arga qurban

Kambing Kurban di Depok

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

Kambing Kurban di Depok

Alhamdulillah kita semua diberi kesempatan bertemu kembali dengan salah satu diantara hari-hari Allah, hari kegembiraan kaum muslimin, hari raya ‘Idul Adha. Kita semua menyambut hari istimewa ini, yang dikaitkan dan dibarengkan dengan rukun ibadah haji di Tanah Suci, dengan penuh kegembiraan dan keceriaan sebagai bentuk dan bukti syukur kepada Allah. Oleh karena itu disunnahkan kita banyak memuji dan mengagungkan Allah dengan kumandang takbir, tahmid, tasbih, tahlil dan pujian-pujian yang lainnya.

Salah satu keistimewaan utama ‘Idul Adha yang membedakannya dengan hari raya ‘Idul Fitri adalah adanya ibadah ber-udhiyah, menyembelih hewan qurban, yang merupakan amalan paling utama yang dicintai oleh Allah Ta’ala di hari yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“ما عمل ابن آدم من عمل يوم النحـر أحـب إلى الله من إهـراق الدم ، فطيبوا بها نـفسا ” (رواه الترمذي و ابن ماجه و الحاكم بإسناد صحيح)

“Tidak ada satu amal pun yang dilakukan seorang anak manusia pada Yaumun Nahr (hari raya ‘Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban yang disembelih). Maka berbahagialah kamu karenanya” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih).

Berdasarkan hadits tersebut, berqurban merupakan amalan yang paling istimewa yang tidak bisa digantikan oleh amalan-amalan lain pada hari ‘Idul Adha seperti hari ini. Dan menyembelih udhiyah dengan demikian tetap lebih afdhal daripada bersedekah yang senilai dengan harga hewan qurban, sebagaimana ditarjih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama-ulama yang lain. Sebabnya, karena prosesi menyembelih hewan qurban itu sendiri merupakan salah satu bentuk ibadah ritual persembahan kepada Allah sebagai representasi kemurnian iman dan tauhid seorang mukmin, dan dalam Al-Qur’an digandengkan dengan sholat. Misalnya firman Allah:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu;dan berkorbanlah (karena Tuhanmu pula). (QS Al-Kautsar [108]: 2)

Ada hikmah besar yang sangat penting untuk kita ambil dibalik syariat ibadah ber-udhiyah, yakni adanya keterkaitan yang sangat erat antara udhiyah (berqurban, menyembelih hewan qurban) dan tadhiyah (berkorban secara umum), baik secara bahasa maupun secara makna. Secara bahasa, kata udhiyah dan tadhiyah berasal dari kata bahasa Arab: dhahha – yudhahhi, yang berarti berqurban dan berkorban sekaligus. Adapun secara makna, esensi dari ibadah udhiyah (berqurban) adalah tadhiyah (berkorban dan pengorbanan) itu sendiri. Bahkan bisa jadi merupakan simbol puncak pengorbanan. Apalagi jika kita ingat dan kita kaitkan dengan kisah pertama kali syariat ibadah qurban ini ditetapkan dan diwajibkan atas Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dimana beliau diperintahkan berqurban dengan mengorbankan (baca: menyembelih) putra tersayang beliau: Nabi Ismail ‘alaihissalam, sebagai bentuk dan simbol pengorbanan puncak, setelah berbagai rangkaian pengorbanan demi pengorbanan yang telah beliau lalui dan berikan dalam perjalanan hidup, dakwah dan perjuangan beliau. Dan itu semua untuk membuktikan iman, tauhid dan ketaatan murni kepada Allah Ta’ala.

Ini artinya, kita harus memaknai ibadah qurban yang kita lakukan pada ‘Idul Adha seperti sekarang ini, sebagai simbol dan pertanda atas berbagai pengorbanan yang telah dan selalu kita berikan selama ini dalam hidup dan perjuangan kita di jalan kebenaran. Atau, kita harus memaknai ibadah qurban kita sebagai deklarasi kesiapan kita untuk selalu berkorban dalam hidup dan perjuangan. Atau dengan kata lain, dengan ber-qurban kita akan mendapatkan semangat siap mengorbankan segala yang kita miliki di jalan Allah.

Mengapa Harus Ber-Tadhiyah (Berkorban) ?

Pertama, kita harus berkorban karena berkorban merupakan konsekuensi dan sekaligus esensi keimanan, yakni berupa kesiapan total untuk menyerahkan  dan mengorbankan segala ”milik” kita untuk Allah semata, sebagaimana firman-Nya:
”Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadah penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS Al-An’am [6]: 162)

Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (QS At-Taubah [9]: 111).

Kedua, kita harus berkorban karena pengorbanan-pengorbanan dalam hidup dan perjuangan merupakan nilai dan harga yang harus kita bayar dalam bertransaksi dengan Allah, untuk memperoleh Surga dan selamat dari Neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“ألا إن سلعة الله غالية ، ألا إن سلعة الله الجنة ” (رواه الترمذي)

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah adalah Surga” (HR At-Turmudzi)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS Al-Baqarah [2]: 214)

Ketiga, kita harus selalu siap dan menyiapkan diri untuk berkorban karena kita wajib berjihad: berjihad untuk hidup, berjihad untuk membela hak, berjihad untuk membela kebenaran, berjihad untuk menolak dan melawan setiap kemungkaran, kejahatan dan kezhaliman, berjihad dalam dakwah, berjihad melawan musuh-musuh Allah dalam rangka memenangkan Islam agama Allah! Dan tidak ada jihad yang tanpa pengorbanan! Didalam Al-Qur’an dan hadits-hadits selalu disebutkan berjihad dengan harta dan jiwa, yakni dengan mengorbankan harta, jiwa dan lain-lain. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

“جاهـدوا المشـركين بأموالكم و أنفسكم و ألسنتكم” (رواه أبوداود و النسائي و أحمد و ابن حبان و الحاكم)

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Keempat, kita wajib terus berkorban untuk menjaga kehormatan, kemuliaan dan martabat. Orang yang tidak siap dan tidak mau berkorban berarti telah siap dan memilih hidup dalam kerendahan dan kehinaan. Mengapa ummat kita terpuruk? Mengapa kaum muslimin selalu jadi korban dan bulan-bulanan ummat lain? Mengapa kita menjadi ummat terendah padahal semestinya kita ummat tertinggi (QS Ali ’Imran [3]: 139)? Mengapa kita menjadi ummat yang terhina padahal seharusnya kita adalah ummat termulia (QS Al-Munafiqun [63]: 8)? Mengapa kita menjadi ummat terdakwa padahal Allah mewajibkan kita untuk menjadi ummat saksi (QS Ali ’Imran [2]: 143)? Itu semua terjadi tidak lain karena kita telah meninggalkan jalan jihad dan perjuangan, enggan berkorban, cinta dunia dan takut mati.  Rasulullah shallahu ’alaihi wasallam bersabda:

“يوشك أن تداعى عـليكم الأمم من كـل أفـق، كما تداعى الأكـلة إلى قصـعتها، قيل: يا رسول الله فمن قلّة يومئذ ؟ قال لا، و لكنكم غثاء كـغثاء السيل، يجعل الوهن في قـلوبكم، و ينـزع الـرعب من قـلوب عدوكم ، لحـبّكم الدنيا و كـراهيتكم الموت” (رواه أحمد و أبو داود)

”Hampir-hampir saja ummat-ummat dari segala penjuru mengeroyok kalian, sebagaimana orang yang rakus sangat bernafsu untuk menyantap makanannya. Ditanyakan oleh para sahabat: ’Wahai Rasulullah, apakah karena ketika itu kami sedikit jumlahnya?’ Rasulullah menjawab,’Tidak. Akan tetapi kalian (ketika itu) telah menjadi buih, seperti buih air bah. Dijadikan penyakit wahn dalam hati kalian, dan dicabut rasa takut (terhadap kalian) dari hati musuh-musuh kalian. Sebabnya adalah karena kalian cinta dunia dan takut mati” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Kelima, pengorbanan demi pengorbanan harus kita lakukan karena itulah sunnah dan sekaligus syarat kehidupan. Kehidupan dunia ini penuh dengan ujian, cobaan, tantangan, persoalan dan musibah yang semuanya menuntut pengorbanan. Orang yang tidak siap dan tidak mau berkorban berarti tidak siap dan tidak berhak hidup!

”Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk [67]: 2)

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah [2]: 155).

Terjadinya berbagai musibah dan bencana yang silih berganti di negeri kita ini adalah dalil paling nyata bahwa dalam hidup ini tidak mungkin kita tidak berkorban. Dengan adanya musibah-musibah dan bencana-bencana yang selama ini terjadi sudah tidak terhitung berapa jumlah korban dan pengorbanan kita. Meskipun mungkin ada yang mengatakan itu kan pengorbanan ”terpaksa”? Ketahuilah bahwa, ”terpaksa” ataupun sukarela, yang jelas semuanya adalah pengorbanan!

Agar ”Pengorbanan Terpaksa” Tetap Bermakna dan Bernilai Tinggi

Meskipun mungkin ”terpaksa” sifatnya, pengorbanan yang terjadi karena bencana dan musibah tetap bisa bermakna dan bernilai tinggi bahkan setinggi-setingginya dengan kita melakukan hal-hal berikut:

  1. Mengimani dan menerima bencana dan musibah dengan segala pengorbanannya sebagai takdir dan ketentuan Allah. Di dunia ini segala sesuatu tidak mungkin terjadi kecuali dengan takdir Allah Ta’ala (QS At-Taghabun [64]: 11). Namun perlu dipahami bahwa iman kita pada takdir tidak berarti menghapus kesalahan orang yang salah, tidak menutup dan menghilangkan hak para korban dan tidak menghentikan tuntutan terhadap pihak-pihak yang harus bertanggung jawab!
  2. Menjaga dan meningkatkan kesabaran, ketabahan dan tawakkal kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    ”Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS Az-Zumar [39]: 10)
  3. Meyakini bahwa setiap musibah yang terjadi pasti memiliki hikmah dan pelajarannya. Karena itu kita harus berusaha mencari dan mendapatkan hikmah dan pelajaran sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya dari musibah dan ujian yang kita alami. Musibah-musibah yang terjadi, jika kita sikapi dan terima dengan sabar dan tawakkal, akan menghapuskan dosa, melipatgandakan pahala, menambah iman, meningkatkan derajat kita di sisi Allah, dan fadhilah-fadhilah besar yang lainnya. Dan bagi seorang mukmin, musibah justru menjadi tanda kebaikannya dan kecintaan Allah terhadapnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
    من يـرد الله به خـيرا يصب منه” (رواه البخاري و أحمد)
    “Barangsiapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan maka Allah justru akan memberikan musibah kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Ahmad).
    “إذا أحبّ الله قـوما ابتلاهـم” (رواه الترمذي و أحمد و البيهقي)
    ”Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan ujian dan cobaan kepada mereka” (HR At-Turmudzi, Ahmad dan Al-Baihaqi).
  4. Melakukan muhasabah dan introspeksi diri. Jangan-jangan karena selama ini kita kurang berkorban atau bahkan enggan berkorban secara sukarela, maka Allah ”menjewer” kita dengan terjadinya musibah-musibah dan bencana-bencana yang memaksa kita berkorban dengan berbagai bentuk pengorbanan, yang kadang-kadang menghabiskan seluruh milik kita. Padahal sebelumnya barangkali kita keberatan untuk berkorban dengan sebagian kecil saja dari yang kita miliki, yang pada hakikatnya adalah milik Allah.
  5. Dalam menghadapi musibah dan bencana serta mencari solusi dan jalan keluar, kita harus kembali dan mengembalikan semuanya kepada Allah dan kepada syariat Allah. Kita harus lebih dekat kepada Allah, dengan meningkatkan iman dan memurnikan tauhid kita kepada Allah. Dan jangan sekali-kali justru mengundang murka Allah dengan melakukan hal-hal dan tindakan-tindakan yang merusak akidah dan melawan syariat Allah. Misalnya mencoba menyelesaikan masalah dan mencari solusi dengan cara-cara yang bermuatan klenik, mistik, perdukunan dan semacamnya. Karena itu berarti menyelesaikan masalah dengan masalah yang lebih besar dan mencari solusi dan jalan keluar dari musibah dengan musibah yang lebih dahsyat!

marilah kita jadikan momentum ’Idul Adha dan ibadah menyembelih udhiyah (hewan qurban) pada hari raya yang mulia ini, sebagai penambah semangat dan pembaharu tekad kita untuk selalu siap berkorban di jalan Allah.

Marilah kita kuatkan iman kita. Kita murnikan tauhid kita, dan kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, dengan tetap berada dalam batas-batas syariat Allah.

Marilah kita kembalikan semua urusan kita, semua persoalan kita, semua keluh kesah kita, semua pengaduan kita, dan semua yang ada pada diri dan kehidupan kita, hanya kepada Allah semata.

Na itulah yang dapat kami sampaikan. selanjutnya kami akan mengulas mengenai kambing kurban yang ada di kota Depok. Cekidot guys….

Terima kasih untuk semua customer Aqiqah berkah yang mempercayakan kami sebagai pusat layanan qurban dan aqiqah terbaik sampai saat ini.

Aqiqah Berkah merupakan sebuah usaha yang bergerak di bidang produk dan jasa penyediaan kambing dan sapi kurban beserta jasa pemotongan, pengolahan, pengantaran, dan penyaluran serta menerima pesanan paket nasi box untuk kebutuhan aqiqah, qurban atau kebutuhan lainnya. Didirikan sejak tahun 2008 dan di dukung oleh tenaga-tenaga profesional di bidangnya dan berakhlakuk karimah islami.

