manfaat qurban

Manfaat Qurban

By | Berita, Tentang Qurban | No Comments

Manfaat Qurban

Mau merasakan manfaat ibadah kurban? Jawabannya adalah cobalah, maka akan tahu manfaatnya langsung. Kalimat pernyataan dari pertanyaan tersebut bukan pertama kali saya tujukan untuk orang lain, tetapi saya tujukan terlebih dahulu untuk saya pribadi. Bagi saya, mengajak diri sendiri itu bagian awal yang penting. Hal ini juga bagian dari bentuk pelaksanaan ajaran hadits nabi Muhammad, yaitu: Ibda’ bi Nafsi artinya mulailah dari diri sendiri.

Awalnya, memulai belajar berkurban memang cukup berat. Perasaan cinta harta hasil kerja keras membuat setiap manusia kadangkala berpikir ulang untuk mau melakukan pengurbanan. Hal ini wajar dan inilah ujian awal yang biasa dirasakan dan dialami oleh setiap manusia. Apalagi bagi sebagian dari kita yang berpenghasilan pas-pasan. Tentu kebanyakan orang semakin berpikir lebih dari biasanya. Oleh karena itu, niat awal untuk segera ikut serta dalam ibadah kurban menjadi penting. Niat baik adalah awal yang baik.

Perasaan senang untuk melakukan setiap ibadah, termasuk kurban, adalah bagian dari kebutuhan manusia dari hati nurani yang patut diperhatikan. Bila awalnya senang, akhirnya juga senang. Ada istilah dalam bahasa Arab “Man Jadda Wajada” atau dalam Bahasa Inggris “There is Will, There is Way”. Maksudnya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti ada jalan. Di sinilah, perasaan senang itu bisa diciptakan dan diupayakan bila kita mau.

Secara psikologi, Monty Satiadarma menyatakan bahwa perasaan senang dan suasana kebahagiaan seseorang ditentukan oleh kemampuan menerima keadaan, melihat situasi dari sudut pandang positif, menghayati makna pengalaman hidup, merelakan pengalamannya sebagai perubahan dalam hidup, dan bisa melepaskan diri dari belenggu pengalaman emosional.

Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa upaya untuk membuat senang dalam melakukan setiap kebaikan dan ibadah ternyata ada banyak cara dan bisa melalui banyak media. Salah satu caranya adalah mencari tahu apa manfaat bagi kita dalam melakukan ibadah dan kebaikan tersebut. Mengkaji dan membahas manfaat ibadah kurban bisa membuat kita semakin tahu. Bila kita sudah tahu manfaatnya, biasanya kita mau melakukan segala bentuk pengurbanan dan amal kebaikan lainnya. Bahkan, kita seringkali semakin lebih bersemangat untuk berbuat kebaikan tersebut. Pertanyaannya, apa saja manfaat kurban bagi hidup kita di dunia dan akhirat nanti?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, di sini perlu dipahami bahwa kurban yang dimaksud di sini utamanya adalah ibadah kurban hewan pada hari raya Idhul Adha yang dilakukan oleh setiap orang muslim. Namun begitu, kurban di sini juga boleh dimaknai pada aktivitas-aktivitas lainnya yang memiliki unsur pengurbanan dan perbuatan kebaikan.

Bila kita mau dan ingin mengetahui sungguh-sungguh apa saja manfaat dari kurban yaitu Allah telah menjanjikan beberapa keutamaan bagi umat muslim yang menunaikan ibadah kurban, diantaranya: Pertama, dihapuskan dosa dan salahnya. Rasulullah., s.a.w, bersabda kepada anaknya, Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan qurban. ”Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah., s.w.t, Tuhan Alam Semesta.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi).

Kedua, hewan kurbannya akan menjadi saksi amal ibadah di hari kiamat nanti. Dari Aisyah, Rasulullah., s.a.w, bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah (sebagai qurban) di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi). Ketiga, orang yang berkurban dicintai Allah. Bersumber dari hadist pada poin tersebut di atas, berkurban termasuk amalan yang dicintai Allah. Itu berarti bahwa setiap hamba yang melaksanakannya akan memperoleh kecintaan dari-Nya.

Keempat, orang berkurban dikuatkan keimanannya. Dengan berkurban, setiap mukmin dapat mengingat kembali bagaimana kecintaan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail dalam memenuhi perintah Allah. Kisah ini dijadikan sebagai teladan bagi mereka untuk memperkuat imannya kepada Allah.

Kelima, orang berkurban dibalas dengan kebaikan dan pahala yang berlimpah. Dari Zaid ibn Arqam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah., s.a.w, apakah kurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan” (HR. Ahmad dan ibn Majah).

