hakikat kurban

Barang Siapa menjual Kulit Kurban, Tidak Ada Pahala Kurban Baginya

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

BARANG SIAPA MENJUAL KULIT KURBAN, TIDAK ADA PAHALA KURBAN BAGINYA

Tidak boleh hukumnya menjual kulit hewan kurban. Demikianlah pendapat jumhur ulama tiga mazhab (Imam Maliki, Syafi’i, dan Ahmad) (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, I/352; Qadhi Shafad, Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al-A’immah, hal. 85).

Hukum ini berlaku bagi pekurban (al-mudhahhi/shahibul kurban) dan juga berlaku bagi siapa saja yang mewakili pekurban, misalnya takmir masjid atau panitia kurban pada suatu instansi.

Dalil haramnya menjual kulit kurban ada dua, yaitu hadis-hadis Nabi SAW yang melarang menjual kulit kurban, dan hukum syar’i bahwa status kepemilikan kambing kurban telah lenyap dari pekurban pada saat kurban disembelih.

Hadits-hadits Nabi SAW itu di antaranya :

  1. Dari Ali bin Abi Thalib RA, dia berkata,”Rasulullah SAW telah memerintahkan aku mengurusi unta-unta beliau (hadyu) dan membagikan daging-dagingnya, kulit-kulitnya…untuk kaum miskin. Nabi memerintahkanku pula untuk tidak memberikan sesuatu pun darinya bagi penyembelihnya (jagal) [sebagai upah].” (Muttafaq ‘alaihi) (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, IV/95)
    Dari hadits di atas, Imam Asy-Syirazi mengatakan,”Tidak boleh menjual sesuatu dari hadyu dan kurban, baik kurban yang wajib (nadzar) atau kurban yang sunnah.” (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, I/240)
  2. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Barangsiapa menjual kulit kurbannya, maka tidak ada [pahala] kurban baginya.” (Man baa’a jilda udhiyyatihu fa-laa udh-hiyyata lahu) (HR. Al-Hakim & Al-Baihaqi) (Hadis ini sahih menurut Imam Suyuthi. Lihat Imam Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir, II/167)
    Dari hadits ini para ulama menyimpulkan haramnya pekurban untuk menjual kulit kurbannya (Syaikh Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahhab, II/179, Syaikh Asy-Syarbaini Al-Khathib, Al-Iqna’, II/281).

Adapun dalil kedua, berupa hukum syara’ tentang status kepemilikan kambing kurban. Pada saat disembelih, hilanglah kepemilikan kurban dari pekurban. Maka dari itu, jika pekurban atau wakilnya menjual kulit kurban, sama saja dia menjual sesuatu yang bukan miliknya lagi. Ini jelas tidak boleh.

Dalam masalah ini Imam Asy-Syirazi berkata,”Ketidakbolehan menjual kulit kurban juga dikarenakan hadyu atau kurban itu telah keluar dari kepemilikan pekurban sebagai taqarrub kepada Allah, maka tidak boleh ada yang kembali kepadanya kecuali apa yang dibolehkan sebagai rukhsah yaitu dimakan (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, I/240; As-Sayyid Al-Bakri, I’anah Ath-Thalibin, II/333).

Jadi, jelaslah bahwa menjual kulit kurban itu haram hukumnya. Haram pula menjadikan kulit kurban sebagai upah kepada jagal (penyembelih) kurban.

Lalu kulit kurban itu akan diapakan? Kulit kurban itu dapat disedekahkan oleh al-mudhahhi (shahibul kurban) kepada fakir dan miskin (Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, II/242). Inilah yang afdhol (utama). Jadi perlakuan pada kulit kurban sama dengan bagian-bagian hewan kurban lainnya (yang berupa daging), yakni disedekahkan kepada fakir dan miskin. Dalilnya adalah hadis sahih dari Ali bin Abi Thalib RA di atas.

Boleh pula kulit kurban itu dimanfaatkan oleh pekurban, misalnya dibuat sandal, khuf (semacam sepatu), atau timba.