Maka kami layanan qurban online terpanggil untuk membantu san memudahkan bagi anda yang belum berqurban. Sekarang tunggu apalagi..

Segera pesan layanan qurban online sekarang juga. Kami akan menyediakan kambing dan sapi yang murah memenuhi syar’i, penyembelihan secara islami, mudah praktis, dan nyaman dengan pilihan harga yang bervariasi.

Tujuan Aqiqah Berkah yaitu membuat semua orang bisa berkurban menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Di Aqiqah Berkah harga jual kambing murah di bandingkan dengan jasa layananqurban lainnya dan terjangkau untuk seluruh umat.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Depok

    Untuk sobat semua yang tinggal di Depok dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2020 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 23-38 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.900.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2020 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.22.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.22.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai harga kambing Depok 2020. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS/WA   : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Harga Kambing Kurban di Depok

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

Harga Kambing Kurban di Depok

Hai para sahabat Aqiqah Berkah yang berbahagia. Sebelum ke topik utama.. simak dahulu artikel berikut ini…

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama bulan Dzulhijjah, serta Hukum Seputar Iedul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama bulan Dzulhijjah
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya dan para shahabatnya. Amma Ba’du.

Diantara keutamaan dan kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah Allah jadikan bagi hamba-hamba-Nya yang shalih suatu masa yang mereka berlomba-lomba untuk memperbanyak amal shaleh didalamnya. Dan Allah memanjangkan umur mereka, maka kondisi mereka tidak lain adalah antara menyongsong amal kebaikan atau meninggalkannya. Dan diantara musim yang paling agung ini adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Diantara dalil-dalil dari kitab dan sunnah seputar keutamaan sepuluh hari dzulhijjah adalah:

  1. Firman Allah : “Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr:1-2)
    Berkata Ibnu Katsir, “Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari dzulhijjah”.
  2. Firman Allah: “…Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan” (QS. Al Hajj: 27)
    Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “(yang dimaksud adalah) sepuluh hari dzulhijjah”.
  3. Hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas -Radhiyallahu ‘anhuma- dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya: “tidak juga jihad fi sabilillah?”. Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fisabilillah, kecuali orang yang pergi (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari).
  4. Hadits Ibnu Umar – Radhiyallahu ‘anhuma -, ia berkata, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama ini. Maka pada hari-hari itu perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid” (HR. Ath Thabrany dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir)
  5. Sa’id bin Jubair -Rahimahullah- (ia periwayat hadits Ibnu Abbas diatas), apabila memasuki sepuluh hari pertama (dibulan Dzulhijjah) ia sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah (sampai batas akhir kemampuannya). (Diriwayatkan oleh Ad Daarimi dengan sanad yang hasan).
  6. Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari berkata: “Sebab yang tampak dari keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah karena pada waktu tersebut berkumpul induk ibadah-ibadah yang agung. Yaitu shalat, puasa, shadaqah dan haji. Yang mana hal ini tidak diperoleh dalam bulan-bulan yang lain.”
  7. Para muhaqqiq dari kalangan ahlul ilmi berkata, “Sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling utama, dan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama”.

Amalan-amalan yang disyari’atkan pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah

1. Shalat
Disunnahkan untuk bersegera dalam melakukan shalat-shalat fardhu dan memperbanyak shalat-shalat sunnah. Karena shalat adalah ibadah yang paling utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri dengan Rabb nya.

Diriwayatkan dari Tsauban -Radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kalian memperbanyak sujud kepada Allah, karena sesunggguhnya tidaklah engkau melakukan satu sujud melainkan Allah akan mengangkat derajatmu dan menghapuskan kesalahanmu” (HR. Muslim).

Hadits ini berlaku umum pada setiap waktu.

2. Puasa
Puasa termasuk amal shaleh. Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah, hari ‘Asyura dan tiga hari pada tiap bulan” (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i)

Berkata Imam An-Nawawi tentang puasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah, bahwa puasa tersebut amat sangat dianjurkan.

3. Bertakbir, bertahlil, dan bertahmid
Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang terdahulu, “Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid.”
Berkata Imam Al Bukhari -Rahimahullah-, “Ibnu Umar dan Abu Hurairah -Radhiyallahu ‘anhuma- keluar ke pasar, seraya mengumandangkan takbir, lalu orang-orang pun mengikuti takbirnya”.

Beliau juga berkata, “Umar bertakbir didalam kemahnya di Mina, hingga dapat didengar oleh orang-orang di masjid. Mereka pun mengikutinya, demikian juga orang-orang di pasar turut bertakbir. Hingga Mina dipenuhi oleh gema takbir”

Ibnu Umar bertakbir pada waktu itu di Mina. Setelah selesai shalat, di atas ranjang, di dalam tendanya, di majelisnya dan ketika berjalan.

Disunnahkan untuk menjahrkan (mengeraskan) takbir sebagaimana yang dilakukan Umar, puteranya dan Abu Hurairah.

Maka sepantasnyalah kita sebagai kaum muslimin untuk menghidupkan sunnah ini yang pada masa ini nyaris hilang. Hingga para ahli kebaikanpun hampir-hampir lupa melakukannya, beda halnya dengan orang-orang shaleh terdahulu.

4. Puasa hari Arafah
Puasa hari arafah ditekankan untuk dilakukan oleh orang yang tidak sedang menunaikan haji, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hari Arafah, bahwa beliau berkata, “Aku berharap Allah akan melebur dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang” (HR. Muslim)

5. Keutamaan hari berkurban
Sebagian besar kaum muslimin lalai dari hari yang agung ini. Padahal sebagian besar ulama’ berpendapat bahwa hari tersebut merupakan hari yang paling mulia secara mutlak bahkan dari hari Arafah sekalipun.

Berkata Ibnu Qayyim -Rahimahullah- “Sebaik-baik hari di sisi Allah adalah Yaum Nahr (hari berkurban), ia merupakan hari haji akbar”.

Sebagaimana dalam Sunan Abu Daud, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah Yaum Nahr, kemudian hari Qor”

Hari Qor adalah hari berdiam di Mina, yaitu hari ke sebelas bulan Dzulhijjah.

Ada pula yang berpendapat, hari Arafah lebih utama. Karena puasa pada hari tersebut dapat menghapus dosa selama dua tahun, tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka dari hari Arafah, dan Allah mendekat kepada hamba-hamba-Nya. Kemudian Allah berbangga kepada para malaikat dengan banyaknya orang-orang yang wukuf.

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang pertama, karena hadits yang menunjukkan hal itu tidak bertentangan dengan apapun.

Terlepas dari hari apapun yang lebih baik, hari nahr ataupun hari arafah, hendaklah kaum muslimin bersemangat untuk meraih keutamaannya baik yang sedang berhaji ataupun tidak. Untuk memperoleh keutamaannnya dan memanfaatkan kesempatan tersebut (untuk beribadah).

Bagaimana menyambut hari-hari yang penuh kebaikan ini?
Selayaknya setiap muslim menyambut hari-hari yang penuh kebaikan ini yang secara umum adalah dengan taubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh), serta meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat. Karena sesungguhnya dosa dapat menghalangi seseorang dari memperoleh keutamaan Rabb-nya, dan menutup hatinya dari Tuhannya. Juga dituntut untuk menyambut hari-hari yang penuh kebaikan dengan usaha dan keinginan kuat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keberuntungan dengan apa yang diridhai Allah Azza wajalla. Maka barang siapa yang benar dengan tekadnya kepada Allah, maka Allah akan memberikan petunjuk kepadanya.

“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al Ankabut: 69)

Allah juga berfirman: “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133)

Wahai saudaraku… berusahalah untuk memanfaatkan kesempatan yang baik ini, sebelum engkau kehilangan kesempatan tersebut sehingga engkau akan sangat menyesal. Alangkah buruknya waktu bagi orang yang menyesal. Karena hidup di dunia ini hanya sesaat saja. Sekarang kita ada di kampung amal, dan esok kita akan menuju kampung pembalasan, perhitungan, surga dan neraka. Maka jadilah termasuk orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya:
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. Al-Anbiya’: ??)

Hukum-hukum seputar hari raya Iedul Adha

Saudaraku semuslim…
Aku memuji Allah yang telah menjadikan engkau sebagai orang yang mengetahui keagungan hari Iedul Adha. Dan telah memanjangkan usiamu agar engkau menyaksikan pergantian hari dan bulan. Lalu engkau mengisinya dengan amal, perkataan dan perbuatan yang akan semakin mendekatkanmu kepada Allah.

Ied (hari raya) adalah kekhususan bagi umat ini, termasuk simbol agama yang tampak dan diantara syi’ar-syi’ar agama Islam. Maka wajib bagimu untuk memperhatikan dan mengagungkannya.

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32)

Beberapa point ringkas tentang adab dan hukum yang berkaitan dengan hari raya Idul Adha:

1. Takbir
Disyariatkan untuk bertakbir mulai dari terbitnya fajar pada hari Arafah hingga waktu Ashar pada akhir hari tasyriq, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah, sebagaimana firman Allah: “dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang” (QS. Al Baqarah: 203)

Bentuk takbirnya adalah:
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) yang haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”

Disunnahkan bagi kaum laki-laki untuk mengeraskan takbirnya di masjid, di pasar dan di rumah. Hal itu dilakukan tiap selesai shalat sebagai bentuk syi’ar atas pengagungan terhadap Allah, menampakkan ibadah dan rasa syukur kepada-Nya.

2. Menyembelih hewan kurban
Penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah selesai shalat Ied, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaknya ia mengulangi penyembelihan, dan barang siapa yang belum menyembelih maka menyembelihlah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu yang diperbolehkan untuk menyembelih adalah empat hari. Yaitu satu hari pada hari nahr (Iedul Adha) dan tiga hari tasyriq, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Semua hari tasyriq adalah waktu menyembelih kurban” (Lihat Silsilah Ash Shahihah, Nomor 2467).

3. Mandi dan memakai wewangian (bagi laki-laki)
Dan memakai pakaian yang paling baik tanpa berlebih-lebihan, tidak isbal (memanjangkan celana/sarung sampai di bawah mata kaki), dan tidak mencukur jenggot, karena ini termasuk perbuatan yang haram. Adapun kaum wanita, mereka disyari’atkan untuk keluar menuju lapangan tempat shalat tanpa tabarruj (berhias) dan tanpa memakai wewangian. Hendaklah seorang muslimah tidak pergi menuju ketaatan kepada Allah dan shalat dengan berhias dengan kemaksiatan, yang berupa tabarruj, menampakkan wajah, dan memakai wewangian di hadapan laki-laki asing.

4. Memakan sebagian dari daging sembelihan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari raya kurban tidak makan hingga ia kembali dari mushalla dan beliau makan dari sembelihannya.

Pergi ke mushalla (lapangan tempat shalat) dengan berjalan kaki jika memungkinkan.

Yang sesuai sunnah adalah sholat ied dilaksanakan di lapangan kecuali jika ada udzur seperti hujan, maka shalat ied dilaksanakan di dalam masjid sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

5. Shalat bersama kaum muslimin dan disunnahkan untuk menyimak khuthbah
Hukum shalat ied sebagaimana pendapat yang dikuatkan oleh para pentahqqiq dari kalangan ulama’ seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah wajib sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat Al Kautsar ayat 2: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”

Hukum wajib tersebut tidak gugur kecuali jika ada udzur yang benarkan oleh syari’at, karena kaum wanita pun diperintahkan untuk turut keluar menyaksikan shalat ied bersama kaum muslimin, meskipun wanita yang sedang haid dan para budak. Adapun wanita yang haid diperintahkan untuk mengambil tempat yang agak jauh dari tempat shalat.

6. Menempuh jalan yang berbeda
Disunnahkan bagi orang yang melaksanakan shalat ied agar pergi menuju mushalla, tempat dilaksanakan shalat ied dari satu jalan dan pulang melewati jalan yang lain, sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

7. Mengucapkan selamat lebaran
Boleh mengucapkan selamat lebaran dengan ucapan semisal: Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian”
Dan berhati-hatilah wahai saudaraku semuslim, jangan sampai terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan oleh sebagian orang.

Diantara kesalahan-kesalahan itu adalah:

  1. Mengumandangkan takbir secara bersama-sama, dengan dikumandangkan secara serempak atau takbir dipimpin satu orang lalu diikuti oleh yang lain.
  2. Mengisi hari lebaran dengan kegiatan yang melalaikan yang haram: seperti mendengarkan lagu, menonton film, bercampur baurnya kaum laki-laki dengan wanita yang bukan mahram, dan kegiatan-kegiatan lain yang termasuk kemungkaran.
  3. Memotong rambut atau kuku sebelum menyembelih kurban, sebagaimana larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu.
  4. Boros dan berlebih-lebihan. Yaitu berbuat boros untuk hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan tidak ada manfaat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Al An’am:141: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Hukum-hukum seputar berkurban dan pensyari’atannya

Allah telah mensyari’atkan untuk berkurban, sebagaimana firman Alah: “Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu; dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar: 2)

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah” (QS. Al Hajj: 36)

Hukum berkurban adalah sunnah muakkadah, dan dibenci meninggalkannya bagi orang yang mampu.

