hukum aqiqah setelah dewasa

Menyambut Kelahiran Sang Buah Hati

By | Artikel, Paket Aqiqah, Tentang Qurban | No Comments

Menyambut Kehadiran Sang Buah Hati

Di antara keutamaan dan kesempurnaan syariat islam ialah memuat segala sesuatu. Termasuk di antaranya adalah penjelasan hukum berkaitan dengan menanti si buah hati serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Dengan demikian para orang tua dapat melaksanakan kewajiban terhadap buah hatinya secara jelas. Alangkah indahnya masyarakat yang mampu melaksanakan syariat Allah di muka bumi ini dimulai dari keluarganya. Tentu saja untuk merealisasikan hal tersebut kita wajib mengikuti tuntunan yang Allah gariskan melalui Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mensyukuri Nikmat Allah Atas Kehadiran Buah Hati

Kedua orang tua ketika dianugerahi anak oleh Allah, hendaklah bersyukur kepada Allah atas nikmat tak terkira dari-Nya tersebut. Keadaan keluarga yang tidak Allah karuniai dengan anak tentulah akan terasa kurang sempurna dan sepi. Dalam Al-Quran Allah mengisahkan tentang sepasang suami istri yang berdoa kepada Rabbnya tatkala sang istri sedang mengandung.

Allah berfirman:
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu manusia dan menjadikan darinya istrinya, agar dia merasa tentram dengannya. Maka setelah dia mengumpulinya, istrinya mengandung kandungan ringan, terus merasa ringan beberapa waktu. Tatkala dia merasa berat, maka keduanya berdoa kepada Rabbnya, seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur.’ Tatkala Allah memberi anak yang sempurna kepada keduanya, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan kepada keduanya. Maha suci Allah terhadap apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al A’raaf: 189-190)

Ayat tersebut menunjukkan hendaklah orang tua bersyukur kepada Allah sebagaimana keduanya berdoa kepada-Nya tatkala bayi tersebut masih dalam kandungan.

Memberi Nama Yang Baik

Orang tua hendaknya memberi nama yang baik untuk buah hatinya. Rasulullah mengajari nama yang paling disukai oleh Allah. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim, Abu Dawud). Sering kali terjadi kesalahan pada sebagian orang tua, setelah anak diberi nama yang baik malah dipanggil dengan nama panggilan yang jelek. Contohnya Abdullah dipanggil dul, atau orang tua memberi nama yang diharamkan bahkan termasuk kesyirikan kepada Allah seperti Abdul Ka’bah, Abdul Rasul dan sejenisnya. Kebiasaan yang seperti ini harus ditinggalkan karena akan memberikan dampak yang tidak baik bagi orang tua maupun anaknya.

Aqiqah (Menyembelih Kambing)

Termasuk yang disyariatkan oleh Allah ketika menyambut buah hati adalah bersyukur kepada Allah dengan Aqiqah. Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ke tujuh dihitung mulai dari hari kelahiran. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya:
“Bayi laki-laki hendaklah diaqiqahi dua ekor kambing sedangkan bayi perempuan satu ekor kambing.” (Shahih, HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadis lain, Samurah bin Jundub menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh kambing aqiqah disembelih, rambut kepalanya dicukur serta diberi nama.” (Hasan Shahih, HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Mencukur Habis (baca: Menggundul) Rambut Bayi dan Bersedekah

Disyariatkan pula pada hari ke tujuh dilakukan ibadah-ibadah yang lain seperti:

  1. Mencukur habis rambut kepala dengan tidak melakukan qaza, yaitu mencukur sebagian dan membiarkan sebagian yang lain. Ibnu Umar menceritakan bahwa Rasulullah melarang qoza (HR. Bukhari). Perlu ada kehati-hatian saat mencukur rambut, karena kulit kepala bayi masih lunak.
  2. Bersedekah untuk orang miskin dengan senilai perak yang seberat rambut bayi. “Cukurlah rambut kepalanya (Al-Hasan) kemudian bersedekahlah dengan perak untuk orang-orang miskin seberat rambut tadi.” (Hasan, HR. Ahmad).