Dalilnya adalah hadits Aisyah RA. Aisyah RA meriwayatkan bahwa orang-orang Arab Badui pernah datang berombongan minta daging kurban pada saat Idul Adha. Rasulullah SAW lalu bersabda,”Simpanlah sepertiga dan sedekahkanlah sisanya.” Setelah itu ada yang berkata kepada Rasulullah SAW,”Wahai Rasululah sesungguhnya orang-orang biasa memanfaatkan kurban-kurban mereka, mereka membuat lemak darinya, dan membuat wadah-wadah penampung air darinya.” Rasulullah menjawab,”Apa masalahnya?” Mereka menjawab,”Wahai Rasulullah, Anda telah melarang menyimpan daging-daging kurban lebih dari tiga hari.” Rasulullah SAW menjawab,”Sesungguhnya aku melarang hal itu karena adanya orang Baduwi yang datang berombongan minta daging kurban (min ajli ad-daafah). [Sekarang] makanlah, sedekahkanlah, dan simpanlah.” (HR. Tirmidzi, Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, IV/97; Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, I/240). Hadits ini menunjukkan bolehnya memanfaatkan kulit kurban misalnya untuk dijadikan wadah-wadah penampung air dan sebagainya (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, I/240)

Memang ada sebagian ulama yang membolehkan menjual kulit kurban. Menurut Imam Abu Hanifah, boleh menjual kulit kurban tapi bukan dengan dinar dan dirham (uang). Maksudnya, boleh menjual kulit kurban dengan menukarkan kulit itu dengan suatu barang dagangan (al-‘uruudh) (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, IV/97,Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, II/242). Menurut Imam An-Nakha’i dan Imam Al-Auza’i, boleh menjual kulit kurban dengan peralatan rumah tangga yang bisa dipinjamkan, misalnya kapak, timbangan, dan bejana. Menurut Imam ‘Atha` (tabi’in), tidak apa-apa menjual kulit kurban baik dengan dirham (uang) maupun dengan selain dirham. (Qadhi Shafad, Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al-A’immah, hal. 85).

Dalil ulama yang membolehkan menjual kulit kurban, adalah hadits yang membolehkan memanfaatkan (intifa’) kurban, yaitu hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Aisyah RA di atas. Dalam pandangan Imam Abu Hanifah, atas dasar hadits itu, boleh melakukan pertukaran (mu’awadhah) kulit kurban asalkan ditukar dengan barang dagangan (al-‘uruudh), bukan dengan uang (dinar dan dirham). Sebab pertukaran kulit kurban dengan barang dagangan termasuk dalam pemanfaatan kurban (intifa’) yang dibolehkan hadits menurut semua ulama secara ijma’ (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, I/352, Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, IV/95).

Pendapat ulama yang membolehkan menjual kulit kurban itu adalah pendapat yang lemah, berdasarkan dua hujjah berikut :

Pertama, telah terdapat nash hadis sahih yang mengharamkan menjual belikan kulit kurban. Nabi SAW bersabda,“Barangsiapa menjual kulit kurbannya, maka tidak ada [pahala] kurban baginya.” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Haramnya menjual kulit kurban dalam hadis di atas bersifat umum, artinya mencakup segala bentuk jual beli kulit kurban. Baik menukar kulit dengan uang, maupun menukar kulit dengan selain uang (misalnya dengan daging). Semuanya termasuk jual beli, sebab jual beli adalah menukarkan harta dengan harta (mubadalatu maalin bi maalin). Maka penukaran kulit kurban dengan selain dinar dan dirham (uang), misalnya kulit kurban ditukar dengan daging, tetap termasuk jual beli juga.

Perlu diketahui, bahwa ditinjau dari objek dagangan (apa yang diperdagangkan), jual beli ada tiga macam :

  1. jual beli umum, yaitu menukar uang dengan barang,
  2. jual beli ash-sharf (money changing), yaitu menukar uang dengan uang,
  3. jual beli al-muqayadhah (barter), yaitu menukar barang dengan barang. (Lihat Abdullah al-Mushlih dan Shalah Ash-Shawi, Fikih Ekonomi Keuangan Islam [Maa Laa Yasa’u At-Taajir Jahluhu], Penerjemah Abu Umar Basyir, Jakarta : Darul Haq, 2004, hal. 90)

Atas dasar itu, keharaman menjual kulit ini mencakup segala bentuk tukar menukar kulit, termasuk menukar kulit dengan barang dagangan. Sebab hal ini tergolong jual beli juga, yakni apa yang dalam istilah fiqih disebut al-muqayadhah (barter).

Kedua, tidak dapat diterima membolehkan jual beli kulit dengan hujjah hadits Aisyah tentang bolehnya memanfaatkan (intifa’) kurban.

Sebab kendatipun hadits Aisyah itu bermakna umum, yaitu membolehkan pemanfaatan kurban dalam segala bentuknya secara umum, tapi keumumannya telah dikhususkan (ditakhsis) dengan hadits yang mengharamkan pemanfaatan dalam bentuk jual beli (hadits Abu Hurairah). Kaidah ushul fiqih menyatakan :

Al-‘aam yabqaa ‘alaa ‘umuumihi maa lam yarid dalil al-takhsis

“Dalil umum tetap berlaku umum, selama tidak terdapat dalil yang mengkhusukannya (mengecualikannya).”