Sebagaimana hadits Anas -Radhiyallahu ‘anhu- yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba jantan berwarna putih campur hitam dan bertanduk, Beliau menyembelih sendiri dengan tangannya, dengan membaca basmallah dan bertakbir.

Hewan apa saja yang boleh dijadikan kurban?

Hewan yang boleh dijadikan sebagai hewan kurban adalah unta, sapi dan kambing. Sebagaimana firman Allah: “Supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka” (QS. Al Hajj: 34)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Empat hewan yang tidak boleh dijadikan sebagai kuban: hewan yang juling matanya dan jelas julingnya, yang sakit dan jelas sakitnya, pincang yang tampak jelas, dan yang sangat kurus yang tidak punya sumsum tulang”. (HR. At Tirmidzi)

Waktu untuk menyembelih

Waktu untuk menyembelih dimulai setelah melaksanakan shalat ied. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka sembelihannya hanyalah daging sembelihan biasa yang diberikan untuk keluarganya, dan barang siapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khuthbah maka telah sempurna penyembelihannya dan sesuai sunnah”. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Disunnahkan seorang muslim yang berkurban untuk menyembelihnya sendiri dan mengucapkan: “Dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha Besar, Ya Allah ini adalah (penyembelihan) dari Fulan” (menyebutkan namanya atau nama yang mewasiatkan kepadanya). (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menyembelih seekor domba beliau mengucapkan: Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Yaa Allah ini adalah (kurban) dariku dan dari siapa yang tidak berkurban dari umatku. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Adapun bagi yang tidak mampu menyembelih sendiri maka hendaknya dia melihat dan hadir saat penyembelihan hewan kurban berlangsung.

Pembagian Daging Kurban

Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk ikut memakan daging sembelihannya, menghadiahkan sebagiannya kepada kerabat dan tetangga serta bersedekah kepada orang-orang fakir.

Allah berfirman: Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al-Haj: 27)

Allah juga berfirman: Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. (QS. Al-Haj: 36)

Sebagian salaf menyukai membagi daging kurban menjadi tiga bagian: sepertiga untuk keluarganya, sepertiga lagi diberikan sebagai hadiah untuk orang-orang kaya, dan sepertiga sisanya untuk bersedekah kepada kaum fakir. Dan tidak boleh bagi pemotong hewan diberi daging korban sebagai upah .

Hal-hal yang harus dijauhi oleh orang yang hendak berkurban Ketika memasuki bulan Dzulhijjah, seorang yang hendak berkurban diharamkan mencabut rambut, kuku atau kulit hingga ia melaksanakan ibadah kurban. Sebagaimana hadits Ummu Salamah -Radhiyalahu ‘anha- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah masuk sepuluh Dzulhijjah, dan salah seorang diantara kalian telah berniat untuk berkurban, maka hendaknya ia menahan diri dari (mencabut atau memotong) rambut dan kukunya” (HR. Ahmad dan Muslim)

Dalam redaksi lain, beliau bersabda: Maka hendaklah dia tidak menyentuh (mencabut) rambutnya dan kulitnya sedikitpun hingga dia usai berkurban.

Maka jika dia berniat berkurban di tengah hari-hari sepuluh itu, hendaknya dia menahan dirinya dari hal-hal tersebut sejak dia berniat. Dan dia tidak berdosa atas apa yang dia lakukan sebelum berniat.

Adapun bagi keluarga orang yang hendak berkurban, boleh untuk mencabut atau memotong rambut, kuku dan kulit mereka pada bulan Dzulhijjah.

Jika seorang yang hendak berkurban mencabut atau memotong rambut, kuku, atau kulit nya, maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah Ta’ala, jangan mengulanginya lagi dan tidak ada kafarah baginya. Perbuatan tersebut tidak menghalangi dirinya untuk tetap melaksanakan ibadah kurban. Dan jika ia melakukan perbuatan tersebut karena lupa atau tidak tahu atau rambutnya rontok tanpa menyengaja maka tidak ada dosa baginya.

Dan jika ia dalam kondisi butuh untuk melakukan hal tersebut maka tidak mengapa ia lakukan dan tidak ada dosa baginya. Misalnya: kukunya patah sehingga harus dipotong, atau rambutnya terurai menutupi mata sehingga harus dipotong, atau harus dipotong saat mengobati luka, dan sebagainya.

Dan sebagai penutup, wahai saudaraku, janganlah lupa untuk selalu bersemangat dalam beramal kebaikan, menyambung silaturahmi, mengunjungi kerabat, meninggalkan sifat cepat marah, hasad, benci, serta menyucikan hati dari hal-hal tersebut. Mengasihi orang-orang miskin, fakir, dan anak yatim, serta membantu mereka dan menyenangkan hati mereka.

Kami memohon kepada Allah agar memberi taufiq kepada kami terhadap apa-apa yang Allah cintai dan ridhoi. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad, keluarganya serta para shahabatnya.

Itulah yang dapat kami sampaikan. Semoga bisa menambah wawasan anda mengenai hari raya Idul Adha. Selanjutnya akan kami ulas mengenai harga kambing kurban di Depok..

Segera pesan layanan qurban online sekarang juga. Kami akan menyediakan kambing dan sapi yang murah memenuhi syar’i, penyembelihan secara islami, mudah praktis, dan nyaman dengan pilihan harga yang bervariasi.

Tujuan Aqiqah Berkah yaitu membuat semua orang bisa berkurban menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Di Aqiqah Berkah harga jual kambing murah di bandingkan dengan jasa layananqurban lainnya dan terjangkau untuk seluruh umat.

Keunggulan layanan qurban online ini sebagai berikut:

  1. Kambing berkualitas tinggi dan telah memenuhi syarat untuk qurban
  2. Kambing disembelih oleh ahlinya sesuai syariat Islam (wajib dan sunnah) jika memilih qurban online.
  3. Kambing dapat dilihat dan dipilih langsung di kandang
  4. Kami melayani Qurban untuk daerah Sekarisidenan Kediri
  5. GRATIS ongkos kirim untuk Nganjuk, madiun, kediri dan sekitarnya
  6. Kambing sehat, baik/sesuai syariah
  7. Pembayaran setelah barang sampai / transfer.
  8. Siap menyalurkan kepada yang berhak: pondok pesantren, panti asuhan dan fakir miskin.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Depok

Untuk sobat semua yang tinggal di Depok dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2020 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 23-38 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.900.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2020 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.22.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.22.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2020 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2020 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota semarang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Silahkan bagi sahabat Aqiqah Berkah yang yang ingin memesan penawaran paket qurban 2020 dari kami. Karena kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra anda yang beramanah untuk membantu kelancaran ibadah qurban anda. Pesan paket qurban yang anda kehendaki mulai dari sekarang, untuk mendapatkan harga yang ekonomis. Berikut kontak kami yang dapat anda hubungi.

085853444472

Kambing Kurban di Bogor

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

Kambing Kurban di Bogor

Dalam setiap lapangan kehidupan, manusia selalu bertemu dengan simbol. Simbol memang tidak dapat dielakkan dari kehidupan manusia. Bahkan manusia juga berpikir memakai simbol-simbol. Artikel ini membahas tentang satu aspek ibadat dalam Islam, yakni kurban, yang dipandang sebagai sebuah simbol.

Kurban merupakan salah satu aspek Islam sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya keikhlasan dan kebutuhan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada tuhannya. Adapun dalam arti yang lebih mendalam, kurban mengingatkan seorang Mukmin kepada satu peristiwa yang melukiskan satu kesediaan memberi kurban kepada yang lebih tinggi dan lebih besar. Bukan semata-mata pengorbanan kesenangan dan harta, tetapi pengorbanan sesuatu yang amat dicintai di dunia ini. Pengorbanan jiwa untuk sesuatu nilai yang lebih dari itu, yakni peristiwa pengorbanan yang diperintahkan Allah kepada Ibrahim dan anaknya, Ismail.

Ketika darah merah segar terpancar dari leher hewan kurban, semestinya setiap Muslim merenungkan kembali tentang hakikat kurban. Dengan demikian, momentum (peristiwa sejarah) yang bernilai mulia ini, tidak sekadar menjadi ritus (upacara) tanpa makna atau tradisi tanpa arti. Apabila hakikat kurban ini tidak tertangkap, jadilah ia sesuatu yang mubazir bahkan sia-sia. Semua prosedur dan teknik dalam melakukan ritual ini, termasuk maknanya, harus dipahami melampaui formalitasnya.

Apabila setiap Muslim mengenang kembali sikap tulus Ibrahim yang mengorbankan anak tercintanya, Ismail, dan disambut keikhlasan hati sang putra, terpancarlah sebuah teladan utama dalam kehidupan umat manusia. Suatu sikap hidup yang menyadari sepenuhnya keberadaan dirinya di dunia. Secara manusiawi, amat berat perintah yang diemban keduanya.

Peristiwa tersebut menggambarkan suatu kesabaran yang tinggi dari seorang Ibrahim yang sedang diuji Allah. Ibrahim harus bisa memilih antara cintanya kepada Allah atau cinta kepada anaknya. Ia harus memilih salah satu dari dua pilihan, yang kedua pilihan tersebut merupakan ujian baginya (cinta yang merupakan hidupnya atau kebenaran yang merupakan agamanya). Dan hal inilah yang dapat dilihat kesadaran tentang esensi ibadah seseorang.

Di dalam melaksanakan rites de passage (tamasya ritual) ibadah haji, yang salah satunya adalah melakukan proses penyembelihan kurban, di sana akan dijumpai banyak simbol. Simbol-simbol inilah yang akan dibahas dalam artikel ini.

Simbol dalam Agama

Pengertian Simbol

Dalam setiap berpikir dan berkomunikasi dengan sesama, kita selalu menggunakan tanda. Bahasa lisan adalah salah satu dari kompleksitas tanda yang digunakan manusia. Ilmu yang membahas tentang tanda adalah semiotika atau semiologi, yang berasal dari bahasa Yunani, semeion, yang berarti tanda. Dunia manusia adalah dunia tanda.

Menurut Charles Sanders Pierce, tanda bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Dinamakan ikon jika hubungan antara tanda dan ditandai memiliki kemiripan. Disebut indeks karena adanya kedekatan eksistensi antara tanda dan objek yang diacunya.

Dan yang ketiga simbol ini cenderung bersifat abstrak yang disepakati berdasarkan konvensi melalui proses panjang.

Meskipun bisa dibedakan, ketiga sistem tanda di atas tidak dapat dipisahkan secara mutlak. Dalam wacana ketuhanan, tampaknya bahasa simbol yang lebih menonjol. Tentang bahasa simbol dalam wacana ketuhanan, banyak pakar telah membahasnya.

Menurut Paul Tillich (w. 1965), ada enam karakter bahasa simbol. Empat di antaranya yang sangat penting diungkapkan adalah sebagai berikut:

  1. Simbol sebagai sistem tanda pada umumnya. Simbol menunjuk pada realitas yang berdiri di luar dirinya.
  2. Simbol tidak bersifat netral, melainkan selalu berpartisipasi ataupun terkait langsung dengan objek yang disimbolkan.
  3. Simbol yang mengungkapkan sebuah realitas yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata karena realitas itu begitu kompleks, agung, dan mengandung misteri.
  4. Simbol mampu membimbing dan membuka jiwa kita untuk menangkap realitas di luar diri kita yang tidak bisa diterangkan dengan bahasa sains.

Pengertian kata “simbol” secara etimologis diambil dalam bahasa Yunani, symbolos, yang berarti tanda, ciri, lambang. Sedangkan yang diambil dari kata kerja bahasa Yunani, sumballo, berarti berwawancara, merenungkan, memperbandingkan, bertemu, melempar menjadi satu, menyatukan dua hal menjadi satu.

Bagi manusia, membuat simbol adalah aktivitas primer. Menciptakan simbol merupakan proses berpikir yang fundamental dan berlangsung sepanjang waktu. 7 Pendapat seperti ini sukar dibantah kebenarannya. Buktinya, jika mau menyadari hal-hal di sekeliling kita sebentar saja, akan kita jumpai beraneka ragam simbol yang mengelilingi kita. Sebagai orang modern, kita tidak bisa lepas dari peranan simbol. Kebutuhan kita akan informasi dari media massa adalah salah satu bukti keterikatan kita akan simbol, karena susunan huruf yang ada adalah simbol untuk bahasa, sementara bahasa itu sendiri adalah simbol komunikasi manusia dalam interaksi sosialnya.

Pendek kata, sepanjang hidupnya manusia bergulat dengan simbol dan tanda. Simbol merupakan bagian integral dari hidup dan kehidupan manusia di planet bumi ini. Ernst Cassirer menyebut manusia sebagai makhluk “bersimbol” dalam karyanya yang berjudul Die Philosophie Der Symbolischen Formen (filsafat tentang bentuk- bentuk simbolik). Cassirer menempatkan simbol sebagai persoalan fundamental dalam hal konseptualisasi. Representasi simbolik merupakan fungsi esensial dari kesadaran manusia dan hadir tidak hanya dalam struktur sains, melainkan juga dalam mitos, agama, bahasa, seni, dan sejarah. Pada intinya manusia adalah binatang yang melakukan proses simbolisasi (a symbolizing animal).

