ibadah kurban

Syarat-Syarat Kurban

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

SYARAT-SYARAT KURBAN

Harapan ketika Idul Adha tiba adalah dapat ikut serta berqurban, sebagai umat islam yang beriman dan bertaqwa. Akan tetapi banyak pula yang belum mengetahui syarat qurban yang benar. Semoga artikel berikut ini akan membantu memahamkan saudara muslim lainnya dalam beribadah aqiqah.

Udhiyyah atau berkurban termasuk kedalam salah satu syi’ar Islam yang agung dan termasuk bentuk ketaatan yang paling utama. Ia adalah syi’ar keikhlasan dalam beribadah kepada Allah semata, dan realisasi ketundukan kepada perintah dan larangan-Nya. Karenanya setiap muslim yang memiliki kelapangan rizki hendaknya melaksanakan perintah berqurban.

Ibadah qurban akan sah hukumnya apabila dilaksanakan dengan menyembelih hewan ternak berupa unta, sapi, kambing maupun domba. Banyak pula ulama yang menyebutkan, syarat hewan qurban selain tersebut tadi tidak layak dan tidak sah.

Adapun mengenai usia hewan yang boleh djadikan kurban adalah di usia yang telah mencapai umur tertentu. Sapi qurban haruslah yang memiliki umur diatas 5 tahun. Sedangkan kambing yang diperbolehkan untuk diqurbankan itu sudah berumur minimal 1 tahun. Meskipun ada beberapa pendapat yang menyatakan kalau kambing jenis domba itu umur 6 bulan saja bisa untuk dijadikan qurban namun banyak ulama yang menyatakan kalau domba juga harus memiliki umur 1 tahun penuh.

Sabda Rasulullah SAW dari Abu Hurairah ra sebagai berikut :

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan, sedangkan ia tidak berkurban, janganlah dekat-dekat musholla kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim, namun hadits ini mauquf)

Syarat-Syarat Kurban

Beberapa syarat ibadah kurban yang harus diketahui oleh seorang mudhahhi adalah syarat-syaratnya. Apa yang harus dipenuhi oleh pengorban dari ibadah qurbannya:

Pertama, hewan sembelihan qurban merupakan hewan ternak berupa unta, sapi, kambing dan domba. Hal ini berdasarkan sabda firman Allah Ta’ala :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34)

Kedua, usia hewan qurban sudah mencapai umur minimal yang ditentukan syari’at. Yakni sudah musinnah, kecuali bagi domba boleh jadza’ahnya. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW :

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih kecuali Musinnah (kambing yg telah berusia dua tahun), kecuali jika kalian kesulitan mendapatkannya, maka sembelihlah domba jadza’ah.” (HR. Muslim dari sahabat Jabir bin Abdillah RA)

Ketiga, Hewan qurban terbebas dari aib atau cacat. Di dalam nash hadits ada ada empat cacat yang disebutkan:

  1. Aur Bayyin (buta sebelah yang jelas)
  2. Araj Bayyin (kepincangan yang jelas)
  3. Maradh Bayyin (sakit yang jelas)
  4. Huzal (kekurusan yang membuat sungsum hilang).

Jika hewan qurban terkena salah satu atau lebih dari empat macam aib ini, maka hewan tersebut tidak sah dijadikan sebagai hewan qurban. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib berkata: “Rasulullah SAW ditanya, ‘Apa yang harus dijauhi untuk hewan qurban?‘ Beliau memberikan isyarat dengan tangannya lantas bersabda: “Ada empat.” Barra’ lalu memberikan isyarat juga dengan tangannya dan berkata; “Tanganku lebih pendek daripada tangan Rasulullah SAW :

الْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِى لاَ تُنْقِى

“(empat perkara tersebut adalah) hewan yang jelas-jelas pincang kakinya, hewan yang jelas buta sebelah, hewan yang sakit dan hewan yang kurus tak bersumsum.” (H.R.Malik)

Keempat, Hewan tersebut benar-benar dimiliki oleh orang yang berkurban atau yang diizikan dikurbankan atas namanya oleh syariat atau oleh orang yang memilikinya. Tidak sah kurban orang yang tidak memilikinya secara sah seperti hewan kurban yang dicuri, dikuasai dengan cara batil, dan semisalnya. Sebabnya tidak sah ibadah taqarrub kepada Allah dengan maksiat kepada-Nya.

