hukum sedekah

Sedekah Qurban Hukumnya

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

SEDEKAH QURBAN HUKUMNYA ?

Ibadah qurban bukan hanya semata diukur berdasarkan materi. Karena tujuan utama ibadah qurban adalah menegakkan syiar agama Islam. Dengan menyembelih hewan qurban, mengawal kegembiraan kaum muslimin dengan menikmati hewan yang Allah halalkan.

Ibnu Taimiyyah berkata: “Udhiyah (berkurban), aqiqah, dan hadyu lebih utama daripada sedekah sebanyak harganya.” (Majmu’ Fatawa: 26/304)

Keutamaannya ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “karena menyembelih dan mengalirkan darah itulah yang dimaksud, sungguh ia ibadah yang digandengkan dengan shalat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَصَلّ لِرَبّكَ وَٱنْحَر

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS. Al-Kautsar: 2)

قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى للَّهِ رَبّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. ” (QS. Al-An’am: 162) [Lihat: Tuhfah al-Maudud: 65]

Karenanya, sebaiknya Anda berqurban dengan menyembelih sendiri hewan qurban Anda dan bersedekah dengan dagingnya, atau mewakilkannya kepada personal atau panitia yang mengurusi hewan kurban di tempat tingggal Anda atau di daerah-daerah yang sangat membutuhkan.

بُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

”Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al-Haj: 36)

Apabila kita perhatikan, Allah mengakhiri ayat diatas dengan pernyataan, “Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur’ secara fisik, onta jauh lebih besar dan lebih kuat dari pada manusia. Namun mereka bisa menjadi jinak dan dengan mudah dimanfaatkan manusia. Dengan menjadikan onta tersebut sebagai hewan qurban karena Allah, merupakan bentuk syukur terhadap nikmat Allah tersebut” (sumber Konsultasi Syariah).

Oleh karena itu, sejatinya berqurban tidak hanya dinilai dari banyaknya daging, darah, tetapi bagaimana seseorang menghadirkan sikap ikhlas, mengagungkan Allah dan semangat syiar Islam. Bagian dari semua ini merupakan suatu bentuk taqwa kepada Allah. Pada ayat lain Allah berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat sampai kepada-Nya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.” (QS. Al-Haj: 37)

Karena alasan diatas, para ulama menegaskan bahwa dalam kondisi normal, menyembelih hewan qurban pahalanya lebih besar dan lebih afdhal daripada sedekah senilai hewan qurban. Keterangan-keterangan diatas sama sekali tidak menunjukkan bahwa sedekah yang diberikan menjadi tidak berarti. Kesimpulan yang dapat diambil dari keterangan diatas bahwa qurban tidak dapat disetarakan dengan sedekah uang senilai hewan qurban.

Sedekah yang diberikan merupakan amal yang sangat bernilai dan berpahala. hanya saja, semata dengan sedekah ini tidak dapat dinilai sebagai qurban atau mendapatkan pahala qurban. Meskipun sedekah ini disalurkan dalam rangka membantu kegiatan qurban.

Dalam Kitab Mathalib UlinNuha (2/374) disebutkan, terdapat keterangan dari imam Ahmad akan hal ini, yakni berkurban lebih utama dari sedekah dengan harganya. Dan sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Khulafa’ Rasyidin berkurban dan memberikan hadiah dari dagingnya. Jika sedekah lebih utama pastinya mereka tidak akan meninggalkan sedekah itu. Wallahu Ta’ala A’lam.

Hukum Korban & Sedekah

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

HUKUM KORBAN DAN SEDEKAH

Sedekah merupakan suatu pemberian yang diberikan kepada orang lain. Sedangkan qurban merupakan suatu bentuk ibadah yang ditujukan kepada Allah dengan menyembelih hewan ternak di hari raya Idul Adha.

HUKUM QURBAN

Hukum qurban menurut mazhab Imam Syafi’i dan Jumhur Ulama adlaah sunnah yang sangat dianjurkan dan dikukuhkan. Qurban merupakan syiar agama dan yang memupuk makna kasih sayang serta peduli kepada sesama yang harus digalakkan.

Hukum sunnah disini terbagi menjadi dua macam, yakni :

  1. Sunnah ‘Ainiyah, yaitu : Sunnah yang dilakukan oleh setiap orang yang mampu.
  2. Sunnah Kifayah, yaitu : Disunnahkan dilakukan oleh sebuah keuarga dengan menyembelih 1 ekor atau 2 ekor untuk semua keluarga yang ada di dalam rumah.

Hukum Qurban menurut Imam Abu Hanifah adalah wajib bagi yang mampu. Perintah melaksanakan ibadah qurban datang pada tahun ke-2 (dua) Hijriyah. Adapun qurban bagi Nabi Muhammad SAW adalah wajib, dan ini adalah hukum khusus bagi beliau.

Perintah ibadah qurban akan menjadi wajib apabila :

  1. Dengan bernadzar, seperti: Seseorang berkata: “Aku wajibkan atasku qurban tahun ini.” Atau “Aku bernadzar qurban tahun ini.” Maka saat itu qurban menjadi wajib bagi orang tersebut.
  2. Dengan menentukan, maksudnya: Jika seseorang mempunyai seekor kambing lalu berkata: “Kambing ini aku pastikan menjadi qurban.” Maka saat itu qurban dengan kambing tersebut adalah wajib.

HUKUM SEDEKAH

Sedekah berasal dari kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Daat juga diartikan sebagai suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata.

Sedekah dalam pengertian di atas, oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela). Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah.

Di antara ayat yang dimaksud diatas adalah firman Allah SWT yang artinya: ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisaa [4]: 114).

Para fuqaha sepakat hukum sedekah pada dasarnya adalah sunnah, berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa apabila ditinggalkan. Di samping sunnah, adakalanya hukum sedekah menjadi haram yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang bakal menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah untuk kemaksiatan.

Terakhir hukum sedekah dapat berubah menjadi wajib, yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari apa yang diperlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga.

Menurut fuqaha, sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu’ berbeda dengan zakat. Sedekah lebih utama apabila diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW dari sahabat Abu Hurairah.

Dalam hadits yang dimaksud diatas dijelaskan salah satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut.

Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Sedangkan mengenai kriteria barang yang lebih utama disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan disedekahkan sebaiknya barang yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiliknya.

Hal yang dimaksud diatas sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya; ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS Ali Imran [3]: 92).

Pahala sedekah akan lenyap bila si pemberi selalu menyebut-nyebut sedekah yang telah ia berikan atau menyakiti perasaan si penerima. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya yang berarti: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.” (QS Al Baqarah [2]: 264). (Disarikan dari buku Ensiklopedi Islam)