Ada dua pendapat atau pemikiran ontologis tentang simbol. Di satu pihak ada yang menyatakan bahwa simbol adalah suatu hal yang imanen, dalam arti yang disatukan dalam simbol adalah bagian atau hal-hal yang di dalam manusia saja atau hal-hal yang terbatas dalam dimensi horisontal. Di lain pihak ada pemikiran yang berdasarkan keyakinan bahwa simbol menunjukkan kepada yang transenden, bahwa dalam simbolisasi oleh manusia selalu terdapat jawaban implisit manusia dalam dialog dengan yang lain. Jadi, menurut pemikiran ini, simbol juga bisa berdimensi metafisik.

Pembahasan mengenai sistem simbol dan tanda di atas akan lebih jelas relevansinya apabila pembahasannya pada persoalan keimanan dan ketuhanan. Setiap manusia merasa kenal Tuhan sehingga karenanya manusia menyebut nama dan sifat-sifatnya ketika berdoa atau ketika dalam situasi yang membahayakan. Sedangkan kata Tuhan (God), Allah, ataupun sebutan lain, semuanya itu tetap bersifat simbolik. Yang harus dibedakan adalah antara “nama” dan “yang diberi nama”, “simbol” dan “the thing symbolized”, “predikat” dan “substansi”, dan seterusnya.

Meskipun dalam tradisi keagamaan banyak nama Tuhan serta tempat dan orang yang disucikan, pada dasarnya tak suatu apa pun yang memiliki kesucian absolut kecuali Tuhan. Misalnya, Kabah bisa saja dikatakan suci tetapi kesuciannya tidak intrinsik. Oleh karenanya, jika seorang Muslim menyucikan Kabah sejajar dengan sikap menyucikan Tuhan, ia telah jatuh menjadi musyrik, sebab keyakinannya tidak jauh berbeda dari keyakinan orang Arab jahilliyah pra-Islam yang juga menyucikan patung. Tidak mengherankan jika bukti-bukti tentang adanya Tuhan itu ada hubungannnya dengan pengalaman manusia, sebab manusialah yang dapat mengetahui adanya Allah. Oleh karena itu, bukti tentang adanya Tuhan bukan hanya kenyataan bahwa alam itu ada, akan tetapi juga apa yang dapat dibuktikan oleh pengetahuan modern.

Di sinilah semiotika ketika membicarakan Tuhan setidaknya terbagi menjadi tiga mazhab. Pertama, mazhab materialisme positivisme, yaitu kelompok pemikiran yang menegaskan bahwa ungkapan tentang Tuhan tidak memiliki makna. Kedua, mereka yang berpandangan bahwa kitab suci benar-benar merupakan kalam Tuhan, meskipun di sana terdapat banyak ungkapan simbolis dan metaforis, sehingga untuk memahami bahasa agama diperlukan interpretasi agar pesan yang dikandungnya bisa ditangkap secara benar.

Ketiga, pengenalan manusia yang paling tinggi tentang Tuhannya hanyalah bisa dijangkau dengan metabahasa, yaitu apa yang oleh kaum mistik disebut “the language of silent”.

Upacara Kurban sebagai Simbol Keagamaan

Kehidupan di alam semesta, dalam kesatuan sosial maupun sebagai individu, tidak dapat berlangsung kalau tidak dipelihara dan dirangsang dengan ritus-ritus yang menjamin kesesuaian dengan ketentuan-ketentuan kosmos atau ilahi. Begitulah pemikiran manusia-manusia religius, ritus-ritus inisiasi dipraktikkan di mana-mana. Mereka mengucilkan situasi-situasi kritis dan marginal dalam hidup individu dan kreatif.

Persiapan-persiapan sebelum kelahiran, upacara-upacara sekitar kelahiran, inisiasi pemberian nama, waktu pubertas, perkawinan, ketika sakit, dan upacara-upacara pemakaman diselenggarakan di seluruh dunia untuk mencegah bahaya-bahaya yang tersembunyi dalam perpindahan dari satu tahap kehidupan ke tahap yang lain dan untuk menjamin kontak yang sangat diperlukan dengan sang ilahi.

Tidak hanya kejadian-kejadian sangat penting dalam hidup, tetapi juga kegiatan-kegiatan kerja yang rutin serta permainan memeroleh kemajuan dan kekuatan dari ritus-ritus yang mengiringinya. Sebagai contoh, pembuatan perkakas, pembangunan rumah, pembuatan perahu, pengolahan tanah, berburu dan memancing, mengadakan perang; semua memerlukan inkarnasi, pengilahian, dan dedikasi.

Dari semua ritus ini, upacara kurban mempunyai tempat utama karena dengannya manusia religius mengadakan persembahan diri kepada dewa lewat satu pemberian. Hubungan serta komunikasi yang erat antara dia dengan dewa ditetapkan lewat keikutsertaan dan diambil bagian dalam persembahan yang disucikan. Oleh karena itu, tidak perlu diragukan bahwa upacara kurban tampak sebagai suatu ritus religius yang penting dan bagi banyak suku bangsa; kurban merupakan tindakan yang religius.

Upacara kurban dapat digambarkan sebagai persembahan ritual berupa makanan atau minuman atau binatang sebagai konsumsi bagi suatu makhluk supernatural. Berbeda dengan persembahan-persembahan ritual kepada penguasa-penguasa manusiawi dan juga dengan persembahan-persembahan lain kepada makhluk supernatural yang bukan berupa makanan, misalnya pembaktian pekerjaan seseorang bagi pelayanan Tuhan, penyucian hewan sederhana, sebagaimana diteliti oleh C. Levi-Strauss:
Dalam setiap masyarakat, komunikasi bekerja dalam tiga taraf yang berbeda: komunikasi para perempuan, komunikasi harta benda dan pelayanan, komunikasi pesan-pesan. Oleh karena itu, studi kekerabatan, ilmu ekonomi, dan linguistik mempunyai jenis-jenis problem yang sama pada taraf-taraf strategis yang berbeda dan sesungguhnya menyangkut bidang yang sama.

Begitu juga upacara kurban merupakan ilustrasi yang bagus untuk suatu bentuk komunikasi nonverbal karena mencakup pertukaran barang dan jasa pada taraf religius. Upacara kurban secara ritual adalah benar-benar suatu bentuk pertukaran manusia dan makhluk adikodrati; manusia pengorban memberikan barang-barangnya dan penerima illahi bereaksi. Segi persembahan dalam upacara adalah yang terpenting.

Dalam antropologi sosial, persembahan secara tidak langsung mengimplikasikan suatu pertukaran barang dan jasa. Meskipun dianggap muncul dari kehendak mereka, persembahan merupakan kewajiban dari tingkah laku sosial. Persembahan-persembahan dilakukan dengan pengharapan yang jelas bahwa ganjaran balasan akan diberikan lewat sesuatu cara.

Dalam lingkup upacara, bisa dibedakan menjadi dua macam kategori yang terpisah satu sama lain: upacara dan ritual. Dalam Buddhisme, makna upacara berarti setiap organisasi kompleks apa pun dari kegiatan manusia yang tidak hanya bersifat sekadar teknis ataupun rekreasional dan berkaitan dengan penggunaan cara-cara tindakan yang ekspresif dari hubungan sosial. Segala cara tingkah laku yang demikian itu, entah yang sudah lazim atau sesuai dengan mode. Goody mendefinisikan ritual sebagai suatu kategori adat perilaku yang dibakukan, di mana hubungan antara sarana-sarana dengan tujuan tidak bersifat intrinsik, dengan kata lain sifatnya irasional atau nonrasional.

Susanne longer memperlihatkan bahwa ritual merupakan ungkapan yang lebih bersifat logis daripada hanya bersifat psikologis. Ritual memperlihatkan tatanan atas simbol-simbol yang diobjekkan.

Simbol-simbol ini mengungkapkan perilaku dan perasaan, serta membentuk disposisi pribadi dari para pemuja mengikuti modelnya masing-masing. Pengobjekan ini penting untuk kelanjutan dan kebersamaan dalam kelompok keagamaan.

Contoh upacara kurban ada pada penduduk primitif. Upacara kurban tersebut adalah sebuah ibadah kepada leluhur di mana hubungan antara yang hidup dengan yang mati diungkapkan. Di antara penduduk Mende di Sierra Leone, semua ikut ambil bagian dalam upacara ini. Upacara dilakukan di tempat doa yang terletak pada semak-semak pohon. Di hadapan semua anggota keluarga, diletakkan seekor unggas dan beras. Kemudian mereka semua meletakkan makanan dan setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing. Kalau makanan yang dipersembahkan kepada leluhur sudah dimakan burung-burung atau binatang yang lewat, maka itulah tanda bahwa pengorbanan sudah diterima. Kalau tidak, upacara harus diulang pada hari berikutnya. Dasar kepercayaan dalam pengorbanan seperti ini adalah bahwa roh-roh leluhur mengharapkan bagian mereka dari kemakmuran saudara-saudaranya yang masih hidup dan dari rumah tangga mereka.

Lain halnya dengan upacara kurban pada umat Islam. Orang Islam yang mampu diwajibkan untuk mengeluarkan kurban setiap tahun, seekor domba untuk setiap orang atau sapi dan unta untuk tujuh orang. Binatang kurban ini harus disembelih pada Hari Raya Kurban atau selama tiga hari sesudahnya. Di luar waktu tersebut tidak sah. Penyembelihannya boleh diwakilkan dan dagingnya dibagikan untuk fakir miskin. Kemudian mengenai pengorbanan yang akan diterima adalah pengorbanan yang dilandasi dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya.

Penyembelihan hewan kurban tersebut sebagai tradisi keagamaan yang dimulai sejak Nabi Ibrahim dan dikukuhkan dalam syariat Nabi Muhammad; merupakan suatu qurbah (sarana pendekatan diri kepada Allah). Untuk membuktikan kebaktian dan kepatuhan kita kepada petunjuk-Nya, yaitu memantapkan tauhid kita kepada-Nya dan ikut memperhatikan kemaslahatan masyarakat dengan kesediaan berkurban harta dan tenaga sampai kepada jiwa apabila hal itu diperlukan untuk terwujudnya kemaslahatan bersama.

Ajaran Islam tidak melarang sama sekali penyembelihan hewan untuk maksud ibadah, tetapi di sini ditekankan bahwa ibadah itu semata-mata untuk Allah saja sebagai konsekuensi kepercayaan tauhid. Penyembelihan hewan kurban itu dimaksudkan bukan untuk disia-siakan begitu saja.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Bogor

Untuk sobat semua yang tinggal di Bogor dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2020 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 23-38 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.900.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2020 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.22.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.22.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai harga kambing Bogor 2020. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :
TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Harga Kambing Kurban Cirebon

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

Harga Kambing Qurban Cirebon

Sebelum masuk ke harga kambing kurban cirebon. Anda harus tau apa itu kurban?. Mari di simak ulasan berikut ini….

Pengertian Kurban

Perlu penulis tegaskan, bahwa kurban yang dimaksud disini adalah kurban yang bahasa Arabnya “udlhiyah”.

Udlhiyah dan dluha pada awalnya bermakna “waktu dluha” yaitu waktu antara dari pukul 7 pagi hingga pukul 11 siang. Kemudian dijadikan sebagai nama bagi sembelihan kurban yang pelaksanaannya dianjurkan pada waktu dluha, di hari ke-10,11,12 dan 13 Dzulhijjah.

Secara bahasa “udlhiyah” atau jamaknya “dlahaya” berarti hewan sembelihan, atau menyembelih binatang pada pagi hari. Jadi definisi kurban (arabnya udlhiyah) ialah binatang yang disembelih pada hari raya kurban (Idul Adha). Dalam ilmu fiqh, kurban berarti penyembelihan hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. (kurban) pada hari raya haji (Idul Adha) dan atau hari Tasriq (tanggal 10,11,12 dan 13 dzulhijjah). Sedangkan menurut Wahbah al-Zuhaili, kurban (udlhiyah) secara bahasa ialah nama untuk suatu hewan yang disembelih, atau untuk hewan yang disembelih pada hari raya Idul Adha, sedangkan menurut fiqh kurban ialah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah di dalam waktu tertentu. Muhammad al-Khatib al-Syarbani memberi definisi kurban (udlhiyah) sebagai berikut :
” Kurban ialah hewan yang disembelih dari jenis hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah di hari raya Idul Adha sampai akhir hari tasyrik ” .

Dan menurut Al-Jaziri kurban ialah untuk menyebutkan sesuatu hewan dari jenis hewan ternak yang disembelih atau dijadikan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. di hari raya Idul Adha baik dia sedang melaksanakan ibadah haji ataupun tidak mengerjakan.

Dari definisi –definisi tersebut di atas, kurban adalah penyembelihan hewan ternak yang dilakukan pada hari raya Idul Adha dan sampai akhir hari tasyrik (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijah) untuk mandekatkan diri kepada Allah SWT.
Dasar Hukum Kurban.

Al-Qur’an maupun al-Sunnah sebagai sumber pokok hukum Islam banyak sekali menyebutkan tentang ibadah kurban, dan memerintahkan secara jelas dan tegas di antaranya : “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizqikan Allah kepada mereka”. (QS. Al-Hajj : 34)

Ayat al-Qur’an tersebut menunjukan adanya anjuran supaya berkurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. yaitu dengan menyembelih binatang ternak. Ayat lain dalam surat al-Kautsar dinyatakan, sebagai berikut : ” Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah, sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus ” . (QS : al-Kautsar:1-3)

Surat tersebut menunjukan agar selalu beribadah kepada Allah SWT. Dan berkurban sebagai tanda bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Sedangkan hadits Nabi SAW yang menjadi dasar hukum kurban diantaranya : Artinya : ” Hai manusia, sesungguhnya atas tiap-tiap ahli rumah pada tiap-tiap tahun disunatkan berkurban “. (HR. Abu Dawud).

