hukum kurban

Kurban Menurut Islam

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

KURBAN MENURUT ISLAM

“Dari Jabir, Rosulullah SAW bersabda : Janganlah kamu menyembelih untuk kurban kecuali yang musinnah (telah berganti gigi). Jika sukar didapati, maka boleh jaz’ah (yang baru berumur 1 tahun lebih) dari biri-biri” (HR. Muslim).

Seringkali kita mendengar libur hari raya qurban atau Idul Adha. Apa sesungguhnya qurban menurut istilah dan arti sesungguhnya ? Qurban berasal dari bahasa arab “Qurban” yang berarti dekat. Kurban dalam Islam juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Qurban pada hakikatnya adalah menyembelih hewan ternak seperti sapi, unta, kambing maupun kerbau. Pelaksanaan qurban diperingati sebagai suatu ritual ibadah bagi umat Islam, dimana pada hari itu dilakukan penyembelihan binatang ternak seperti sapi, kambing, unta dan kerbau untuk dipersembahkan kepada Allah. Pelaksanaan qurban dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

“Semua hari-hari Tasyriq adalah (waktu) menyembelih qurban” (HR. Ad-Daruquthni dan Al Baihaqi didalam As-Sunanul Kubro)

Hukum menyembelih qurban menurut madzhab Imam Syafi’i dan jumhur Ulama adalah sunnah yang sangat diharapkan dan dikukuhkan. Ibadah Qurban adalah termasuk syiar agama dan yang memupuk makna kasih sayang dan peduli kepada sesama yang harus digalakkan.

Dan sunnah disini ada 2 macam :

  1. Sunnah ‘Ainiyah, yaitu : Sunnah yang dilakukan oleh setiap orang yang mampu.
  2. Sunnah Kifayah, yaitu : Disunnahkan dilakukan oleh sebuah keuarga dengan menyembelih 1 ekor atau 2 ekor untuk semua keluarga yang ada di dalam rumah.

Hukum Qurban menurut Imam Abu Hanifah adalah wajib bagi yang mampu. Perintah qurban datang pada tahun ke-2 (dua) Hijriyah. Adapun qurban bagi Nabi Muhammad SAW adalah wajib, dan ini adalah hukum khusus bagi beliau.

Waktu menyemblih qurban itu diperkirakan dimulai dari : Setelah terbitnya matahari di hari raya qurban dan setelah selesai 2 roka’at sholat hari raya idul adha ringan dan 2 khutbah ringan (mulai matahari terbit + 2 rokaat + 2 khutbah), maka tibalah waktu untuk menyemblih qurban. Bagi yang tidak melakukan sholat hari raya ia harus memperkirakan dengan perkiraan tersebut atau menunggu selesainya sholat dan khutbah dari masjid yang ada di daerah tersebut atau sekitarnya. Dan waktu menyembelih qurban berakhir saat terbenamnya matahari di hari tasyrik tanggal 13 Dzulhijjah.

Sebaik-baik waktu menyembelih qurban adalah setelah sholat dan khutbah hari Idul Adha :

Dari Barra’ bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa menyembelih hewan kurban setelah shalat Idul Adha, maka sembelihannya telah sempurna dan ia sesuai dengan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 5545)

Syarat Orang Yang Berqurban

*) Seorang muslim / muslimah
*) Usia baligh. Baligh ada 3 tanda, yaitu :

a.Keluar mani (bagi anak laki-laki dan perempuan) pada usia 9 tahun hijriah.
b.Keluar darah haid usia 9 tahun hijriah (bagi anak perempuan)
c.Jika tidak keluar mani dan tidak haid maka di tunggu hingga umur 15 tahun. Dan jika sudah genap 15 tahun maka ia telah baligh dengan usia yaitu usia 15 tahun

Dan jika ada anak yang belum baligh maka tidak diminta untuk melakukan kurban, akan tetapi sunnah bagi walinya untuk berqurban atas nama anak tersebut.

*) Berakal , maka orang gila tidak diminta untuk melakukan kurban, akan tetapi sunnah bagi walinya untuk berqurban atas nama orang gila tersebut.

*) Mampu. Mampu disini adalah punya kelebihan dari makanan pokok, pakaian dan tempat tinggal untuk dirinya dan keluarganya di hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik.

Berikut ini merupakan petikan surat Ash Shaaffaat ayat 102-107 yang menceritakan mengenai perintah untuk berqurban :

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ), dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash Shaaffaat: 102-107).

Sedekah Qurban Hukumnya

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

SEDEKAH QURBAN HUKUMNYA ?

Ibadah qurban bukan hanya semata diukur berdasarkan materi. Karena tujuan utama ibadah qurban adalah menegakkan syiar agama Islam. Dengan menyembelih hewan qurban, mengawal kegembiraan kaum muslimin dengan menikmati hewan yang Allah halalkan.

