hukum taklifi

Pembagian Hukum Syar’i III

By | Artikel | No Comments

PEMBAGIAN HUKUM SYAR’I III

Pada bagian artikel lainnya telah dijelaskan bahwa pembagian hukum syar’i terbagi menjadi dua yakni hukum taklifi dan hukum wadhi. Ahli fiqih dan ahli ushul fiqih berbeda dalam memaknai hukum syar’i. Simak artikel berikut in untuk lebih jelasnya.

Antar ahli ushul fiqih (Ushuliyun) dan ahli fiqih (Fuqoha’) berbeda pendapat dalam memahami hukum syar’i. Para ahli ushul fiqih memberi definisi hukum syar’i sebagai kitab (titah) Allah yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf yang mengandung tuntutan, kebolehan, boleh pilih atau wadha’ (yaitu mengandung ketentuan tentang ada atau tiaanya sesuatu hukum).

Sedangkan pihak ahli fiqih (Fuqoha’) memberi definisi sebagai efek yang dikehendaki oleh titah Allah tentang perbuatan yang wajib, haram, dan mubah. Apabila melihat definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan nahwa nash dari pembuat syara’ (Allah dan Rasul-Nya) itulah menurut ahli ushul (Ushuliyun), yang dikatakan hukum syar’i.

Sedangkan menurut ahli fiqih (Fuqoha’) bukan nash itu yang dimaksud dengan hukum syar’i melainkan efek dari isi nash itu sendiri. Misal saja dalam Firman Allah surat An-Nisa ayat 4 :

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuuh kerelaan”.

Ahli ushul fiqih mengatakan bahwa firman (perintah memberi maskawin) itulah yang dikatakan hukum syar’i berbeda dengan ahli fiqih yang mengatakan bahwa wajib memberi maskawin yang dikatakan hukum syar’i. (Dikutip dari H. Aliddin Koto, 2004, halaman 38-39).

Pembagian Hukum Syar’i ada dua yakni Hukum Taklifi dan Hukum Wadh’i. Pada artikel berikut ini akan lebih banyak menjelaskan ke dalam hukum wadh’i.

HUKUM WADH’I

Yang dimaksud dengan hukum wadh’i adalah titah Allah yang menjadikan sesuatu sebab bagi adanya sesuatu yang lain atau sebagai syarat bagi sesuatu yang lain atau juga sebagai penghalang (man’) bagi adanya sesuatu yang lain tersebut. Oleh karena itu, ulama membagi hukum wadh’i ini kepada beberapa hal diantaranya : sebab, syarat dan mani’. Namun sebagian ulama memasukkan sah dan batal, azimah dan rukhshah.

1. SEBAB

Yang dimaksud dengan sebab adalah sesgala sesuatu yang dijadikan oleh syar’i sebagai alasan bagi ada dan tidak adanya hukum. Adanya sesuatu menyebabkan adanya hukum dan tidak adanya sesuatu itu melazimkan tidak adanya hukum. Adanya sesuatu menyebabkan adanya hukum dan tidak adanya sesuatu itu melazimkan tidak adanya hukum.

Ulama membagi sebab ini kepada dua bagian :

  1. Sebab yang diluar kemampuan mukalaf. Misal, keadaan terpaksa menjadi sebab bolehnya memakan bangkai dan tergelincir atau tenggelamnya matahari sebagai sebab wajibnya sholat.
  2. Sebab yang berada dalam kesanggupan mukalafi. Sebab ini dibagi dua yakni :

1) Yang termasuk ke dalam hukum taklifi, seperti menyaksikan bulan dan itu menjadikan wajib melaksanakan puasa (QS Al-Baqarah (2) : 185). Begitu juga keadaan sedang dalam perjalanan menjadi sebab boleh tidaknya berpuasa di bulan Ramadhan (QS Al-Baqarah (2) : 185).
2) Yang termasuk dalam hukum wadh’i seperti perkawinan menjadi sebab hak warisan antara suami istri dan menjadi sebab haramnya mengawini mertua dan lain sebagainya.