Hadits Nabi SAW tersebut menerangkan bahwa berkurban itu bukanlah ditentukan untuk sekali saja melainkan disunatkan tiap-tiap tahun kalau ada kesanggupan untuk berkurban. Dalam hadits yang lain Nabi SAW bersabda : ” Dari Abi Hurairah : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami ” . (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

Dalil-dalil nash tersebut di atas, menurut jumhur ulama bahwa hukum kurban ialah sunat muakad dan bukan wajib. Namun menurut Abu Hanifah hukum kurban ialah wajib, karena menurut Abu Hanifah suatu perintah menuntut adanya kewajiban. Istilah wajib disini menurut Abu Hanifah kedudukannya sedikit lebih rendah dari pada fardlu, dan lebih tinggi dari pada sunnah, karena hukumnya wajib, maka berdosalah orang yang meninggalkannya jika ia tergolong orang yang mampu. Selain madzhab Hanafi mengatakan bahwa hukum kurban ialah sunnat muakad dan tidak wajib, namun dimakruhkan bagi orang yang mampu berkurban dan tidak melaksanakan ibadah kurban.

Sejarah Disyari’atkan Kurban

Ibadah kurban termasuk syari’at Nabi Ibrahim A.S. dan beliaulah yang mula-mula melaksanakannya. Nabi bersabda : ” Dari Zaid Ibn Argam berkata : para sahabat Rasulullah SAW bersabda : ada apa dengan kurban ini ? Nabi bersabda : Sunnah bapakmu Ibrahim ” . (HR. Ibn Majah)

Kita melaksanakan kurban karena meneladani sunnah Nabi Ibrahim, dan mengenang peristiwa agung yaitu penyembelihan kurban, Ibrahim mendapatkan wahyu dalam mimpi untuk menyembelih anaknya Ismail. Beliau mematuhi isi wahyu tersebut, lalu menemui putranya dan buah hatinya itu, anak yang baru dimiliki Ibrahim setelah ia lanjut usia. Ismail adalah anak yang dirindukan kelahirannya, namun setelah Allah SWT memberinya kegembiraan berupa anak, tiba-tiba datanglah wahyu agar menyembelih putranya itu. Ini merupakan ujian yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim dan putranya.

Dalam kondisi seperti itu tiba-tiba perintah Allah SWT datang “Sembelihlah dia” Allah SWT hendak menguji hati Ibrahim, apakah dia masih setia dan tulus ikhlas kepada Allah SWT, ataukah hatinya bergantung dan sibuk dengan anaknya. Ibrahim lulus dalam menghadapi ujian ini. Ia pergi menemui anaknya, ia tidak mengambilnya dengan tiba-tiba dan tidak pula mencari kelengahannya, tetapi dikemukakan hal itu secara terang-terangan dengan menyatakan : Artinya : “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembilihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu ” . (QS. Ash Shafaat : 102)

Ismail anak yang patuh dan mengerti kedudukan orang tuanya dan posisi sebagai anak, ia tidak membangkang atau tidak bimbang. Dengan penuh keimanan dan kepercayaan sebagai seorang mukmin, ia berkata : “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar ” . (QS. Ash Shafaat : 102)

Suatu jawaban yang memancarkan keimanan, tawadhu’ dan tawakal kepada Allah SWT. Dan tatkala keduanya telah berserah diri (si ayah telah menyerahkan anaknya, dan si anak telah menyerahkan lehernya) Dan Nabi Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipisnya (hendak melaksanakan perintah-Nya), tiba-tiba datanglah kabar gembira kepadanya, sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an : “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya), dan Kami panggil dia “hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesunggguhnya Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar ” . (QS. Ash Shafaat :103-107)

Tatkala Ismail sedang dibaringkan, malaikat Jibril datang kepada Ibrahim dengan membawa seekor kibas (domba) seraya berkata : ”sembelihlah ini sebagai ganti dari anakmu”, lalu jadilah yang demikian itu sebagai sunnah, dan kita menyembelih kurban untuk mengenang peristiwa itu.

Setelah datang Nabi Muhammad SAW maka menyembelih hewan atau berkurban itu disyari’atkan pula kepada umatnya yang dilakukan pada hari raya Idul Adha dan hari –hari Tasyriq.

Syarat-syarat Kurban

1. Macam-macam hewan kurban.
Ulama sepakat bahwa sesungguhnya hewan kurban itu tidak sah kecuali dari hewan ternak, yaitu : unta, sapi (termasuk kerbau), kambing (termasuk biri-biri) dan segala macamnya, baik jantan atau betina. Kurban tidak boleh dengan selain binatang ternak (bahimatul an’am) seperti sapi liar, kijang dan sebagainya. Berdasarkan firman Allah SWT. : “Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syari’atkan penyembilihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka ” .(QS. Al-Hajj : 34)

Arti lafadz “bahimatul an’am” pada ayat tersebut adalah unta, sapi dan kambing.
Nabi dan para sahabatnya tidak pernah melakukan kurban, dengan selain hewan ternak, karena kurban adalah ibadah yang berhubungan dengan hewan, maka ini ditentukan dengan hewan ternak. Ulama sepakat bahwa yang bisa dijadikan kurban ialah hewan ternak yang temasuk kelompok bahimatul an’am, yaitu : unta, sapi dan kambing. Namum mereka berbeda pendapat mengenai hewan mana yang lebih utama.

Ulama-ulama Malikiyah berpendapat, yang lebih utama adalah kambing, kemudian sapi, kemudian unta, karena dipandang dari segi bagusnya daging, karena Nabi SAW., berkurban dengan dua kambing kibas, dan Nabi tidak melakukan kecuali yang lebih utama dahulu. Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat sebaliknya.

Menurut mereka hewan kurban yang lebih utama adalah unta, kemudian sapi, kemudian biri-biri , kemudian kambing kacang. Karena dipandang dari segi banyaknya daging dan untuk maksud memberi kelapangan bagi orang-orang fakir. Menurut Hanafi yang lebih utama ialah, yang lebih banyak dagingnya tanpa membedakan binatang mana yang lebih utama, namun apabila kedua hewan tersebut, sama banyak dagingnya, maka yang lebih utama adalah yang lebih bagus dagingnya.

2. Sifat hewan yang dikurbankan
Binatang yang dijadikan kurban itu hendaklah binatang yang sehat, bagus, bersih dan enak dipandang mata, mempunyai anggota tubuh yang lengkap, tidak ada cacat, seperti : pincang, rusak kulit dan sebagainya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits : “Dari Bara’ Ibn. ‘Azib berkata: Rasulullah SAW, bersabda: Empat macam binatang yang tidak boleh dijadikan binatang kurban, yaitu: yang buta lagi jelas kebutaannya, yang sakit lagi jelas sakitnya, yang pincang lagi jelas kepicangannya dan binatang yang kurus kering dan tidak bersih” . (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah)

Syarat hewan kurban ialah harus selamat dari cacat, yang dapat mengurangi dagingnya, maka tidak boleh berkurban dengan hewan yang kurus, majnun (stress) dan yang terpotong sebagian kupingnya, yang pincang, yang buta, yang sakit dan yang mempunyai penyakit kulit yang jelas, dan hewan yang tidak mempunyai tanduk, dan juga hewan yang sobek dan berlubang daun telinganya. Hewan kurban ialah hewan yang dipersembahkan kepada Allah SWT. Sebagai wujud ketakwaan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka hewan yang disembelih hendaklah hewan yang benar-benar sehat, bagus, tidak cacat, dan enak dipandang mata.

Dalam hadits diterangkan bahwa Rasulullah SAW berkurban dengan dua ekor kambing yang bagus dan enak dipandang mata : ”Dari Anas berkata : “Bahwasannya Nabi SAW telah berkurban dengan dua ekor kibas yang enak dipandang mata lagi mempunyai tanduk. Beliau menyembelih sendiri dengan membaca basmalah dan mengucapkan takbir” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut menerangkan bahwa Nabi berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang bagus dan enak dipandang mata. Hewan kurban adalah sembelihan yang dikurbankan untuk Allah SWT, maka sebaiknya memilih hewan ang gemuk dan bagus. Sebaiknya seorang muslim memberikan sesuatu yang lebih utama kepada Allah SWT, jangan sebaliknya memberikan sesuatu kepada Allah SWT yang dia sendiri tidak menyukainya.

3. Umur hewan kurban
Para ulama sepakat, bahwa kambing atau domba yang akan dijadikan hewan kurban adalah yang telah tanggal dan berganti gigi surinya atau yang lebih tua dari itu, berdasarkan hadits : ” Dari Jabir berkata : bersabda Rasulullah SAW janganlah kamu menyembelih untuk kurban melainkan yang “musinah” (berumur dua tahun), jika kamu sukar memeperolehnya maka sembelihlah hewan yang berumur satu tahun”. ( HR. Jama’ah selain Bukhari)

Yang dimaksud dengan musinah ialah : kalau kambing ialah yang telah sempurna berumur dua tahun dan telah masuk tahun ke tiga. Dan musinah dari unta ialah yang telah sempurna berumur lima tahun dan sudah masuk tahun ke enam. Dan musinah dari sapi ialah sapi yang telah sempurna berumur dua tahun dan sudah masuk tahun ke tiga. Dan kambing yang telah tanggal giginya (jadzah) ialah kambing yang telah sempurna berumur satu tahun dan sudah memasuki tahun ke dua dan juga boleh dengan kambing yang giginya tanggal sebelum sempurna umurnya satu tahun.

Rasullullah pernah membolehkan kaum muslimin berkurban dengan anak kambing, sebagaimana diterangkan dalam hadits : ”Dari Uqbah ibn Amir al-Juhani berkata : Rasulullah SAW membagi kepada kami hewan kurban, maka saya memperoleh anak kambing, saya berkata, Ya Rasulullah saya hanya memperoleh anak kambing, Rasulullah menjawab, berkurbanlah dengan anak kambing itu “. (HR. Bukhari Muslim)

Sebenarnya berkurban dengan anak kambing di bawah umur satu tahun atau anak sapi di bawah umur dua tahun atau anak unta di bawah umur lima tahun tidak mencukupi, tetapi dibolehkan jika terpaksa karena sukar mendapatkan musinah.

4. Waktu Peyembelihan Hewan Kurban
Penyembelihan hewan kurban dilakukan pada hari-hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyriq, yaitu 11,12, dan 13 Dzulhijjah, berdasarkan firman Allah SWT : “Supaya mareka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan. Atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak maka makanlah sebagian daripadanya (dan sebagian lagi) berikan untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir ” . (QS. Al-Hajj. 28)

Yang dimaksud dengan hari-hari yang ditentukan (ayyam maklumat) pada ayat diatas ialah hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq. 34 Yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hal ini dijelaskan lagi oleh hadits Nabi.

“Dari Jubair bin Muth’im berkata. Bersabda Nabi SAW seluruh hari Tasyriq merupakan waktu penyembelihan”. (HR. Ahmad)

Disyaratkan hewan kurban untuk tidak disembelih kecuali setelah terbitnya matahari dihari raya Idul Adha, dan kira-kira telah dilaksanakan shalat Idul Adha dan sah disembelih tiga hari setelah itu baik siang atau malam kecuali setelah habisnya hari tersebut. Dalam hadits diterangkan : “Dari Annas bin Malik : Nabi SAW bersabda “Barang siapa yang menyembelih (hewan kurban) sebelum sholat Idul Adha, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang menyembelih sesudah shalat Idul Adha, maka sesungguhnya sempurnalah ibadahnya dan mengikuti sunnah kaum muslim”. (Mutafaq ‘allaih)

Dalam hadits lain diterangkan : ”Dari Jundab bin Sufyan al-Bajali, dia berkata “Aku menyaksikan Nabi SAW, pada hari kurban. Beliau bersabda “ Barang siapa yang menyembelih kurban sebelum dia melakukan sembahyang Idul Adha, maka ia hendaknya mengulang. Dan barang siapa yang belum nemyembelih hendaklah dia lakukan “. (HR. Bukhori)

Hadits tersebut menerangkan bahwa orang yang belum menyembelih hewan kurban sebelum dilaksanakan shalat Idul Adha, maka ibadah kurbannya tidak sah, dan apabila ingin sah kurbannya maka hendaknya ia mengulang lagi.

5. Jumlah Hewan Kurban Untuk Satu Orang
Para ulama ahli fiqih sepakat bahwa seekor biri-biri atau kambing hanya untuk berkurban satu orang, dan seekor unta atau sapi boleh untuk berkurban tujuh orang. Berdasarkan keterangan hadits : “Dari Jabir ibn Abdullah berkata : pada tahun perjanjian Hudaibiyah kami menyembelih kurban bersama Nabi SAW unta untuk tujuh orang dan sap juga untuk tujuh orang “. ( HR. Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Jika penyembelihan kurban tidak menurut ketentuan-ketentuan diatas, seperti seekor kambing untuk lima orang, delapan orang, maka penyembelihan itu tidak termasuk penyembelihan ibadah kurban tetapi menurut penulis hanyalah termasuk sedekah saja, karena tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam ibadah kurban.