Ibnu Taimiyyah berkata: “Udhiyah (berkurban), aqiqah, dan hadyu lebih utama daripada sedekah sebanyak harganya.” (Majmu’ Fatawa: 26/304)

Keutamaannya ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “karena menyembelih dan mengalirkan darah itulah yang dimaksud, sungguh ia ibadah yang digandengkan dengan shalat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَصَلّ لِرَبّكَ وَٱنْحَر

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS. Al-Kautsar: 2)

قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى للَّهِ رَبّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. ” (QS. Al-An’am: 162) [Lihat: Tuhfah al-Maudud: 65]

Karenanya, sebaiknya Anda berqurban dengan menyembelih sendiri hewan qurban Anda dan bersedekah dengan dagingnya, atau mewakilkannya kepada personal atau panitia yang mengurusi hewan kurban di tempat tingggal Anda atau di daerah-daerah yang sangat membutuhkan.

بُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

”Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al-Haj: 36)

Apabila kita perhatikan, Allah mengakhiri ayat diatas dengan pernyataan, “Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur’ secara fisik, onta jauh lebih besar dan lebih kuat dari pada manusia. Namun mereka bisa menjadi jinak dan dengan mudah dimanfaatkan manusia. Dengan menjadikan onta tersebut sebagai hewan qurban karena Allah, merupakan bentuk syukur terhadap nikmat Allah tersebut” (sumber Konsultasi Syariah).

Oleh karena itu, sejatinya berqurban tidak hanya dinilai dari banyaknya daging, darah, tetapi bagaimana seseorang menghadirkan sikap ikhlas, mengagungkan Allah dan semangat syiar Islam. Bagian dari semua ini merupakan suatu bentuk taqwa kepada Allah. Pada ayat lain Allah berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat sampai kepada-Nya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.” (QS. Al-Haj: 37)

Karena alasan diatas, para ulama menegaskan bahwa dalam kondisi normal, menyembelih hewan qurban pahalanya lebih besar dan lebih afdhal daripada sedekah senilai hewan qurban. Keterangan-keterangan diatas sama sekali tidak menunjukkan bahwa sedekah yang diberikan menjadi tidak berarti. Kesimpulan yang dapat diambil dari keterangan diatas bahwa qurban tidak dapat disetarakan dengan sedekah uang senilai hewan qurban.

Sedekah yang diberikan merupakan amal yang sangat bernilai dan berpahala. hanya saja, semata dengan sedekah ini tidak dapat dinilai sebagai qurban atau mendapatkan pahala qurban. Meskipun sedekah ini disalurkan dalam rangka membantu kegiatan qurban.

Dalam Kitab Mathalib UlinNuha (2/374) disebutkan, terdapat keterangan dari imam Ahmad akan hal ini, yakni berkurban lebih utama dari sedekah dengan harganya. Dan sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Khulafa’ Rasyidin berkurban dan memberikan hadiah dari dagingnya. Jika sedekah lebih utama pastinya mereka tidak akan meninggalkan sedekah itu. Wallahu Ta’ala A’lam.

Barang Siapa menjual Kulit Kurban, Tidak Ada Pahala Kurban Baginya

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

BARANG SIAPA MENJUAL KULIT KURBAN, TIDAK ADA PAHALA KURBAN BAGINYA

Tidak boleh hukumnya menjual kulit hewan kurban. Demikianlah pendapat jumhur ulama tiga mazhab (Imam Maliki, Syafi’i, dan Ahmad) (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, I/352; Qadhi Shafad, Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al-A’immah, hal. 85).

Hukum ini berlaku bagi pekurban (al-mudhahhi/shahibul kurban) dan juga berlaku bagi siapa saja yang mewakili pekurban, misalnya takmir masjid atau panitia kurban pada suatu instansi.

Dalil haramnya menjual kulit kurban ada dua, yaitu hadis-hadis Nabi SAW yang melarang menjual kulit kurban, dan hukum syar’i bahwa status kepemilikan kambing kurban telah lenyap dari pekurban pada saat kurban disembelih.

Hadits-hadits Nabi SAW itu di antaranya :

  1. Dari Ali bin Abi Thalib RA, dia berkata,”Rasulullah SAW telah memerintahkan aku mengurusi unta-unta beliau (hadyu) dan membagikan daging-dagingnya, kulit-kulitnya…untuk kaum miskin. Nabi memerintahkanku pula untuk tidak memberikan sesuatu pun darinya bagi penyembelihnya (jagal) [sebagai upah].” (Muttafaq ‘alaihi) (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, IV/95)
    Dari hadits di atas, Imam Asy-Syirazi mengatakan,”Tidak boleh menjual sesuatu dari hadyu dan kurban, baik kurban yang wajib (nadzar) atau kurban yang sunnah.” (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, I/240)
  2. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Barangsiapa menjual kulit kurbannya, maka tidak ada [pahala] kurban baginya.” (Man baa’a jilda udhiyyatihu fa-laa udh-hiyyata lahu) (HR. Al-Hakim & Al-Baihaqi) (Hadis ini sahih menurut Imam Suyuthi. Lihat Imam Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir, II/167)
    Dari hadits ini para ulama menyimpulkan haramnya pekurban untuk menjual kulit kurbannya (Syaikh Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahhab, II/179, Syaikh Asy-Syarbaini Al-Khathib, Al-Iqna’, II/281).

