis unggas seperti burung, ayam, itik, angsa, kalkun dan sejenisnya tidak termasuk yang memenuhi syarat.
  2. Jumhur ulama sepakat bahwa hewan yang memenuhi syarat untuk disembelih untuk qurban adalah hewan yang sudah mengalami copot salah satu giginya (tsaniyyah). Yang dimaksud dengan gigi adalah salah satu gigi dari keempat gigi depannya, yaitu dua di bawah dan dua di atas. Boleh jantan atau betina meski diutamakan yang jantan karena bisa menjaga populasi.
  3. Kambing tidak boleh untuk lebih dari satu orang sedangkan unta atau sapi boleh untuk 7 orang
  4. Tidak boleh hewan yang matanya buta atau cacat atau picak (aura’). Atau yang yang sakit atau memiliki cacat tertentu sehingga membuatnya sangat tidak layak untuk dijadikan persembahan kepada Allah SWT. Seperti hewan yang lidahnya terpotong seluruhnya, atau yang hidungnya terpotong, atau yang salah satu telinganya terpotong, atau yang pincang hingga tidak mampu berjalan ke tempat penyembelihan, atau yang terpotong salah satu kakinya, atau yang terpotong putting susunya atau sudah kering, atau yang terpotong pantatnya, atau yang terpotong ekornya, atau yang kurus kering, atau yang memakan kotoran atau tahi (kotoran).

Semua jenis hewan yang memiliki cacat dan masalah seperti ini harus dijauhkan dari hewan yang akan kita sembelih. Apakah Harus Jantan? Sesungguhnya di dalam syariat Islam tidak disyaratkan hewan qurban itu harus jantan atau betina. Keduanya sama-sama dibolehkan untuk dijadikan hewan qurban. Kalaupun diutamakan yang jantan, pertimbangannya adalah bahwa yang betina itu masih mungkin punya anak. Sehingga lebih bernilai ekonomis bila menyembelih yang jantan saja.

Yang Berhak Menerima Hewan Qurban

Pada dasarnya, daging kurban boleh diberikan kepada siapa saja sesuai dengan keinginan qurbany (yang berkurban) hanya saja lebih utama diperuntukan bagi faqir miskin. Jadi tidak dikhususkan untuk golongan (ashnaf) tertentu sebagaimana halnya zakat. Bahkan diperbolehkan juga untuk memberi daging hewan kurban kepada non muslim sebagai sebuah syiar agama kita yang akan menunjukkan kepada mereka bahwa Islam itu adalah agama rahmataan lil ‘alamiin.

Orang yang berkurban dibolehkan untuk mengambil bagian dari daging hewan kurban asal tidak lebih dari sepertiganya. Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah, berikan kepada yang lain dan simpanlah (daging hewan kurban).” (HR Bukhari) Sedangkan menjual daging kurban, jika hal itu dilakukan oleh panitia kurban tidak dibenarkan secara syar’i, karena menyalahi ketentuan yang berkaitan dengan qurban, di mana para ulama menyatakan tidak diperbolehkannya menjual daging maupun kulit hewan kurban. (Fiqhus Sunnah) Agar pembagian daging kurban berjalan lancar, hendaklah para panitia menyiapkan segala hal dengan baik dan benar, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Menjual Kulit Hewan Qurban untuk Kepentingan Masjid dan Panitia

Hewan yang disembelih untuk qurban itu ditujukan untuk tiga hal, yaitu dimakan sendiri, dihadiahkan atau disedekahkan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadist riwayat Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah membagi daging kurban menjadi tiga, sepertiga untuk keluarganya, sepertiga untuk fakir miskin dan tetangga dan sepertiga untuk orang meminta-minta” (H.R. Abu Musa al-Asfihani dalam Wadlaif) Dalam riwayat lain Rasulullah s.a.w. bersabda, “Makanlah sebagian, simpanlah sebagian dan bersedekahlah dengan sebagian.”

Adapun panitia penyembelihan hewan qurban sesungguhnya secara syar’i tidak diisyaratkan untuk dibentuk, sehingga dari segi pembiayaan pun tidak dialokasikan dana secara syar’i. Hal ini berbeda dengan amil zakat, yang memang secara tegas disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariem sebagai salah satu mustahiq zakat. Siapa yang menjual kulit qurban (udhiyyah) itu maka tidak dianggap qurban baginya. (Hadis riwayat al-Hakim) Maka bila seseorang meminta jasa orang lain (tukang jagal) untuk disembelihkan hewan qurban miliknya, tetapi dengan imbalan berupa kulit hewan itu menjadi milik tukang jagalnya, maka tidaklah termasuk qurban, sesuai hadits di atas.