Perintah untuk mencukur habis rambut bayi ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan. Namun yang dirajihkan Syaikh Al Utsaimin, cukur habis ini hanya berlaku untuk bayi laki-laki (Lihat Syarh Mumti’ 7/540)

Demikian sedikit penjelasan tentang kewajiban orang tua ketika menanti buah hatinya. Pengorban yang diberikan oleh kedua orang berupa rasa syukur dengan aqiqah dan bersedekah dengan senilai perak yang seberat rambut sebenarnya tidak sebanding dengan karunia Allah yang diberikan kepada keduanya. Akan tetapi Allah ingin menguji siapakah yang bersyukur kepada-Nya dan siapakah yang tidak. Wallahu a’lam bishshawab.

Selanjutnya ini akan kami ulas mengenai Harga Kambing Kota Madiun 2020:

  1. Harga Kambing Gibas
    Kambing gibas juga sering disebut juga kambing gimbal. Secara umum, kambing gibas memiliki bulu berwarna putih. Adapun harga dari kambing gibas ini mulai berkisar dari harga Rp.1.900.000,- hingga Rp.2.800.000,- di tahun 2020 ini. Adapun harga kambing gibas memiliki harga yang terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan jenis kambing lainnya.
  2. Harga Kambing Kacang (Jawa)
    Kambing jawa juga sering disebut pula kambing kacang. Harga dari jenis kambing ini sangat bervariasi hal ini didasarkan pada jenis umur, kondisi fisik, kesehatan dan jenis kelamin. Adapun harga dari kambing kacang atau kambing jawa ini mulai berkisar dari harga Rp.1.900.000,- hingga Rp.2.800.000,- di tahun 2020 ini.
  3. Harga Kambing Etawa
    Kambing etawa juga sering disebut pula Jamnapari. Kambing etawa berasal dari India. Kambing ini merupakan jenis kambing yang memiliki 2 fungsi yaitu kambing pedaging dan kambing penghasil susu. Adapun harga dari kambing etawa ini mulai berkisar dari harga Rp.1.700.000,- hingga Rp.5.000.000,- di tahun 2020 ini.
  4. Harga Kambing Peranakan Etawa (PE)
    Jenis kambing peranakan etawa merupakan hasil persilangan antara kambing jawa (lokal) dengan kambing etawa. Adapun untuk harga kambing jenis PE ini mulai berkisar dari harga Rp.1.000.000,- hingga Rp.3.200.000,- di tahun 2020 ini.

Nah mungkin itu yang bisa kami sampaikan. uraian di atas bisa menjadi patokan anda untuk membeli kambing yang berkualitas. Jadi sebelum membeli kita liat dulu kambing yang akan kita beli, sehat ataukah tidak. jika membeli kambing haruslah sangat berhati-hati. Tapi para sahabat tidak perlu kawatir untuk membeli kambing, di Aqiqah Berkah tempatnya kambing yang berkualitas, sehat, tidak cacat dan terbaik. Dan di ambil dari kandang sendiri, hasil peternakan sendiri. Harga kambing akikah di Aqiqah Berkah lebih terjangkau, apabila dibandingakan dengan yang lainnya. Untuk informasi dan pemesanan anda bisa menghubungi nomor di bawah ini.

Informasi dan Pemesanan :

TELPON/SMS/WA: 085853444472

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

By | Artikel, Tentang Aqiqah | No Comments

HUKUM AQIQAH SETELAH DEWASA

Bagaimana hukum aqiqah setelah dewasa atau sudah baligh ? Aqiqah merupakan suatu penebusan anak ketika lahir ke dunia dengan syarat dan ketentuan dalam Islam. Disembelihkan hewan ternak berupa kambing atau domba dan dicukur rambutnya.

Melaksanakan aqiqah hukumnya adalah sunnah muakad menurut pendapat mayoritas ulama. Perintah melaksanakan aqiqah ditujukan kepada orangtua yakni ayah yang menanggung nafkah sang anak. Karena itu, tidak wajib bagi sang ibu untuk mengaqiqahi sang anak.

Apabila ketika sang bayi lahir dan belum ditunaikan aqiqah, sunnah melaksanakan aqiqah belumlah gugur. Meskipun sang anak sudah mencapai usia baligh. Apabila orangtua memiliki kemampuan melaksanakan aqiqah, maka dia dianjurkan untuk memberikan aqiqah bagi sang anak yang belum di aqiqahi tersebut.