Adapun dalil kedua, berupa hukum syara’ tentang status kepemilikan kambing kurban. Pada saat disembelih, hilanglah kepemilikan kurban dari pekurban. Maka dari itu, jika pekurban atau wakilnya menjual kulit kurban, sama saja dia menjual sesuatu yang bukan miliknya lagi. Ini jelas tidak boleh.

Dalam masalah ini Imam Asy-Syirazi berkata,”Ketidakbolehan menjual kulit kurban juga dikarenakan hadyu atau kurban itu telah keluar dari kepemilikan pekurban sebagai taqarrub kepada Allah, maka tidak boleh ada yang kembali kepadanya kecuali apa yang dibolehkan sebagai rukhsah yaitu dimakan (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, I/240; As-Sayyid Al-Bakri, I’anah Ath-Thalibin, II/333).

Jadi, jelaslah bahwa menjual kulit kurban itu haram hukumnya. Haram pula menjadikan kulit kurban sebagai upah kepada jagal (penyembelih) kurban.

Lalu kulit kurban itu akan diapakan? Kulit kurban itu dapat disedekahkan oleh al-mudhahhi (shahibul kurban) kepada fakir dan miskin (Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, II/242). Inilah yang afdhol (utama). Jadi perlakuan pada kulit kurban sama dengan bagian-bagian hewan kurban lainnya (yang berupa daging), yakni disedekahkan kepada fakir dan miskin. Dalilnya adalah hadis sahih dari Ali bin Abi Thalib RA di atas.

Boleh pula kulit kurban itu dimanfaatkan oleh pekurban, misalnya dibuat sandal, khuf (semacam sepatu), atau timba.

Dalilnya adalah hadits Aisyah RA. Aisyah RA meriwayatkan bahwa orang-orang Arab Badui pernah datang berombongan minta daging kurban pada saat Idul Adha. Rasulullah SAW lalu bersabda,”Simpanlah sepertiga dan sedekahkanlah sisanya.” Setelah itu ada yang berkata kepada Rasulullah SAW,”Wahai Rasululah sesungguhnya orang-orang biasa memanfaatkan kurban-kurban mereka, mereka membuat lemak darinya, dan membuat wadah-wadah penampung air darinya.” Rasulullah menjawab,”Apa masalahnya?” Mereka menjawab,”Wahai Rasulullah, Anda telah melarang menyimpan daging-daging kurban lebih dari tiga hari.” Rasulullah SAW menjawab,”Sesungguhnya aku melarang hal itu karena adanya orang Baduwi yang datang berombongan minta daging kurban (min ajli ad-daafah). [Sekarang] makanlah, sedekahkanlah, dan simpanlah.” (HR. Tirmidzi, Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, IV/97; Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, I/240). Hadits ini menunjukkan bolehnya memanfaatkan kulit kurban misalnya untuk dijadikan wadah-wadah penampung air dan sebagainya (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, I/240)

Memang ada sebagian ulama yang membolehkan menjual kulit kurban. Menurut Imam Abu Hanifah, boleh menjual kulit kurban tapi bukan dengan dinar dan dirham (uang). Maksudnya, boleh menjual kulit kurban dengan menukarkan kulit itu dengan suatu barang dagangan (al-‘uruudh) (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, IV/97,Taqiyuddin Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, II/242). Menurut Imam An-Nakha’i dan Imam Al-Auza’i, boleh menjual kulit kurban dengan peralatan rumah tangga yang bisa dipinjamkan, misalnya kapak, timbangan, dan bejana. Menurut Imam ‘Atha` (tabi’in), tidak apa-apa menjual kulit kurban baik dengan dirham (uang) maupun dengan selain dirham. (Qadhi Shafad, Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al-A’immah, hal. 85).

Dalil ulama yang membolehkan menjual kulit kurban, adalah hadits yang membolehkan memanfaatkan (intifa’) kurban, yaitu hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Aisyah RA di atas. Dalam pandangan Imam Abu Hanifah, atas dasar hadits itu, boleh melakukan pertukaran (mu’awadhah) kulit kurban asalkan ditukar dengan barang dagangan (al-‘uruudh), bukan dengan uang (dinar dan dirham). Sebab pertukaran kulit kurban dengan barang dagangan termasuk dalam pemanfaatan kurban (intifa’) yang dibolehkan hadits menurut semua ulama secara ijma’ (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, I/352, Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, IV/95).