Hukum Daging Kurban

Hukum orang berkurban boleh memakan daging kurbannya dan menyedekahkannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah : “Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang-orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta”. (QS. Al-Hajj.36)

Yang lebih utama pembagian daging kurban ialah sepertiga untuk dimakan, yang kurban, sepertiga untuk disedekahkan, dan sepertiganya untuk disimpan. Berdasarkan hadits Nabi SAW : ”Dari Aisyah Ra berkat : pernah manusia penduduk desa berduyun-duyun untuk menghadiri kurban di masa Rasulullah SAW. Maka bersabda Rasulullah SAW “simpanlah sepertiga daging itu, dan sedekahkahnlah yang lainnya” (HR. Abu Daud).

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi pembagian daging kurban yang lebih utama ialah menjadi tiga bagian, yakni : sepertiga untuk dimakan oleh yang berkurban beserta keluarganya, sepertiga untuk tetangga sekitarnya (lebih-lebih jika mereka tergolong orang-orang yang berekonomi lemah atau tidak mampu berkurban), dan sepertiga untuk fakir miskin. Seandainya yang bersangkutan (pengurban) menyedekahkan seluruh daging kurbannya, tentu hal itu lebih utama dan lebih baik lagi, dengan syarat ia harus mengambil berkah, seperti makan hatinya atau lainnya. Hal itu sebagai bukti bahwa ia telah memakan sebagian dari dagingnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW, dan para sahabatnya.

Dalam hadits diterangkan bahwa Rasulullah SAW, pernah melarang pengurban menyimpan daging kurban beberapa hari, sebab terbukti bahwa pada waktu itu banyak orang yang patut ditolong, layak diberi daging kurban, yakni mereka yang termasuk dalam golongan fakir dan miskin. Pada waktu itu Rasulullah SAW, menyuruh mereka agar berkurban untuk mengutamakan menyedekahkan kurbannya, dan mereka yang berkurban hanya diberi izin mengambil daging kurbannya kira-kira cukup untuk keperluan tiga hari saja.

Kemudian pada tahun yang lalu itu masih tetap berlaku atau tidak, Rasulullah SAW pun menerangkan bahwa peraturan tersebut ditetapkan karena pada tahun berikutnya keadaan telah pulih kembali, tidak banyak yang memerlukan bantuan. Oleh karena itu Rasulullah SAW memberikan izin untuk turut memakannya.

Seperti diterangkan dalam hadits : ”Dari Salamah Ibn al-Akwa’ berkata : Nabi SAW bersabda barang siapa diantara kamu sekalian berkurban maka janganlah. Menyimpan sesuatu pun (dari daging kurban) setelah tiga hari. Kemudian pada tahun berikutnya para sahabat bertanya : ya Rasulullah apakah kami melakukan seperti tahun lalu? Rasulullah bersabda ”makanlah (dari kurban mu), dan berilah orang-orang, dan simpanlah, sesungguhnya pada tahun yang lalu itu orang-orang mendapat kesusahan, maka aku ingin kamu menolong mereka”. (Muttafaq ‘Alahi)

Orang yang berkurban tidak boleh mengambil sebagian dari kurbannya untuk dijual maupun dijadikan upah jagal atau si penyembelih. Bila si penjagal ingin ikut menikmati daging kurban, kita dapat memberinya melalui undangan makan yang sajiannya daging kurban. Jika dia fakir miskin, dia berhak diberi daging kurban agar dia dan keluarganya turut bergembira.

Yang membantu menyembelih kurban dan yang turut mengerjakannya tidak boleh diberi upah dari kurban. Kalau mau memberi upah, hendaklah dari yang berkurban.

Seperti diterangkan dalam hadits : ”Dari sahabat Ali RA. Berkata : Rasulullah SAW menyuruhku untuk menangani unta kurban dan membagikan kulit dan penutup tubuhnya (kain yang dipakaikan pada hewan kurban), serta melarangku memberikan kepada si penjagal sesuatu dari padanya. Beliau berkata “kita memberi dia upah dari kita sendiri”. (HR. Muttafaq ’alaih)

Bila yang mengerjakan orang miskin, maka ia diberi daging kurban, bukan karena ia bekerja, melainkan karena kemiskinannya. Yang berkurban, selain berkurban juga mesti memberi ongkos-ongkos yang diperlukan untuk menyelesaikannya serta mengurusnya.

Nah itulah ulasan mengenai kurban. Berikut ini ulasan mengenai kambing qurban Cirebon.

Aqiqah Berkah merupakan sebuah usaha yang bergerak di bidang produk dan jasa penyediaan kambing dan sapi kurban beserta jasa pemotongan, pengolahan, pengantaran, dan penyaluran serta menerima pesanan paket nasi box untuk kebutuhan aqiqah, qurban atau kebutuhan lainnya. Didirikan sejak tahun 2008 dan di dukung oleh tenaga-tenaga profesional di bidangnya dan berakhlakuk karimah islami.

Maka kami layanan qurban online terpanggil untuk membantu san memudahkan bagi anda yang belum berqurban. Sekarang tunggu apalagi..

Segera pesan layanan qurban online sekarang juga. Kami akan menyediakan kambing dan sapi yang murah memenuhi syar’i, penyembelihan secara islami, mudah praktis, dan nyaman dengan pilihan harga yang bervariasi.

Tujuan Aqiqah Berkah yaitu membuat semua orang bisa berkurban menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Di Aqiqah Berkah harga jual kambing murah di bandingkan dengan jasa layananqurban lainnya dan terjangkau untuk seluruh umat.

Keunggulan layanan qurban online ini sebagai berikut:

  1. Kambing berkualitas tinggi dan telah memenuhi syarat untuk qurban
  2. Kambing disembelih oleh ahlinya sesuai syariat Islam (wajib dan sunnah) jika memilih qurban online.
  3. Kambing dapat dilihat dan dipilih langsung di kandang
  4. Kami melayani Qurban untuk daerah Sekarisidenan Kediri
  5. GRATIS ongkos kirim untuk Nganjuk, madiun, kediri dan sekitarnya
  6. Kambing sehat, baik/sesuai syariah
  7. Pembayaran setelah barang sampai / transfer.
  8. Siap menyalurkan kepada yang berhak: pondok pesantren, panti asuhan dan fakir miskin.

Daftar Harga Kambing dan Sapi Qurban di Cirebon

Untuk sobat semua yang tinggal di Cirebon dan ingin membeli kambing untuk berqurban kami memberikan referensi harga kambing qurban berikut ini:

A. Kambing qurban 2020 (Ready Stock)
– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 23-38 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.900.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Harga Sapi qurban 2020 (Ready Stock)
1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.22.000.000,-
2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.22.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai harga kambing Cirebon 2020. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS/WA : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Kambing Kurban di Bandung

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

Kambing Kurban di Bandung

Simak nih guys ulasan berikut ini… sebelum anda berkurban baca dahulu artikel berikut ini mengenai persoalan tata cara menyembelih hewan.

Tata Cara Penyembelihan Hewan

1. Pengertian Penyembelihan Hewan

Menurut bahasa menyembelih artinya baik dan suci. Maksudnya, bahwa hewan yang disembelih sesuai dengan aturan syara menjadikan hewan yang disembelih itu baik dan suci serta halal untuk dimakan.

Sedangkan menyembelih menurut istilah adalah mematikan atau melenyapkan roh hewan dengan cara memotong saluran napas dan saluran makanan serta urat nadi utama dilehernya dengan alat tertentu selain tulang dan kuku agar halal dimakan.

2. Rukun Dan Syarat Penyembelihan Hewan

a. Penyembelih, syarat orang yang menyembelih adalah :

  1. Beragama Islam atau ahli kitab
  2. Baligh dan berakal
  3. Menyembelih dengan sengaja
  4. Bisa melihat (tidak buta)

b. Hewan yang disembelih, syarat hewan yang disembelih adalah :

  1. Masih dalam keadaan hidup
  2. Halal dimakan
    Binatang yang disembelih itu ada dalam dua keadaan, yaitu keadaan binatang yang mudah disembelih dilehernya dan keadaan binatang yang susah disembelih di lehernya.
    Binatang yang mudah disembelih di lehernya, hendaklah disembelih di lehernya, yaitu dipotong urat saluran makan (kerongkongan) dan saluran napas (tenggorokan), kedua urat ini harus putus. Sedangkan binatang yang susah disembelih dilehernya karena liar atau karena terperosok ke dalam lubang sehingga tidak bisa disembelih di lehernya, maka penyembelihan bisa dilakukan di bagian badan yang mana saja asal bisa menyebabkan mati karena lukanya itu.
    Perlu dijelaskan pula bila di dalam binatang yang disembelih terdapat janin atau anak binatang dan didapatkan dalam keadaan mati dalam perut induknya setelah induknya disembelih, maka anaknya juga halal untuk dimakan, karena kematiannya itu disebabkan kematian induknya yang disembelih.

c. Alat yang digunakan Menyembelih, syaratnya adalah :

  1. Benda tajam dan dapat melukai
  2. Benda teresebut terbuat dari batu, bambu, besi, dan benda logam lainnya.
  3. Benda tersebut tidak terbuat dari kuku, gigi, dan tulang
    Dalam hal ini Nabi Bersabda : “Dari Rafi’ bin Khadij berkata : “Telah Bersada Nabi SAW : makanlah yakni sesuatu yang dapat mengalirkan darah kecuali gigi dan kuku (H.R. Muslim).
3. Cara-cara Penyembelihan Hewan

Ada dua cara penyembelihan hewan yaitu dengan cara tradisional dan mekanik. Kedua cara ini diperbolehkan dan hasil sembelihannya halal dimakan dengan catatan syara-syarat yang telah ditentukan syara’ harus terpenuhi, seperti ketentuan hewan yang disembelih, alat yang dipergunakan, dan ketentuan orang yang menyembelih semuanya harus memenuhi syarat yang telah ditentukan syara’.

Penyembelihan secara tradisional adalah penyembelihan yang biasa dilakukan oleh masyarakat dengan mempergunakan alat sederhana seperti pisau yang tajam. Biasanya dalam penyembelihan tradisional jumlah hewan yang disembelih sangat sedikit dan hanya untuk dikonsumsi kalangan terbatas.

Sedangkan penyembelihan secara mekanik adalah penyembelihan dengan cara menggunakan mesin dan alat-alat moderen. Karena dalam penyembelihan ini menggunakan mesin maka hasil yang diperolehpun cukup banyak dan beban kerja lebih ringan, dan yang mengkonsumsipun bukan kalangan terbatas tetapi masyarakat luas.

Ketentuan Aqiqah dan Qurban

1. Aqiqah

Menurut bahasa aqiqah artinya bulu atau rambut anak yang baru lahir, sedangkan menurut istilah aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ke tujuh dari kelahiran anak (laki-laki atau permpuan), dan pada hari peneyembelihan itu dicukur rambutnya dan diberikan nama yang indah.

Hukum aqiqah adalah sunnah bagi orang yang memiliki kewajiban menanggung belanja anaknya. Untuk anak laki-laki dianjurkan menyembelih dua ekor kambing atau binatang sejenisnya, sedangkan untuk perempuan cukup satu ekor saja.

Berdasarkan penelusuran hadits tentang aqiqah, hendaknya aqiqah dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sebab bila dilakukan pada hari sebelum dan sesudah hari ketujuh bukanlah aqiqah lagi namanya tetapi hanya shadaqah biasa. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa boleh menyembelih aqiqah sampai usia dewasa, hadits yang mendukung pendapat ini adalah bathil. Tetapi untuk masalah jumlah hewan yang dipotong untuk bayi laki-laki jika tidak mampu dengan dua ekor kambing, maka boleh dengan satu kambing saja, dengan tidak mengulur waktu sampai melewati hari ketujuh. (wallahu ‘alam).

Selain dilakukan pemotongan hewan pada hari pelakasanaan aqiqah hendaklah rambut si bayi yang dibawa dari rahim ibunya dicukur kemudian bersedekahlah seberat timbangan rambutnya itu dengan perak. Jika berat rambutnya itu setara dengan 1 gram perak maka bersedekahlah dengan seukuran itu. Dan tidak kalah pentingya pada hari pelaksanaan aqiqah untuk memberikan nama dengan nama yang indah kepada anak yang baru dilahirkan itu, sebab pada hari kiamat nanti kita akan dipanggil sesuai namanya masing-masing ketika di dunia dan nama bapaknya.

2. Qurban

Qurban menurut bahasa artinya dekat, sedangkan menurut istilah qurban adalah menyembelih hewan ternak yang memenuhi syarat-syarat tertentu dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Ibadah Qurban Hukumnya sunnah muakad artinya sunnah yang dikuatkan, sebagaimana sabda Nabi Saw: Aku diperintahkan untuk berqurban dan qurban itu sunat buat kalian (H.R. Tirmidzi)

Hadits Lainnya:
Dari Abi Hurairah sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkorban maka janganlah ia menghampiri tempat shalatku (H.R. Ibnu Majjah)

Hewan yang dijadikan qurban hendaklah hewan yang baik dan syah untuk qurban, tentunya hewan yang harus memenuhi syarat untuk qurban, adapun syarat hewan yang dijadikan qurban adalah :

a. Cukup umur
Batas minimal umur hewan ternak untuk berqurban adalah sebagai berikut :

  1. Unta, sekurang-kurangnya berumur lima tahun
  2. Sapi atau kerbau, sekurang-kurangnya berumur dua tahun
  3. Domba, sekurang-kurangnya berumur 1 tahun atau sudah berganti gigi
  4. Kambing, sekurang-kurangnya berumur dua tahun

b. Tidak cacat, yaitu tidak sakit, tidak pincang, tidak buta, dan tidak kurus
Waktu penyembelihan hewan dilakukan pada hari raya idul adha setelah melakukan shalat sunat idul adha (tanggal 10 Dzul Hijjah) dan pada hari Tasyrik (10,11, dan 12 Dzul Hijjah).

