dalil tentang qurban

Perintah Qurban Dalam Al-Quran

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

PERINTAH QURBAN DALAM AL-QURAN

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka (qurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (Al Maidah : 27)

23 Perintah Qurban dalam Al Quran 1

Terdapat banyak sekali dalil yang mendasari perintah berqurban. Kata qurban berasal dari bahasa Arab yaitu “qaruba-yaqrubu-qurban, qurbanan”, yang artinya dekat. (Kamus Al-Bisri,1999). Maksudnya ialah mendekatkan diri kepada Allah Swt. Adapun pengertian secara istilah qurban adalah penyembelihan hewan dalam rangka ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt yang dilakukan pada waktu tertentu. Ibadah qurban disyariatkan pada tahun ketiga hijrah, sama halnya dengan zakat dan shalat hari raya. (Terjemahan Fiqih Islam wa Adillatuhu, 2011).

Perintahh berqurban disyariatkan dalam Islam dan telah disampaikan dalam beberapa ayat Al-Quran seperti dalam surat Al-Kautsar ayat 2 :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).

Dalam surat al-Maidah ayat 27 :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka (qurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

Kisah lain ialah qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail. Diceritakan dalam Al-Quran surat as-Saffat ayat 102-107 yang artinya:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

23 Perintah Qurban dalam Al Quran

Ketulusan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail untuk melaksanakan perintah Allah tidak diragukan. Iblis selalu berusaha untuk menggodanya, namun Ibrahim tetap kuat dan kukuh untuk melaksanakan perintah Allah walaupun hanya lewat mimpi (ru’yah shadiqah). Dengan ketabahan, ketulusan, dan tawakkal kepada Allah, ia melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keyakinan, kepasrahan dan keikhlasan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, “Ketika Ibrahim as diperintahkan untuk mengurbankan anaknya, syaitan menghadangnya ditempat sa’i (berlari-lari kecil) dan ingin mendahuluinya, tetapi Ibrahim lebih dulu sampai. Kemudian Malaikat Jibril membawanya menuju Jumratul ‘Aqabah, di sini syaitan menghadang, lalu ia lempar dengan tujuh buah kerikil. Kemudian ia melanjutkan perjalanan hingga syaitan menghadang di Jumratul Wustha, ia lempar syaitan itu dengan tujuh buah kerikil”. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 7, 2013).

Sebenarnya penyembelihan qurban atas nama Allah disyariatkan pada umat-umat sebelumnya. Allah Swt berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ (34) الحج

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”.

Rasulullah SAW melaksanakan qurban pada saat melaksanakan haji Wada’di Mina. Beliau berqurban 100 ekor unta, 70 ekor disembelih dengan tangannya sendiri dan 30 ekor disembelih oleh Ali bin Abi Thalib. Ibadah qurban Nabi SAW ini difirmankan Allah dalam surat Al-Hajj ayat 36 yang artinya :

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”.

Berqurban pada hakikatnya adalah suatu bentuk pengabdian dan kepasrahan seorang hamba yang bertaqwa dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Hanya orang-orang yang bertakwa serta ikhlas sajalah yang akan diterima qurbannya oleh Allah Swt. (Republika, 2010).

Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (37) الحج

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” . (Al-Hajj:37).

Pada ayat di atas Allah SWT menyatakan bahwa tujuan disyari’atkan penyembelihan hewan-hewan qurban ini tidak lain agar semua hamba mengingat-Nya saat menyembelihnya. Sebab Allah-lah yang menciptakan dan yang memberi rizki. Disebutkan dalam hadis :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ – رواه مسلم

“Sesunggunya Allah tidak memandang bentuk badanmu dan tidak pula bentuk rupamu, akan tetapi Dia memandang hatimu” (Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 6, 2013).

Pengertian Qurban

Pengertian Qurban

By | Tentang Qurban | 2 Comments

Pengertian Qurban

Makna dan Pengertian Qurban

Pengertian Qurban

Pengertian Qurban dalam bahasa Arab adalah dekat. Sedangkan Pengertian Ibadah Qurban adalah pemotongan hewan ternak pada hari nahar dalam rangka taqorrub ila Allah (mendekatkan diri pada Allah). Ibadah qurban disebut juga “udzhiyah” artinya hewan yang disembelih  sebagai qurban. Bagi yang dikenai taklif berqurban itu adalah yang sedang menunaikan ibadah haji atau tidak. Pensyari’atan Qurban terjadi pada tahun kedua hijriyah. Perintah untuk Ibadah qurban di sampaikan oleh Allah melalaui firmannya di al-Qur’an surah  al-Kauthar, yang berbunyi, “Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan menyembelihlah”.

Keutamaan  qurban diperjelaskan dari sebuah hadist A’isyah R.a, Rasulullah SAW  bersabda, “Sabaik-baik amal bani adam bagi Allah di hari Idul Adha  adalah menyembelih qurban. Pada hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya,  darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya”. (H.R. Tirmizi, Ibnu Majah).  Dalam Hadist Riwayat Anas bin Malik, Rasulullah SAW menyembelih dua ekor domba  putih bertanduk, beliau meletakkan kakinya di dekat leher hewan  tersebut lalu membaca basmalah dan bertakbir dan menyembelihnya” (H.R.  Tirmizi dll).

Pengertian Qurban