qurban untuk orang lain

Qurban Atas Nama Orang Lain

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

QURBAN ATAS NAMA ORANG LAIN

Sabda Rasulullah Myhammad SAW, “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang benmanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya”. (HR Muslim)

Dibalik perayaan Idul Adha atau hari raya qurban, tentunya akan banyak pertanyaan sebagi diskusi ringan masyarakat seputar fiqih qurban. Percakapan dan diskusi yang akan berujung pada pemaknaan dan pengertian mengenai berbagai macam hukum qurban. Salah satu yang sering dipertanyakan adalah mengenai boleh atau tidaknya qurban atas nama orang lain ?

Apabila ditilik dari keutamaannya, ibadah qurban merupakan salah satu ibadah yang menjadi syiar Islam. Dalam Idul Adha inilah momentum terbaik untuk mewujudkan dan membuktikan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah.

Hukum qurban yang paling banyak diketahui dan difahami oleh kesepakatan ulama adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang diutamakan. Diutamakan pada siapa? Hukum qurban adalah sunnah bagi yang mampu dan berkecukupan untuk melaksanakannya. Apabilaseorang muslim mampu namun meninggalkan atau tak sempat melaksanakan ibadah qurban dengan berbagai alasan, maka hukumnya adalah makruh.

Lalu bagaimana dengan konteks ada seorang hamba yang mampu, namun ingin memberikan kebaikan kepada saudaranya atau orang terdekatnya yang kurang mampu untuk berqurban dalam bentuk qurban atas namanya, sehingga saudara atau temannya yang kurang mampu itu tetap bisa mendapatkan pahala, kebaikan, dan keutamaan ibadah qurban. Atau mungkin berqurban untuk saudara, orangtua atau seseorang yang telah meninggal.

Para ulama telah sepakat bahwa sedekah seseorang kepada orang yang telah meninggal akan sampai kepadanya, demikian pula ibadah-ibadah harta lainnya, seperti membebaskan budak. Sedangkan perselisihan yang terjadi dikalangan para ulama adalah pada masalah ibadah badaniyah, seperti sholat, puasa, membaca Al Qur’an dikarenakan adanya riwayat dari Aisyah didalam shohihain dari Nabi saw, ”Barangsiapa yang meninggal dan masih memiliki kewajiban puasa maka hendaklah walinya berpuasa untuknya.” (Majmu’ Fatawa juz V hal 466, Maktabah Syamilah)

Imam Nawawi juga mengatakan didalam Syarahnya, ”Para ulama telah sependapat bahwa doa seseorang kepada orang yang sudah meninggal akan sampai kepadanya demikan pula halnya dengan sedekah yang ditujukan kepada orang yang meninggal, pahalanya akan sampai kepadanya dan tidak mesti orang itu harus anaknya. (Al Majmu’ juz XV hal 522, Maktabah Syamilah)

Dalil lain yang juga dijadikan landasan oleh para ulama didalam membolehkan qurban bagi orang yang meninggal adalah firman Allah swt, ”dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” (QS. An Najm : 39)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir juga menyelipkan sabda Rasulullah saw, ”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim) dan dia mengatakan, ”Tiga golongan didalam hadits ini, sebenarnya semua berasal dari usaha, kerja keras dan amalnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,’Sesungguhnya makanan yang paling baik dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya seorang anak adalah hasil dari usaha (orang tua) nya.” (Abu Daud, Tirmidzi, an Nasai dan Ahmad) Dan sedekah jariyah seperti wakaf dan yang sejenisnya adalah buah dari amal dan wakafnya.

Diperbolehkan bagi seseorang yang ingin berqurban di Hari Raya Idul Adha untuk orang lain kemudian menyerahkan kepadanya sejumlah uang seharga hewan qurban itu tapi tetap meminta kepadanya untuk membelikannya hewan kurban dan disembelih pada waktu-waktu kurban, sehingga sasaran dari ibadah kurban akan terpenuhi. Ini juga dapat dilaksanakan melalui Aqiqah Berkah dengan nama paket qurban peduli syar’i.