Sungguh luar biasa manfaatnya, bukan? Oleh karena itu, mari kita semakin bersemangat untuk memulai senang dan ikhlas berkurban karena Allah. Secara ritual, ibadah kurban biasanya kita lakukan sekali dalam setahun saat hari raya Idul Adha. Rasanya memang baru kemarin bila kita berkumpul merayakan Idhul Fitri sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu. Saat Idul Adha tiba, kita berkumpul kembali dalam rangka merayakan Idul Adha yang memiliki hikmah dan makna yang amat penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran agama Islam yang substansial. Idul Adha merupakan ritual keagamaan yang syarat makna dan nuansa simbolik- metaforis yang perlu ditafsiri secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universalitas Islam.

Adakah pesan dan pelajaran penting yang dapat dipetik dalam perayaan ibadah kurban? Di setiap merayakan Idhul Adha, kita sesungguhnya diajak berpikir sejenak tapi mendalam maknanya. Utamanya dalam upaya untuk mengenang keteladanan Nabiullah Ibrahim a.s. dan Siti Hajar a.s. ketika ingin mendapatkan hingga melahirkan, mendidik dan mengasuh anak sholih.

Putra Nabi Ibrahim yang pada bernama Ismail tersebut pada akhirnya juga menjadi salah satu nabi Allah., s.w.t. Keberhasilan beliau berdua dalam mendidik putranya adalah sebuah pola asuh demokratis dan islami, bukan pola asuh penelantar, permisif maupun otoriter. Pola asuh demokratis ala Nabi Ibrahim As. itulah seperti cermin yang bisa kita jadikan ukuran, contoh dan teladan dalam kehidupan kita.

Istilah empat tipe pola asuh sebagaimana tersebut di atas, awalnya dikembangkan pertama kali oleh Diana Baumrind. Dari hasil risetnya, pola asuh anak yang dimaksud adalah: pola asuh demokratis, otoriter, permisif dan penelantar (Diana Baumrind, 1967: 23-89).

Secara lebih rinci, Diana Baumrind mengurai satu per satu apa yang dimaksud dari semua pola asuh tersebut. Pertama, pola asuh demokratis dimaknai sebagai pola asuh yang dialogis.

Caranya ada interaksi dua arah yang seimbang. Anak adalah pusat perhatian dan prioritas. Namun bukan berarti orang tua tidak punya kendali. Di sini, orang tua dan anak saling berhubungan dan saling berusaha mengerti satu sama lain. Diungkapkan, orang tua dengan pola asuh ini perlu berperan dan bersikap lebih rasional. Maksudnya, bagaimana orang tua selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran yang terbaik. Dalam hal ini, orang tua juga perlu memberikan kebebasan kepada anak untuk memilah-memilih, melakukan suatu tindakan atau bahkan ikut memberi solusi yang terbaik.

Kedua, pola asuh otoriter diartikan sebagai lawan dari tipe demokratis. Biasanya, orang tua menjadi satu-satunya pengendali yang harus diikuti tanpa kompromi dan dialog. Bahkan, terkadang disertai dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini biasanya tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai situasi dan kondisi anaknya.

Ketiga, pola asuh permisif diartikan sebagai pola asuh pemanja. Peran orang tua biasanya memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang salah atau melakukan perbuatan seenaknya. Keempat, tipe penelantar. Orang tua tipe ini biasanya cuek alias kurang memberi perhatian pada anak. Seringkali orang tua kurang memberikan waktu dan perhatian yang cukup untuk anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka sendiri, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat dan kadang hanya digunakan untuk kepentingan orang tuanya sendiri. Naudzubillah!

Dalam konteks inilah, ibadah penyembelihan hewan qurban yang menjadi bagian dari syari’at Islam, yang selalu dilaksanakan setelah shalat ied setiap tahun adalah bentuk penjelmaan dari keshalihan, ketaqwaan dan keikhlasan nabi Ismail kepada Tuhannya. Lebih dari itu, proses sejarahnya sejalan dengan pola asuh demokratis bernuansa Islami sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim sebagai orang tua ketika ia bermimpi disuruh oleh Allah., s.w.t, untuk menyembelih putera kesayangannya, Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim tidak lantas menyembelih puteranya begitu saja, tetapi ia justru mengajak dialog dan memberi tawaran sekaligus meminta masukan dan bahkan persetujuan anaknya.
Apa dan bagaimana respon anaknya nabi Ibrahim? Ternyata nabi Ismail a.s. sebagai anak Nabi Ibrahim menyambut baik dengan penuh ikhlash menerima tawaran ayahandanya untuk disembelih sebagai pembuktian cintanya kepada Allah., s.wt. Nabi Ismail telah mampu mengalahkan keinginan nafsu dan tuntutan dunianya, karena sadar bahwa cinta dan ridhanya kepada Allah melebihi segalanya. Inilah cerita di balik peristiwa keshalehan, ketaqwaan dan keta’atan Ismail diabadikan Allah., s.w.t, dalam al-Qur’an dan sejarah hidupnya menjadi napak tilas pelaksanaan ibadah haji sampai hari ini dan akhir hayat nanti. Subhanallah!

