doa qurban

Qurban Dan Aqiqah

By | Artikel, Tentang Aqiqah, Tentang Qurban | No Comments

QURBAN DAN AQIQAH

Qurban dan aqiqah merupakan ibadah yang dihukumi sunnah muakadah. Qurban dan Aqiqah berbeda waktu dalam pelaksanaannya, namun kedua ibadah ini sama-sama dilakukan dengan penyembelihan hewan ternak yang ditujukan kepada Allah SWT.

Hukum Qurban

Pengertian qurban dalam istilah bahasa arab adalah dekat. Sedangkan pengertian qurban menurut istilah adalah pemotongan atau penyembelihan hewan ternak pada hari Idul Adha dan hari tasyrik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Perintah qurban disampaikan Allah melalui firman dalam Al-Quran surat Al Kautsar yang artinya sebagai berikut ini :

“Sesungguhnya kami telah memberikan kamu kebijakan yang banyak, maka kerjakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah qurban.” (QS. Al-Kautsar : 1-2)

Hukum ibadah qurban adalah sunnah muakadah atau sunnah yang penting dilaksanakan. Waktu pelaksanaan qurban adalah di tanggal 10 Dzulhijjah, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah atau disebut dengan hari tasyrik dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT. Dilaksanakan mulai dari matahari sejarak tombak setelah idul adha tanggal 10 Dzulhijjah sampai dengan matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Hukum Aqiqah

Ibadah aqiqah adalah sembelihan hewan ternak untuk anak yang baru lahir dan dilakukan pada hari ketujuh kelahirannya. Hukum pelaksanaan aqiqah ini adalah sunnah muakkadah, sebagaimana diriwayatkan dari Samurah bahwa Nabi saw bersabda,”Setiap anak yang dilahirkan itu terpelihara dengan aqiqahnya dan disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberikan nama untuknya.” (HR. Imam yang lima, Ahmad dan Ashabush Sunan dan dishohihkan oleh Tirmidzi)

Waktu yang afdhal dalam pelaksanaan aqiqah ini adalah pada hari ketujuh dari hari kelahiran anak namun jika ia tidak memiliki kesanggupan untuk menagqiqahkannya pada hari itu maka ia diperbolehkan mengaqiqahkannya pada hari keempat belas, ke dua puluh satu atau pada saat kapan pun ia memiliki kelapangan rezeki untuk itu. Sebagaimana makna dari pendapat para ulama madzhab Syafi’i dan Hambali bahwa sembelihan untuk aqiqah bisa dilakukan sebelum atau setelah hari ketujuh.

Adapun yang bertanggung jawab untuk melakukan aqiqah ini adalah ayah dari bayi yang terlahir. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat apabila yang melakukan aqiqah adalah selain ayahnya :

  1. Para ulama Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa sunnah ini dibebankan kepada orang yang menanggung nafkahnya.
  2. Para ulama Madzhab Hambali dan Maliki berpendapat bahwa tidak diperkenankan seseorang mengaqiqahkan kecuali ayahnya dan tidak dieperbolehkan seorang yang dilahirkan mengaqiqahkan dirinya sendiri walaupun dia sudah besar dikarenakan menurut syariat bahwa aqiqah ini adalah kewajiban ayah dan tidak bisa dilakukan oleh selainnya.
  3. Sekelompok ulama Madzhab Hambali berpendapat bahwa seseorang diperbolehkan mengaqiqahkan dirinya sendiri sebagai suatu yang disunnahkan. Aqiqah tidak mesti dilakukan saat masih kecil dan seorang ayah boleh mengaqiqahkan anak yang terlahir walaupun anak itu sudah baligh karena tidak ada batas waktu maksimalnya. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz IV hal 2748)

Qurban & Aqiqah

Berdasarkan penjelasan singkat qurban dan aqiqah diatas dapat diambil beberapa kesimpulan. Aqiqah tidak harus dilaksanakan di hari ketujuh kelahiran anak, semua dapat diserahkan kepada kemampuan atau kelapangan rizki orangtua yang mengaqiqahi anak bahkan dapat dilakukan sendiri ketika besar atau baligh.

Orang yang paling bertanggung jawab untuk melaksanakan aqiqah adalah ayah sebagai sang penanggung nafkah anak. Dapat dilakukan kapanpun ketika memiliki kesanggupan untuk melaksanakannya. Namun bila sang ayah memiliki halangan untuk melaksanakan aqiqah hingga anak mampu melaksanakannya sendiri, maka anak dapat menggantikan posisinya yakni aqiqah untuk diri sendiri meskipun perkara ini belum menjadi kesepakatan dari para ulama.