Pendapat ulama yang membolehkan menjual kulit kurban itu adalah pendapat yang lemah, berdasarkan dua hujjah berikut :

Pertama, telah terdapat nash hadis sahih yang mengharamkan menjual belikan kulit kurban. Nabi SAW bersabda,“Barangsiapa menjual kulit kurbannya, maka tidak ada [pahala] kurban baginya.” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Haramnya menjual kulit kurban dalam hadis di atas bersifat umum, artinya mencakup segala bentuk jual beli kulit kurban. Baik menukar kulit dengan uang, maupun menukar kulit dengan selain uang (misalnya dengan daging). Semuanya termasuk jual beli, sebab jual beli adalah menukarkan harta dengan harta (mubadalatu maalin bi maalin). Maka penukaran kulit kurban dengan selain dinar dan dirham (uang), misalnya kulit kurban ditukar dengan daging, tetap termasuk jual beli juga.

Perlu diketahui, bahwa ditinjau dari objek dagangan (apa yang diperdagangkan), jual beli ada tiga macam :

  1. jual beli umum, yaitu menukar uang dengan barang,
  2. jual beli ash-sharf (money changing), yaitu menukar uang dengan uang,
  3. jual beli al-muqayadhah (barter), yaitu menukar barang dengan barang. (Lihat Abdullah al-Mushlih dan Shalah Ash-Shawi, Fikih Ekonomi Keuangan Islam [Maa Laa Yasa’u At-Taajir Jahluhu], Penerjemah Abu Umar Basyir, Jakarta : Darul Haq, 2004, hal. 90)

Atas dasar itu, keharaman menjual kulit ini mencakup segala bentuk tukar menukar kulit, termasuk menukar kulit dengan barang dagangan. Sebab hal ini tergolong jual beli juga, yakni apa yang dalam istilah fiqih disebut al-muqayadhah (barter).

Kedua, tidak dapat diterima membolehkan jual beli kulit dengan hujjah hadits Aisyah tentang bolehnya memanfaatkan (intifa’) kurban.

Sebab kendatipun hadits Aisyah itu bermakna umum, yaitu membolehkan pemanfaatan kurban dalam segala bentuknya secara umum, tapi keumumannya telah dikhususkan (ditakhsis) dengan hadits yang mengharamkan pemanfaatan dalam bentuk jual beli (hadits Abu Hurairah). Kaidah ushul fiqih menyatakan :

Al-‘aam yabqaa ‘alaa ‘umuumihi maa lam yarid dalil al-takhsis

“Dalil umum tetap berlaku umum, selama tidak terdapat dalil yang mengkhusukannya (mengecualikannya).”

Atas dasar itu, menukar kulit dengan barang dagangan tidak termasuk lagi dalam pemanfaatan kulit yang hukumnya boleh, sebab sudah dikecualikan dengan hadits yang mengharamkan jual beli kulit.

Kesimpulannya, menjual kulit kurban hukumnya adalah haram, termasuk menukar kulit dengan daging untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Inilah pendapat yang kami anggap rajih (kuat), sesuai hadis Nabi SAW yang sahih, “Barangsiapa menjual kulit kurbannya, maka tidak ada [pahala] kurban baginya.” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

itulah yang dapat kami sampaikan. semoga bermanfaat….

Informasi dan pemesanan:

085853444472

Hakikat Kurban

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

Hakikat Kurban

Kepada Allah kita sampaikan segenap pernyataan syukur, sebab hanya dengan izin taufiq, hidayah, maghfirah dan inayah-Nya kita bisa melakukan segala sesuatu; terlebih-lebih lagi untuk melaksanakan keta’atan atas apa-apa yang diperintahkan dan meninggalkan segala apa yang dilarang.

Shalawat dan salam patut kita hantarkan sebanyak-banyaknya bagi hamba yang telah dijadikan Allah sebagai rahmat untuk semesta alam ini; Muhammad Rasulullah SAW; lantaran melalui beliaulah kita mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang baik dan yang buruk; Pengetahuan tentang segala sesuatu yang akan menyelamatkan dan membahagiakan kita di dunia dan di akhirat kelak. Mudah-mudahan shalawat dan salam yang senantiasa kita lafazkan tersebut akan menjadi syafaat; menjadi penolong bagi kita untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah; Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin ya rabbal ‘alamiin.