Atas dasar itu, menukar kulit dengan barang dagangan tidak termasuk lagi dalam pemanfaatan kulit yang hukumnya boleh, sebab sudah dikecualikan dengan hadits yang mengharamkan jual beli kulit.

Kesimpulannya, menjual kulit kurban hukumnya adalah haram, termasuk menukar kulit dengan daging untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Inilah pendapat yang kami anggap rajih (kuat), sesuai hadis Nabi SAW yang sahih, “Barangsiapa menjual kulit kurbannya, maka tidak ada [pahala] kurban baginya.” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

itulah yang dapat kami sampaikan. semoga bermanfaat….

Informasi dan pemesanan:

085853444472

Hakikat Kurban

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

Hakikat Kurban

Kepada Allah kita sampaikan segenap pernyataan syukur, sebab hanya dengan izin taufiq, hidayah, maghfirah dan inayah-Nya kita bisa melakukan segala sesuatu; terlebih-lebih lagi untuk melaksanakan keta’atan atas apa-apa yang diperintahkan dan meninggalkan segala apa yang dilarang.

Shalawat dan salam patut kita hantarkan sebanyak-banyaknya bagi hamba yang telah dijadikan Allah sebagai rahmat untuk semesta alam ini; Muhammad Rasulullah SAW; lantaran melalui beliaulah kita mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang baik dan yang buruk; Pengetahuan tentang segala sesuatu yang akan menyelamatkan dan membahagiakan kita di dunia dan di akhirat kelak. Mudah-mudahan shalawat dan salam yang senantiasa kita lafazkan tersebut akan menjadi syafaat; menjadi penolong bagi kita untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah; Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin ya rabbal ‘alamiin.

Sebagaimana yang telah kita maklumi bersama, maka dalam beberapa hari mendatang kita akan kembali melaksanakan perintah Allah yang berawal dari perintah-Nya kepada Ibrahim a.s, yakni menyembelih hewan-hewan kurban setelah sebelumnya kita menunaikan sholat idul Adha atau Idul Qurban sebagai penjabaran dari apa yang dititahkan Allah di dalam kitab-Nya; surah Al-Kautsar ayat 1-3:
”Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah orang yang terputus (dari nikmat Allah).”(Q.S.Al Kautsar 1-3)

Dalam kesempatan ini saya ingin mengingatkan kembali, bahwa bagi orang-orang yang memiliki kemampuan materi atau keuangan yang cukup, perintah berkurban tersebut adalah perintah yang wajib ditunaikan setiap tahunnya. Artinya; perintah tersebut tidak hanya diwajibkan sekali di dalam hidup, tetapi wajib setiap tahun bagi siapa saja yang memiliki harta atau materi untuk menyembelih kurban. Sebab ada yang beranggapan, bahwa kewajiban menyembelih hewan kurban itu hanya sekali saja dalam hidupnya, sementara yang lainnya hukumnya adalah sunat.

Syaikh Abdullah Al-Ghazali menjelaskan, bahwa kewajiban melaksanakan kurban setiap tahun itu tersirat dan tersurat dari perbuatan Rasulullah SAW ketika melaksanakan penyembelihan hewan kurban pada saat beliau selesai melaksanakan haji wada’ atau haji perpisahan; Bahwa dalam rangka menyikapi dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah kepada beliau; Setelah selesai melontar jumrah Rasulullah SAW kembali ke kemah beliau di Mina dan langsung menyembelih 63 ekor unta dengan maksud; setiap satu ekor unta adalah untuk satu tahun umur yang beliau jalani. Kemudian berdasarkan keadaan inilah banyak ulama yang menyatakan, bahwa orang yang mampu berkewajiban menyembelih kurban setiap tahunnya. Bahkan jika ia benar-benar berkemampuan, maka patutlah membayar hutangnya kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban sebanyak umur yang telah dilaluinya, dimana pada waktu itu ia belum memiliki kemampuan untuk berkurban; sebagaimana yang telah dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Lepas dari persoalan di atas, maka perintah berkurban yang mengacu pada sejarah Ibrahim a.s tersebut hanyalah merupakan isyarat dari Allah SWT untuk orang-orang yang beriman; Baik yang mampu secara materi maupun bagi yang tidak mampu. Bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah wajib berkurban dan mengorbankan segala sesuatu yang ada pada dirinya dalam rangka mengabdi kepada Allah yang telah menciptakannya. Sebab sebagaimana yang telah kita maklumi, bahwa tujuan utama diciptakannya manusia adalah semata-mata untuk mengabdi kepada Allah. Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi kewajibannya sebagai hamba Allah, maka orang yang beriman harus mampu membuang dan mencampakkan jauh-jauh sifat egoisme atau sifat mementingkan diri sendiri untuk memenuhi hak-hak Allah. Baik yang langsung berhubungan dengan Allah (hamblum-minallah) maupun melalui kepentingan orang lain (hablum-minannaas), yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Dan hal inilah yang sesungguhnya menjadi inti atau hakikat dari pengorbanan yang dilaksanakan oleh keluarga Ibrahim a.s