Apabila ada pertanyaan, lebih baik melaksanakan aqiqah terlebih dahulu atau qurban ? Maka qurban lebih diutamakan untuk dilaksanakan apabila mendekati Hari Raya Idul Adha. Berikut beberapa alasan mengapa lebih diutamakan melaksanakan qurban dari pada aqiqah :

  1. Perintah berqurban ini ditujukan kepada setiap orang yang mukallaf dan memiliki kesanggupan berbeda dengan perintah aqiqah yang pada asalnya ia ditujukan kepada ayah dari bayi yang terlahir.
  2. Meskipun ada pendapat yang memperbolehkan seseorang mengaqiqahkan dirinya sendiri namun perkara ini bukanlah yang disepakati oleh para ulama.
  3. Apabila mendekati hari raya Idul Adha seperti sekarang ini, maka mendahulukan qurban adalah lebih baik dari pada malaksanakan aqiqah. Ada baiknya pula- apabila saudara menginginkan kedua-keduanya (qurban&aqiqah)- saudara mengikuti pendapat imam Ramli yang membolehkan dua niat dalam menyembelih seekor hewan, yakni niat qurban dan aqiqah sekaligus.

Adapun referensi yang digunakan mengacu pada kitab Tausyikh karya Syekh Nawawi al-Bantani:

قال ابن حجر لو أراد بالشاة الواحدة الأضحية والعقيقة لم يكف خلافا للعلامة الرملى حيث قال ولو نوى بالشاة المذبوحة الأضحية والعقيقة حصلا

Artinya; Ibnu Hajar berkata: “Seandainya ada seseorang meginginkan dengan satu kambing untuk kurban dan aqiqah, maka hal ini tidak cukup”. Berbeda dengan al-‘allamah Ar-Ramli yang mengatakan bahwa apabila seseorang berniat dengan satu kambing yang disembelih untuk qurban dan aqiqah, maka kedua-duanya dapat terealisasi.

Doa Qurban

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

DO’A QURBAN

Setiap muslim yang berqurban, sudah pasti berharap ibadah qurbannya diterima oleh Allah SWT. Tidak sedikit yang berqurban dengan seekor kambing untuk seseorang dan seekor sapi untuk keluarganya.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah sang pencipta dan penguasa alam semesta. Semoga kita termasuk hamba yang bertaqwa. Aamiin Ya Robbal’alamin. Shalawat salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Rasul Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya serta umat yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

Setiap muslim yang berqurban, sudah pasti berharap ibadah qurbannya diterima oleh Allah SWT. Tidak sedikit yang berqurban dengan seekor kambing untuk seseorang dan seekor sapi untuk keluarganya. Disamping memperhatikan jenis hewan qurban, usia hewan qurban dan kondisi hewan qurban yang tidak cacat atau selamat dari cacat, perlu diperhatikan juga mengenai tatacara penyembelihannya.

Beberapa diantaranya yang perlu diperhatikan saat qurban adalah ketika menyembelih hewan qurban. Ada beberapa dzikir dan doa yang diajarkan oleh syariat ajaran Islam saat menyembelih hewan qurban. Ringkasnya, orang yang ingin menyembelih hewan qurban disunnahkan untuk membaca doa qurban berikut ini :

بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنِّي

(Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku).

Jika ia menyembelihkan hewan qurban milik orang lain, ia membaca:

بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنْ فُلَانٍ

“Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku.”

Di tambah:

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ

“Ya Allah, terimalah kurban dari fulan dan keluarga fulan,” (dengan menyebut namanya).

Namun, yang diwajibkan dari bacaan ini adalah membaca Basmalah (Bismillah). Bila sudah membaca basmalah, maka hewan qurban sah untuk disembelih meskipun tidak menambahkan bacaan lainnya. Kalimat lainnya berupa annjuran yang diucapkan sesudahnya. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-An’am ayat 118 :

فَكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ

“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 118)

وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al-An’am: 121)

Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Nabi Muhammad SAW berkurban dengan ekor domba jantan yang dominasi warna putih dan bertanduk. Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kakinya di atas samping lehernya.”

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah RA, Rasulullah SAW memerintahkan untuk membawakan satu ekor kibas bertanduk yang hitam kakinya, hitam bagian perutnya, dan hitam di sekitar kedua matanya. Lalu dibawakan kepada beliau untuk beliau sembelih sendiri. Beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, ambilkan sebilah pisau.” Kemudian beliau bersabda, “Asahlah pisau itu dengan batu.” ‘Aisyah pun mengerjakan. Kemudian beliau mengambil pisau dan mengambil kibas tersebut, lalu beliau membaringkannya dan menyembelihnya. Kemudian beliau berucap:

بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّد وَآل مُحَمَّد وَمِنْ أُمَّة مُحَمَّد

“Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad.” Kemudian beliau menyembelihnya.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang maksudnya, yaitu beliau membaringkannya dan menyembelihnya sambil membaca kalimat di atas. Di antara macam bacaan tambahan sesudah Basmalah saat menyembelihkan hewan kurban orang lain :

بِسْمِ اللَّه وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنْ فُلَانٍ

“Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dari si fulan (disebutkan namanya).”

Atau dengan tambahan:

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ

“Ya Allah, terimalah kurban dari fulan dan keluarga fulan (dengan menyebut namanya).”

Barangkali masih ada yang mempertanyakan, doa-doa qurban agar diterima qurban tersebut apa tidak termasuk mengada-ngada (bid’ah)? Syaikh Ibnu Jibrin menjelaskan, tambahan doa di atas atau dengan kalimat doa lainnya dibolehkan, karena hal itu termasuk doa. Sedangkan doa (permintaan) bab (kalimat)-nya luas.