Sebagaimana yang telah kita maklumi bersama, maka dalam beberapa hari mendatang kita akan kembali melaksanakan perintah Allah yang berawal dari perintah-Nya kepada Ibrahim a.s, yakni menyembelih hewan-hewan kurban setelah sebelumnya kita menunaikan sholat idul Adha atau Idul Qurban sebagai penjabaran dari apa yang dititahkan Allah di dalam kitab-Nya; surah Al-Kautsar ayat 1-3:
”Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah orang yang terputus (dari nikmat Allah).”(Q.S.Al Kautsar 1-3)

Dalam kesempatan ini saya ingin mengingatkan kembali, bahwa bagi orang-orang yang memiliki kemampuan materi atau keuangan yang cukup, perintah berkurban tersebut adalah perintah yang wajib ditunaikan setiap tahunnya. Artinya; perintah tersebut tidak hanya diwajibkan sekali di dalam hidup, tetapi wajib setiap tahun bagi siapa saja yang memiliki harta atau materi untuk menyembelih kurban. Sebab ada yang beranggapan, bahwa kewajiban menyembelih hewan kurban itu hanya sekali saja dalam hidupnya, sementara yang lainnya hukumnya adalah sunat.

Syaikh Abdullah Al-Ghazali menjelaskan, bahwa kewajiban melaksanakan kurban setiap tahun itu tersirat dan tersurat dari perbuatan Rasulullah SAW ketika melaksanakan penyembelihan hewan kurban pada saat beliau selesai melaksanakan haji wada’ atau haji perpisahan; Bahwa dalam rangka menyikapi dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah kepada beliau; Setelah selesai melontar jumrah Rasulullah SAW kembali ke kemah beliau di Mina dan langsung menyembelih 63 ekor unta dengan maksud; setiap satu ekor unta adalah untuk satu tahun umur yang beliau jalani. Kemudian berdasarkan keadaan inilah banyak ulama yang menyatakan, bahwa orang yang mampu berkewajiban menyembelih kurban setiap tahunnya. Bahkan jika ia benar-benar berkemampuan, maka patutlah membayar hutangnya kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban sebanyak umur yang telah dilaluinya, dimana pada waktu itu ia belum memiliki kemampuan untuk berkurban; sebagaimana yang telah dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Lepas dari persoalan di atas, maka perintah berkurban yang mengacu pada sejarah Ibrahim a.s tersebut hanyalah merupakan isyarat dari Allah SWT untuk orang-orang yang beriman; Baik yang mampu secara materi maupun bagi yang tidak mampu. Bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah wajib berkurban dan mengorbankan segala sesuatu yang ada pada dirinya dalam rangka mengabdi kepada Allah yang telah menciptakannya. Sebab sebagaimana yang telah kita maklumi, bahwa tujuan utama diciptakannya manusia adalah semata-mata untuk mengabdi kepada Allah. Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi kewajibannya sebagai hamba Allah, maka orang yang beriman harus mampu membuang dan mencampakkan jauh-jauh sifat egoisme atau sifat mementingkan diri sendiri untuk memenuhi hak-hak Allah. Baik yang langsung berhubungan dengan Allah (hamblum-minallah) maupun melalui kepentingan orang lain (hablum-minannaas), yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Dan hal inilah yang sesungguhnya menjadi inti atau hakikat dari pengorbanan yang dilaksanakan oleh keluarga Ibrahim a.s

Dalam waktu yang singkat ini memang tak dapat kita uraikan secara lebih rinci tentang hakikat kurban yang diperintahkan. Akan tetapi barangkali dapat kita renungkan bersama; Bagaimana keikhlasan dan kerelaan Ibrahim mengurbankan putra tersayangnya untuk kepentingan Allah SWT. Lihat pula bagaimana ikhlasnya sang isteri yang bernama Hajar melepaskan putra tersayangnya untuk kepentingan Ibrahim yang diperintahkan Tuhan, sehingga pada saat ia mendapat informasi dari Iblis laknatullah, yang menyamar sebagai seorang laki-laki untuk memberitahukan perbuatan Ibrahim kepada Ismail, Hajar dengan tegas berkarta: “Biarlah ia melakukan itu, jika hal itu memang diperintah oleh Tuhan kepadanya.” Dan simak pula sikap Ismail yang sabar ketika menanggapi permintaan ayahnya, agar dirinya mau disembelih untuk memenuhi perintah Tuhannya Ibrahim. Ismail yang baru berangkat remaja menjawab sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran:
”Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai pada umur sanggup untuk berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim pun berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat di dalam mimpiku, bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk sebagai orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ash-Shaffat: 102)

Menyimak kondisi-kondisi tersebut, maka mari kita bertanya pada diri masing-masing; Sanggupkah kita melakukan hal itu.