Dalam waktu yang singkat ini memang tak dapat kita uraikan secara lebih rinci tentang hakikat kurban yang diperintahkan. Akan tetapi barangkali dapat kita renungkan bersama; Bagaimana keikhlasan dan kerelaan Ibrahim mengurbankan putra tersayangnya untuk kepentingan Allah SWT. Lihat pula bagaimana ikhlasnya sang isteri yang bernama Hajar melepaskan putra tersayangnya untuk kepentingan Ibrahim yang diperintahkan Tuhan, sehingga pada saat ia mendapat informasi dari Iblis laknatullah, yang menyamar sebagai seorang laki-laki untuk memberitahukan perbuatan Ibrahim kepada Ismail, Hajar dengan tegas berkarta: “Biarlah ia melakukan itu, jika hal itu memang diperintah oleh Tuhan kepadanya.” Dan simak pula sikap Ismail yang sabar ketika menanggapi permintaan ayahnya, agar dirinya mau disembelih untuk memenuhi perintah Tuhannya Ibrahim. Ismail yang baru berangkat remaja menjawab sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran:
”Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai pada umur sanggup untuk berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim pun berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat di dalam mimpiku, bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk sebagai orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ash-Shaffat: 102)

Menyimak kondisi-kondisi tersebut, maka mari kita bertanya pada diri masing-masing; Sanggupkah kita melakukan hal itu.

Menyimak kondisi dan kepentingan hidup yang kita hadapi dimasa sekarang ini, rasanya tentulah sulit bagi kita untuk berkorban sebagaimana yang dicontohkan Allah melalui keteladanan keluarga Ibrahim. Dalam hal ini jangankan untuk hal-hal yang bersifat hablum-minannaas, bahkan untuk urusan yang langsung berhubungan dengan Allah atau hablum-minallahpun banyak di antara kita yang masih enggan untuk melakukan-nya. Sebab kadang-kadang ketika muazzin sudah mengumandangkan azan, mengundang kita kepada Allah, masih banyak di antara kita yang enggan meninggalkan suatu pekerjaan atau kegiatan dunia yang ketika itu tengh asyik kita hadapi. Padahal apa yang kita lakukan itu tidaklah begitu penting dan masih bisa ditunda untuk menyelesaikannya, sementara sholat di awal waktu apalagi jika berjamaah di masjid atau musholla, tentu sudah kita ketahui keutamaannya.

Keteladanan pengorbanan keluarga Ibrahim hanyalah salah satu dari bagian-bagian pengorbanan yang wajib kita tunaikan dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Kalau kita tidak mampu berkorban dengan hewan kurban pada waktu-waktu yang telah ditetapkan Allah, maka masih banyak cara dan waktu lain yang dapat kita perbuat untuk berkurban kepada Allah. Dan dalam hal inilah Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya:
”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan yang kamu milikilah yang dapat mecapainya…..” (Q.S. Al-Hajj: 37)

Sesungguhnya di sepanjang umur kita lalui, maka kita terus menerus mendapat rahmat dan nikmat Allah. Bahkan yang kita sebut sebagai musibah; penyakit dan lain sebagainya itu adalah juga rahmat dan nikmat yang kita terima dari Allah dari sisi yang lain. Oleh karenanya memang benarlah apa yang dititahkan Allah, tak seorangpun yang mampu menghitung nikmat Allah. Bahkan nabi dan rasul-Nya sekalipun sebagaimana pernyataan Al-Quran surah An-Nahl ayat 18:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Oleh hal yang demikian itulah, lebih-lebih lagi kita memang diciptakan untuk hanya menyembah dan mengabdi kepada Allah, maka perintah fasholli li-lirob-bika wan-har hendaklah diaplikasikan dengan pemahaman sembahlahlah atau mengabdilah kepada Allah serta berkurbanlah untuk-Nya dengan segenap dan sebatas kemampuan yang dimiliki, sebagaimana yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya surah Al-Maa-idah ayat 35 :
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mana saja untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berkurbanlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Inilah beberapa hal yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan yang pendek ini. Mudah-mudahan dapat dipahami dan bersama-sama kita merealisasikannya dalam kehidupan yang kita jalani. Semoga Allah meridhoi setiap langkah dan perbuatan yang kita jalani.

Untuk Pemesanan Qurban dan Aqiqah: 085853444472