hukum korban

Hukum Korban & Sedekah

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

HUKUM KORBAN DAN SEDEKAH

Sedekah merupakan suatu pemberian yang diberikan kepada orang lain. Sedangkan qurban merupakan suatu bentuk ibadah yang ditujukan kepada Allah dengan menyembelih hewan ternak di hari raya Idul Adha.

HUKUM QURBAN

Hukum qurban menurut mazhab Imam Syafi’i dan Jumhur Ulama adlaah sunnah yang sangat dianjurkan dan dikukuhkan. Qurban merupakan syiar agama dan yang memupuk makna kasih sayang serta peduli kepada sesama yang harus digalakkan.

Hukum sunnah disini terbagi menjadi dua macam, yakni :

  1. Sunnah ‘Ainiyah, yaitu : Sunnah yang dilakukan oleh setiap orang yang mampu.
  2. Sunnah Kifayah, yaitu : Disunnahkan dilakukan oleh sebuah keuarga dengan menyembelih 1 ekor atau 2 ekor untuk semua keluarga yang ada di dalam rumah.

Hukum Qurban menurut Imam Abu Hanifah adalah wajib bagi yang mampu. Perintah melaksanakan ibadah qurban datang pada tahun ke-2 (dua) Hijriyah. Adapun qurban bagi Nabi Muhammad SAW adalah wajib, dan ini adalah hukum khusus bagi beliau.

Perintah ibadah qurban akan menjadi wajib apabila :

  1. Dengan bernadzar, seperti: Seseorang berkata: “Aku wajibkan atasku qurban tahun ini.” Atau “Aku bernadzar qurban tahun ini.” Maka saat itu qurban menjadi wajib bagi orang tersebut.
  2. Dengan menentukan, maksudnya: Jika seseorang mempunyai seekor kambing lalu berkata: “Kambing ini aku pastikan menjadi qurban.” Maka saat itu qurban dengan kambing tersebut adalah wajib.

HUKUM SEDEKAH

Sedekah berasal dari kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Daat juga diartikan sebagai suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata.

Sedekah dalam pengertian di atas, oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela). Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah.

Di antara ayat yang dimaksud diatas adalah firman Allah SWT yang artinya: ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisaa [4]: 114).

Para fuqaha sepakat hukum sedekah pada dasarnya adalah sunnah, berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa apabila ditinggalkan. Di samping sunnah, adakalanya hukum sedekah menjadi haram yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang bakal menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah untuk kemaksiatan.

Terakhir hukum sedekah dapat berubah menjadi wajib, yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari apa yang diperlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga.

Menurut fuqaha, sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu’ berbeda dengan zakat. Sedekah lebih utama apabila diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW dari sahabat Abu Hurairah.

Dalam hadits yang dimaksud diatas dijelaskan salah satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut.

Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Sedangkan mengenai kriteria barang yang lebih utama disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan disedekahkan sebaiknya barang yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiliknya.

Hal yang dimaksud diatas sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya; ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS Ali Imran [3]: 92).

Pahala sedekah akan lenyap bila si pemberi selalu menyebut-nyebut sedekah yang telah ia berikan atau menyakiti perasaan si penerima. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya yang berarti: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.” (QS Al Baqarah [2]: 264). (Disarikan dari buku Ensiklopedi Islam)

Dasar Hukum Aqiqoh dan Korban

By | Artikel, Tentang Aqiqah, Tentang Qurban | No Comments

DASAR HUKUM AQIQOH DAN KORBAN

Dasar hukum yang melandasi adanya perintah aqiqah dan qurban ada di dalam Al-Quran dan Alhadits. Perintah ibadah sunnah ini sudah diajarkan oleh Nabi Kita Muhammad SAW. Berikut ini sejarah adanya perintah qurban dan dasar hukum mengenai aqiqah.

Hukum Aqiqah

Aqiqah dilaksanakan sebagai penebusan anak yang baru lahir baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. Aqiqah dilaksanakan afdhalnya di hari ketujuh kelahiran anak. Berikut ini dasar hukum perintah aqiqah :

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »

Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Apabila pelaksanaan aqiqah luput di hari ketujuh, ada beberapa pendapat ulama yang memperbolehkan aqiqah dilaksanakan diluar hari ketujuh. Dari ulama malikiyah berpendapat bahwa aqiqah jadi gugur apabila luput dari hari ketujuh. Sedangkan ulama Hambali berpendapat bahwa jika luput dari hari ketujuh, aqiqah dilaksanakan pada hari ke empat belas atau ke dua puluh satu.

Kalangan ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa aqiqah masih menjadi tanggung jawab orangtua hingga anak usia baligh. Apabila sudah dewasa, maka aqiqah menjadi gugur. Namun anak memiliki pilihan untuk mengaqiqahi diri sendiri. Penulis kitab Mughnil Muhtaj, Asy Syarbini rahimahullah berkata, “Jika telah mencapi usia baligh, hendaklah anak mengakikahi diri sendiri untuk mendapati yang telah luput.” (Mughnil Muhtaj, 4: 391).

Hukum Qurban

Pelaksanaan ibadah qurban harus diniatkan dalam rangka taat dan menjalankan perintah Allah untuk mengkurbankan hewan ternak, bukan untuk tujuan lainnya. Mengenai perintah qurban, Allah berfirman dalam surat Al – Kautsar ayat 1-2 yang menjadi dasar syariat penyembelihan hewan qurban: Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”

Para ulama dalam menentukan hukum penyembelihan hewan qurban terjadi perbedaan pendapat. Setidaknya ada dua pendapat mengenai hukum penyembelihan hewan qurban antara lain :

1. Sunnah Muakkadah

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama fiqih. Dengan adanya hukum sunnah muakadah untuk pelaksanaan qurban, walaupun seseorang tidak menyembelih hewan qurban, maka ia tidak berdosa. Apalagi mereka yang tergolong tidak mampu dan miskin. Namun bagi orang yang mampu dan berkecukupan, makruh hukumnya bila tidak menyembelih hewan qurban. Pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa hukum penyembelihan hewan qurban adalah sunnah muakkadah berdasarkan beberapa dalil berikut ini :

Rosulullah telah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim dan lainnya : “bila telah memasuki 10 (hari bulan dzulhijjah) dan seseorang ingin berqurban, maka janganlah ia ganggu rambut qurban dan kuku-kukunya.”
Berdasarkan hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kalimat “seseorang ingin berqurban” menunjukan bahwa hukum berqurban diserahkan kepada kemauan seseorang, artinya tidak menjadi wajib melainkan sunnah. Seandainya hukumnya wajib, maka tidak akan disebutkan kalau berkeinginan

Perbuatan Abu Bakar dan Umar. Dalil lainnya adalah atsar yang diriwayatkan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak melaksanakan penyembelihan hewan qurban dalam satu atau dua tahun, karena takut dianggap menjadi kewajiban. Dan hal itu tidak mendapatkan penentangan dari para sahabat yang lainnya. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi.

2. Wajib

Pendapat yang kedua menyatakan wajib hukumnya menyembelih hewan qurban. Pendapat ini adalah pendapat madzhab Hanafi berdasarkan dalil sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Rosulullah SAW bersabda : “Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim menshahihkannya).
Itulah dua pendapat yang telah dikemukakan beserta dalil-dalilnya mengenai hukum qurban. Adapun tentang ketentuan batasan qurban, para ulama telah sepakat bahwa hal tersebut tidak pernah ditetapkan dalam syariat, berbeda dengan zakat yang mengenal istilah nishab dan kadar.