Secara terang-terangn, kisah pola asuh demokratis tersebut diungkap dalam al-Qur’an surat As-Saffat, 37: 102: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” dia (Ismail) menjawab, “ wahai ayahku” lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Dari sini, tidak ada kelirunya bila kita semua dan segenap umat Islam yang menyembelih hewan qurban pada hari raya qurban, mari berusaha berqurban dengan senang dan ikhlas lillahi ta’ala. Artinya berkurban dengan landasan cinta dan taqwa hanya semat-mata karena Allah., s.w.t. Dalam hal ini, tentu kita berusaha menghindarkan diri dari riya’ dan motivasi yang bisa merusak pahala qurban yang dilakukan. Pasalnya, kita semua diingatkan Allah., s.w.t, agar senantiasa berkurban dengan penuh ikhlas tanpa batas seperti diurai dalam Q.S. Al-Hajj. 22: 37, yang berbunyi: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Tidak hanya itu, selain keteladanan keluarga Nabi Ibrahim., a.s, dan sang putera Nabi Ismail dalam hal ketaatannya dan keikhlasannya yang luar biasa dalam menjalankan perintah Allah., s.w.t, dengan menepis berbagai bentuk godaan syaithan, hikmah lain yang bisa dipetik dan diambil pelajaran untuk kita ikuti dalam merayakan setiap hari raya Idul Adha adalah perlunya memupuk semangat untuk memiliki dan membagi.

Pesan implisit ini terbaca dari dari dua ibadah yang dilaksanakan umat Islam mengiringi perayaan Idhul Adha, yakni menyembelih kurban dan melaksanakan haji bagi muslim yang mampu. Setiap muslim yang ingin menyempurnakan kemuslimannya akan berusaha keras untuk melaksanakan kedua ibadah tersebut. Mengingat salah satu kemampuan yang dibutuhkan adalah dari segi finansial, maka dengan sendirinya keinginan kuat itu harus diwujudkan dengan ikhtiar mengumpulkan sejumlah dana yang diperlukan.

Dari sisi inilah hikmah mesti dipetik umat Islam setiap kali merayakan `Idhul Adha, bahwa sesungguhnya ajaran Islam mendorong umatnya untuk bisa memiliki atau mampu secara finansial agar keislamannya bisa disempurnakan.
Tak hanya berhenti pada semangat memiliki, melainkan juga mesti diikuti semangat untuk mau membagi apa yang dimilikinya. Tanpa semangat itu, seorang muslim belum tentu bisa melaksanakan kurban atau haji. Hal ini terbukti bahwa banyak orang yang sudah mampu, tapi enggan berkurban atau melaksanakan haji. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kemauan dan semangat untuk membagi. Kurban tidak semata-mata menyembelih kambing atau sapi, tapi juga membagikan dagingnya kepada mereka yang berhak. Demikian juga haji, tanpa semangat membagi tentu akan sayang untuk mengeluarkan biaya perjalanan haji yang jumlahnya tidak sedikit.

Semangat memiliki tidak boleh melahirkan tindakan menghalalkan segala cara yang bisa menimbulkan kekacauan kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu ajaran Islam memberikan rambu-rambu yang mesti ditaati setiap muslim dalam berusaha untuk memiliki, yaitu dengan cara yang halal, baik dan wajar.

Dalam Al Qur’an secara tegas dilarang mencari rizki dengan cara yang tidak halal atau bathil (QS. An-Nisa’, 4: 29). Misalnya diperoleh dari hasil berjudi (QS. al-Baqarah, 2: 219) atau mencuri (QS. Al-Maidah, 5: 38), korupsi dan cara-cara buruk lainnya. Demikian juga ada hadits yang menyatakan bahwa antara sesama muslim haram darah, harta dan kehormatannya. Jika mencari rizki dengan berdagang hendaknya secara wajar, tidak curang dalam menakar/ menimbang (QS. Al-Muthaffifin, 83: 1-3), dan mengambil keuntungan secara riba sebagaimana diterangkan Allah SWT dalam QS. Ali `Imran, 3: 130: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.

Selain semangat memiliki, Islam juga menyuruh kita untuk mempunyai semangat membagi. Banyak sekali ayat al-Qur’an maupun hadits yang mendorong setiap muslim untuk mau berbagi (berinfaq, bershodaqoh atau berzakat dan sebagainya).