Menyimak kondisi dan kepentingan hidup yang kita hadapi dimasa sekarang ini, rasanya tentulah sulit bagi kita untuk berkorban sebagaimana yang dicontohkan Allah melalui keteladanan keluarga Ibrahim. Dalam hal ini jangankan untuk hal-hal yang bersifat hablum-minannaas, bahkan untuk urusan yang langsung berhubungan dengan Allah atau hablum-minallahpun banyak di antara kita yang masih enggan untuk melakukan-nya. Sebab kadang-kadang ketika muazzin sudah mengumandangkan azan, mengundang kita kepada Allah, masih banyak di antara kita yang enggan meninggalkan suatu pekerjaan atau kegiatan dunia yang ketika itu tengh asyik kita hadapi. Padahal apa yang kita lakukan itu tidaklah begitu penting dan masih bisa ditunda untuk menyelesaikannya, sementara sholat di awal waktu apalagi jika berjamaah di masjid atau musholla, tentu sudah kita ketahui keutamaannya.

Keteladanan pengorbanan keluarga Ibrahim hanyalah salah satu dari bagian-bagian pengorbanan yang wajib kita tunaikan dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. Kalau kita tidak mampu berkorban dengan hewan kurban pada waktu-waktu yang telah ditetapkan Allah, maka masih banyak cara dan waktu lain yang dapat kita perbuat untuk berkurban kepada Allah. Dan dalam hal inilah Allah mengingatkan kita dengan firman-Nya:
”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan yang kamu milikilah yang dapat mecapainya…..” (Q.S. Al-Hajj: 37)

Sesungguhnya di sepanjang umur kita lalui, maka kita terus menerus mendapat rahmat dan nikmat Allah. Bahkan yang kita sebut sebagai musibah; penyakit dan lain sebagainya itu adalah juga rahmat dan nikmat yang kita terima dari Allah dari sisi yang lain. Oleh karenanya memang benarlah apa yang dititahkan Allah, tak seorangpun yang mampu menghitung nikmat Allah. Bahkan nabi dan rasul-Nya sekalipun sebagaimana pernyataan Al-Quran surah An-Nahl ayat 18:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Oleh hal yang demikian itulah, lebih-lebih lagi kita memang diciptakan untuk hanya menyembah dan mengabdi kepada Allah, maka perintah fasholli li-lirob-bika wan-har hendaklah diaplikasikan dengan pemahaman sembahlahlah atau mengabdilah kepada Allah serta berkurbanlah untuk-Nya dengan segenap dan sebatas kemampuan yang dimiliki, sebagaimana yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya surah Al-Maa-idah ayat 35 :
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mana saja untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berkurbanlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Inilah beberapa hal yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan yang pendek ini. Mudah-mudahan dapat dipahami dan bersama-sama kita merealisasikannya dalam kehidupan yang kita jalani. Semoga Allah meridhoi setiap langkah dan perbuatan yang kita jalani.

Untuk Pemesanan Qurban dan Aqiqah: 085853444472

Hukum Korban & Sedekah

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

HUKUM KORBAN DAN SEDEKAH

Sedekah merupakan suatu pemberian yang diberikan kepada orang lain. Sedangkan qurban merupakan suatu bentuk ibadah yang ditujukan kepada Allah dengan menyembelih hewan ternak di hari raya Idul Adha.

HUKUM QURBAN

Hukum qurban menurut mazhab Imam Syafi’i dan Jumhur Ulama adlaah sunnah yang sangat dianjurkan dan dikukuhkan. Qurban merupakan syiar agama dan yang memupuk makna kasih sayang serta peduli kepada sesama yang harus digalakkan.

Hukum sunnah disini terbagi menjadi dua macam, yakni :

  1. Sunnah ‘Ainiyah, yaitu : Sunnah yang dilakukan oleh setiap orang yang mampu.
  2. Sunnah Kifayah, yaitu : Disunnahkan dilakukan oleh sebuah keuarga dengan menyembelih 1 ekor atau 2 ekor untuk semua keluarga yang ada di dalam rumah.

Hukum Qurban menurut Imam Abu Hanifah adalah wajib bagi yang mampu. Perintah melaksanakan ibadah qurban datang pada tahun ke-2 (dua) Hijriyah. Adapun qurban bagi Nabi Muhammad SAW adalah wajib, dan ini adalah hukum khusus bagi beliau.

Perintah ibadah qurban akan menjadi wajib apabila :

  1. Dengan bernadzar, seperti: Seseorang berkata: “Aku wajibkan atasku qurban tahun ini.” Atau “Aku bernadzar qurban tahun ini.” Maka saat itu qurban menjadi wajib bagi orang tersebut.
  2. Dengan menentukan, maksudnya: Jika seseorang mempunyai seekor kambing lalu berkata: “Kambing ini aku pastikan menjadi qurban.” Maka saat itu qurban dengan kambing tersebut adalah wajib.

HUKUM SEDEKAH

Sedekah berasal dari kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Daat juga diartikan sebagai suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata.

Sedekah dalam pengertian di atas, oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela). Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah.