Kelima, tidak ada hak orang lain pada harta hewan kurban tersebut, maka tidak sah kurban dari hewan yang digadai.

Keenam, menyembelihnya pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat. Yaitu setelah shalat Ied sampai terbenamnya matahari dari hari tasyriq terakhir (tanggal 13 Dzulhijjah). Maka waktu menyembelih hewan kurban ada empat hari: hari idul Adha sesudah shalat dan tiga hari sesudahnya yang dikenal dengan ayyam Tasyriq. Maka siapa yang menyembelih sebelum shalat ied selesai atau sesudah matahari di tanggal 13 terbenam, tidak sah kurbannya.

Hukum Korban & Sedekah

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

HUKUM KORBAN DAN SEDEKAH

Sedekah merupakan suatu pemberian yang diberikan kepada orang lain. Sedangkan qurban merupakan suatu bentuk ibadah yang ditujukan kepada Allah dengan menyembelih hewan ternak di hari raya Idul Adha.

HUKUM QURBAN

Hukum qurban menurut mazhab Imam Syafi’i dan Jumhur Ulama adlaah sunnah yang sangat dianjurkan dan dikukuhkan. Qurban merupakan syiar agama dan yang memupuk makna kasih sayang serta peduli kepada sesama yang harus digalakkan.

Hukum sunnah disini terbagi menjadi dua macam, yakni :

  1. Sunnah ‘Ainiyah, yaitu : Sunnah yang dilakukan oleh setiap orang yang mampu.
  2. Sunnah Kifayah, yaitu : Disunnahkan dilakukan oleh sebuah keuarga dengan menyembelih 1 ekor atau 2 ekor untuk semua keluarga yang ada di dalam rumah.

Hukum Qurban menurut Imam Abu Hanifah adalah wajib bagi yang mampu. Perintah melaksanakan ibadah qurban datang pada tahun ke-2 (dua) Hijriyah. Adapun qurban bagi Nabi Muhammad SAW adalah wajib, dan ini adalah hukum khusus bagi beliau.

Perintah ibadah qurban akan menjadi wajib apabila :

  1. Dengan bernadzar, seperti: Seseorang berkata: “Aku wajibkan atasku qurban tahun ini.” Atau “Aku bernadzar qurban tahun ini.” Maka saat itu qurban menjadi wajib bagi orang tersebut.
  2. Dengan menentukan, maksudnya: Jika seseorang mempunyai seekor kambing lalu berkata: “Kambing ini aku pastikan menjadi qurban.” Maka saat itu qurban dengan kambing tersebut adalah wajib.

HUKUM SEDEKAH

Sedekah berasal dari kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Daat juga diartikan sebagai suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata.

Sedekah dalam pengertian di atas, oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela). Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah.

Di antara ayat yang dimaksud diatas adalah firman Allah SWT yang artinya: ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisaa [4]: 114).

Para fuqaha sepakat hukum sedekah pada dasarnya adalah sunnah, berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa apabila ditinggalkan. Di samping sunnah, adakalanya hukum sedekah menjadi haram yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang bakal menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah untuk kemaksiatan.

Terakhir hukum sedekah dapat berubah menjadi wajib, yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari apa yang diperlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga.

Menurut fuqaha, sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu’ berbeda dengan zakat. Sedekah lebih utama apabila diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW dari sahabat Abu Hurairah.

Dalam hadits yang dimaksud diatas dijelaskan salah satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut.

Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Sedangkan mengenai kriteria barang yang lebih utama disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan disedekahkan sebaiknya barang yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiliknya.

Hal yang dimaksud diatas sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya; ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS Ali Imran [3]: 92).

Pahala sedekah akan lenyap bila si pemberi selalu menyebut-nyebut sedekah yang telah ia berikan atau menyakiti perasaan si penerima. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya yang berarti: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.” (QS Al Baqarah [2]: 264). (Disarikan dari buku Ensiklopedi Islam)