Doa Qurban

By | Artikel, Tentang Qurban | No Comments

DO’A QURBAN

Setiap muslim yang berqurban, sudah pasti berharap ibadah qurbannya diterima oleh Allah SWT. Tidak sedikit yang berqurban dengan seekor kambing untuk seseorang dan seekor sapi untuk keluarganya.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah sang pencipta dan penguasa alam semesta. Semoga kita termasuk hamba yang bertaqwa. Aamiin Ya Robbal’alamin. Shalawat salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Rasul Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya serta umat yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

Setiap muslim yang berqurban, sudah pasti berharap ibadah qurbannya diterima oleh Allah SWT. Tidak sedikit yang berqurban dengan seekor kambing untuk seseorang dan seekor sapi untuk keluarganya. Disamping memperhatikan jenis hewan qurban, usia hewan qurban dan kondisi hewan qurban yang tidak cacat atau selamat dari cacat, perlu diperhatikan juga mengenai tatacara penyembelihannya.

Beberapa diantaranya yang perlu diperhatikan saat qurban adalah ketika menyembelih hewan qurban. Ada beberapa dzikir dan doa yang diajarkan oleh syariat ajaran Islam saat menyembelih hewan qurban. Ringkasnya, orang yang ingin menyembelih hewan qurban disunnahkan untuk membaca doa qurban berikut ini :

بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنِّي

(Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku).

Jika ia menyembelihkan hewan qurban milik orang lain, ia membaca:

بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنْ فُلَانٍ

“Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dariku.”

Di tambah:

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ

“Ya Allah, terimalah kurban dari fulan dan keluarga fulan,” (dengan menyebut namanya).

Namun, yang diwajibkan dari bacaan ini adalah membaca Basmalah (Bismillah). Bila sudah membaca basmalah, maka hewan qurban sah untuk disembelih meskipun tidak menambahkan bacaan lainnya. Kalimat lainnya berupa annjuran yang diucapkan sesudahnya. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-An’am ayat 118 :

فَكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ

“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 118)

وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al-An’am: 121)

Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Nabi Muhammad SAW berkurban dengan ekor domba jantan yang dominasi warna putih dan bertanduk. Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kakinya di atas samping lehernya.”

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah RA, Rasulullah SAW memerintahkan untuk membawakan satu ekor kibas bertanduk yang hitam kakinya, hitam bagian perutnya, dan hitam di sekitar kedua matanya. Lalu dibawakan kepada beliau untuk beliau sembelih sendiri. Beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, ambilkan sebilah pisau.” Kemudian beliau bersabda, “Asahlah pisau itu dengan batu.” ‘Aisyah pun mengerjakan. Kemudian beliau mengambil pisau dan mengambil kibas tersebut, lalu beliau membaringkannya dan menyembelihnya. Kemudian beliau berucap:

بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّد وَآل مُحَمَّد وَمِنْ أُمَّة مُحَمَّد

“Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad.” Kemudian beliau menyembelihnya.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang maksudnya, yaitu beliau membaringkannya dan menyembelihnya sambil membaca kalimat di atas. Di antara macam bacaan tambahan sesudah Basmalah saat menyembelihkan hewan kurban orang lain :

بِسْمِ اللَّه وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ، هَذَا عَنْ فُلَانٍ

“Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ini kurban dari si fulan (disebutkan namanya).”

Atau dengan tambahan:

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلَانٍ وَآلِ فُلَانٍ

“Ya Allah, terimalah kurban dari fulan dan keluarga fulan (dengan menyebut namanya).”

Barangkali masih ada yang mempertanyakan, doa-doa qurban agar diterima qurban tersebut apa tidak termasuk mengada-ngada (bid’ah)? Syaikh Ibnu Jibrin menjelaskan, tambahan doa di atas atau dengan kalimat doa lainnya dibolehkan, karena hal itu termasuk doa. Sedangkan doa (permintaan) bab (kalimat)-nya luas.