Demikian juga dengan panitia penyembelihan dan pendistribusian hewan qurban, seharusnya mereka punya kas tersendiri di luar dari hasil hewan yang diqurbankan. Boleh saja panitia mengutip biaya jasa penyembelihan kepada mereka yang meminta disembelihkan. Hal seperti ini sudah lumrah, misalnya untuk tiap seekor kambing, dipungut biaya Rp 30.000 s/d Rp 50.000. Biaya ini wajar sebagai ongkos jasa penyembelihan hewan dan pendistribusian dagingnya, dari pada harus mengerjakan sendiri. Tetapi panitia penyembelihan hewan qurban dilarang mengambil sebagian dari hewan itu untuk kepentingan penyembelihan. Baik dengan cara menjual daging, kulit, kepada atau kaki. Demikian pula dengan masjid, tidak perlu masjid dibiayai dari hasil penjualan daging qurban, sebab daging atau pun bagian tubuh hewan qurban itu tidak boleh diperjual-belikan. Termasuk dalam hal ini jasa para tukang potong, haruslah dikeluarkan dari kas tersendiri, di luar dari hewan yang dipotong. Ali ra. berkata, “Aku diperintah Rasulullah menyembelih kurban dan membagikan kulit dan kulit di punggung onta, dan agar tidak memberikannya kepada penyembelih” (Bukhari-Muslim).

Memberikan kulit atau bagian lain dari hewan kurban kepada penyembelih bila tidak sebagai upah, misalnya pemberian atau dia termasuk penerima, maka diperbolehkan. Bahkan bila dia sebagai orang yang berhak menerima kurban ini lebih diutamakan sebab dialah yang banyak membantu pelaksanaan kurban. Bagi pelaku kurban juga diperbolehkan mengambil kulit hewan kurban untuk kepentingan pribadinya. Aisyah r.a. diriwayatkan menjadikan kulit hewan kurbannya sebagai tempat air minum.

Bolehkah Hewan Kurban/qurban Sekaligus Aqiqah?

Bolehkah menyembelih satu ekor kambing dengan niat untuk Kurban dan Aqiqah? Ibadah ritual di dalam agama Islam sangat banyak bentuk dan jenisnya. Masing-masing telah diresmikan sebagai sebuah ibadah ritual dengan tata cara khusus, sebab khusus, waktu khusus, tujuan khusus dan pensyariatan yang juga khusus. Bahkan untuk menjalankannya pun dibutuhkan niat secara khusus agar bisa syah dan diterima Allah SWT sebagai sebuah ibadah. Meski terkadang antara satu jenis ibadah dengan jenis ibadah lainnya agak mirip dan identik.

Namun meski demikian, masing-masing berdiri sendiri. Tidak dapat digabungkan dan juga tidak bisa ditukar-tukar serta tidak bisa di-share. Misalnya ibadah shalat zhuhur dan ashar. Keduanya sangat mirip dan identik, sama-sama empat rakaat dan dua tahiyat, tidak disunnahkan menjaharkan (mengeraskan bacaan) dan waktunya hampir bersamaan (berurutan). Tapi masing-masing adalah ibadah yang terpisah dan berdiri sendiri. Sehingga tidak syah bila seseorang shalat empat rakaat dengan niat zhuhur sekaligus niat shalat ashar. Keduanya tidak bisa dilakukan dengan satu pekerjaan dengan dua niat.

Demikian juga dengan ibadah penyembelihan hewan qurban dan hewan aqiqah. Masing-masing punya tata cara, waktu, tujuan dan hikmah sendiri-sendiri. Maka tidak boleh menyembelih seekor kambing dengan dua niat sekaligus, untuk aqiqah dan qurban. Harus dipilih salah satu saja dan insya Allah ada ganjaran pahalanya yang besar. Seandainya satu pekerjaan ibadah boleh diniatkan untuk beberapa ibadah lainnya, maka nanti tidak ada jamaah haji berdesakan di Arafah dan Mina. Cukup satu orang saja yang mengerjakan haji tapi niatnya untuk menghajikan 3 juta orang. Tentu ini tidak benar dan menyalahi syariat.

Seandainya satu ibadah boleh diniatkan untuk ibadah lainnya, maka kita tidak perlu shalat setiap hari, cukup shalat sehari saja lima waktu dan pada pada setiap shalat diniatkan untuk shalat untuk hari-hari berikutnya. Hari ini shalat zhuhur 4 rakaat dengan niat untuk shalat zhuhur besok, lusa dan hari-hari berikutnya selama 100 tahun ke depan. Ini membuktikan bahwa satu niat hanya untuk satu ibadah. Diambil dari sebuah sumber (maaf alamatnya blum ketemu).

Demikian itulah yang dapat kami sampaikan.

Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS            : 085853444472

bandung

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.