Di antara ayat yang dimaksud diatas adalah firman Allah SWT yang artinya: ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisaa [4]: 114).

Para fuqaha sepakat hukum sedekah pada dasarnya adalah sunnah, berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa apabila ditinggalkan. Di samping sunnah, adakalanya hukum sedekah menjadi haram yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang bakal menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah untuk kemaksiatan.

Terakhir hukum sedekah dapat berubah menjadi wajib, yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari apa yang diperlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga.

Menurut fuqaha, sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu’ berbeda dengan zakat. Sedekah lebih utama apabila diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW dari sahabat Abu Hurairah.

Dalam hadits yang dimaksud diatas dijelaskan salah satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut.

Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Sedangkan mengenai kriteria barang yang lebih utama disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan disedekahkan sebaiknya barang yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiliknya.

Hal yang dimaksud diatas sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya; ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS Ali Imran [3]: 92).

Pahala sedekah akan lenyap bila si pemberi selalu menyebut-nyebut sedekah yang telah ia berikan atau menyakiti perasaan si penerima. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya yang berarti: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.” (QS Al Baqarah [2]: 264). (Disarikan dari buku Ensiklopedi Islam)

Pengertian Qurban (Udhiyah)

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

PENGERTIAN QURBAN (UDHIYAH)

Qurban adalah binatang yang disembelih dengan tujuan ibadah kepada Allah pada Hari Raya Haji dan tiga hari kemudian (tanggal 11 sampai 13).

31 Pengertian Qurban

Hukum Ibadah Qurban

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa qurban dihukumi wajib. Sedangkan pada sebagian besarulama lainnya berpendapat qurban itu sunnah. Alasan yang berpendapat bahwa qurban wajib yaitu Firman Allah SWT :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر

“Sesungguhnya Kami telah memberi kepadanya nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah”. (Al-Kautsar : 1-2)

Sabda Rasulullah SAW yang artinya :

“Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami”. (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

Alasan untuk pendapat bahwa qurban dihukumi sunnah adalah Sabda Rasulullah SAW :

امرت باالنحروهو سنة لكم. رواه الترمذئ

“Saya disuruh menyembelih qurban dan qurban itu sunnah bagi kamu”. (Riwayat Tirmidzi)

علئ النحر وليس بوا جب عليكم. روه االدارقطني كتب

“Diwajibkan kepadaku berqurban, dan tidak wajib atas kamu”. (Riwayat Daruqutni)

Pengetahuan mengenai binatang yang sah untuk qurban ialah yang tidak bercacat, misalnya pincang, sangat kurus, sakit, putus telinga, putus ekornya dan telah berumur sebagai berikut :

  1. Domba (da’ni) yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya.
  2. Kambing yang telah berumur dua tahun lebih.
  3. Unta yang telah berumur lima tahun lebih.

Sabda Rasulullah Muhammad SAW yang artinya :

Dari Barra’ bin Azib, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban : (1) rusak matanya, (2) sakit, (3) pincang, (4) kurus yang tidak berlemak lagi.” (Riwayat Ahmad, dan dinilai sahih oleh Tirmidzi).

Dari Jabir, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kamu menyembelih untuk qurban kecuali yang musinnah (telah berganti gigi). Jika sukar didapati, maka boleh jaz’ah (yang baru berumur 1 tahun lebih) dari biri-biri.” (Riwayat Muslim).

Seekor kambing hanya untuk qurban satu orang, diqiaskan dengan denda meninggalkan wajib haji. Tetapi seekor unta, kerbau dan sapi boleh diatasnamakan qurban tujuh orang. Dari Jabir, “Kami telah menyembelih qurban bersama-sama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuuh orang.” (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Abbas, “Pernah kami bersama-sama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, ketika itu datang Hari Qurban, maka kami bersama-sama menyembelih seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang.” (Riwayat Tirmidzi dan Nasai).

Waktu Menyembelih Qurban

Waktu untuk menyembelih binatang qurban yang dianjurkan Islam adalah mulai dari matahari setinggi tombak pada Hari Raya Haji sampai terbenam matahari tanggal 13 bulan Haji. Sabda Rasulullah SAW yang artinya :

“barang siapa menyembelih qurban sebelum shalat Hari Raya Haji, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa menyembelih qurban sesudah shalat hari Raya dan dua khotbahnya, sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya, dan ia telah menjalani aturan Islam.” (Riwayat Bukhari)

Pada hadits tersebut, yangg dimaksud dengan shalat Hari Raya ialah waktunya, bukan shalatnya. Karena mengerjakan sholat tidak menjadi syarat menyembelih qurban. Sabda Rasulullah SAW :

كل ايام التشريق ذ بح. رواه احمد

“Semua haris Tasyriq (tanggal 11-13 Haji) adalah waktu menyembelih qurban.” (Riwayat Ahmad)