Memperagakan Cara penyembelihan Hewan Aqiqah dan Qurban

Ketika melakukan penyembelihan hewan baik untuk penyembelihan secara umum maupun penyembelihan hewan aqiqah dan qurban pada umumnya sama. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan khusus untuk tata cara penyembelihan aqiqah dan qurban, yaitu :

a. Tata Cara penyembelihan Aqiqah
  1. Waktu penyembelihan aqiqah hendaknya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran anak
  2. Hewan yang akan disembelih dihadapkan ke kiblat
  3. Waktu menyembelih sunnah membaca basmallah, shalawat atas nabi, takbir dan membaca doa : “Ya Allah aqiqah ini adalah karuniamu dan aku kembalikan kepadamu, Ya Allah ini adalah aqiqah dari …… (sebutkan nama ankanya) .. terimalah”.
  4. Daging aqiqah hendaknya dibagikan kepada fakir miskin setalah dimasak terlebih dahulu.
b. Tata Cara Penyembelihan Qurban
  1. Cara penyembelihan harus sesuai dengan syariat Islam
  2. Yang berqurban disunatkan menyembelih sendiri atau jika tidak cukup menyeksikan saja
  3. Digulingkan ke sebelah kiri tulang rusuknya agar mudah saat penyembelihan
  4. Dihadapkan ke arah kiblat
  5. Disunnahkan membaca basmallah, shalawat, takbir dan berdoa.
  6. Daging qurban boleh dimakan sebagian dan sebagiannya lagi dibagikan kepada fakir miskin
  7. Bagian dari hewan qurban seperti kulit dan kepala hendaknya tidak dijadikan upah potong.

Terima kasih sudah menyimak artikelnya ya. Selanjutnya ulasan mengenai harga kambing yang ada di bandung. Yukkk sama-sama di baca…

Aqiqah Berkah merupakan sebuah usaha yang bergerak di bidang produk dan jasa penyediaan kambing dan sapi kurban beserta jasa pemotongan, pengolahan, pengantaran, dan penyaluran serta menerima pesanan paket nasi box untuk kebutuhan aqiqah, qurban atau kebutuhan lainnya. Didirikan sejak tahun 2008 dan di dukung oleh tenaga-tenaga profesional di bidangnya dan berakhlakuk karimah islami.

Maka kami layanan qurban online terpanggil untuk membantu san memudahkan bagi anda yang belum berqurban. Sekarang tunggu apalagi..

Segera pesan layanan qurban online sekarang juga. Kami akan menyediakan kambing dan sapi yang murah memenuhi syar’i, penyembelihan secara islami, mudah praktis, dan nyaman dengan pilihan harga yang bervariasi.

Tujuan Aqiqah Berkah yaitu membuat semua orang bisa berkurban menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Di Aqiqah Berkah harga jual kambing murah di bandingkan dengan jasa layananqurban lainnya dan terjangkau untuk seluruh umat.

Keunggulan layanan qurban online ini sebagai berikut:

  1. Kambing berkualitas tinggi dan telah memenuhi syarat untuk qurban
  2. Kambing disembelih oleh ahlinya sesuai syariat Islam (wajib dan sunnah) jika memilih qurban online.
  3. Kambing dapat dilihat dan dipilih langsung di kandang
  4. Kami melayani Qurban untuk daerah Sekarisidenan Kediri
  5. GRATIS ongkos kirim untuk Nganjuk, madiun, kediri dan sekitarnya
  6. Kambing sehat, baik/sesuai syariah
  7. Pembayaran setelah barang sampai / transfer.
  8. Siap menyalurkan kepada yang berhak: pondok pesantren, panti asuhan dan fakir miskin.

Selanjutnya untuk menyambut qurban 2020 yang akan datang, diharapkan para sahabat AB dan umat muslim yang ingin melaksanakan qurban tahun ini supaya mempersiapkan hewan qurban sejak awal. Hal ini sebagai salah satu strategi untuk mendapatkan harga hewan qurban yang murah, karena pembelian dan persiapan sejak awal. Pada kesempatan kali ini, mimin Aqiqah Berkah akan memberikan informasi mengenai harga kambing qurban murah bandung 2020 (harga prediksi sewaktu-waktu bisa berubah didasarkan waktu dan tempat). Berikut ulasannya.

1. Harga Kambing Kacang (jawa)
Kambing jawa (lokal). Untuk ras ini, paling banyak di Indonesia dan paling mudah untuk di cari, terutama di daerah jawa timur dan jawa tengah. Adapun untuk masalah harga, jenis kambing jawa atau kambing kacang sangat bervariasi di lihat dari umur, kondisi fisik, kesehatan, dan jenis kelamin. Untuk kisaran harganya mulai dari harga 800 ribu sampai 2,5 juta rupiah. Berikut daftar Harga Kambing Kacang (Jawa)

KAMBING JAWA

Kambing Jawa Berat Badan +/- 23-24 Kg Harga Rp 1.900.000,-
Kambing Jawa Berat Badan +/- 25-26 Kg Harga Rp 1.900.000,-

Kambing Jawa Berat Badan +/- 27-28 Kg Harga Rp 2.000.000,-
Kambing Jawa Berat Badan +/- 29 Kg Harga Rp 2.000.000,

Kambing Jawa Berat Badan +/- 30-31 Kg Harga Rp 2.300.000,-
Kambing Jawa Berat Badan +/- 32-33 Kg Harga Rp 2.300.000,-
Kambing Jawa Berat Badan +/- 34-35 Kg Harga Rp 2.600.000,-
Kambing Jawa Berat Badan +/- 36-37 Kg Harga Rp 2.600.000,-
Kambing Jawa Berat Badan +/- 38 Kg Harga Rp 2.800.000,-

2. Harga Kambing Etawa
Kambing Etawa merupakan jenis kambing pedaging, penghasil susu, dan sebagai kambing kontes. Sedangkan untuk populasi dan perkembangannya tidak kalah saing dengan kambing lokal atau kambing jawa (kacang). Keunggulan dari kambing Etawa adalah memiliki postur tubuh yang lebih besar serta menghasilkan daging yang sangat banyak. Untuk harga kambing Etawa memiliki harga yang cukup jauh di atas kambing lokal. Berikut harga kambing etawa :
a) Etawa betina anakan Umur 3 – 5 bulan = Rp 1.700.000,-
b) Etawa Betina nakan Umur 6 – 7 bulan = Rp 2.200.000,-
c) Etawa Betina Umur 8 – 12 bulan = Rp Rp 3.000.000,-
d) Etawa Betina Dewasa Umur 1 – 2 tahun = Rp 3.500.000,-
e) Etawa Jantan Anakan Umur 3 – 5 bulan = Rp 2.000.000,-
f) Etawa jantan Anakan Umur 6 – 7 bulan = Rp 3.000.000,-
h) Etawa Jantan Umur 8 – 12 bulan = Rp 4.000.000,-
i) Etawa Jantan Umur 1 – 2 tahun = Rp 5.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

3. Harga Kambing Peranakan Etawa (PE)
Kambing peranakan Etawa (PE) adalah kambing hasil dari kawin silang antara kambing etawa dan jawa (lokal). Untuk kualitasnya tidak kalah dengan kambing lain dan termasuk kambing yang mempunyai keunggulan, keunggulan yang sangat menonjol dari Peranakan etawa ini adalah tingkat adaptasinya yang sangat tinggi, berikut harganya.
a) PE Betina Anakan Berumur 3 – 5 bulan = Rp 1.000.000,-
b) PE Betina anakan Berumur 6 – 7 Bulan = Rp 1.500.000,-
c) PE betina Berumur 8 – 12 bulan = Rp 2.000.000,-
d) PE betina Berumur 1 – 2 tahun = Rp 2.500.000,-
e) PE Jantan Anakan Berumur 3 – 5 Bulan = Rp 1.400.000,-
f) PE Jantan Anakan Berumur 6 – 7 bulan = Rp 1.800.000,-
g) PE Jantan Berumur 8 – 12 bulan = Rp 2.500.000,-
h) Pe Jantan Berumur 1 – 2 tahun = Rp 3.200.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

4. Harga Kambing Gibas
Kambing gibas adalah salah satu jenis kambing yang memiliki ciri-ciri khusus seperti bulunya yang panjang dan gimbal, sehingga kambing jenis ini sering juga disebut kambing gimbal. Pada umumnya, warna bulu kambing gibas yakni putih dan tubuhnya cukup besar. Untuk harga kambing gibas memiliki harga yang paling rendah jika di banding dengan harga kambing lain. Berikut harga kambing gibas.

KAMBING GIBAS

Kambing Gibas Berat Badan +/- 23-24 Kg Harga Rp 1.900.000,-
Kambing Gibas Berat Badan +/- 25-26 Kg Harga Rp 1.900.000,-

Kambing Gibas Berat Badan +/- 27-28 Kg Harga Rp 2.000.000,-
Kambing Gibas Berat Badan +/- 29 Kg Harga Rp 2.000.000,

Kambing Gibas Berat Badan +/- 30-31 Kg Harga Rp 2.300.000,-
Kambing Gibas  Berat Badan +/- 32-33 Kg Harga Rp 2.300.000,-
Kambing Gibas  Berat Badan +/- 34-35 Kg Harga Rp 2.600.000,-
Kambing Gibas  Berat Badan +/- 36-37 Kg Harga Rp 2.600.000,-
Kambing Gibas  Berat Badan +/- 38 Kg Harga Rp 2.800.000,-

(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Harga kambing qurban dan sapi qurban tersebut dapat anda dapatkan melalui penawaran Paket Qurban 2020 Aqiqah Berkah. Berikut Paket Qurban 2020 yang telah kami sediakan :

  1. Paket Qurban Peduli Syar’i
    Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan dari kota tangerang dan sekitarnya.
  2. Paket Qurban Mandiri Syar’i
    Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban.
    Adapun area atau tempat untuk pendistribusian daging (Paket Qurban Peduli Syar’i) dan pengantaran hewan qurban (Paket Qurban Mandiri Syar’i) yang dapat kami sediakan meliputi kabupaten dan kota :
    (a) Jombang
    (b) Mojokerto
    (c) Nganjuk
    (d) Kediri
    (e) Tulungagung
    (f) Ngawi
    (g) Magetan
    (h) Ponorogo
    (i) Madiun

Nilai tambah hewan qurban Aqiqah Berkah
– Syarat hewan qurban sesuai syar’i
– Umur hewan telah mencukupi (Nishab)
– Dipelihara secara baik dan tidak ber-aib
– Ternak berasal dari daerah bebas penyakit menular
– Ternak berasal dari penampungan yang jelas
– Ternak mendapatkan perlakuan yang layak

Nah itulah yang dapat kami sampaikan mengenai harga kambing kurban bandung. Jika anda membutuhkan kambing aqiqah atau kurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :
TELPON/SMS : 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Kambing Qurban Ciledug

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

Kambing Qurban Ciledug

Hai para sahabat Aqiqah Berkah, sebelum menginjak ke kambing qurban ciledug, simak dahulu ulasan berikut ini….

KURBAN KOLEKTIF DALAM PERSPEKTIF HADITS

Ibadah kurban yang biasa dilakukan umat Islam sebagai ritual tahunan sepintas tidak ada yang perlu dipermasalahkan namun, ibadah ini secara umum didominasi oleh orang yang mampu saja, bagaimana dengan orang yang tidak mampu tapi punya keinginan untuk berkurban. Tulisan ini memuat hadits yang melandasi pelaksanaan ibadah kurban secara kolektif bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan finansial untuk mengurangi keraguan dalam melakukan ritual ini sebagai sarana memperkuat kadar spiritual mereka.

Nilai Spiritual Kurban

Kata kurban berasal dari bahasa Arab qurbān diambil dari kata qaruba yaqrubu, qurbān wa qurbānan, artinya mendekati atau menghampiri. Adapun menurut istilah, kurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya. Dalam bahasa Arab, hewan kurban disebut juga dengan istilah udhhiyyah atau adhhiyyah, dengan bentuk jamaknya adhahi. Kata ini diambil dari kata dhuha, yaitu waktu matahari mulai tegak yang disyariatkan untuk melakukan penyembelihan kurban.

Menurut Ahmad Sarwat, ada tiga ciri dari pengertian kurban:

  1. Hewan kurban hanya disembelih dengan tujuan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt, sedangkan hewan lain boleh jadi disembelih hanya sekedar untuk bisa dimakan dagingnya saja, atau bagian yang sekiranya bermanfaat untuk diambil.
  2. Hewan kurban hanya disembelih di hari nahr yaitu hari penyembelihan sebagai ritual peribadatan. Dan yang dimaksud dengan hari nahr adalah 4 hari berturut-turut, yaitu tanggal 10 bulan Dzulhijjah, setelah shalat „Idul Adha, serta hari tasyrik sesudahnya, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzhulhijjah. Sedangkan hewan lain boleh disembelih kapan saja, tanpa terikat waktu.
  3. Hewan kurban hanya disembelih selama syarat dan ketentuannya terpenuhi. Sebaliknya, bila syarat dan ketentuan itu tidak terpenuhi, maka menjadi sembelihan biasa.