Sayangnya perintah tersebut lebih sering dilihat dari sudut pandang berbeda. Indikasinya paling tidak bisa kita temui, misalnya, masih banyak orang kaya yang enggan berinfaq, bahkan tidak malu menerima infaq, hibah dan sejenisnya yang mestinya tidak berhak mereka terima, setidaknya ada orang lain yang lebih berhak.

Islam mengajarkan kita untuk membagi sebagian rizki yang kita terima kepada kerabat, anak yatim dan orang miskin sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah, 2: 177: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”

Secara khusus, perintah berkurban diungkap dalam al-Qur’an yang bisa kita temukan di berbagai surat/ayat, antara lain dalam surat al-Kautsar, 108: 2; surat al-Hajj, 22: 34-35 dan ayat 36; serta surat ash-Shaffat, 37: 102-107. Selain itu, juga dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam berbagai haditsnya yang bisa ditemukan dalam kitab shahih al-Bukhari, Muslim.

Allah SWT berfirman di dalam surat al-Kautsar, 108: 1-2: ”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurban-lah”. Ayat ini menegaskan kepada kita semua bahwa ibadah kurban merupakan ibadah yang perlu dilakukan selain shalat, utamanya bagi yang mampu.

Dalam hal ini, kurban seringkali dipahami juga sebagai hewan yang disembelih setelah melaksanakan shalat Idul Adha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena Dia Yang Maha Suci dan Maha Tinggi sebagaimana diungkap dalam al-Qur’an surat al-An’am, 6: 162: “Katakanlah: sesungguhnya shalatku kurbanku hidup dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Bagi seorang muslim, inti hikmah di setiap perayaan Idul Adha yang dapat diambil dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan saat ini hingga akhir hayat nanti adalah marilah berusaha semaksimalnya dalam bertaqwa dengan memupuk semangat memiliki dan membagi dengan penuh keikhlasan. Semangat untuk berbagi antar sesama dengan ikhlas merupakan kunci dan esensi berkorban yang akan menumbuhkan ketentraman, kedamaian dan solidaritas sosial masyarakat dan lainnya.

Akhirnya, semoga kita semua selalu diberi kemudahan, kebahagiaan, kekuatan, kesuksesan dalam bersyukur, beriman, bertaqwa kepada Allah., s.w.t, sekaligus kita semua tergolong menjadi orang yang bersemangat untuk berqurban dengan penuh ikhlas lillahi ta’ala, sepanjang hayat masih di kandung badan.

Demikian itulah yang dapat kami sampaikan mengenai Manfaat Qurban. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya yang membaca. Aminnn….

Jika anda membutuhkan kambing Aqiqah atau qurban dengan Kualitas terbaik dan berkualitas anda melihat di website kami www.qurban-aqiqah.com atau bisa juga menghubungi nomor berikut ini untuk informasi lebih detailnya. Kami tunggu pesanan anda….

Untuk Informasi Lebih lanjut Hubungi Kami :

TELPON/SMS :

0858-5344-4472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Pengertian Qurban

Pengertian Qurban

By | Tentang Qurban | 2 Comments

Pengertian Qurban

Makna dan Pengertian Qurban

Pengertian Qurban

Pengertian Qurban dalam bahasa Arab adalah dekat. Sedangkan Pengertian Ibadah Qurban adalah pemotongan hewan ternak pada hari nahar dalam rangka taqorrub ila Allah (mendekatkan diri pada Allah). Ibadah qurban disebut juga “udzhiyah” artinya hewan yang disembelih  sebagai qurban. Bagi yang dikenai taklif berqurban itu adalah yang sedang menunaikan ibadah haji atau tidak. Pensyari’atan Qurban terjadi pada tahun kedua hijriyah. Perintah untuk Ibadah qurban di sampaikan oleh Allah melalaui firmannya di al-Qur’an surah  al-Kauthar, yang berbunyi, “Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan menyembelihlah”.

Keutamaan  qurban diperjelaskan dari sebuah hadist A’isyah R.a, Rasulullah SAW  bersabda, “Sabaik-baik amal bani adam bagi Allah di hari Idul Adha  adalah menyembelih qurban. Pada hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya,  darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya”. (H.R. Tirmizi, Ibnu Majah).  Dalam Hadist Riwayat Anas bin Malik, Rasulullah SAW menyembelih dua ekor domba  putih bertanduk, beliau meletakkan kakinya di dekat leher hewan  tersebut lalu membaca basmalah dan bertakbir dan menyembelihnya” (H.R.  Tirmizi dll).

Pengertian Qurban