Bagaimana bila sang orangtua belum mengaqiqahi anaknya dan sang anak melakukan aqiqah untuk diri sendiri ? Dalam hal ini, ulama berbeda pandangan dan pendapat. Terdapat dua pendapat fuqaha dalam masalah aqiqah setelah dewasa atau telah baligh.

Pertama, pendapat beberapa tabi’in, yaitu ‘Atha`, Al-Hasan Al-Bashri, dan Ibnu Sirin, juga pendapat Imam Syafi’i, Imam Al-Qaffal asy-Syasyi (mazhab Syafi’i), dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Mereka mengatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan (mustahab) mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Dalilnya adalah hadis riwayat Anas RA bahwa Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri setelah nubuwwah (diangkat sebagai nabi). (HR Baihaqi; As-Sunan Al-Kubra, 9/300; Mushannaf Abdur Razaq, no 7960; Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Ausath no 1006; Thahawi dalam Musykil Al-Atsar no 883).

Kedua, pendapat Malikiyah dan riwayat lain dari Imam Ahmad, yang menyatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, tidak mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Alasannya aqiqah itu disyariatkan bagi ayah, bukan bagi anak. Jadi si anak tidak perlu mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Selain itu, hadis Anas RA yang menjelaskan Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri dinilai dhaif sehingga tidak layak menjadi dalil. (Hisamuddin ‘Afanah, Ahkamul Aqiqah, hlm. 59; Al-Mufashshal fi Ahkam al-Aqiqah, hlm.137; Maryam Ibrahim Hindi, Al-’Aqiqah fi Al-Fiqh Al-Islami, hlm. 101; M. Adib Kalkul, Ahkam al-Udhiyyah wa Al-’Aqiqah wa At-Tadzkiyyah, hlm. 44).

Berdasarkan penjelasan diatas, nampak sumber perbedaan pendapat yang utama mengenai hukum aqiqah setelah dewasa adalah perbedaan penilaian terhadap hadis Anas RA. Sebagian ulama melemahkan hadis tersebut, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (Fathul Bari, 12/12), Imam Ibnu Abdil Barr (Al-Istidzkar, 15/376), Imam Dzahabi (Mizan Al-I’tidal, 2/500), Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah (Tuhfatul Wadud, hlm. 88), dan Imam Nawawi (Al-Majmu’, 8/432). Imam Nawawi berkata,”Hadis ini hadis batil,” karena menurut beliau di antara periwayat hadisnya terdapat Abdullah bin Muharrir yang disepakati kelemahannya. (Al-Majmu’, 8/432).

Namun, Nashiruddin Al-Albani telah meneliti ulang hadis tersebut dan menilainya sebagai hadis sahih. (As-Silsilah al-Shahihah, no 2726). Menurut Al-Albani, hadis Anas RA ternyata mempunyai dua isnad (jalur periwayatan). Pertama, dari Abdullah bin Muharrir, dari Qatadah, dari Anas RA. Jalur inilah yang dinilai lemah karena ada Abdullah bin Muharrir. Kedua, dari Al-Haitsam bin Jamil, dari Abdullah bin Al-Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas RA. Jalur kedua ini oleh Al-Albani dianggap jalur periwayatan yang baik (isnaduhu hasan), sejalan dengan penilaian Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id (4/59).

Terkait penilaian sanad hadis, Imam Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan lemahnya satu sanad dari suatu hadis, tidak berarti hadis itu lemah secara mutlak. Sebab bisa jadi hadis itu mempunyai sanad lain, kecuali jika ahli hadis menyatakan hadis itu tidak diriwayatkan kecuali melalui satu sanad saja. (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, 1/345).

Berdasarkan ini, kami cenderung pada pendapat pertama, yaitu orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan mengaqiqahi dirinya sendiri setelah dewasa. Sebab dalil yang mendasarinya (hadis Anas RA), merupakan hadis sahih, mengingat ada jalur periwayatan lain yang sahih. Wallahu a’lam

Sahabat Aqiqah Berkah yang dirahmati Allah, semoga pengetahuan mengenai hukum aqiqah setelah dewasa diatas dapat menjadi pencerah dan bermanfaat untuk saudara muslim semua. Bagi yang ingin beraqiqah untuk disalurkan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa, silahkan hubungi Aqiqah Berkah, karena Aqiqah Berkah akan senantiasa membantu kelancaran ibadah aqiqah Anda.