Sejarah pelaksanaan kurban oleh manusia setua peradaban manusia itu sendiri, karena ritual kurban sudah dilakukan pada masa Nabi Adam As yaitu kurban yang dilakukan oleh kedua putranya, Qabil dan Habil. Namun para ulama telah sepakat bahwa syariat kurban dalam Islam dimulai sejak peristiwa Nabi Ibrahim AS mengurbankan putranya Ismail demi melaksanakan perintah Allah Swt yang pada akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba sebagai simbol bahwa Allah memuliakan manusia dan membunuh sifat-sifat kebinatangannya.

Dalam pandangan Husein Muhammad sebagaimana dikutip Didin Nurul Rosidin dalam bukunya Kurban dan Permasalahannya disebutkan bahwa “Ritual-ritual keagamaan Islam (termasuk kurban) selalu mempunyai dua dimensi, yaitu dimensi keyakinan atau keimanan kepada Allah Swt dan dimensi sosial kemasyarakatan”.

Tujuan utama berkurban sama seperti ibadah-ibadah yang lain yaitu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt, sedangkan untuk mewujudkan nilai ketakwaan tersebut tidak hanya berhenti pada aspek ketaatan dalam menjalankan ibadah semata, tetapi juga mewujudkan nilai-nilai tersebut untuk membangun kehidupan dalam manyarakat.

Kurban memiliki nilai yang sangat kuat dalam membangun aspek sosial, yaitu menumbuhkan kebersamaan dalam merasakan kegembiraan bersama orang-orang miskin yang jarang mereka dapatkan dan sebagai media pendekatan seorang hamba kepada Allah Swt. Kurban memiliki keutamaan-keutamaan, hal ini disinyalir dalam hadits yang diriwayatkan oleh Iman al-Tirmidzi dari Aisyah Ra, bahwa Nabi Saw bersabda:
Artinya: “Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari Raya Kurban, lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak di hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) kurban itu”.

Oleh karena itu, kurban memiliki nilai yang sangat khusus di sisi Allah Swt dan dijadikan penolong kelak di hari kiamat bagi orang-orang yang berkurban dengan ikhlas, bukan karena apa dan bukan karena siapa.

Telaah tentang Kurban Kolektif

Pemahaman penulis tentang penyembelihan hewan kurban selama ini hanya berkisar pada asumsi umum yang terjadi di masyarakat yaitu satu kambing hanya bisa diniatkan untuk satu orang, sapi dan unta bisa diniatkan untuk tujuh orang. Namun kondisi seperti ini hanya membatasi pada orang-orang yang mampu saja untuk berkurban, lalu bagaimana dengan orang yang tidak mampu? Apakah masih mempunyai kesempatan untuk beribadah kurban yang sesuai dengan batas kemampuannya atau hanya sebagai objek dari penyaluran kurban? Alangkah lebih bijaknya kalau kita menyimak ulang dan mengkaji lebih dalam lagi tentang asumsi ketetapan kurban yang dipahami selama ini berdasar dalil-dalil naqli dan pandangan ulama berikut:

a. Hadits Kurban Kolektif
Artinya: “Menurut riwayatnya dari hadits Aisyah r.a, bahwa beliau pernah menyuruh dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka di bawakanlah hewan itu kepada beliau. Beliau bersabda kepada Aisyah, “wahai Aisyah, ambilkan pisau”, kemudian bersabda lagi, “asahlah dengan batu”, Aisyah melaksanakannya. Setelah itu beliau mengambil pisau dan kambing itu dibaringkannya, lalu menyembelihnya seraya berdo’a, “Dengan nama Allah, Ya Allah terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarga dan umatnya”, kemudian beliau berkurban dengannya”.

Artinya: “Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu’anhu , ia berkata: Aku ikut bersama Rasulullah pada hari ‘Idul Adha di Mushalla (lapangan tempat shalat). Setelah selesai khutbah, Rasulullah Saw turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanya seekor kambing kibasy, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata,”Dengan menyebut nama Allah, Allahu akbar, ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban. (HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan Imam Ahmad)

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah dan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw apabila hendak menyembelih kurban, Beliau membeli dua ekor kambing kibasy yang besar dan gemuk, bertanduk, berwarna putih. Beliau menyembelih seekor untuk umatnya yang bertauhid dan membenarkan risalah, kemudian menyembelih seekor lagi untuk diri Beliau dan untuk keluarga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR. Ibnu Majah)

Artinya: “Seorang laki-laki menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, mereka makan daging kurban tersebut dan memberikannya kepada orang lain. Hal itu tetap berlangsung hingga manusia berbangga-bangga, maka jadilah kurban itu seperti sekarang yang engkau saksikan (hanya untuk berbangga-bangga). Abu Isa berkata: Hadits ini derajatnya hasan shahih, dan Umarah bin Abdullah adalah orang Madinah, Malik bin Anas termasuk orang-orang yang telah meriwayatkan darinya. Hadits ini menjadi pedoman amal menurut sebagian ulama’, dan inilah pendapat Ahmad & Ishaq. Keduanya berdalil dengan hadits Nabi, bahwa beliau pernah berkurban dengan seekor kambing, lalu beliau bersabda:
Ini untuk orang-orang yang belum berkurban dari umatku. Sebagian ulama’ berpendapat, seekor kambing tak cukup kecuali untuk satu orang. Dan ini adalah pendapat Abdullah Ibnul Mubarak dan selainnya dari kalangan para ulama ” . (HR. Tirmidzi No.1425).

b. Pendapat Ulama tentang Kurban Kolektif
Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata dalam kitab Zadul Ma’ad:
“Di antara petunjuk beliau Saw, yaitu seekor kambing cukup untuk seseorang beserta keluarganya, meskipun keluarganya itu banyak. Sebagaimana yang dikatakan oleh Atha’ bin Yasar: Aku bertanya kepada Abu Ayyub al-Anshari: “Bagaimanakah penyembelihan kurban pada zaman Rasulullah Saw?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya dahulu seorang lelaki menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan untuk keluarganya, mereka memakannya dan memberi makan orang lain.” (al-Tirmidzi berkata,”Hadits ini hasan shahih).

Lebih lanjut Imam al-Tirmidzi menjelaskan di dalam kitab Jami’ nya dalam bab: (Seekor kambing cukup untuk kurban satu keluarga):
Artinya: “Inilah yang diamalkan oleh sebagian Ahli Ilmu dan merupakan pendapat Ahmad dan Ishaq. Mereka berdua berdalil dengan hadits Nabi Saw, bahwa beliau menyembelih kurban seekor kambing kibasy dan berkata: “Ini adalah kurban dari siapa saja yang belum berkurban dari kalangan umatku.”Sebagian Ahli Ilmu berpendapat, seekor kambing hanya mencukupi sebagai kurban untuk seorang saja. Ini adalah pendapat Abdullah bin Al Mubarak dan para ahli ilmu lainnya”.

Lebih jelas lagi, Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam kitab al-Mughni mengatakan: “Seorang lelaki boleh menyembelih seekor kambing atau sapi atau unta untuk keluarganya. Hal ini ditegaskan oleh Imam Ahmad. Dan ini juga pendapat Malik, al-Laits, al-Auza’i dan Ishaq. Dan hal ini telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah. Shalih bin Ahmad berkata: “Aku bertanya kepada ayahku:
“Bolehkah menyembelih seekor kambing untuk keluarga?” Beliau menjawab: “Boleh, tidak mengapa!”

Imam Bukhari juga telah menyebutkan sebuah riwayat yang mendukung pendapat ini dari Abdullah bin Hisyam, bahwa ia dibawa oleh ibunya, Zainab binti Humaid kepada Rasulullah Saw. Ibunya berkata: “Wahai, Rasulullah, bai‟at lah dia.” Nabi berkata: Ia masih kecil. “Rasulullah Saw mengusap kepalanya dan berdo‟a untuknya. Dan Beliau menyembelih seekor kambing untuk seluruh keluarga beliau.”

Imam Malik berkata di dalam kitab al-Muwaththa’:
Artinya: “Penjelasan yang paling baik yang aku dengar tentang kurban unta, sapi dan kambing, yaitu seorang lelaki boleh menyembelih seekor unta, sapi atau kambing untuk dirinya dan untuk keluarganya.

Dialah pemiliknya, dan ia sembelih untuk keluarganya juga. Dia sertakan mereka bersamanya pada kurban tersebut”.

Al-Syaukani berkata dalam kitab Nailul Authar, al-Sailul Jarrar dan al-Dharari al-Mudhiyyah: “Pendapat yang benar adalah seekor kambing dapat dijadikan kurban untuk satu keluarga. Meskipun jumlah mereka seratus orang atau lebih sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Sunnah Nabi Saw.”

Seperti itu pula yang dijelaskan oleh al-Shan’ani dalam kitab Subulus Salam. Beliau mengatakan: “Sabda Nabi dan keluarga Muhammad dalam lafazh lain dari Muhammad dan keluarga Muhammad, menunjukkan bahwa dibolehkan penyembelihan kurban dari seorang kepala keluarga untuk keluarganya dan menyertakan mereka dalam pahalanya”.

Dari hadits di atas maka cukup bagi kita untuk mengambil kesimpulan bahwa hadits tentang kebolehan menyembelih seekor kambing dengan niat lebih dari satu orang diriwayatkan oleh hampir semua ahli hadits. Dan beberapa pendapat para ulama di atas mengindikasikan bahwa kurban yang dilakukan secara bersama-sama boleh dan sah menurut syari‟at Islam. Maka dari itu kita tidak perlu khawatir untuk mulai membiasakan diri berpartisipasi dalam berkurban sejauh kemampuan yang kita miliki. Tentu bila kita mampu berkurban secara perorangan, maka itu baik untuk kita lakukan. Sama baiknya bila kita baru bisa menyumbang sebagian dari harga seekor kambing itu. Sebaliknya, kurban kolektif bisa jadi buruk bila dilakukan oleh orang yang bisa berkurban seekor penuh.

Dengan dalil-dalil di atas kita ingin bersama-sama mengajak masyarakat untuk melakukan kurban sebatas kemampuan yang kita miliki. Saya kira Tuhan tidak akan pernah kebingungan untuk “membagi” pahala kurban itu di antara kita.

Nah itulah sedikit wawasan yang dapat kami sampaikan.

Tujuan Aqiqah Berkah yaitu membuat semua orang bisa berkurban menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Di Aqiqah Berkah harga jual kambing murah di bandingkan dengan jasa layananqurban lainnya dan terjangkau untuk seluruh umat.

Keunggulan layanan qurban online ini sebagai berikut:

  1. Kambing berkualitas tinggi dan telah memenuhi syarat untuk qurban
  2. Kambing disembelih oleh ahlinya sesuai syariat Islam (wajib dan sunnah) jika memilih qurban online.
  3. Kambing dapat dilihat dan dipilih langsung di kandang
  4. Kami melayani Qurban untuk daerah Sekarisidenan Kediri
  5. GRATIS ongkos kirim untuk Nganjuk, madiun, kediri dan sekitarnya
  6. Kambing sehat, baik/sesuai syariah
  7. Pembayaran setelah barang sampai / transfer.
  8. Siap menyalurkan kepada yang berhak: pondok pesantren, panti asuhan dan fakir miskin.

Nah itulah sedikit yang dapat kami jelaskan mengenai Aqiqah Berkah. Kebutuhan daging kambing di indonesia per tahunnya terus bertambah. Dan harga-harga kambing pun sangat bervariasi. Berikut ini harga-harga kambing 2020 :

  1. Harga Kambing Gibas
    Kambing gibas juga sering disebut juga kambing gimbal. Secara umum, kambing gibas memiliki bulu berwarna putih. Adapun harga dari kambing gibas ini mulai berkisar dari harga Rp.1.900.000,- hingga Rp.2.800.000,- di tahun 2020 ini. Adapun harga kambing gibas memiliki harga yang terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan jenis kambing lainnya.
  2. Harga Kambing Kacang (Jawa)
    Kambing jawa juga sering disebut pula kambing kacang. Harga dari jenis kambing ini sangat bervariasi hal ini didasarkan pada jenis umur, kondisi fisik, kesehatan dan jenis kelamin. Adapun harga dari kambing kacang atau kambing jawa ini mulai berkisar dari harga Rp.1.900.000,- hingga Rp.2.800.000,- di tahun 2020 ini.
  3. Harga Kambing Etawa
    Kambing etawa juga sering disebut pula Jamnapari. Kambing etawa berasal dari India. Kambing ini merupakan jenis kambing yang memiliki 2 fungsi yaitu kambing pedaging dan kambing penghasil susu. Adapun harga dari kambing etawa ini mulai berkisar dari harga Rp.1.700.000,- hingga Rp.5.000.000,- di tahun 2020 ini.
  4. Harga Kambing Peranakan Etawa (PE)
    Jenis kambing peranakan etawa merupakan hasil persilangan antara kambing jawa (lokal) dengan kambing etawa. Adapun untuk harga kambing jenis PE ini mulai berkisar dari harga Rp.1.000.000,- hingga Rp.3.200.000,- di tahun 2020 ini.

Itulah tadi informasi mengenai harga kambing terbaru yang bisa kami sampaikan, daftar di atas kami ambil dari beberapa lapak kambing dan tentunya setiap daerah memiliki harga yang berbeda-beda, namun daftar harga di atas bisa dijadikan patokan dasar untuk anda dalam membeli atau menjual kambing.

Untuk Informasi Lebih lanjut Hubungi Kami :

TELPON/SMS : 085853444472

Hewan atau Kambing bisa dipilih di kandang kami dan Gratis titip hewan qurban sebelum di anatar.

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-