2. SYARAT

Yang dimaksud dengan syarat adalah sesuatu yang tergantung adanya hukum dengan adanya sesuatu tersebut dan tidak adanya sesuatu itu mengakibatkan tidak ada pula hukum. Namun, dengan adanya sesuatu itu tidak mesti pula adanya hukum.

Misal, wajib zakat barang perdagangan apabila usaha perdagangan itu sudah berjalan satu tahun bila syarat berlakunya satu tahun itu belum terpenuhi, zakat itu belum wajib. Namun, dengan adanya syarat berjalan, satu tahun itu saja belumlah tentu wajib zakat, karena masih tergantung kepada sampai atau tidaknya dagangan tersebut senisab.

3. MANI’

Yang dimaksud dengan mani’ adalah segala sesuatu yang dengan adanya dapat menjadikan hukum atau dapat membatalkan sebab hukum. Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa mani’ itu terbagi kepada dua macam :

a. Mani’terhadap hukum. Misal perbedaan agama antara pewaris dengan yang akan diwarisi adlaah mani’ (penghalang) hukum pusaka mempusakai sekalipun sebab untuk saling mempusakai sudah ada, yaitu perkawinan. Begitu juga najis yang terdapat di tubuh atau di pakaian orang yang sedang sholat. Dalam contoh ini tidak terdapat salah satu syarat sah sholat, yaitu suci dari najis. Oleh sebab itu tidak ada hukum sahnya sholat. Hal ini disebut mani’ hukum.

b. Mani’ terhadap sebab hukum. Misalnya, seseorang yang memiliki harta senisab wajib mengeluarkan zakatnya. Namun, karena ia mempunyai hutang yang jumlahnya sampai mengurangi nisab zakat ia tidak wajib membayar zakat, karena harta miliknya tidak cukup senisab lagi. Memiliki harta senisab itu adalah menjadi sebab wajibnya zakat. Namun, keadaannya mempunyai banyak hutang tersebut menjadikan penghalang sebab adanya hukum wajib zakat. Dengan demikian, mani’ dalam contoh ini adalah mengahalani sebab hukum zakat. Hal ini disebut mani’ sebab.

Pembagian Hukum Syar’i II

By | Artikel | No Comments

PEMBAGIAN HUKUM SYAR’I II

Hukum taklifi terbagi ke dalam lima bagian antara lain wajib, haram, mandub, makruh dan mubah. Kelima macam hukum itulah yang menimbulkan efek terhadap perbuatan mukalaf dan efek itulah yang dinamakan al ahkam al khamsah oleh ahli fiqih. (H. Alaiddin Koto, 2004, hal 42-44).

Pembagian hukum taklifi, dibagi menjadi lima bagian. Pada artikel terdahulu telah disampaikan penjabaran mengenai hukum taklifi. Berikut ini akan dijabarkan mengenai kelima bagian hukum taklifi tersebut.

WAJIB

Pada pokoknya yang disebut dengan wajib adalah segala perbuatan yang diberi pahala bila dikerjakan dan diberi siksa (‘iqab) bila ditinggalkan. Misal, mengerjakan beberapa rukun islam yang lima. Dilihat dari beberapa segi, wajib terbagi menjadi empat :

1. Dilihat dari segi tertentu atau tidak tertentunya perbuatan yang dituntut. Wajib dibagi menjadi dua :

a. Wajib mu’ayyan (ditentukan) yaitu yang telah ditentukan macam perbuatannya. Misal, membaca al fatihah atau tahiyyat dalam sholat.
b. Wajib mukhayyar (dipilih) yaitu yang boleh dipilih salah satu dari beberapa macam perbuatan yang telah ditentukan. Misal, kifarat sumpah yang memberi pilihan tiga alternatif, memberi makan sepuluh orang miskin atau memberi pakaian sepuluh orang miskin atau memerdekakan budak.