Sunnah Tatkala Menyembelih

Sewaktu menyembelih qurban disunnahkan beberapa perkara di bawah ini :

  1. Membaca bismillah
  2. Membaca sholawat atas nabi SAW
  3. Takbir (membaca Allahu Akbar)
  4. Berdoa supaya qurban diterima Allah, seperti : (Ya Allah, ini perbuatan dari perintah-Mu, saya kerjakan karena-Mu, terimalah oleh-Mu amalku ini)
  5. Binatang yang disembelih tersebut hendaklah dihadapkan ke arah kiblat

عن انس انه صلي الله عليه وسلم ضحي بكبشين املحين اقر نين ذبحهما بيد ه اكر يمة سمي و كبر. رواه البخا ريو مسلم

Dikabarkan oleh Anas bahwa Rasulullah SAW telah berqurban dengan dua ekor kambing yang baik-baik, beliau sembelih sendiri, beliau baca bismillah, danbeliau baca takbir (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW tatkala berqurban telah mengucapkan, “Ya Allah terimalah qurban Muhammad, keluarga dan umatnya.” (Riwayat Ahmad dan Muslim).

Paket Qurban Aqiqah Berkah

Agar ibadah qurban berjalan dengan lancar, Anda dapat memesan paket qurban syar’i pada Aqiqah Berkah. Tersedia hewan qurban sapi dan kambing. Harga hewan qurban sangat terjangkau untuk Anda khususnya di wilayah Jawa Timur. Pemesanan hewan qurban diluar Kab. Nganjuk, Madiun, Kediri, Jombang, Tulungagung dan Blitar minimal 10 ekor untuk kambing, dan minimal 5 ekor untuk sapi. Pemesanan hewan qurban secara kolektif atau grosir.

Anda dapat memesan hewan qurban secara online di nomor layanan Aqiqah Berkah :

SMS: 085749622504

Whatsapp: +6281335680602

Atau pemesanan secara offline dengan datang langsung ke kantor pusat Aqiqah Berkah di Jl. Raya Baron Timur No. 1 Baron Nganjuk.

Untuk menjawab kebutuhan hewan qurban saudara, saat ini Aqiqah Berkah telah menyediakan sapi dan kambing qurban untuk idul qurban 2018. Adapun hewan qurban yang saat ini ready stock dan dapat di pesan adalah :

A. Harga Sapi qurban 2018

1) Sapi Jawa
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-

2) Sapi Bali
– Berat : Mulai dari 300 kg
– Harga : Mulai dari Rp.16.000.000,-
(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

B. Kambing qurban 2018

– Jenis : Kambing / Domba Gibas
– Berat : Mulai dari 24-29 kg
– Umur : -+ 1 tahun
– Harga : Mulai dari Rp.1.850.000,-

(Untuk jenis lebih lengkap dan terupdate bisa menghubungi kontak kami)

Sapi dan Kambing qurban di atas dapat Anda pesan melalui beberapa Paket Qurban 2018 Aqiqah Berkah yakni sebagai berikut :

Paket Qurban Peduli Syar’i : Pada paket qurban peduli syar’i, kami menyediakan pemesanan hewan qurban sekaligus jasa pemotongan hewan qurban secara syar’i. Untuk penyaluran daging qurban, Anda dapat memesan tempat yang dikehendaki atau yang diamanahkan seperti panti asuhan, pondok pesantren, dll sebagai tempat pembagian daging qurban. Kami menerima jasa pemesanan paket qurban dari kota Anda (seluruh Indonesia).

Paket Qurban Mandiri Syar’i : Pada paket ini kami menyediakan jasa pemesanan hewan qurban syar’i dan untuk penyembelihannya dilakukan mandiri oleh orang yang akan berqurban. Selanjutnya kami siap mengantar hewan qurban yang telah Anda pesan.

Adapun ketentuan sapi qurban yang diajarkan dalam islam diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Sapi telah memiliki kecukupan umur yaitu lebih dari 2 tahun

2. Sapi tidak memiliki aib (cacat fisik)

Kecacatan yang dilarang pada sapi qurban diantaranya adalah :

– Cacat matanya
– Kurus
– Sakit
– Patah tanduknya
– Pincang
– Terpotong telinganya

3. Sapi tidak kurus, sapi yang baik adalah sapi yang memiliki gemuk di bagian pantat, dada, dan leher

4. Sapi harus sehat

Sapi yang sehat diantaranya memiliki ciri-ciri :

– Bulunya terlihat mengkilat dan mulus
– Posisi kaki sapi : tidak bengkok, tungkai tegak, kuku sapi tidak bengkak, kaki depan sapi tegak dan relatif lurus.

5. Sapi jenis jantan dan betina dapat dijadikan qurban