2. Dilihat dari segi siapa aja yang mengharuskan memperbuatnya, wajib terbagi kepada dua bagian :

a. Wajib ‘ain yaitu wajib yang dibebankan atas pundak setiap mukalaf. Misal, mengerjakan sholat lma waktu, puasa ramadhan dan lain sebagainya. Wajib ini disebut fardhu ‘ain.
b. Wajib kifayah yaitu kewajiban yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat, tanpa melihat siapa yang mengerjakannya. Apabila kewajiban itu tekah ditunaikan salah seorang diantara mereka, hilanglah tuntutan terhadap yang lainnya. Namun, apabila tidak seorangpun yang mengerjakannya, berdosalah semua anggota masyarakat tersebut. Misal, mendirikan tempat ibadah, mensholati jenazah.

3. Dilihat dari segi kadar (kuantitasnya), wajib terbagi kepada dua bagian :

a. Wajib muhaddad, yaitu kewajiban yang ditentukan kadar atau jumlahnya. Misal, jumlah zakat yang mesti dikeluarkan, jumlah rakaat sholat.
b. Wajib ghairu muhaddad yaitu kewajiban yang tidak ditentukan batas bilangannya. Misal, membelanjakan harta di jalan Allah, berjihad, tolong-menolong.

HARAM

Haram adalah segala perbuatan yang dilarang untuk mengerjakannya. Orang yang melakukan akan disiksa, berdosa (‘iqab) dan yang meninggalkannya akan mendapat pahala. Misal, mencuri, membunuh, berzina, menafkahi orang yang menjadi tanggungannya. Perbuatan ini disebut juga dengan maksiat, qabih.

Secara garis besar, haram terbagi menjadi dua :

a. Haram karena perbuatan itu sendiri, atau haram karena zatnya. Haram seperti ini pada pokoknya adalah haram yang memang diharapkan sejak semula, Misal, membunuh, zina, mencuri.
b. Haram karena berkaitan dengan perbuatan lain atau haram karena faktor lain yang datang kemudian. Misal, jual beli yang hukum asalnya mubah, berubah menjadi haram ketika azan jumat sudah berkumandang. Begitu juga dengan puasa Ramadhan yang semula wajib berubah menjadi haram karena dengan berpuasa itu akan menimbulkan sakit yang mengancam keselamatan jiwa.

MANDUB

Mandub adalah segala perbuatan yang dilakukan akan mendapatkan pahala, tetapi bila tidak dilakukan akan dikenakan siksa, dosa (‘iqab). Biasanyamandub ini disebut juga sunat atau mustahab dan terbagi menjadi :

1. Sunat ‘ain yaitu segala perbuatan yang dianjurkan kepada setiap pribadi mukalaf untuk dikerjakan. Misal, sholat sunat rowatib.
2. Sunat kifayah yaitu segala perbuatan yang dianjurkan untuk diperbuat cukup oleh salah seorang saja dari suatu kelompok. Misal, mengucapkan salam, mendoakan orang bersin.

Selain itu, sunat juga terbagi kepada :

a. Sunat muakkad yaitu perbuatan sunat yang senantiasa dikerjakan oleh Rasul atau lebih banyak dikerjakan Rasul dari pada tidak dikerjakannya. Misal, sholat hari raya, aqiqah.
b. Sunat ghairu muakkad yaitu segala macam perbuatan sunat yang tidak selalu dikerjakan Rasul. Misal, bersedekah pada fakir miskin.

MAKRUH

Adapun yang dimaksud dengan makruh adalah perbuatan yang bila ditinggalkan, orang yang meninggalkannya mendapat pahala tetapi orang yang mengerjakannya tidak mendapat dosa (‘iqab). Misal, memakan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap.

Pada umumnya, ulama membagi makruh kepada dua bagian :

1. makruh Tanzih, yaitu segala perbuatan yang meninggalkan lebih baik daripada mengerjakan. Seperti contohnya tersebut diatas.
2. Makruh tahrim, yaitu segala perbuatan yang dilarang tetapi dalil yang melarang itu zhanny, bukan qhat’i. Misal bermain catur, memakan kala dan memakan daging ular (menurut madzhab Hanafiyah dan madzhab Malikiyah).

MUBAH

Mubah adalah segala perbuatan yang diberi pahala karena perbuatannya dan tidak berdosan karena meninggalkannya. Secara umum, mubah ini dinamakan juga halal atau jaiz.